Samurai Oni

Samurai Oni
RUMOR GEISHA



Pewarna bibir yang wanita itu pakai, sekilas menengok ke belakang dan kemudian mengumbar senyum sesaat sebelum dirinya pergi. Beberapa patah kata yang ia ucapkan, tak pernah terdengar sedikitpun.


Hingga akhirnya Akio terbangun dari mimpi pendek itu. Ia mendapati dirinya terbangun di dekat danau air tawar. Sesegera mungkin dirinya membasuh wajah menggunakan air di sana. Lantas pergi usai merasakan kehadiran yokai yang berada di dekat wilayah Mizunashi.


Dama.


Akio mengayunkan pedang Retsuji miliknya. Tiada gerakan yang sia-sia, cukup dengan sekali tebas begitu ia datang dari atasnya, yokai terkutuk itu pun lenyap tanpa berkesempatan menoleh ke belakang.


“Tuanku semakin hebat saja.” Yasha memujinya.


Hari ini, dilalui seperti biasanya. Namun sepertinya kehadiran yokai terkutuk sudah mulai jarang. Akio berpikir bahwa ini adalah kesempatan untuk mencari dalang dari semua ini, namun ia tak tahu harus memulainya dari mana.


“Tuan Akio akan pergi?” tanya Yasha.


Akio sejenak menghentikan langkahnya, lantas menuliskan sesuatu di atas tanah. Bertuliskan, "Aku akan mencari kepala dari semua yokai."


“Hm, maksud Tuanku adalah mencari siapa yang mengendalikannya bukan? Kalau begitu tolong serahkan saja pada saya,” ucap Yasha.


"Tidak. Kizu sudah berada di ibu kota. Dia yang akan membantuku."


“Kalau begitu apakah mungkin Tuan Akio merindukan si kakak, maksud saya Mikio?” Yasha menebaknya.


Tidak menjawab, lantas Akio pergi. Yasha pun tersenyum simpul mendapati Akio tanpa ekspresi saat ini. Yasha membuntutinya ke manapun Akio pergi. Persis seperti Akashi.


Ngomong-ngomong Akashi saat ini sedang bersama Nekomata. Mereka berada di Benteng Tenggara Honjou, yang di mana benteng itu sebelumnya pernah diserang oleh yokai yang memiliki rupa layaknya manusia. Bisa dikatakan jauh lebih kuat dari yokai terkutuk yang biasa menampakkan dirinya seperti asap hitam.


Alasan keduanya berada di sana, tentunya untuk berjaga-jaga jika Benteng Tenggara Honjou yang sedang melemah tidak diserang langsung oleh para yokai. Terlebih penghalang belum sepenuhnya pulih, dan cukup memakan banyak waktu hanya karena bagus tenggara saja yang memiliki kerusakan.


Meski begitu, Honjou takkan sadar bahwa ada dua yokai yang telah menjadi pengikut Akio berada di tempatnya sekarang.


***


Sementara itu Kizu. Berada di Rumah Bunga, sebagai Kinata. Geisha nomor 2 tercantik, kecantikannya memang tiada tanding jika dibandingkan dengan geisha lainnya. Namun tentu saja tidak dengan Oiran nomor 1 di negeri Shinpi-tekina.


“Kudengar ada geisha cantik yang keluar di malam hari. Apakah kau tahu itu siapa, Kinata?” Salah seorang pelanggan yang tengah dilayani oleh Kizu (Kinata) bertanya.


“Keluar di malam hari? Wah, dia sungguh berani sekali.”


“Benar bukan? Haha! Tadinya aku pikir itu adalah kau, Kinata. Tapi mana mungkin ya? Hahaha!” Terlalu mabuk membuatnya jadi berisik, ia tertawa bahak-bahak sembari memegang secangkir kecil untuk dituangi sake-nya lagi.


“Ya, tuan.”


Tak banyak yang didapat oleh Kizu di sini. Yang ada mereka hanya membicarakan soal geisha cantik yang keluar di malam hari. Kenyataannya itu bukanlah siapa-siapa selain Kizu sendiri. Ya, Kizu memang sering berjalan-jalan di malam hari. Niat hati menghindari banyak orang justru keberadaannya diketahui oleh beberapa orang.


Sembari menuangkan sake dalam cangkirnya. Kizu bertanya, “Tuan Samurai, jika boleh tahu apakah ada yokai yang sukar untukmu dilawan?”


