
Bab 7 Kitsune (Rubah) Bag II
Hanya dalam sekali bantingan, membuat dua yokai tak sadarkan diri di tempat. Tetapi, perlahan rubah membuka kedua matanya setelah indera penciumannya menangkap bau yang sedap.
“Tahu ...goreng?”
Begitu melihatnya, tanpa sadar ia sudah termakan pancingan Akio. Tahu goreng yang baunya menyengat itupun langsung dilahapnya dengan nikmat.
“Enak, enak,” kata rubah itu memuji makanan yang sudah tersedia.
Namun tak berselang lama kemudian ia pun tersadar ada yang aneh. Setelah memakan tahu goreng hingga tak bersisa, manik matanya melirik Akio dengan kebingungan namun juga kebencian.
“Kenapa tahu goreng?” tanyanya.
Akio hanya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kau sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun. Ha, sudah kuduga kau itu bisu,” ujarnya seraya berpaling.
“Hei, jangan-jangan tahu yang barusan itu diracuni?!” duganya.
Akio sekali lagi menggelengkan kepala dan menuliskan kata "Tidak", di atas tanah. Rubah hanya melongo melihat jawabannya.
“Tidak mungkin! Aku dan kau adalah musuh!”
Rubah itu tidak mengerti maksud Akio. Ia sekali lagi menggeram padanya, padahal tahu goreng yang menjadi favorit para rubah sudah dimakan. Akio berpikir dengan begitu rubah akan jauh lebih tenang tapi ternyata tidak.
“Aku tidak akan tergiur dengan tahu lagi!”
Terlihat akan menyerang, senjata cadangan Akio langsung muncul. Ia mengeluarkannya dari balik pakaian, yakni sebuah tahu goreng.
Rubah putih akhirnya terdiam juga. Geraman khasnya terhenti dan sikap akan menyerang lawan pun juga. Terlihat air liur menetes dari sudut mulutnya yang lebar, serta sinar yang entah kenapa membuat kedua matanya terbinar-binar.
“Tahu!” seru si rubah seraya meraih tahu itu dari Akio. Tanpa jeda, ia langsung memakannya dalam sekali lahap.
“Asyik! Tahu, tahu, tahu ...eh?” Tak berselang lama kemudian ia kembali tersadar.
Namun, kali ini rubah takkan ada waktu untuk menyerang. Karena aura yang dimiliki oleh Akio telah menghentikannya secara langsung.
Mengambil pedang kayu yang tersimpan di balik pakaian, Akio dengan topeng oni tentu saja menatap si rubah. Rubah bergidik hanya dengan Akio mengeluarkan pedang, seolah nyawanya terenggut oleh malaikat maut saat ini juga.
Kakinya lemas, tubuh yang lebat akan bulu putih terus bergetar tanpa henti. Pupil mata yang mengecil ialah tanda si rubah putih sangat ketakutan saat merasakannya.
Sekitarnya menjadi aura hitam, meski secara tak langsung, rubah itu tahu bahwa Akio tengah mengancamnya. Perlahan rubah melangkah mundur dan kedua telinganya pula ikut turun.
Tidak ada cakar maupun taring yang terlihat lagi.
Lalu, Akio saat itu menuliskan beberapa patah kalimat di atas tanah, "Jika kau menyerang manusia maka aku akan membunuhmu."
Kalimat berupa ancaman, sekali menggerakkan tubuhnya saja seakan ia harus mencabut paku tak terlihat di tubuhnya. Rubah mengangguk, sebagaimana ia takkan melukai manusia seperti yang telah dipinta oleh Akio.
“Ba-baiklah. Aku berjanji takkan melakukannya lagi,” ucap rubah.
"Lagi?" Akio bertanya.
“Ya, aku pernah beberapa kali melukai, tapi aku tidak membunuhnya."
"Begitu."
Sedikit dari per kata Akio menuliskannya, namun setelah mendengar jawaban yang diinginkan, Akio lantas pergi meninggalkannya. Tentu saja ia tak berniat membawa Akashi juga.
“Tunggu! Kau mau ke mana?” Rubah putih bertanya dengan meninggikan nada suaranya.
“Tuan Akio ...di mana?” lantur Akashi, ia terbangun juga akhirnya.
“Eh, ini apa?” Setelah menggumamkan nama Akio, kini ia mulai penasaran dengan tulisan panjang di tanah.
