
Pedang Retsuji ada untuk memusnahkan yokai dalam sekali serang. Terdapat kekuatan spiritual yang menumpuk dari generasi lama hingga sekarang, dan itu berbuah menjadi kekuatan yang besar. Seharusnya menyerang satu yokai semudah membalikkan tangan, namun sepertinya Akio masih belum cukup kuat untuk memaksimalkan kekuatannya.
“Jika Anda bersikeras seperti ini.”
Berulang kali Akio menyerangnya menggunakan pedang yang sama. Namun yokai itu hanya sibuk menghindar dan tidak menyerang Akio sama sekali.
“Kenapa kau datang hanya untuk melakukan pekerjaanku?”
“Karena aku ingin. Atau mungkin, takdir?”
Embusan angin terkumpul pada satu titik di bagian mata pedang Retsuji. Kedua tangan Akio menggenggamnya sangat kuat sampai pedang itu takkan pernah terlepas usai menghabisi satu yokai ini.
“Oh.”
Ia mulai sadar bahwa kekuatan Akio mulai berkumpul dalam satu titik. Setelah beberapa saat embusan angin menerpa segalanya di sana, serta menyibak tirai—tempat di mana Hima dan putra-putranya berada.
Bersamaan dengan mengayunkan pedangnya, yokai mengubah wujudnya kembali menjadi puluhan kupu-kupu. Dalam sekejap aura yang cukup besar mengitari luar ruangan, setelah ia berbalik badan, semua kertas mantra pencipta penghalang telah lenyap.
“Penghalangnya lenyap?”
Kekuatan yang cukup besar didominasi oleh satu yokai berwujud kupu-kupu serta wanita cantik. Namun tidak hanya ia seorang, bahkan ada satu yokai lagi yang memiliki kekuatan seimbang, namun sejak tadi Akio hanya sekilas merasakannya bukan melihat keberadaannya.
“Tuan Samurai. Bisakah Anda menceritakannya terkait hal yang barusan terjadi?” Hima bertanya pada Akio yang sudah mendekatinya. Hima hendak menyibak tirai itu lagi, namun Akio menahannya dengan satu genggaman tangan.
Sembari ia mengacungkan pedang, melewati celah dari tirai itu, sontak saja Hima dan para putranya terkejut.
“Tu-tunggu sebentar! Apa yang kau lakukan? Bukankah kau samurai? Kenapa mengarahkan pedangmu pada adikku!?” amuk Higo. Ia tak ingin jika adiknya terluka.
“Higo, dia bukan adik kita. Lihat baik-baik.”
“Tidak mungkin.”
Begitu Akio mengacungkan pedang, bayangan milik si bayi merah menunjukkan wujud lain yakni wujud oni (iblis), sedang bercakap-cakap pada Akio.
“Kau tahu apa yang terjadi jika kau terus-menerus mengacungkan pedang suci itu padaku.” Oni mengarahkan cakar pada leher Hima, namun itu hanya dalam bayangannya sedangkan wujud yang terlihat secara fisik hanyalah bayi yang menangis kencang.
Oni berniat menyerang Hima, ia menjadikannya sandera agar Akio tak bergerak selangkah pun. Hal itu membuat Akio jengkel, karena seluruh perkataan dari yokai wanita itu menjadi kenyataan.
“Cepat, sarungkan pedangmu kembali.” Oni itu memberinya perintah.
“Tu-tunggu sebentar. Apa ini mungkin?” Hima tergagap-gagap, ia mulai sadar melalui bayangan tak wajar berada di tirai. Menyadari bahwa bayinya bukanlah bayi seperti biasa melainkan Oni.
“Tidak mungkin!” sangkal Higo menolak kenyataan, lantas ia merobek tirai di mana bayangan itu ada.
“Khe khe khe ...mereka sangat menyayangi bayi ini. Sepertinya kau memang harus pergi dari sini, Samurai Oni.” Oni tertawa dengan puas seolah sedang memenangkannya.
***
Di luar kastil Hatekayama. Kazuki, Uchigoro, dan Mizunashi sedang berjaga di luar. Mereka masih resah setelah dipanggil untuk yang kedua kalinya oleh para wanita dalam kastil untuk mengatasi sesuatu yang masih diambang kenyataan.
Kini, ketiga dari mereka, mulai berpikir lebih mendalam. Apa yang kurang, dan apa yang mereka rasakan. Dan tanpa sadar mereka pun telah melewatkan puluhan kupu-kupu yang melintas di atas kepala mereka.
“Perasaan aneh apa yang barusan aku rasakan?”
