
Kuran, tempat di mana memiliki pulau berdiri sendiri. Terpisah dari pulau utama, Shinpi-tekina. Di tempat ini hanya ada padang pasir dan sedikit rerimbunan hutan dan danau kecil berisikan air tawar. Dikatakan Kuran tak tepengaruh oleh cuaca itu sendiri, dan selamanya akan terjadi cuaca panas.
Namun bukan berarti Ikiryo kembali terlahir di sini, sebab Kuran bukanlah tempat singgah yang pantas. Tak hanya Ikiryo, bahkan yokai takkan lahir di Kuran, dan sebagai gantinya ada sesosok asing seperti hantu dan semacamnya terkadang muncul.
Keramat, wilayah tak terjamah, seolah Kuran adalah neraka.
Lalu, Akio dkk diusir dan kembali ke Kuran ini. Mereka tak bisa singgah terlalu lama. Berhubung luka Akio sudah membaik seiring berjalannya waktu.
“Hah, Tuan Akio pergi ke mana ya?”
Saat ini, Akashi sedang duduk di dekat batu nisan Mikio. Ia menatapnya seraya memikirkan keberadaan Akio yang mendadak hilang setelah sampai ke Kuran.
Kakek tengu muncul dari belakangnya, ia menepuk pundak Akashi seraya berkata, “Kau sedang apa di sini, bocah?” Ia bertanya.
“Eh, kakek cebol? Aku hanya duduk diam seperti yang diperintahkan Tuan Akio.” Akashi menjawab.
“Berhenti memanggilku dengan cara tidak sopan seperti itu.”
“Apa sih? Aku hanya berbicara sesuai kenyataan, kakek.”
“Kau ini seharusnya belajar etika. Dasar tidak tahu malu.”
Memang seperti inilah Akashi, selalu bersikap seenak jidatnya sendiri.
“Kalau tidak salah namamu, Akashi?” tanya kakek. Ia kemudian duduk di sebelahnya.
“Iya. Benar.”
“Siapa yang memberimu nama itu?”
Akashi menjawab, “Tidak tahu. Aku tidak tahu.” Dan sesuai jawabannya, raut wajah Akashi tidak menunjukkan adanya kebohongan.
“Nama itu sungguh sangat cocok untukmu, Akashi yang berarti merah terang. Sama dengan tangan kirimu itu.”
“Jadi?” Akashi memiringkan kepalanya.
Kakek tengu memberikan sebuah katana biasa. Tak ada sesuatu di dalamnya selain pedang seperti pedang biasanya yang hanya bisa memotong.
“Aku memberikan ini untukmu. Kau berkata ingin menjadi pedang bagi Akio bukan?” ujar si kakek.
Lantas terkejut sekaligus tak percaya, ia mengetahui ada sedikit keraguan sehingga Akashi berjaga jarak dengannya.
“Hei, hei, ada apa?” tanya kakek yang seketika itu panik.
“Aku merasa takut dengan pemberianmu,” katanya.
“Entah apa yang kau rasakan. Tapi aku benar-benar berniat memberikan pedang ini padamu. Kau tidak mau? Ini pedang sungguhan loh.”
“Kenapa tidak berikan saja pada Tuan Akio?”
“Akio akan mematahkannya dalam sekali pakai.”
Akashi memang menyebut dirinya sebagai pedang Akio, sebagaimana ia mengabdi pada Akio seumur hidup. Tentunya ia juga mengagumi banyak pedang dengan tertentu jenisnya seperti Katana, Nodachi dan sebagainya.
“Ba-baiklah!”
Dari awal, mana mungkin Akashi menolak pemberian tersebut.
Ketika Akashi hendak mengambilnya. Si kakek justru menarik pedang itu kembali.
“Katanya untukku!?” sahut Akashi.
“Akan aku berikan setelah kau memenuhi permintaanku. Tenang saja, permintaan ini juga demi kebaikan Tuan Akio-mu itu.”
***
Sementara yang lainnya tengah terpencar ke setiap sudut di Kuran, entah melakukan apa. Sedang Akio sendiri tengah berada di danau dalam hutan. Air tawar di sana terlihat sangat jernih, juga tentunya bisa diminum dibandingkan dengan air laut.
Adapun sebuah jubah hitam yang nampak tersangkut di bagian atas batu besar serta sebuah pedang (Nodachi) yang memiliki ukuran lebih besar dan panjang bersandar pada batu tersebut.
