Samurai Oni

Samurai Oni
KENDALI YANG SADIS



Alasan Akio menyuruh Akashi diam adalah karena tak ingin jika yokai itu menyadari keberadaan Akashi. Tetapi sepertinya sudah terlambat.


“Hei, kau! Sedang apa di sini?” Bagian dari klan Satsuki tengah berpatroli, lantas menegur Akashi yang dikiranya adalah penduduk.


Pada saat bersamaan, yokai pengendali telah masuk ke dalam bayangan Akashi. Akashi merebut penglihatan, gerakan kaki dan tangan serta gerak bibirnya.


“Hei! Apa yang kau lakukan!? Hentikan!!”


Akashi merebut pedang kepemilikan samurai tersebut, lantas menebasnya bukan karena keinginan Akashi sendiri melainkan telah diambil alih kendali.


'Eh? Apa yang terjadi pada tubuhku?' Akashi hanya bisa membenak saja.


Menyadari cara yokai itu mengendalikan setiap orang, lekas Akio menghampiri namun baru saja satu langkah, Akashi sudah melesat tepat di depan mata.


Perbedaan antara manusia biasa dengan yokai, tentu sangatlah jauh.


Akio menahan gagang pedang dengan pedang kayunya, begitu gerakan Akashi tertahan sementara, Akio memanfaatkan waktu ini untuk menumbangkannya dengan cara mengincar leher langsung.


“T-tuan ...A-Aki ...!” Akashi berusaha keras untuk menahan seluruh gerakannya ini, yang juga berarti dirinya rela mati di tangan Akio.


Krak!


Namun yokai-oni tidaklah selemah ini. Meski tulang leher yang menjadi kelemahan fatal bagi mahluk setengah sepertinya telah dipatahkan, tak berselang lama Akashi memulihkan diri.


Selama menunggu Akashi pulih, tentunya yokai pengendali jadi sulit untuk mengendalikan seluruh tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, Akio spontan menusuk bayangan milik Akashi.


“Ugh!”


Hingga terdengar jeritan kesakitan dari si yokai pengendali tersebut. Keberadaannya lenyap pada saat itu, tetapi Akio merasa itu bukanlah tubuh utama dari si yokai melainkan hanya sebagian dari kecilnya saja.


“Ck!”


Aura pekat di sekitar rumah Momoka kian merajalela, bergegas Akio memasuki kediamannya secara paksa. Lekas ia mencari keberadaan setiap anggota keluarga Momoka yang berada di tempat ini.


Hanya terdapat satu ruangan yang terisi, dan semua anggota keluarga Momoka berada di ruangan tersebut. Mereka semua telah terlelap, mimpi buruk telah merasuki hingga akan melahap jiwa mereka secara perlahan.


Mustahil bagi Akio ataupun orang lain untuk membangunkannya karena mereka sudah terperangkap. Disusul dengan suara keras berupa beberapa pintu yang sempat dibuka oleh Akio kini tertutup rapat tanpa seorang pun menyentuhnya.


“Tuan Akio ...? Oh, di mana aku? Ah, Tuan Akio!” Sementara Akashi sudah sadar, ia hendak pergi ke arah di mana ia bisa mencium bau Akio.


Namun akan tetapi, kediaman Momoka dikelilingi sesuatu yang membuat Akashi sulit menembusnya.


'Penghalang?' pikir Akio dalam batin.


Tak ada yang menyangka ini akan terjadi, kediaman Momoka saat ini sudah sepenuhnya terperangkap karena yokai. Tak hanya itu bahkan seluruh anggota yang ada pun bernasib sama.


Menyusul, pintu ruangan besar yang berisikan seluruh anggota keluarga Momoka kecuali Chiharu lantas tebanting menutup sendiri.


“Oh, ternyata ada tamu di sini ya?” Suara sosok asing menggaung dalam ruangan.


“Hei, kau. Siapa?” Lagi-lagi suara itu terdengar namun Akio sepenuhnya bungkam.


Merasakan keanehan, sosok yokai yang sampai saat ini masih belum menampakkan dirinya, menghempaskan sesuatu ke arah Akio. Berbagai benda dari yang terkecil hingga yang terbesar, lalu angin yang sama pernah dirasakan kini berembus sekali lagi.


“Kau mau melawanku, bocah?”


“Samurai bouken (pedang kayu)? Heh, jangan bercanda! Mulai sekarang kau jatuh!”


