
Sesosok tak yang wajar telah muncul. Akio langsung menyadari ada seseorang yang melirik ke arahnya. Lekas ia pergi namun tanpa membawa dua pedang yang pada akhirnya kedua pedang tersebut mengikutinya.
“Ada apa Tuan Akio?” Akashi jadi ikutan panik.
“Ada sesuatu barusan.”
“Oh, sepertinya dia tersesat,” pikir Yasha.
Sesosok tersebut pun lama-lama menyadari kedatangan seorang samurai yang berlari menghampirinya. Karena takut, lantas ia segera pergi dengan kaki yang tak menapak seakan melayang di udara. Ia melesat cukup cepat, namun tentunya tak mudah lepas dari Akio.
Menggunakan pedang kayunya, seraya ia menggunakan batang pohon tuk melesat lebih cepat ke arahnya, sesaat pedang Akio hampir mengenainya justru ditahan oleh Yasha yang tiba-tiba muncul di depan mata.
“Yasha.”
“Ya, maaf, Tuan Akio. Dia ini Yuurei (hantu), hantu. Jiwa yang tersesat, kurang lebih sama seperti Mikio namun pria ini sedikit berbeda.” Yasha menjelaskannya sedikit.
“Yuurei?”
“HIIII! Samurai macam apa dia?! Dia punya hawa yang menakutkan, tolong aku Yasha!” pekik hantu tersebut, menjerit ketakutan dan bersembunyi di balik punggung Yasha.
“Sudah, sudah, tenanglah Yuurei. Pria ini Samurai Oni bernama Akio. Pria ini tidak sekejam yang kamu kira.”
“Eh, bohong.”
“Saya tidak bohong.”
Singkat cerita, Yuurei adalah hantu. Jiwa yang tersesat dan berkeliaran di wilayah Kuran. Ialah Yuurei yang pernah sekali diceritakan oleh Yasha. Perwujudan orang yang telah lama meninggal kini sedang cari tempat untuk kembali ke alam sebenarnya, namun ia memiliki kesusahan.
Tak lama, Akashi dkk menghampiri. Mereka sungguh terkejut begitu melihat perawakan Yuurei yang tinggi dan sulit disentuh. Seolah transparan atau memang wujudnya saja yang berupa jiwa tembus pandang.
“Orang mati?” tanya Akashi masih tak percaya, seberapa banyak ia berusaha untuk menggapai Yuurei yang kemudian berujung mustahil.
“Ya, benar Akashi. Yuurei adalah Yuurei, tapi nama aslinya Takao Hatekayama.”
Mendengar nama Hatekayama, Akio dan kakek lantas terkejut. Keduanya mencoba memastikan sesuatu dari hantu tersebut, seakan memang tidak percaya.
“Orang pengecut ini adalah bagian dari leluhur Hatekayama?” tanya kakek tak percaya.
“Jangan bercanda,” imbuhnya lantas tertawa.
“Kalau tidak percaya, mengapa kita tidak mengunjungi makam lamanya?”
Pada akhirnya, mereka pergi dari hutan, lantas menuju ke tempat pemakaman. Di sana tentunya memiliki banyak makam yang tertulis nama dan juga pedang mereka. Makam paling terlama ialah makam leluhur meski tempatnya sedikit lebih jauh dari makam yang sekarang.
Makam itu ada sudah lebih dari 80 tahunan. Lalu mereka menemukan nama Takao Hatekayama.
Yasha menunjuk nama itu sembari berpikir, “Bagaimana kita gali saja makam ini dan memastikan ukuran tulang atau tingginya sama?”
“Menggali makam leluhur itu tidak pantas, yokai.”
“Dan jangan katakan hal itu sambil tersenyum,” ucap Akashi merasa terganggu.
“Kalian semua tidak percaya denganku? Memang benar jika dilihat aku sangat pengecut. Lagi pula aku sama sekali tidak memiliki darah samurai. Hanya anak adopsi mereka.” Yuurei bernama Takao mengungkapkan.
“Takao Hatekayama. Jika boleh saya tahu, mengapa jiwa Anda bisa tersesat?” tanya kakek penuh dengan kesopanan.
“Jika bertanya begitu, aku sendiri pun tidak tahu bagaimana menjawabnya. Satu-satunya yang aku ingat, aku tersesat di antara dunia dan alam akhirat.”
“Tersesat di antara dua dunia ya. Hm, itu kenyataan yang sulit dipercaya.”
