Samurai Oni

Samurai Oni
Hari Tanpa Bayangan



Puncak perayaan Gion Matsuri.


Sebuah kendaraan besar yang terbuat dari kayu dan diberi hiasan-hiasan, Yamaboko. Rata-rata dari mereka yang mengusungnya adalah anak lelaki.


Perayaan ini terlihat sangat meriah dengan banyaknya penduduk di ibu kota ikut memeriahkan. Penarikan Yamaboko lalu pengusungan tiga buah mikoshi.


Tetapi, bagi Akio festival ini bukan lagi festival yang bisa dirayakan seperti biasa.


“Ada di mana Shogun Hatekayama?”


“Tuan belum keluar. Katanya dia ingin bersiap sendiri lalu keluar pun juga sendiri.”


Banyaknya samurai yang menanggalkan pedang mereka, tersembunyi di balik pakaiannya.


“Hari ini pun terasa panas. Bukankah sudah waktunya, bayangan kita akan menghilang?”


Merayakan festival tuk mengenang para arwah, guna mengingatkan pada mereka yang masih hidup dan berjuang melawan yokai. Bahwasanya akhir bukanlah akhir kecuali kematian itu sendiri.


Penyakit, luka fisik, mental, ataukah hal-hal lainnya, ini semua sudah sering terjadi.


Lalu, bersamaan dengan puncak festival, terdapat hari di mana yang disebutkan hari tanpa bayangan. Sangat kebetulan sekali karena terjadi secara bersamaan.


Hari tanpa bayangan disebutkan di mana matahari telah meninggi lebih tinggi dari lainnya. Berada tepat di atas kepala mereka namun dengan jarak yang sangat tinggi dan jauh. Lalu dengan begitu, bayangan yang mereka miliki akan terlihat tak kasat mata seolah-olah keberadaan mereka tidak ada.


“Semuanya terlihat menikmati.”


“Hei, jangan lengah sedikitpun. Ingat kata Shogun Hatekayama, Tamura!”


“Baik, baik. Aku mengerti. Yokai akan datang menyerang bukan?”


“Ah, tapi, di mana Mikio yang katanya sakura legendaris itu?” tanya Honjou Eno.


“Aku tidak tahu. Cepat cari dia atau nanti dia akan terlambat,” sahut Satsuki.


“Jangan seenaknya memberi perintah. Kau bukan atasanku,” ketus Honjou.


“Jangan bertengkar. Lebih baik kita berpencar di satu tempat yang sudah kita diskusikan bersama Shogun,” sahut Mizunashi.


Para kepala klan termasuk klan pendiri negeri sudah datang sejak awal. Bahkan mereka sudah mengantisipasi serangan dari yokai yang akan datang menyerang di siang panas ini.


Dan, Akio pun membaur di antara banyaknya penduduk. Berpenampilan seperti biasa namun tampak ia menutupi bagian kepalanya agar tak menjadi pusat perhatian bagi banyak orang di sini.


'Di sini pun tidak ada. Ke mana jejaknya pergi?' batin Akio bertanya-tanya.


Setiap sudut di ibu kota sudah ia amati dengan baik namun tidak ada tanda-tanda kehadiran Yokai sama sekali. Ia semakin cemas karena memikirkan Mikio ada di balik ini semua, namun jangankan keberadaan yokai bahkan keberadaan Mikio yang seharusnya cukup besar sekarang sama sekali tidak bisa dirasakan.


Semua orang mengatupkan kedua tangan ke depan sembari berharap, “Semoga Gion Matsuri berjalan lancar. Arwah yang telah lama ditinggal, lalu diberikan kesehatan pada semuanya di sini.”


Mengharapkan sesuatu melalui ucapan memang sangat mudah. Berbeda dengan bertindak langsung untuk berjuang.


Ketika panas sama-sama berada di puncaknya, matahari memiliki silau yang membutakan mata, bayangan mereka satu persatu pun mulai menghilang.


“Lihat, sebentar lagi ini akan berakhir,” ucap Uchigoro.


“Ke mana Shogun Hatekayama? Dia sama sekali belum sampai. Ya ampun,” gerutu Mizunashi.


“Hentikan caramu menggerutu. Beliau memang orang yang seperti itu, jadi tenanglah. Takkan terjadi apa-apa karena Shogun sendiri yang mengatakan bahwa yokai akan datang di ibu kota,” ujar Uchigoro seraya merangkul pundak temannya.


