
Mizunashi menggunakan tongkat tuk mendorongnya hingga ke seberang dinding bagian dalam sungai. Tidak sampai situ saja, Mizunashi menggunakan pedangnya guna menusuk tubuh Ningyou mulai dari bagian ekor. Setelah dirasa cukup dalam tusukannya, kemudian Mizunashi mendorongnya ke bagian tubuh sehingga mengakibatkan luka fatal pada Ningyou. Tubuh bagian bawahnya dirobek dari bagian dalam dan luar secara bersamaan.
Darah menyembur keluar dan langsung terseret oleh arus sungai. Ningyou tampaknya masih bertahan, ia masih bisa menggerakkan ekor untuk menjauh dari Mizunashi. Namun akan tetapi dengan berpegangan pada pedang, Mizunashi takkan mudah lepas dari sana. Ia masih mencoba untuk melanjutkan serangannya hingga benar-benar membunuh Ningyou.
'Kepala! Kepala!' Ia pun terus menjerit dalam benaknya, tuk mengincar bagian kepala yang paling fatal bagi para yokai. Tetapi, belum sampai ke titik target, Mizunashi yang hanya mampu merobeknya hingga ke bagian leher saja, kini sudah terdorong oleh arus deras sungai.
Ningyou sudah kewalahan dan berakhir hal sama seperti Mizunashi Kage. Terseret arus deras sungai, hingga menabrak bebatuan atau apa pun di dalam sana.
“TUAN MIZUNASHI KAGE! TUAN! TUAN!”
Semua para anak buahnya berteriak memanggil. Hingga satu jam berlalu tidak ada reaksi kecuali aliran sungai yang makin deras. Entah bagaimana nasib Mizunashi Kage saat ini.
“Tidak! Tidak mungkin! Seharusnya aku yang menggantikannya! Kenapa Tuan selalu melakukan hal ini!? Selalu saja mengambil peran besar?! Harusnya Anda—”
“Tuan Mizunashi, apakah berhasil? Ataukah tidak? Untuk sesaat tadi aku melihat warna merah. Apakah itu darah?”
“Jangan berbicara hal mengerikan. Aku akan mencari Tuan Mizunashi ke sepanjang aliran sungai!” Salah satu dari mereka mengajukan diri, sementara yang lainnya akan tetap di tempat guna mencegah para yokai terkutuk kecil-kecil yang barusan mendatangi mereka.
“Baiklah! Jangan sampai mati!”
“Ya, kalian juga!”
***
Tiga dari Prajurit Neraka akhirnya dikalahkan. Tersisa dua dari mereka lagi. Dan sekarang salah satunya berada di Bama, tempat di mana Akio bersembunyi.
“Akio, sepertinya mereka sudah datang.”
“Datang? Mereka? Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan para yokai. Selain kakek tua itu, lainnya adalah yokai kecil yang tingkatannya tak lebih dari mereka. Bahkan lebih rendah.”
“Kalau begitu, aku akan mengurusnya sekarang. Kau lebih baik duduk diam saja, karena kau masih terkena penyakit radang dingin bukan?” sahut Akio.
“Berhati-hatilah. Aku akan mengirimkan—”
“Tidak butuh.”
Akio memutuskan untuk berjuang sendiri, tuk menghadapi satu yokai yang memiliki perawakan seorang kakek tua. Begitu ia keluar dari kediaman Kazuki Eichi, dirinya langsung berhadapan dengannya.
Di samping itu, terdapat sejumlah samurai sudah bersimbah darah. Ruang yang sempit akan mengalahkannya, namun tidak juga karena area serangannya jangkauan luas. Bahkan mampu membelah tanah, tidak ada rencana yang bisa dilakukan oleh Akio.
Ia membatin, 'Apa yang harus aku lakukan sekarang, kak? Dia mampu membelah tanah, gerakan dan kekuatannya jauh dariku. Ini sama saja membuang nyawa.'
Meski berpikir begitu, ia tidak bisa undur diri seolah ini hanya pertandingan saja. Akio tetap menarik pedangnya, Retsuji dan langsung menyerangnya dari depan.
“Sungguh bodoh.”
“Terserah aku!”
Seorang kakek tua yang seharusnya tidak bisa apa-apa selain duduk tenang, justru yokai jenis ini mampu menghindari setiap bilah pedang yang dengan cepat tersasar ke arahnya. Tidak ada celah sedikitpun, pertahanannya yang kasat mata seolah mustahil dipatahkan.