Apa yang diucapkan oleh sosok yokai yang tak nampak, berubah menjadi nyata. Saat ini Akio tiba-tiba saja terbaring tanpa senjata yang seharusnya masih ada di dalam genggaman tangannya.


Sesuatu yang terlihat seperti kulit ikan melayang-layang ke arahnya dengan jumlah yang cukup banyak. Hal itu mengikat seluruh pergerakan Akio sampai benar-benar tidak bisa bergerak sedikitpun.


Terlebih, ada pemandangan yang sesuai diceritakan oleh Chiharu. Yakni tempat di mana lelaki akan disiksa sementara wanita dipermainkan. Persis seperti neraka atau bahkan dunia yang saat ini terjadi.


Tak ada yang bisa dilakukan oleh Akio, bahkan sekarang ia tidak tahu apakah dirinya masih membuka mata ataukah sudah tertidur sama seperti yang lainnya.


Akio hanya terbaring pasrah sementara beberapa serangan telah menghujamnya dengan kejam. Seolah ia terserang oleh alam itu sendiri.


“Tuan Akio!!!! Tuan Akio!! Tolong jawablah! Maafkan atas perbuatanku yang barusan! Aku yang manusia ini berani bersumpah bahwa aku dikendalikan oleh yokai itu, Tuan!! Jawablah!” pekik Akashi. Dirinya merasakan emosi berupa ketakutan dari seluruh anggota keluarga Momoka di dalam.


Ia terus berteriak memanggil Akio dan berharap akan dijawab olehnya. Apalagi saat ini ia sama sekali tidak bisa masuk ke dalam dan hanya sibuk berteriak seraya menggedor-gedor penghalang tak kasat mata di tempat.


“Lalu, tolong maafkan aku juga tentang membunuh pria itu! Aku tidak bermaksud! Jadi tolong jangan bunuh aku!!”


Dan berkat teriakannya itu, beberapa pengikut klan Satsuki yang berbagi kelompok tuk berpatroli di wilayah mereka kini mulai mendengarnya. Mendengar suara jeritan Akashi yang tak berada jauh.


“Hei, periksa sebelah sana! Ada seseorang yang keluar dari rumahnya!”


“Baik!”


“Hei! Keluarga Momoka bagaimana? Putri kedua mereka masih belum ditemukan!”


“Ini sudah malam, dan waktunya mereka bermimpi di alam neraka. Kau segera menuju ke rumah mereka! Lalu aku akan mencari orang kita yang menghilang juga!” pekiknya.


Menyadari ada seseorang yang datang, Akashi mencari tempat untuk bersembunyi sementara waktu. Beberapa dari klan Satsuki mulai bermunculan di sekitar kediaman Momoka dan hati Akashi pun semakin gelisah.


***


Seiring langit bergerak pelan dalam mimpi, darah yang telah mengubah warna pakaian serta tubuh dan wajahnya, sosok yokai si pengusik dalam mimpi akhirnya menampakkan diri.


“Di sini tidak ada kakek tengu k*parat itu. Jadi bisa sepuasnya memaki nih,” ujar Akio menyombongkan diri, lantas menyeringai.


Kebebasan Akio seolah-olah baru saja terbentuk di sini. Tapi itu memang ada benarnya juga, karena di dalam mimpi takkan ada yang mendengar selain jeritan mereka yang memenuhi ruang dalam mimpi tersebut.


Akio setidaknya menunggu beberapa saat lagi, meski darah telah menenggelamkannya seolah Akio tengah berendam sekarang.


“Aku akan memakanmu!!” seru yokai yang memiliki rupa tengkorak kepala dan leher yang tersambung, bentuknya yang besar lalu mulut itu mulai terbuka lebar di hadapan Akio.


“Silahkan, yokai! Kalau kau bisa!”


Mendengar suara yang takkan pernah Akashi lupakan, sontak membuatnya girang.


“Tuan Akio! Ternyata masih berada di dalam!” Tanpa sadar ia berteriak di saat dirinya tengah bersembunyi di balik dinding rumah Momoka.


“Suaranya berasal dari sana! Itu pasti yokai yang telah membunuh rekan kita!” seru seseorang yang akhirnya mendengar suara Akashi.


“Ah, gawat!” Segera Akashi berpindah tempat ke tempat lain yang tak berada jauh dari kediaman Momoka.