“Benar bukan? Aku juga berpikir takkan ada yang mempercayaiku. Tapi percayalah, dahulu aku adalah pendeta dan hal yang aku ingat adalah nyata.”
“Ya. Boleh saja.”
Yuurei, Takao Hatekayama. Pria ini dulunya hanya anak sebatang kara namun kemudian dirinya diadopsi oleh klan tersebut. Ia memilih jalannya sendiri, bukan sebagai samurai melainkan seorang pendeta. Tak banyak orang tahu mengenai dirinya.
Dan begitu Takao meninggalkan dunia, ia mengalami nasib buruk setelah bertemu yokai kuat pada masa itu, sehingga membuat jiwanya terjebak di antara dunia manusia dan alam akhirat.
Setelah itu, Takao menghadapi "telur", di dalamnya terdapat yokai terkutuk. Saat itulah Takao menyadarinya. Di mana ada celah di antara dunia ini dan itu maka yokai yang terlahir dari kebencian akan turun ke salah satu dunia tersebut.
“Yokai ada di sana. Sungguh menakutkan, jumlahnya lebih dari yang aku bayangkan.”
“Itu sungguh mengerikan. Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku?” tanya Yasha.
“Yasha, aku tidak cerita karena kau itu yokai tahu. Kau pikir aku akan percaya padamu begitu saja?” sahut Takao masuk akal.
“Jadi saya tidak dianggap.” Senyum masam terpampang jelas di wajah Yasha yang kecewa berat.
“Maaf, Yasha. Mungkin seharusnya aku mengatakan ini semenjak kau bertemu dengan samurai itu.”
“Samurai itu? Apa maksudmu Mikio?” pikir si kakek.
Takao menganggukkan kepala, pertanda itu benar.
“Lalu, karena saya terjebak di sana, saya pun tidak tahu harus berkata apa karena tiba-tiba saja gumpalan hitam yang besar mendorong saya kembali ke dunia ini. Tapi seperti yang kalian lihat,” ujar Takao.
Takao bermaksud mengutarakan bahwa dirinya kembali ke dunia karena terdorong oleh sesuatu berupa gumpalan hitam, bukan sebagai manusia utuh melainkan hanya jiwanya saja.
“Kemudian aku berpikir, "Hampir saja" dan, "Kupikir aku akan menjadi roh jahat juga", seperti itulah,” tutur Takao yang mengungkapkan perasaan leganya.
“Memang benar jika roh manusia tersesat akan membuat jiwa mereka rusak dan jadi mudah dikendalikan oleh yokai. Tapi Tuan Takao itu pasti pendeta yang hebat, ya.”
“Tidak mungkin. Aku masih harus belajar dari guruku,” ucap Takao rendah hati.
“Terima kasih, Tuan Takao Hatekayama. Saya lega karena Anda mengatakan hal itu. Karena mungkin saja sesuatu itulah yang mengendalikan para yokai saat ini.”
“Ya, terima kasih kembali.”
Sesuatu yang berjumpa pada jiwa Takao ketika berada di antara dunia dan alam akhirat, ialah sosok yang selama ini mengendalikan para yokai terkutuk. Itulah yang dipikirkan kakek tengu.
“Sesuatu itu bisa berwujud siapa saja. Bahkan bisa jadi itu adalah Takao atau mungkin salah satu dari kita,” sahut Akio memberikan pendapat.
“Kau benar, Akio. Kita tidak boleh lengah, karena yokai bisa berbentuk macam-macam, namun karena sampai saat ini belum ditemukan maka dia pandai menyembunyikan dirinya sendiri,” ujar kakek.
“Seandainya kita menemukan petunjuk untuk menemukannya. Maka negeri ini tidak akan dihantui lagi oleh yokai, benar?” Kizu berujar.
“Benar. Aku tidak ingin negeri ini sama menderitanya seperti Tuan Akio.”
“Kau tidak ingat lagi apa yang menjadi ciri khasnya, Tuan Pendeta?” tanya Nekomata seraya mendekat.
“HIIII!! MONSTER!” jerit Takao ketakutan, kembali ia bersembunyi di balik punggung Yasha.
“Yuurei, ini Nekomata. Meski dia sangat membenci manusia tapi tidak dengan Tuan Akio maupun roh sepertimu,” tutur Yasha.
“Be-begitu. Jadi, apa pertanyaanmu?” Dengan gugup ia kembali menanyakannya.
“Kau tahu ciri khas yokai itu?”
“Aku tidak tahu. Selain gumpalan hitam.”
Intinya, tidak ada ciri khusus lainnya lagi.