
Kehadiran Akio yang telah lama dinanti oleh Akashi, Nekomata, Kizu dan bahkan Yasha yang telah kembali, justru sampai saat ini Akio masih belum menampakkan diri. Entah berada di mana dirinya saat ini, tapi yang pasti kabar buruk datang pada mereka.
“Kakek itu datang. Ayo mengumpat!”
Semuanya pergi menyembunyikan diri di setiap ruangan atau celah yang ada di kediaman Mikio. Guna terhindar dari amukan kakek bertopeng tengu, saat ini sedang menunjukkan wajahnya terang-terangan. Nampak ia berwajah kesal, sekilas Akashi, Kizu dan lainnya bergidik ketakutan.
“Kau di mana Akio? Aku tahu kau ada di sini. Heh! Dasar, ibumu memang tidak bisa diam tentang anaknya yang terlantar. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu tinggal lebih lama, Akio!!”
Situasi saat ini sangatlah hening. Tiada seorang pun menjawab, selain Akashi yang mencoba untuk melarikan diri melewati atap. Dan kakek Naruhaya melihatnya.
“Hei, kau!”
Sontak Akashi terkejut namun enggan menoleh lantas bergidik ketakutan.
Sebaliknya, Yasha menunjukkan batang hidungnya.
“Anda mencari siapa?” tanya Yasha berpura-pura tidak mengetahui siapa kakek itu.
“Hah, kau. Kau sedikit mirip dengan penjaga makam di Kuran, tidak ...atau mungkin memang orang yang sama?”
“Meskipun Anda sudah menua namun tampaknya mata Anda masih sangat jeli rupanya. Kalau begitu perkenalkan saya adalah Yasha Manabu, saya adalah—”
“Tidak perlu mengenalkan diri. Terlihat jelas kau ini yokai,” ketus si kakek seraya memalingkan wajah. Yasha tersentak diam dengan senyum terus terukir di wajahnya hingga saat ini.
“Lalu, di mana Akio?” Kembali kakek bertanya.
“Maaf, saat ini Tuan Akio sedang keluar.”
“Kota Gama.”
“Y-ya.” Yasha jadi gugup begitu menjawabnya, lantas si kakek ini sudah mengetahui apa yang barusan ia tanyakan.
“Kota Gama dicemari aura jahat. Satsuki saja kelawahan melawannya. Jadi aku pikir dia akan kembali bergerak.”
“Lagipula kebanyakan penduduk percaya bahwa Samurai Oni telah mati karena tenggelam di laut lepas. Tidakkah Anda juga berpikiran hal yang sama?”
“Maksudmu yokai-yokai yang mengikuti Akio membiarkan Akio mati begitu saja? Heh! Bahkan tanpa mereka, Akio itu orang yang keras kepala. Jadi tak heran bila dia masih hidup.”
Bicara seolah cucunya adalah baja. Akio memang masih hidup sampai sekarang. Namun ada banyak hal yang ingin Kizu tanyakan terutama mengenai kakek tengu itu sendiri. Ia ingin menanyakan ke mana saja perginya namun ia sendiri saja sudah takut untuk keluar dari tempat persembunyian.
“Ceritakan apa yang terjadi di kota Gama selama aku tidak ada.”
“Maaf. Saya hanya mendengar bahwa itu adalah ulah yokai mimpi. Salah satu dari keluarga Momoka yang bernama Chiharu mengalami dampaknya.”
“Yokai pembawa mimpi buruk?”
“Ya. Kurang lebih begitu. Tujuannya adalah memakan jiwa manusia yang dipenuhi ketakutan.”
“Oh. Kalau begitu apakah ada seseorang yang mengetahui rincian jelasnya?” tanya si kakek lagi seraya melirik ke segala arah guna menemukan seseorang.
“Bersama dengan Tuan Akio, saya yakin bahwa Akashi dan Nekomata mampu menjelaskan hal lebih detailnya lagi,” ujar Yasha tersenyum lebar.
“Meoww!!”
Rengekan Nekomata pun terdengar karena ia terkejut. Segera si kakek mencari sumber suara dan langsung menarik salah satu kaki Nekomata dari balik futon dalam ruangan.
“Ternyata ada di sini.”
“Meow! Jangan sakiti aku!” pekik Nekomata.
“Tenang saja Nekomata. Kakek itu hanya ingin bertanya,” kata Yasha.
“Oh, jadi ini patung yang bisa bergerak? Warnamu sangat unik. Kau pasti baru lahir di sini,” pikir kakek.
“Kalau benar, kenapa? Ada masalah?” ketus Nekomata seraya meronta-ronta agar segera dilepaskan.