“Wah, pertanyaanmu sungguh berani. Tapi, sejujurnya itu sangat sulit. Sulit untuk dikatakan, tapi baiklah akan aku katakan.”


Tak!


“Maksud Tuan?”


“Ya, seperti yang aku katakan. Mereka tidak biasa karena memiliki wujud manusia. Salah satunya adalah yang kemarin dilaporkan oleh Tuan Honjou Eno, dia mengalahkan wujud seekor laba-laba dengan kepala manusia di punggungnya.”


Tuan Samurai satu ini cukup jelas berbicaranya meski terkadang ia cegukan akibat banyak minum sake di waktu cerah ini. Meski dikatakan mabuk, ia tak sepenuhnya mabuk.


“Tuan Honjou Eno sungguh hebat karena mengalahkan laba-laba itu.”


“Ya. Tapi ada yang perlu kau perhatikan, Kinata. Yokai dengan wujud sepenuhnya nyata seperti itu, tidak hanya satu saja.”


“Kalau begitu ini akan menjadi semakin berbahaya,” ucap Kizu dengan berpura-pura berwajah sedih.


“Tenang saja. Aku akan melindungimu. Tapi meskipun aku berkata begini, aku jadi sedikit resah karena yokai satunya berwujud wanita cantik.”


Kizu tersentak kaget. Ia berpikir bahwa dirinya sudah benar-benar mulai ketahuan. Dan ini akan menjadi sulit baginya yang sudah menyamar sebagai wanita di tempat ini.


“Apa dia lebih cantik dariku?”


“Jangan salah. Dia memang cantik, tapi tak secantik dirimu,” ucap lelaki itu sembari tersenyum ramah.


Sejujurnya Kizu malas menanggapinya. Namun inilah peran Kizu sebagai geisha di tempat ini. Mau tak mau harus bersikap layaknya wanita, yah, sikap ini tidak begitu sulit ketimbang berubah menjadi hewan lain.


“Jadi Tuan Samurai, apakah yokai yang terlihat seperti wanita itu selalu berjalan di setiap malam harinya?”


“Ya, tebakanmu cukup benar. Tapi anehnya dia sering menggunakan baju pengantin.”


Rumor-rumor itu memang sudah menjadi kabar burung bagi para samurai. Termasuk samurai yang sedang dilayani oleh Kizu hari ini, nampaknya yokai itu ada. Anehnya lagi, yokai tersebut mengenakan baju pengantin tanpa adanya pasangan di samping.


Ia berjalan di setiap malam tanpa pernah berkata apa-apa. Wajahnya yang cantik bahkan hanya sekilas terlihat saja, tidak sepenuhnya.


“Jadi Kinata, jangan sungkan bila meminta bantuan.”


“Jadi karena itukah Tuan sering mengunjungi Rumah Bunga? Untuk memastikan apa yokai itu salah satu dari kami?” terka Kizu yang asal berkata saja. Ia berbisik ketika berada dalam dekapannya.


“Oh, hebat juga. Tapi jangan sampai teman-temanmu tahu.”


“Jika aku adalah yokai itu bagaimana?” ujar Kizu dengan wajah sedih, ia menatap nanar padanya. Ia pun berniat untuk menguji seberapa kuatnya insting lelaki ini.


“Hah?” Sontak saja pria itu mendadak tertegun. Ia nampak gugup begitu dihadapkan wajah cantik yang sedang berekspresi imut seperti Kizu.


Ia lantas memalingkan wajahnya yang tersipu malu sembari berujar, “I-itu ma-mana mungkin. Kinata bu-bukanlah yokai. Aku percaya itu.”


'Hehe, manusia selain Tuan Akio memang bodoh. Aku meminta bantuan pada Yasha untuk menyamarkan aroma maupun kehadiranku sebagai rubah. Tak aku sangka akan berefek lebih lama dari kekuatanku sendiri,' batin Kizu yang tengah asik menikmatinya. Ia hendak tertawa namun berusaha keras ia menahannya agar tak menjadi kacau nanti.


Kizu masih sibuk mengumpulkan informasi di Rumah Bunga dari setiap pelanggan yang datang dan dilayaninya. Di samping itu, untuk sesaat ia merasakan kehadiran tuan-nya. Dan benar saja, kalau Akio saat ini sedang berlarian di antara banyaknya kerumunan di jalanan dekat Rumah Bunga.


'Tuan Akio, apa terjadi sesuatu?' pikir Kizu dalam benaknya.