
Hari pertama, usai kelahiran seorang putra dengan kulit merahnya. Karena itulah bayi tanpa nama itu disebut sebagai bayi merah. Namun kenyataannya adalah bayi tersebut bukanlah bayi manusia melainkan oni. Yang seharusnya dimurnikan oleh pedang suci—Retsuji oleh Akio pada saat itu.
Tetapi, karena oni berniat mengambil hidup Hima. Maka Akio jadi tidak bisa melakukan apa pun. Ia bisa saja melakukannya tanpa pandang bulu namun ia memikirkan apa yang terjadi bila seorang ibu melihat anaknya sendiri dibunuh tepat di hadapannya langsung. Itu membuatnya teringat akan kejadian lampau, yang pernah sekali ia lakukan ketika darah Akio mulai memanas.
Lalu, Mizunashi kembali mengunjungi ruangan Nyonya Hima Hatekayama demi menanyakan kondisinya serta bertemu dengan Samurai Oni, tapi ternyata sesulit ini. Begitu datang, Akio sudah pergi dari sana dan Ucgihoro serta Kazuki telah mengejarnya.
Sementara Higo dan Haru bertengkar karena berbeda pendapat, mereka nyaris saling beradu pukulan sebelum akhirnya Mizunashi menengahi mereka dalam tirai.
“Mohon maafkan saya yang lancang melakukan hal ini.”
“Saya justru senang bila Tuan Samurai datang untuk membantu,” tuturnya seraya memasang muka masam, senyum pun terlihat dipaksakan.
Hima terlihat stress. Tentu saja setelah apa yang dikatakan putranya sendiri mengenai bayi merah ini. Dan Mizunashi sekarang mulai memahaminya.
“Bayi ini menangis ketika Samurai Oni datang. Tapi tidak lagi setelah dirinya pergi. Bayi merah manapun takkan mungkin memiliki perasa sehebat itu. Dia pasti adalah jelmaan iblis.”
“Tuan Samurai ...jangan bunuh anakku. Jangan bunuh putraku,” pinta Hima dengan memelas. Ia mendekap bayinya seraya menarik ujung pakaian Mizunashi.
Terlihat ia sudah sangat kelelahan, ia sangat memohon pada Mizunashi agar tak menyentuh putra ketiganya itu.
“Tuan Samurai, apa yang dikatakan —” Pelayan wanita yang hendak bertanya, langsung dibuat diam oleh tatapan tajam dari Mizunashi.
'Tak biasanya Akio menahan diri. Itu berarti karena permasalahannya adalah ini. Dia tidak bisa melakukannya di saat Nyonya Hima berada dekat dengannya. Dan juga ada dua putranya di sini. Hm, pantas saja.' Mizunashi membatin.
Kini ia mulai mengerti alasan Akio pergi. Tidak hanya karena ada klan pendiri melainkan karena ada hal yang menganggu pekerjaannya. Lalu, satu yokai yang membuat Mizunashi resah.
“Samurai Oni, bukankah dia sudah mati?” pikir Higo.
“Pria seperti dia takkan bisa mati semudah itu.” Haru menyahut.
“Apa sebelumnya ada yokai yang datang yang tidak kami ketahui sebelumnya?” Mizunashi bertanya.
Perlahan Hima dan kedua putranya menganggukkan kepala dengan pelan.
Hima menjelaskan, “Ada seorang wanita yang mengenakan baju pengantin. Dia juga datang mengincar anakku.”
'Penganggu Akio selain Nyonya Hima, ternyata keberadaan yokai yang tak bisa aku rasakan? Bagaimana bisa?' batin Mizunashi tercengang.
Setelah lama berpikir dalam benaknya, ia kini jadi memahami sesuatu. Akio kemungkinan pergi setelah dirinya masuk dan sebelum itu ada puluhan kupu-kupu berwarna gelap dan terang berterbangan keluar melewati jendela.
“Itu dia!”
Mizunashi lantas pergi.
“Tunggu, Tuan Samurai! Apa yang terjadi?”
“Saya akan datang lagi untuk membasmi satu yokai. Mohon tenang, bahwa rekan kami takkan meninggalkan kastil ini sampai urusannya selesai,” ujar Mizunashi sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan mereka.
Akio saja tidak bisa melakukan resiko sebesar itu. Apalagi Mizunashi yang lebih memiliki hati manusia, ia pun takut apabila Hima menjadi tak waras akibat anak (iblis)-nya dibunuh.
***
Beberapa saat sebelum Mizunashi sampai ke dalam ruangan Nyonya Hima Hatekayama.