Kakek tengu perlahan meletakkannya kembali ke futon. Sejenak diam lantas mencodongkan tubuhnya ke depan guna menanyakan sesuatu.
“Ceritakan apa yang terjadi di kota Gama.”
“Kau sendiri tidak muncul di saat Tuan Akio krisis. Mana mungkin aku mau cerita soal—”
Kata-kata Nekonata tersendat usai mendapatkan tatapan tajam darinya. Manik mata kucingnya melirik ke arah lain, lantas berbisik lirih, “Baiklah.”
Sembari duduk nyaman di futon, Nekomata menjelaskan rinciannya yang ia tahu. Termasuk cara Akio membasmi satu yokai mimpi yang keluar dan berhadapan langsung di dunia nyata.
“Tuan Akio melakukannya bersama pria bernama Satsuki. Itupun dia lakukan secara tidak sadar,” ujar Nekomata.
“Dia sangat ceroboh. Masih untung dia hidup, dan apa yang dilakukannya sampai harus repot-repot turun tangan,” gerutu si kakek.
“Ya. Tuan Akio memang ceroboh, namun bukankah ini juga adalah kesalahan peramal. Sehingga tanpa sadar Tuan Akio membawa beban yang seharusnya tidak ada sejak awal,” sindir Yasha.
Kakek tengu sejenak diam. Ia jelas mengetahui apa maksud dari Yasha. Peramal telah berujar 20 tahun lalu bahwa anak lelaki yang lahir di klan Yamamoto akan membebaskan belenggu Shinpi-tekina karena kehadiran yokai terkutuk tak terhitung. Dan sampai sekarang, tindakan Akio diperhatikan; hidup hanya untuk membasmi para yokai terkutuk.
“Ha ...kau benar. Dan ternyata sesuai dugaan ku bahwa kau adalah penjaga makam di Kuran. Mungkin kau juga lah yang telah menyelamatkan cucuku,” ucap Naruhaya sebagai kakek.
“Baru pertama kali aku mendengar dia memanggil Tuan Akio "cucuku", heh.” Kizu bergumam lirih, entah di mana keberadaannya saat ini tapi yang pasti ada di dalam ruangan yang sama.
“Selamat pagi. Adakah seseorang? Akio ...Akashi?” Seseorang datang. Keiko, Ibu dari Akio.
“Keiko, sudah aku katakan jangan pernah datang kemari. Kau tahu dia itu bagaimana bukan?”
“Aku datang lagi karena ingin memberikan sarapan ini pada Akio dan lainnya. Ngomong-ngomong kenapa kakek akhirnya memunculkan diri seperti ini?”
“Aku di sini karena ingin bertemu dengan bocah nakal itu. Dan sarapan yang ada di kotak ini, takkan aku berikan padanya!” sahut si kakek seraya merebut kotak makan itu dari genggaman Keiko.
“Eh? Kakek?”
“Diamlah, Keiko. Anakmu sudah kelewat batas. Aku akan membuatnya berpuasa selama satu pekan. Hahahaa!!” Tawa khasnya seolah sedang tertawa jahat pada cucunya sendiri.
Hukuman yang datang bukanlah pujian, inilah maksud kedatangan dari kakek tengu yang bernama Naruhaya.
Dan Akio yang sedang berada di wilayah perairan, klan Mizunashi, tiba-tiba saja bersin tak mengenal waktu. Padahal cuaca sedang tidak dingin.
“Tuan Akio!! Ternyata kau di sini,” ucap Akashi yang pada akhirnya berhasil melarikan diri dari si kakek.
“Tuan Akio sedang mencari apa? Tidak biasanya Tuan datang kemari bukan? Bahkan Tuan Akio juga belum tidur semalam.”
Akio hanya menggelengkan kepala. Ia duduk bersila menghadap perairan deras tersebut. Sepertinya ia tengah menunggu sesuatu.
“Sedang mencari ikan?”
Akio menggelengkan kepalanya sekali lagi. Lantas menunjuk ke belakangnya, tepat di mana kediaman klan Mizunashi ada di sana.
“Tuan sedang menunggu seseorang? Apakah maksudnya ini ada kaitan dengan orang yang bunuh diri itu? Aku mendengarnya kalau orang itu berasal dari rumah di sana.”
Akio menganggukkan kepala sebagai jawaban, ya.
“Oh, mungkinkah ini karena yokai pengendali?”
Akio terdiam karena memang belum tahu penyebab pastinya namun dugaan Akio pun tertuju sama seperti pemikiran Akashi.