
Rumah pengasingan Akio dibakar, situasi di dalam negeri pun masih sama kacaunya. Banyak orang tengah mencari keberadaan Akio yang berpikir bahwa Akio terdampar di sekitar. Tentunya mereka mencari bukan untuk membantu melainkan untuk membunuhnya.
Lalu,
“Apa kamu berniat untuk bertemu kembali dengan kakakmu?”
Yasha Manabu, mengaku sebagai kenangan. Bukan sebagai manusia melainkan yokai. Ia bertanya apakah Akio berharap bertemu kembali dengan sang kakak.
Jawaban itu tertulis di atas padang pasir yang panas, "Jangan bercanda. Dia sudah mati."
Terkesan begitu dingin jawabannya, tetapi Yasha cukup tahu apa yang tengah dirasakan oleh Akio saat ini. Begitu juga dengan Akashi, yang mampu menyimpan perasaan seseorang terdekatnya.
Rasa sedih tidak luput, namun ia berpikir tak ada gunanya mengenang orang mati terus-menerus. Sementara dirinya saat ini berada di sini dan hidup agar terus maju.
Angin berembus pelan menghapus tulisan di atas pasir. Matahari sebentar lagi akan tenggelam namun hawa panas masih menyeruak di sekitar.
Di wilayah Kuran tanpa seorang daimyo ini, terdapat air tawar dan ikan-ikan yang berenang di sana. Namun laut tetaplah berbahaya sama ketika mereka semua masih berada di dalam negeri.
Segala cara dilakukan hanya untuk menghentikan pendarahan, tapi tetap jika terus seperti ini akan jauh lebih memburuk dan bukan membaik.
“Samurai Oni, Yamamoto Akio.” Kembali Yasha memanggil.
“Hei! Tuan Akio tidak suka jika dipanggil seperti itu!” pekik Akashi emosi.
“Oh, begitu 'kah? Maafkan saya, Akio ...Tuan Akio,” ucap Yasha sembari tersenyum.
"Kenapa kau malah memanggilku begitu?" Akio bertanya.
“Maaf. Hanya saja saya ingin memanggilnya begitu,” kata Yasha.
“Akashi! Bagaimana dengan orang-orang di pinggiran sana?” tanya Kizu.
“Apa maksudmu? Orang-orang di sana 'kan sama sekali tak terlihat. Hanya saja aku merasakan adanya niat membunuh,” kata Akashi.
“Oh, jadi belum bisa pergi sekarang ya?”
Rencananya mereka akan pergi ke seberang wilayah guna mencari pengobatan yang layak meski terdengarnya agak mustahil.
Namun karena sampai saat ini tidak ada tanda-tanda wilayah seberang nampak sepi, mereka pun harus menunggu.
Hingga tengah malam.
“Sudah tidak ada orang. Aku rasa,” ucap Akashi.
“Kau rasa? Maksudmu apa dengan berkata begitu, jangan membuatku berpikir yang tidak-tidak dong,” gerutu Kizu mendadak gelisah tak wajar.
“Dia tidak berniat membunuh kita. Jadi aku rasa ini akan baik-baik saja. Tuan Akio! Mari kita pergi menggunakan perahu yang dibawa Neko!” seru Akashi makin bersemangat.
“Akan kubunuh kalau kau menipuku,” ancam Kizu.
“Aku berkata jujur, kau tahu.”
“Tuan Akio, mari kita pergi.” Nekomata mengajaknya untuk segera bangkit dari sana.
Sedang Yasha nampaknya baru saja kembali entah barusan pergi ke mana. Ia berjalan secara perlahan tuk menghampiri mereka semua.
“Yasha, kau dari mana saja?” tanya Kizu.
“Saya bertemu dengan Yuurei untuk mengucapkan salam perpisahan.”
“Yuurei (hantu)?”
“Ya.” Yasha mengangukkan kepala.
“Daripada mementingkan hal itu. Kenapa kau malah ikut?” Kizu kembali bertanya.
Situasi mendadak hening, setelah Akio, Akashi, Kizu dan Nekomata menaiki perahu yang kemudian disusul oleh Yasha. Alasan Kizu bertanya tak lain adalah tak mengerti dengan alasan Yasha yang nampaknya berniat mengikuti mereka.
“Saya ingin mengikuti ke arah mana Tuan Akio pergi, jalan yang ditempuh dan segala tindakannya untuk menempuh jalan itu ...,”
“Benar, turun sana!”
“Ah, sepertinya saya tidak ...”
Merasa dikucilkan Yasha beranjak dari sana namun Akio justru menarik lengannya dan membuat ia kembali terduduk di dalam perahu.
