Samurai Oni

Samurai Oni
INGIN BERTEMU



Ini adalah keajaiban yang jarang sekali terjadi. Akio ternyata mampu meluluhkan satu persatu dari para yokai.


Salah satunya adalah, si rubah.


“Kizu, Kizu, Kizu, Kizu.” Sepanjang perjalanan bersama lainnya, rubah menggumamkan nama baru miliknya itu dengan girang.


Akashi merasa cemburu sedang Nekomata mencuri kesempatan agar dapat duduk di atas kepala Akio saat ini.


Akio melangkah pergi meninggalkan rumah bukan untuk berkeliling seperti biasa melainkan ingin bertemu dengan kakek tengu. Ia akhirnya bertemu ketika baru saja turun dari puncak.


“Kau mau ke mana?” tanya si kakek.


Akio menunjuk ke arah pulau kecil yang jauh dari tempatnya. Wilayah Kuran.


“Jangan ke sana dulu. Nanti juga ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Sekarang, klan Yamamoto sedang membutuhkan pelayan,” ujar si kakek.


Akio terkejut, ia melangkah mundur begitu mendengar nama klan yang telah lama membuangnya.


“Ngomong-ngomong untuk apa kau memamerkan tubuhmu? Kau ke manakan pakaian ...,” Tanpa dijawab pun, si kakek langsung tahu kalau pakaian Akio sekarang digunakan oleh Kizu.


“Ya sudahlah, pergi sana!”


Karena tidak bisa menolak permintaan si kakek, akhirnya ia pergi ke klan Yamamoto yang berada di kaki gunung bagian selatan, berlawanan dari rumah puncak gunungnya.


“Akio!” Ternyata sang ibu yang menyambut.


Ibu yang nampak masih awet muda itu tersenyum lembut padanya lalu memeluk Akio dengan hangat. Untuk sesaat tiga yokai itu terdiam dengan rasa takjub, seolah melihat serpihan dari sinar matahari yang hangat menyinari mereka berdua.


“Oh, maaf. Aku tahu kamu sudah dewasa, tapi aku malah memelukmu di depan teman-temanmu,” ucap (nama sang ibu) merasa bersalah.


“Sebenarnya aku meminta bantuanmu untuk menjahit beberapa helai kain yang ada di sini. Tenang saja, Ayahmu Kaede sedang tidak ada di sini,” imbuhnya lantas mengajak Akio masuk.


Tugas yang dipikir akan berat ternyata serumit ini. Akio sama sekali tidak pernah menjahit sesuatu dan ini kali pertama Akio memegang jarum dan benang, mana mungkin ia bisa melakukan tugas ini.


“Lain kali pakai pakaianmu dengan benar, Akio,” ucap sang Ibu seraya menyampirkan pakaian ke punggung Akio yang sedang bersusah payah menjahit sesuai pola.


Di samping itu, tujuan dari Ibu Akio yang sebenarnya bukanlah tugas menjahit. Ia meminta bantuan pun hanyalah kedok. Sebab ia hanya rindu pada putra semata wayangnya satu ini.


“Kalian adalah teman-teman Akio bukan? Salam kenal, aku Ibunya. Semoga kalian semua akur dengan baik ya,” harap sang Ibu.


“Dari pada teman. Aku, Akashi adalah pedang Tuan Akio!” ungkap Akashi dengan percaya diri dan bersemangat tinggi.


“Eh, ternyata begitu. Wah, wah, aku sampai mau menangis. Tak aku sangka putraku akan punya pengikut seperti kalian.”


“Ya! Tuan Akio baru saja memberiku nama, Kizu. Aku sangat senang sampai mau menangis juga,” sahut Kizu terus tersenyum sepanjang waktu.


“Aku—” Nekomata hendak berbicara, namun sebelum itu terjadi, Akashi dan Kizu serentak membungkam mulutnya.


Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


“Ngomong-ngomong apakah kamu bisa melihat dari balik topeng? Bukankah terasa sesak?” Ibu cemas karena Akio selalu menggunakan topeng oni tersebut, berniat membantu melepaskannya namun Akio menghentikan tangan Ibunya agar tak melepaskan topeng ini.


“Oh, tidak mau ya?”


Detik itu juga, ia merasakan ada bahaya. Yokai terkutuk telah datang. Tak hanya Akio, ketiga dari peliharaannya juga menyadari hal tersebut.


“Yokai?”


“Aromanya tercium menyengat, mungkin ada di sekitar gunung,” pikir Akashi.


“Kalau begitu kita harus bergegas.”