Milik seseorang yang Akio kenal.
“Kakak.”
Meski terdapat rerimbunan hutan, namun nampaknya angin berembus pun tetaplah terasa sangat panas menyeruak. Begitu juga dengan air sejernih itu. Terasa sangat panas seolah mendidih hanya dengan disentuh sedikit.
“Kakek menyuruhku datang kemari sebenarnya untuk apa?” Akio bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Kuran adalah wilayah yang sepi, dan Akio pun merasa tak masalah dengan melepas topeng oni dari wajahnya. Menanggalkan gelar terburuk sepanjang sejarah, keyakinannya sebagai samurai sejati bisa saja tertindas hanya karena memiliki pedang kayu yang bahkan sudah rusak untuk yang kedua kalinya.
Duduk di pinggiran danau, terlihat ia menatap penampilan bak orang gila di pantulan air tawar tersebut dengan sedikit tersenyum.
Menatap dirinya sendiri yang kini memiliki rambut tajam dan panjang, serta banyak cabang yang seolah dipotong secara asal. Benar-benar telah menutupi seluruh wajahnya.
“Kesepian 'kah?”
Berdiam diri sendiri tanpa seorang pun di sisinya saat ini, membuat ia teringat akan perkataan ayahnya, Yamamoto Kaeda.
“Tuan Yamamoto itu bilang, mengapa aku bersama para yokai, sebegitunya kah aku merasa kesepian? Katanya,” ucap Akio bermonolog, mengulang pertanyaan Kaeda yang sampai ini terngiang-ngiang di benaknya.
“Mana mungkin!!” Namun Akio dengan tegas menyangkal, ia berteriak lantas memukul air itu, dan selama beberapa saat membiarkan kepalan tinjunya terendam air tawar yang panas.
“Mana mungkin aku merasa kesepian. Lagi pula sejak awal aku 'kan memang sendirian. Heh, bodoh.”
Akio tiba-tiba saja mengamuk sendiri. Ia melipat kedua lengannya ke depan dada dengan menghembuskan napas secara kasar, ia terus menggumam-gumamkan bahwa dirinya ini tidak pernah merasa kesepian.
“Lebih baik aku tidur saja,” ucap Akio dengan perut bergemuruh.
***
Akashi dan lainnya tengah membuat sesuatu. Sejak tadi Akashi sibuk menggotong beberapa batang kayu sekaligus yang kemudian dibelah lagi menjadi beberapa untuk sesuatu.
Sementara kakek tengah bersiap tuk melakukan sesuatu pada pedang yang berkarat di genggamannya tersebut.
“Anda bilang bahwa pedang itu sudah disucikan, tapi mengapa saya merasa itu tidak pernah disentuh sama sekali?” ujar Yasha yang mendadak muncul dari belakang kakek.
“Argh! Mengagetkanku saja kau ini.” Spontan kakek melempar pedang tersebut ke tanah.
“Jadi kau bertanya sesuatu tentang pedang ini? Pedang ini sama sekali tidak bisa disucikan, kau tahu,” ujar kakek memberikan penjelasan.
“Tidak bisa?”
“Ya, benar. Pedang ini sudah menjadi sarangnya roh jahat para yokai yang telah terbunuh di tangan Akio,” jelasnya sekali lagi.
“Lalu, apa niat Anda?”
Si kakek bertopeng tengu itu lantas tersenyum dengan sesuatu arti yang mendalam. Mata kecilnya itu makin menyipit seolah-olah sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya.
“Anda membuat saya takut.”
“Yokai macam apa kau yang takut denganku. Hei, cobalah semburkan api di bawah kolong ini,” pinta si kakek seraya menunjuk lubang dari tumpukan potongan batang kayu.
“Anda berniat menempa kembali pedangnya?” pikir Yasha yang merasa itu mustahil.
Pedang berkarat itu seharusnya sudah tak berguna, namun karena kebanyakan roh para yokai masuk telah membuat pedang itu sekeras bahan material yang melebihi baja, si kakek mencoba untuk menantang diri sendiri.
“Jangan berpikir ini tidak mungkin, yokai.”
“Saya tidak bilang begitu, tapi kalau berpikir iya. Tapi kalaupun berhasil, bukankah itu akan menjadikan pedangnya semakin berbahaya?” ujar Yasha.
“Aku hanya ingin menguji kekuatan Akio. Jika bisa menggantikan Retsuji,” ucap si kakek sembari mengangkat pedang itu.