“Kau ini sebenarnya peliharaan dia ya?” ucap rubah menyinggung perasaan.
“Peliharaan? Apa maksudmu? Aku hanya bertanya tulisan ini karena tulisannya mirip dengan tulisan Tuan Akio,” kata Akashi sembari menunjuk-nunjuk tulisan yang dimaksud.
“Aku yakin kau tak pernah belajar sedikitpun, ya. Yokai-oni. Ini tulisan, jika kau macam-macam dengan manusia maka kau akan langsung mati di tangan tuan-mu itu!”
Perubahan wujud rubah, lelaki bertelanjang itu memperagakan kepala yang akan terpenggal, sebagai isyarat Akashi akan mati. Dan Akashi reflek memegang lehernya seolah-olah lehernya akan benar-benar terpenggal.
“Kau itu sungguh bodoh. Oh ya, ngomong-ngomong tuan-mu sudah pergi dari sini,” kata si rubah.
“Pergi? Tidak, dia masih berada di sini. Meski berat aku akui dia memang sering meninggalkanku sendirian. Tapi aku yakin Tuan Akio menyadari bau udara yang aneh ini,” kata Akashi.
“Ha, dia meninggalkanmu karena kau tidak dianggap, bodoh. Dan entah kenapa aku berpendapat hal sama mengenai udara sekitar.”
Perairan sungai didasari hutan hijau yang luas. Tetapi perairan sungai ini langsung mengarah ke laut dengan arus deras. Siapa pun takkan berani menggunakan atau melewati sungai ini karena mereka akan hanyut, tenggelam dan menghilang.
Lain cerita jika itu bukan manusia melainkan yokai dan sejenisnya.
“Tuan Akio!”
Akashi memanggil si majikan dengan suara lantang, berharap Akio akan mendengarnya tapi ternyata si rubah menemukannya lebih dulu.
“Dia ternyata ada di sungai sebelah sana.”
Letaknya cukup jauh, namun cukup mengikuti perairan sungai maka akan lebih cepat sampai kepadanya.
“Tuan Akio—”
Akashi berhenti berbicara, tepat setelah Akio merentangkan tangan kiri tuk menghalau agar Akashi tak lebih dekat darinya.
“Ada apa dengannya tiba-tiba? Tuan-mu itu aneh ya,” celetuk si rubah.
“Tuan Akio itu samurai yang hebat. Jangan remehkan dia meski tidak mau bicara sepatah kata pun.”
“Apa yang kau banggakan? Meskipun dia memiliki aura yang menakutkan, tapi jika menyerang sesama samurai hanya dengan pedang kayu maka itu percuma saja,” pikir si rubah dengan logika.
Rubah itu tidak mengatakan hal yang salah, namun pemikirannya cukup dangkal karena samurai yang ia tahu akan menggunakan pedang sungguhan dan bukan pedang kayu. Ini kali pertama dirinya melihat samurai bertopeng oni yang hanya sekadar menggenggam pedang kayu.
“Jangan salah, Tuan Akio itu pokoknya samurai terhebat dan aku menghormatinya. Ah, tunggu!”
Akashi menyadari bahwa tak seharusnya Akio menggenggam pedang untuk bertarung.
“Tuan Akio! Nanti kalau ketahuan kakek cebol, tanganmu akan ditebas sama sepertiku!” peringat Akashi dengan wajah berkeringat dingin.
“Maksudmu tanganmu pernah dipotong? Lagi pula, bertarung dengan siapa?” tanya si rubah.
“Aku mencium bau mahluk yang aneh. Baunya persis sepertimu tapi bau ini jauh lebih buruk. Ada di depan,” ucap Akashi yang acuh pada si rubah.
“Apa?”
“Tapi! Kakek cebol akan melihatmu! Tuan Akio!” teriak Akashi memperingatinya lagi.
Akio menoleh ke belakang, sembari meletakkan jari telunjuk ke depan mulut topengnya.
“A-aku disuruh tutup mulut?” Dengan gugup bertanya, Akashi melirik ke segala arah guna mewaspadai seseorang yang takut akan melihat.
“Aman, Tuan Akio!” Setelah memastikan tidak ada siapa pun, Akashi mengacungkan jempol dengan bangga.
Begitu muncul, langsung mahluk sebesar kastil Shogun di ibu kota, asap hitam dan bermata merah menakutkan telah datang, ia muncul dari dasar sungai.