“Kalau kau sendiri saja tidak tahu. Lalu bagaimana dengan kami?” ucap Kazuki dan Uchigoro secara serentak.
“Tidak ada gunanya berpikir panjang lebih lama lagi. Mungkin akan lebih baik kita masuk ke dalam?”
Semuanya sudah lelah hanya karena merasakan perasaan yang tidak begitu menyenangkan. Dan kini, lagi-lagi pelayan pertama yang mendatangi mereka untuk memberitahukan sesuatu.
“Tuan-Tuan Samurai!” pekiknya memanggil lantas jatuh tersandung kakinya sendiri.
“Hei, apa kamu baik-baik saja?”
“Daripada itu ...saya melihat Samurai Oni. Cepatlah ...datang dan masuk ke dalam ruangan. Ada situasi yang aneh di sana. Kumohon!”
Sontak saja ketiga-tiganya terkejut. Mereka tak pernah sadar akan keberadaan Akio yang melewati penjagaan mereka. Satu-satunya jawaban yang ada dalam benak mereka adalah; Akio pasti berjalan di atap itu.
“Baiklah. Aku akan segera ke sana. Kalian berdua jaga di bagian depan dan belakang. Pastikan juga di bagian jendela karena kita tidak akan tahu kapan dia akan pergi.”
“Baik!” Kazuki dan Uchigoro mengganggukkan kepala secara bersamaan.
Sedang Mizunashi Kage akan masuk ke dalam untuk yang ketiga kalinya.
“Nyonya!”
Brak!
Mizunashi membuka pintu dengan kasar, ia lekas mengitari pandangannya ke sekitar guna mencari keberadaan Samurai Oni yang nampaknya sudah menghilang dari ruangan ini.
“Wah, dia sudah pergi? Sejak kapan?” Mizunashi berjalan cepat menuju jendela. Tak terlihat keberadaan Akio di bagian atap rumah penduduk di sekitar. Lalu Kazuki dan Uchigoro telah menghilang dari penjagaan mereka yang membuat Mizunashi berpikir bahwa mereka berdua telah mengejar Akio.
“Huh, baiklah kalau begitu.”
“Anu ...ada apa?”
“Tidak. Sepertinya dia sudah pergi.” Mizunashi bergerak mendekati tirai lantas bertanya, “Nyonya, apa mendengarkan saya? Saya Mizunashi Kage. Datang untuk menanyakan keadaan Anda.”
“Ya. Tuan Samurai. Kami baik-baik saja.”
“Tapi pria itu mengarahkan pedangnya pada adik kami!” sahut Higo.
“Bukan. Aku yakin ini bukan adik kita. Dia hanyalah oni! Iblis!” pekik Haru, bersitegang pada adiknya sendiri.
“Kalian berdua, tenanglah. Kumohon,” pinta sang Ibu yang sudah mulai kelelahan entah karena apa, namun agaknya ia masih merasa syok karena bayangan yang sebelumnya ia lihat.
“Sebenarnya ada apa ini sebenarnya? Bisakah kalian menceritakan kejadiannya?”
“Kau Samurai tapi tidak tahu apa-apa?! Jangan bercanda! Adik kami hampir saja dihabisi!”
“Tidak. Itu ...tidak benar! Itu ...,”
Sulit untuk mengutarakannya, karena satu masalah melibatkan banyak orang dalam satu waktu. Terutama setelah Hima mendengar percakapan di antara Akio dengan yokai wanita itu, yang di mana yokai tersebut mengaku tidaklah salah melainkan ingin membantu Akio yang hendak melenyapkan bayi merah.
Namun, seperti yang diucapkan oleh Haru, “Bayi merah ini adalah Iblis! Samurai Oni hanya ingin menghabisinya saja!”
Tak lain dengan ucapan Higo, “Tidak! Mana aku percaya?! Lihat! Dia hanya anak bayi yang menangis ketika didatangi oleh Samurai Oni namun begitu dia pergi, adik kita sudah tenang kak!”
“Tentu saja dia menangis karena dia takut akan dihabisi sebagai Iblis. Semua yokai itu takut pada Samurai Oni, dan bukan sebaliknya!” ungkap Haru tak mau kalau. Ia mati-matian membela Samurai Oni, ia bisa menaruh rasa kepercayaannya pada Akio.
Melihat hal itu, Mizunashi teramat senang. Namun juga sedih bila melihat Higo yang sama seperti dulu, hari ketika ia mulai menuduh Akio yang telah membunuh Shogun di depan mata.