
Takao Hatekayama, ialah seorang pendeta yang kini menjadi jiwa tersesat di dunia. Ia tidak begitu menyesal apa yang telah terjadi kepadanya, sebab ia merasa memang seharusnya seperti ini ketika bergulat dengan para yokai.
“Tuan Takao, apa Anda tidak berniat untuk ke alam akhirat sebagaimana setiap orang mati akan pergi ke sana?”
“Jika bisa sudah aku lakukan sejak awal.”
“Itu sungguh disayangkan.”
Kakek tengu berjalan menjauh dari makam paea leluhur yang sudah ada selama 80 tahun silam, kini ia mengajak Akio yang sampai saat ini masih diikuti oleh dua pedang bernyawa.
“Kau menemukan apa yang kau mau. Ini bisa menjadi petunjuk untukmu mencari keberadaan itu, benar?”
“Ya.”
Petunjuk berupa apa pun tetaplah sebuah petunjuk. Meski hanya samar-samar.
“Sekarang dua pedang mengikutimu ke manapun kau pergi. Kau mungkin tak peduli, tapi jika dibiarkan pun akan membuatnya tak bisa menggenggamnya.”
“Apa maksudmu?”
“Bawa pedang itu ke hadapanku sekarang.”
Sesuai yang diminta oleh kakek, dengan biat saja pedang itu langsung tahu dan bergegas ke hadapan kakek.
“Oh, dia menurut.”
Dua buah pedang terletak di atas pasir dalam keadaan "mati", kakek memperhatikan setiap celah yang ada pada bagian pedang tersebut.
“Sentuhlah pedang itu dengan kekuatan spiritualmu,” pinta si kakek.
Akashi dkk penasaran apa yang sedang dilakukan oleh mereka berdua. Lantas bergegas menghampiri dan memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Akio.
Semula terlihat baik-baik saja tapi setelah Akio menyentuh kedua pedang secara bersamaan, aura dari Retsuji terpancar dan kemudian menyatu dengan spiritual Akio. Sementara pada pedang roh jahat tersebut, ia merasa kekuatannya terhisap.
Akio kesulitan menahannya, hingga ia pun masuk ke dalam pedang tersebut. Tanpa jejak sama sekali, baik raga maupun jiwanya telah berada di dalam pedang.
“Tuan Akio!!”
“Hei, kakek cebol! Apa yang kau lakukan?!”
“Tenanglah, Akio hanya berpindah tempat saja. Nanti dia akan kembali setelah selesai,” jawab kakek.
“Aku yakin terjadi hal buruk,” pikir Kizu.
“Ya, itu kenyataannya.” Yasha setuju dengan anggapan Kizu.
Karena Yasha yang paling tahu bahwa pedang tersebut mengandung ratusan roh jahat. Pedang itu ditempa ulang namun belum sepenuhnya jadi. Kakek itu malah memberikannya pada Akio.
Berkata hanya akan mengujinya, namun entah Akio bisa selamat atau tidak dari sana.
Pedang yang dipenuhi oleh roh dan aura jahat dari ratusan yokai. Mereka sebelum ini tak merasuki pedang berkarat, dan entah dengan alasan apa pula mereka semua yang menaruh dendam pada Akio justru memutuskan masuk ke dalam pedangnya.
Yang seharusnya tidak boleh digunakan, terlebih dalam kondisi karatan seperti itu, meski telah ditempa ulang setengah jadi, tetap saja terdapat ratusan yokai di sana akan membuat Akio kewalahan melawannnya.
Ia seolah jatuh ke dasar laut. Setelah beberapa saat terhisap masuk ke dalam pedang, ia mendapati dirinya berada di halaman luas dengan padang rerumputan yang layu dan langit yang gelap gulita serta banyaknya awan bergumul pekat di sekitar.
Hawa yang tidak enak berada di tempat ini. Firasat Akio pun tidak pernah salah bahwa kedatangannya ke sini adalah yang terburuk yang pernah ada.
Bagaimana ia tidak kesal, jika dirinya tiba-tiba berada di sini. Padahal Akio jelas tahu terdapat roh jahat di sini dan dengan bodohnya malah mengikuti alur saja.
“Argh! Menyebalkan!”
Mencoba untuk keluar pun ia sama sekali tak terpikirkan dengan cara apa. Dengan tubuh utuh serta pedang kayu dalam genggaman tangan kanannya, memotong apa yang bisa ia potong tentunya tak membuat Akio keluar dari tempat ini.