Ibu hanya bisa tersenyum masam ketika Akio pergi meninggalkannya lagi tanpa bicara apa pun.


“Ternyata di dekat rumah Tuan Akio?”


Terhitung 5 ekor yokai terkutuk, dengan sejenis yang bahkan hampir menyerupai manusia hanya saja lehernya dapat memanjang hingga beberapa meter.


Hendak Akio menarik pedangnya, namun Akashi dan Kizu langsung sigap menyerang yokai itu.


“Cukup dengan kami, Tuan Akio tidak perlu bertarung!” ujar Kizu.


Sama sekali Akio tidak menyuruh mereka, namun mereka sangat berantusias. Terutama Akashi dan Kizu, mereka selalu bergerak lebih cepat untuk menyeimbangkan kekuatan masing-masing guna melawan para yokai.


Tetapi, Akashi sedikit mengalami kesulitan. Pengaruh rasa takut yang hadir tiba-tiba akibat larut dalam perasaan seseorang, yakni Nekomata. Meski dikatakan tidak takut, namun ada perasaan ngeri hanya dengan melihat yokai.


“Kepalanya memanjang, jenis yang sungguh menjijikan. Aku tidak mau ikut bertarung tapi ini akan membuat yokai-oni itu terpengaruh karenaku.”


Nekomata pun menyadarinya, ia segera melompat dari atas kepala Akio, wujud kecilnya berubah sedikit demi sedikit menjadi besar. Kucing kecil telah menunjukkan taring tajamnya, sangat menyeramkan hingga terasa aura pekat di sekitarnya.


“Wah, Nekomata bisa begitu?”


“Jangan takut, yokai-oni! Jangan membiarkanmu perasaan orang lain mengikut padamu!” pekik Nekomata dengan suara besar sedikit menggaung.


“Apa? Kau takut, Akashi?”


Tidak ingin menjadi beban, Akashi terdorong oleh perasaan kuat mereka. Siap meneguhkan tekad di atas cakar sebagai pedang serta perisai Akio, ia mengoyak leher panjang itu hanya dengan sekali cabik.


Menggigit, mencabik, memukul atau menginjak. Segala cara mereka lakukan hanya untuk melenyapkan para yokai terkutuk.


Pertarungan sesama sejenis terlihat dan terasa sangat mengerikan. Hawa hitam seakan telah melahap mereka, namun pertarungan ini tentu takkan mengorbankan sesuatu yang mereka miliki.


Yang berbeda dari para mahluk setengah yokai, darah.


Syaakkk!!


Sayatan tajam melengkung bagai bulan sabit telah berhasil melukai salah satu yokai tersisa, tetapi leher itu kembali memanjang hingga menggigit punggung Akashi.


Kizu datang membantu melenyapkannya. Sementara Nekomata akhirnya menyelesaikan serangan terakhir dari satu yokai lainnya yang tersisa.


Pertarungan habis-habisan, terluka adalah sebagai tanda dari perjuangan mereka. Entah manusia ataupun yokai, entah yang mana mereka sebenarnya, hati dan darah yang tumpah akan menjadi jawaban bagi mereka.


Berbeda dengan para yokai terkutuk, tak memiliki perasaan selain nafsu membunuh dan rasa lapar akan daging manusia.


Akhirnya, 5 yokai leher panjang berhasil dikalahkan, lenyap tak bersisa bahkan tak ada jejaknya sama sekali. Lalu, rumah mereka pun akhirnya aman dari bahaya.


“Kita mengalahkannya!” seru Akashi.


Kakek tengu tiba-tiba muncul dari atap rumah. Nampaknya ia melihat pertarungan yang barusan terjadi.


“Sungguh mengesakan, kalian semua,” ucapnya memuji.


“Khe, khe! Begitulah!”


“Jadi sejak awal ada yang mengintai dan membiarkan yokai itu berkeliaran di rumah ternyata,” ujar Kizu seraya berkacak pinggang.


“Dia kakek yang tadi ya.”


Melupakan pertarungan itu, kakek berjalan menghampiri Akio lantas bertanya, “Bagaimana? Sudah bertemu dengan Ibumu, 'kan?”


Akio mengganggukan kepala.


“Bagus. Lalu, Kage memberitahuku bahwa Mikio ingin bertemu denganmu.”


Merasa sedikit khawatir, kakek itu menepuk pelan bagian kakinya seraya mengucapkan sesuatu dengan lirih, “Aku tidak melihatnya secara langsung. Jadi berhati-hatilah.”