“Kenapa kau masih ada di sini? Cepat pergi!” Mizunashi justru bersikap dingin kepadanya, lantas ia pergi dan meninggalkan Uchigoro.


Tragedi yang telah diprediksi pun muncul, ketika bayangan dari banyak orang menghilang.


“Eh, apa ini?” Suatu hal janggal terjadi pada salah satu penduduk, seorang wanita.


Bayangan miliknya seharusnya sudah binasa tadi, tapi sekarang justru kembali muncul dan warnanya lebih pekat dari biasa. Tak hanya itu, bayangannya bergerak secara tak wajar seolah-olah itu benda bernyawa.


“KYAAAAA!!” Jeritan histeris terdengar melengking, membuat semua orang panik dan reflek menoleh ke sumber suara terdekat.


“Aku terlambat!”


Sayangnya, wanita itu sudah berubah bentuk. Tak terlihat di mana tulang, daging begitu pula dengan wajahnya termasuk kimono yang ia kenakan.


“Hah? Apa? Apa yang barusan terjadi?”


Mulai detik itu juga, perayaan Gion Matsuri terhenti.


“Pembunuhan? Kecelakaan? Tidak, jelas-jelas tadi dia baik-baik saja.”


“Sebenarnya apa yang terjadi?”


“Hei, ini tidak masuk akal. Samurai di sana! Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah kau ada untuk melindungi kami?”


Pengikut klan Mizunashi itu hanya terdiam dengan perasaan takut serta kebingungan karena tak mengerti situasi yang telah terjadi.


“Apa yang terjadi?” Mizunashi Kage akhirnya sampai, lantas bertanya pada saksi di sekitar termasuk pengikut satunya itu.


“Maaf, Tuan. Saya terlambat menyelamatkannya. Wanita itu setelah menjerit tiba-tiba saja sudah seperti ini.”


“Apa?”


“Wanita itu seperti dibelit oleh kain hitam hingga seluruh tubuhnya rusak!” ungkap salah satu penduduk yang bersaksi.


“Dibelit oleh kain hitam?”


“Yokai macam apa yang bisa merusak tubuh manusia dan bukannya memakan?”


“Tuan! Sepertinya akan terjadi hal yang sama lagi, kita harus—”


SPLAAAT!


Darah segar terciprat ke arah mereka berdua. Arahnya langsung berada di dekat sebelah kanan, itu dari pria yang sebelumnya menjadi saksi atas kejadian langsung itu.


“Lagi ...,”


“Tiba-tiba mereka remuk. Ini kacau, segera laporkan ini pada kepala klan terdekat lainnya!” Mizunashi Kage memberi perintah.


“Baik!”


Berita itu kemudian tersebar dari satu kepala klan ke lainnya. Termasuk para penduduk untuk berhati-hati. Namun saat itu mereka masih belum mengetahuinya bahwa kejadian itu disebabkan oleh bayangan yang tiba-tiba muncul kembali.


Kecuali satu orang, Akio.


'Akan datang!' Akio membatin. Seraya ia berlarian di sepanjang jalan utama ibu kota.


Mendeteksi hawa kehadiran yang sangat tipis, salah seorang penduduk lainnya telah ditargetkan. Bayangannya muncul dan berwarna lebih hitam, segera Akio menusuk bayangan tersebut dengan pedang kayunya.


“Ah! Astaga! Oni?!” Karena penduduk itu tidak tahu siapa yang telah menyelamatkannya, serta berpikir bahwa Oni telah datang, ia pun langsung lari terbirit-birit. Begitu juga dengan lainnya yang melihat Samurai Oni di depan mata.


“Itu ...Samurai Oni!” Satsuki yang berada dekat dengan Akio lantas segera menghampirinya.


“Hei, itu kau 'kan? Nak Akio,” tanyanya secara berbisik.


Akio mengangukkan kepala sebagai jawaban.


“Apa yang coba kau lakukan sebelumnya?”


Akio menoleh ke kiri, lantas pergi meninggalkan Satsuki hanya demi mengincar satu persatu dari para yokai yang bersembunyi sebagai bayangan di balik punggung para penduduk.


“Oh, jadi karena itu rupanya. Bagus, Samurai Oni! Aku akan membantu!”


Satsuki bergegas pergi bersama para pengikutnya, akan mengincar dari atas itu akan membuat mereka jauh lebih unggul serta mudah melihat pergerakan bayangan hitam tersebut.


“Serang bayangan para penduduk yang muncul!” seru Satsuki pada beberapa pemanah yang berdiri di setiap atap rumah.