“Setidaknya kasih tahu jalan keluarnya, kek. Dasar.”
Pada akhirnya di bawah langit gelap ini, Akio berlari sembari memegang pedang kayu erat-erat. Sesuai yang ia rasakan, kini yokai berwujud ular panjang datang dari arah belakang.
Disusul dari arah depan, wujud mereka yang menyerupai senjata berupaya mengepungnya. Akio lantas melompat ke atas membuat mereka saling serang secara langsung.
“Cuman yokai rendahan macam kalian ingin membunuhku?”
“Samurai Oni!! Tidak bisa dimaafkan! Kau membunuhku! Membunuh semuanya!” pekik salah satu dari mereka yang muncul dari atas langit.
Sekilas teringat kata-kata yang diturunkan dari leluhur. Yokai yang datang dari langit, siapa sangka ia akan benar-benar melihatnya seperti ini. Yokai itu berwujud seperti seekor naga awan tanpa memiliki sayap. Bentuknya panjang seperti ular, bersisik seperti ikan dan wujudnya itu sangatlah besar tak terkira. Bahkan hampir memenuhi langit yang Akio lihat.
“Hm, apa aku pernah membunuh seekor naga? Sepertinya tidak.”
Jika dipikir itu benar. Dan sekarang wujud seekor naga awan itu mulai membelah dirinya menjadi ribuan bagian hingga terbentuklah yokai-yokai terkutuk yang tak asing di mata Akio.
“Oh, jadi mereka berkumpul begitu? Yah, kalau begini pun aku masih tak ingat apa pernah membunuh yokai rendahan macam kalian?”
Tak merasa takut dengan jumlah tersebut, justru Akio merasa tertantang. Dirinya yang adalah seorang samurai tak berkelas, kini bertarung di udara dengan menggunakan para yokai sebagai pijakan.
Setiap ia memotong mereka sebelum menyerang, Akio akan menggunakannya sebagai tempat pijakan untuk mencapai tempat teratas. Satu demi satu, sesekali mengayunkan pedangnya lebih kuat tuk melenyapkan puluhan dari mereka.
“GARRRGHHHH!!”
Kali raungan keras dari seekor harimau, kedua taring itu bersinar menyamai warna mata merahnya, terasa sekali hawa membunuh kuat dari arah samping.
Hendak Akio menyerangnya, namun ia terlambat selangkah karena sisa yokai terkutuk juga menyerangnya dari arah lain.
SRAAAAKKKK!!
Tubuhnya terdorong, terseret jauh ke tanah. Akio sama sekali tak berdaya karena serangan dari harimau itu.
“Sakit ...tidak biasanya. Ada apa denganku?” Ia mulai merasa lemah setelah beberapa menit bertarung melawan mereka. Sejujurnya ini kali pertama Akio merasakannya.
Harimau itu kemudian menjaga jarak usai Akio terbaring lemas di tanah. Nampak napas Akio berat serta jantungnya pun berdegup kencang tak karuan. Baik stamina maupun kekuatan spiritual Akio sudah terkuras hingga setengahnya, seolah-olah ada sesuatu yang menyerap kekuatannya itu.
“Hah ...hah ...tidak bisa dipercaya. Ini seperti pertunjukkan eksekusi yang hanya dihadiri oleh para yokai. Hah ...!” Akio menghembuskan napas kasar, lantas segera mengangkat punggung dan berdiri dengan memasang kuda-kuda.
Jeritan dari kebanyakan mereka hanya dipenuhi oleh kebencian terhadap Samurai Oni seorang. Menaruh dendam karena mereka telah dibunuh oleh Akio, itulah yang mereka inginkan. Inilah alasan mereka yang masuk ke dalam pedang.
“Samurai Oni! Kau akan mati di sini!!”
“Menarilah sebelum kau menderita lalu mati!!”
“Akio!! Akio, anak malang! Takdirmu sudah berada di tangan kami! Jadi serahkan jiwamu!!”
“Jadi begitu ...,” gumam Akio. “Jadi begitu, kalian berharap aku menggunakan pedang kalian hanya untuk menghabiskan kekuatanku lalu mati?” pikirnya.
“YA! BENAR!!” Suara dari harimau yang sama, berteriak keras menanggapinya.