“Tuan Akio?”
“Tidak seperti kalian berdua. Aku rasa Yasha Manabu adalah yokai yang cukup berguna,” sindir Nekomata seraya menjilati kakinya.
“Apa?! Maksudmu kami lebih lemah?!” Serentak mereka berteriak. Tak terima dikata lebih tak berguna daripada Yasha.
Akio mengetuk-ngetuk bagian dalam perahu, menandakan pada Yasha untuk tetap diam di tempatnya.
“Tuan Akio menerima saya. Jadi saya akan pastikan ingatan ini sampai akhir akan saya ingat sebagai kenangan,” ungkap Yasha yang memiliki hati kelembutan.
Dalam perjalanan menuju ke seberang wilayah klan Sakanoue.
“Tapi apakah tidak masalah Yasha ikut bersama kita? Sementara bukankah kamu biasanya ada sebagai penjaga makam?” Nekomata bertanya.
“Saya sama sekali bukan penjaga makam. Saya hanya kenangan yang ingin menyimpan berbagai kenangan, baik yang indah maupun yang buruk,” ujar Yasha.
“Yah, terserah saja.”
Sesampainya di wilayah seberang dari Kuran, Wilayah Kama. Datang seorang wanita yang sebelumnya kehadirannya dapat dirasakan oleh Akashi. Mereka sempat mengira bahwa wanita itu adalah musuh atau semacamnya tapi tak disangka bahwa beliau adalah Yamamoto Keiko, suami dari Daimyo Yama, Yamamoto Kaeda. Yang itu berarti adalah Ibu dari Akio.
“Saya akan membantu perawatan Akio, aku tahu dia sedang terluka. Mohon, percayalah pada saya.”
Karena merasa ini akan aman, yang lainnya pun menerima bantuan itu. Entah dari mana Keiko mengerti keadaan Akio dan juga memprediksi gerakan mereka, namun semua itu tak pernah dipikirkan asal Akio selamat.
Mereka bernaung di sebuah tempat, Keiko bilang kediaman ini dulunya adalah milik Samurai Pedang Hitam. Dan di halaman terdapat kuburan Mikio dengan jasadnya, yang baru saja dibuat.
Lalu, di salah satu ruangan, di mana Akio dan yang lainnya yang terluka pun turut diobati oleh ahlinya.
“Apa ini tidak masalah?”
“Wanita itu Ibunya Tuan Akio. Bisakah kita percaya?”
“Jika ada yang aneh maka aku akan turun tangan,” kata Akashi.
“Jangan. Nanti Tuan Akio marah.”
Keiko hanya tersenyum menatap semua yang berada di sekitar Akio. Namun pandangannya kembali sendu ketika Keiko menatap Akio yang lemah.
“Saya bersama lainnya, lalu Tuan Akio berterima kasih pada Anda. Suatu saat kami akan berbalas budi,” ucap Yasha.
“Tidak. Tidak perlu. Ini sudah kewajibanku sebagai Ibunya,” kata Keiko menggelengkan kepala.
Ibu yang bermurah hati, Keiko amat menyayangi anaknya Akio. Dari lainnya, hanya Keiko seorang yang peduli terhadap Akio. Namun, tetap saja mereka akan mencurigainya sebab sejak awal pun tak bisa langsung mempercayai orang yang baru saja mereka kenal. Sekalipun ia adalah Ibunda Akio.
Akio dan semua yokai beristirahat di kediaman ini kurang lebih satu pekan. Luka yang dalam kini sudah pulih meski itu belum sepenuhnya. Terlebih luka Akio ada di bagian dalam dan luar, terlalu banyak bergerak akan membuat lukanya mudah terbuka kembali.
Fajar telah menyingsing, selama 7 hari Akio terus terbaring sembari menggenggam lukanya. Perlahan ia membuka kedua matanya untuk menyambut pagi.
“Selamat pagi, Tuan Akio!!”
Dan seperti biasa, mereka semua sangat heboh. Dari Akashi, Kizu, Nekomata dan Yasha pun ikut-ikutan, begitu terbangun, wajah mereka berempat lah yang muncul tepat di depan mata.
“Seperti biasa Tuan Akio selalu saja memakai topeng!”
“Hei, tidak sopan! 'Kan Tuan Akio memang seperti ini.”
“Jangan berisik, Tuan Akio hanya perlu aku yang penuh dengan bulu lembut ini,” ujar Nekomata menyombongkan diri. Berlagak seperti hewan kecil yang amat disukai banyak orang.
“Jangan bercanda!”
“Haha, pagi yang indah, bukan?” Seperti biasa Yasha selalu tertawa.