Akio selalu terkena serangan setiap kali menyerang, seolah-olah pedangnya lah yang mengenai dirinya sendiri.
“Ck! Tak peduli berapa kali aku menyerang, pasti aku kena serang di tempat yang aku targeti?”
“Tentu saja. Itu karena aku mewaspadaimu.”
“Jiwa di antara kita terhubung. Kapan pun pasti aku akan melahap jiwamu yang lezat itu.” Lidahnya terjulur seakan menghisap sesuatu. Ia membuktikan perkataannya dengan berhenti bergerak.
“Apa yang kau lakukan?”
“Tak seperti dirimu yang setiap kali menyerangku maka kau lah yang terluka. Karena aku akan menyerangmu melalui tubuhku.”
Setelah itu, kakek ini menusuk tubuhnya sendiri. Melubangi perut bagian bawahnya, namun yang terkena bukanlah ia sendiri melainkan Akio.
“Ugh! Kenapa?!”
Tubuh Akio bergetar hebat, darah keluar dari luka yang terbilang sangat fatal itu. Sementara yokai yang melukainya sendiri justru tidak terlihat ada luka setitik pun.
“Lihat? Dengan begini kau tidak bisa melakukan apa-apa. Jiwa kita sudah terikat semenjak aku berhasil menyerangmu.”
“Ha ...jangan bercanda!” Tetapi, Akio tidak akan mudah panik karena terluka.
'Kalau tidak salah, Retsuji ...,' Kini ia membatin, berpikir bagaimana cara meloloskan jiwa yang terikat dengan yokai tersebut. Lantas ia mengarahkan ujung pedang Retsuji pada tubuhnya sendiri.
“Bodoh! Kau tidak bisa melukaiku hanya dengan membalikkannya. Kau akan tetap mati meski melakukan hal itu!” serunya.
Tak memperdulikan perkataan musuh, Akio tanpa ragu menusuk tubuhnya sendiri dengan pedang Retsuji. Tidak ada darah setetes pun keluar dari sana, bahkan terluka saja tidak.
Perlahan, bola mata dari balik topeng oni itu melirik yokai yang berada persis di depannya. Lalu dalam sekejap bilah pedang Retsuji telah memenggal kepalanya.
“Tidak mungkin!” Sosoknya menghilang, tersisa suara yang berujar bahwa apa yang telah ia lihat tidaklah mungkin terjadi.
“Kabur? Kau pikir bisa kabur dariku?!”
Tak terima musuh melarikan diri begitu saja, dengan cepat ia menyadari keberadaan yokai yang berada di balik dinding. Akio melempar pedangnya lantas berlari menghampiri, namun sampai di sana ia terhenti dan tidak lagi menyerang.
Sebab,
“Sedang apa kau di sini?”
Akashi yang ia rasakan, bukanlah yokai yang seharusnya menyerang tadi.
“Maaf Tuan Akio. Karena dari kemarin aku selalu disuruh berdiam diri di tempat, aku jadi bosan.”
“Alasanmu tidak masuk akal, cepat bersembunyi atau Kazuki akan membunuhmu.”
“Lagi pula, aku akan mati ketika Prajurit Neraka dibunuh olehmu, Tuan. Jadi buat apa aku bersembunyi?” sahutnya.
Akio yang hendak pergi dari kediaman Kazuki, secara tak sadar menghentikan langkahnya begitu mendengar perkataan Akashi. Agaknya terdengar menyakitkan, entah apa yang Akashi coba pikirkan saat ini.
“Jangan bilang begitu. Hiduplah jika kau ingin. Kecuali kau memburu manusia sama seperti mereka, maka aku lah yang akan menjemputmu sebagai dewa kematian,” ujar Akio.
“Yang aku katakan padamu itu benar, Tuan!” teriak Akashi.
“Apa katamu?”
“Wanita itu yang mengatakannya padaku. Prajurit Neraka atau apalah itu, mereka kembali muncul karena dendam terhadapmu. Dan mereka adalah penopang dari segala yokai yang turun dari langit.”
"Yokai yang turun dari langit." Kata-kata ini pernah terdengar dari mulut kakek tengu dan sekarang dari Akashi yang seharusnya terlalu bodoh untuk mengetahui hal tersebut.
“Kalau maksudmu adalah ramalan itu. Entahlah aku tidak bisa menjawabnya.”