“Kupu-kupu itu datang dari mana sebenarnya? Sejak kapan masuk dan kenapa tiba-tiba keluar dari jendela ya?” tanya Kazuki.
“Tunggu. Kupu-kupu?”
“Ya. Kupu-kupu.”
Uchigoro dan Kazuki saling bertukar tatap satu sama lain, setelahnya mereka kemudian sadar bahwa kupu-kupu tersebut bukanlah kupu-kupu sembarangan.
Ketika hendak mengejarnya, dari jendela yang sama pula Akio melompat keluar. Dengan cepat ia berpijak ke salah satu atap rumah penduduk yang seharusnya sangat jauh jaraknya antara kastil dan rumah penduduk itu.
“Sungguh kebetulan. Ternyata Samurai Oni benar-benar masih hidup. Ayo kejar bersamaan dengan kupu-kupu itu!”
“Ya.”
Melihat keberadaan Samurai Oni, tentu mereka takkan menyia-nyiakan waktu singkat ini. Mereka bergegas mengejar keberadaan Akio berserta puluhan kupu-kupu tersebut. Di saat itulah, Mizunashi telah sampai dan berdiri di dekat jendela. Kemudian memikirkan apa yang telah terjadi sebenarnya.
“Tunggu!”
Melihat ada dua samurai mendatangi Akio, reflek ia berdecak kesal.
“Kenapa di saat seperti ini ada samurai? Oh iya. Ini persalinannya Nyonya Hima. Tapi kalau sudah selesai, bukankah seharusnya mereka sudah kembali ke wilayah masing-masing?” pikir Akio. Ia sesegera mungkin mencari tempat untuknya bersembunyi dari mereka.
Dengan begitu, ia mau tak mau harus merelakan puluhan kupu-kupu itu pergi. Sejujurnya Akio enggan melakukan hal ini, namun akan jadi semakin gawat apabila mereka berinteraksi dengan Akio.
“Loh, Tuan Samurai mengapa bersembunyi?” tanya Takao, wujud hantunya ternyata sudah kembali masuk ke dalam tubuh Akio.
“Kau lagi.”
“Oh iya sebelum ini mereka semua menceritakan apa yang telah terjadi padamu. Begitu, ini pasti sangat berat untuk anak muda sepertimu.”
“Jangan banyak ngoceh, dasar hantu! Aku tidak sedang ingin berbincang denganmu. Pergilah dari tubuhku!” amuk Akio yang nampaknya ia berusaha memegang wujud hantu yang mustahil ia sentuh sedikitpun.
“Ya ampun, Tuan Samurai. Aku 'kan sedang mengkhawatirkan dirimu.”
“Aku bersembunyi pun bukan urusanmu.”
“Ya, ya. Kurang lebih aku tahu alasanmu bersembunyi. Tapi bagaimana dengan alasanmu yang pergi dari kastil sebelum membunuh oni yang berbahaya itu?” Takao bertanya.
“Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya, bahkan Ibunya sedang melindungi dia.”
“Dia bukan ibunya, ataupun anaknya.”
Akio mengerti apa maksud Takao. Namun bertindak terburu-buru takkan membuat situasi jadi lebih tenang. Memanfaatkan dua samurai yang mengejarnya, bergegas Akio menuju ke Rumah Bunga.
“Tuan Akio!”
“Baguslah kau masih ada di sini. Hei, Kizu bisakah kau berubah menjadi kakek tengu?” tanya Akio.
“Iya! Serahkan saja padaku! Tuan Akio ingin aku menggunakan samaran menjadi kakek itu untuk mendekati para samurai yang mengenalmu bukan?” terka Kizu.
“Oh, ternyata kau mengetahuinya.”
“Tentu saja! Aku tahu Tuan Akio sedang kesulitan saat ini. Memang tidak mudah membunuh di depan manusia, terlebih yokai ini berwujud bayi.”
“Baiklah. Aku akan mengandalkanmu. Cari dan beritahu mereka soal bayi merah.”
“Tuan tak ingin menghabisi oni itu sendiri?”
“Tidak. Aku akan memantau para samurai dari luar. Aku tidak bisa mengambil resiko untuk menyerang tepat di hadapan mereka.”
“Ya, aku mengerti Tuan Akio!”
Kizu akan berperan besar nantinya. Karena hanya si rubah saja yang bisa melakukannya, maka Akio akan memanfaatkan hal itu. Terlebih ia tak perlu bersusah payah menyerang bayi merah itu sendirian, dan ia pun bisa fokus pada yokai wanita yang pernah ditemuinya.
“Jangan lupa, buat mereka semua sadar. Buat oni itu menunjukkan wujud aslinya.”
“Baik, Tuan Akio!”