
Pendaratan Akio tak sepenuhnya mulus, ia menabrak atap hingga menerobosnya lalu terjatuh. Meski berada di titik yang sesuai, ia tetaplah merusak atap tersebut.
Honjou Eno yang tadinya hendak membuka pintu dan keluar pun tersentak kaget, ia tercengang, lantas terhenyak sejenak seraya memperhatikan sosok asing yang barusan menerobosnya.
“Khe khe, ternyata dia datang sesuai dugaan.” Ikiryo dalam tubuh Honjou bergeliat kesenangan.
“Apa? Sesuai dugaan katamu? Jangan katakan dia ...,”
Akio menoleh padanya, spontan Honjou jatuh terjungkal ke belakang. Nampak ia sangat terkejut akan kedatangan Akio sebagai Samurai Oni. Topeng oni itu jelas sangat terlihat di bawah sinar rembulan yang masuk.
“Di mana para pengikutku? Kenapa tidak ada seorang pun yang datang setelah mendengar kegaduhan ini?” tanya Honjou dilanda panik luar biasa.
Sementara Kizu dan Akashi yang berada di balik pintu luar, tengah terkekeh saking mereka merasa sikap Honjou itu terlalu lucu tuk didengar.
“Tidak akan ada yang datang,” ucap Akio.
“Kau! Bicara? Hei Akio! Kau sudah dilarang berbicara namun kau—”
“Aku berbicara dengan yokai,” sahut Akio lantas melesat ke arahnya seraya mengayunkan pedangnya.
“Wa—! Waaa!!!”
Honjou sudah dikuasai oleh ketakutannya sendiri. Betapa malangnya ia, yang harus berhadapan dengan Akio begitu keberadaannya muncul.
“Ternyata dia benar-benar masih hidup!!” pekik Honjou dengan tubuh gemetaran.
Tak!
Antara pedang kayu dengan bilah pedang yang terasah tajam, jelas bagaimana ini akan menjadi akhirnya. Honjou bukan Honjou melainkan Ikiryo yang telah mengendalikan keseluruhan raga miliknya, kini menarik pedang untuk melawan pedang kayu Akio.
“Oh, sosok yang sama. Sungguh membuatku sangat senang, Samurai Oni!”
Wajah itu sudah sangat berbeda dari yang lalu. Kini Ikiryo dapat sepenuhnya mengendalikan raga Honjou terlebih Honjou sudah kalah mental hanya karena melihat Akio muncul di depan mata.
“Tuan Akio sedang bertarung. Apakah kita harus membantu?” tanya Kizu berharap ikut andil.
“Jangan, bodoh. Tuan Akio saat ini sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun,” ujar Akashi yang sok.
Di dalam ruangan yang telah gelap karena lampu telah pecah, sinar rembulan menggantikan penerangan namun hanya sebatas lubang jatuh Akio saja.
Kedua dari mereka saling beradu pedang. Terlihat Akio memaksakan pedang kayu itu untuk melawan pedang sungguhan. Ikiryo jelas berpikir bahwa inilah kesempatan.
Ia mengangkatnya terlalu tinggi, sehingga membuat ayunannya melambat. Dan itu justru mempermudah Akio tuk mengelak, lantas membalas serangan dengan menggunakan punggung pedang.
“Keluarlah kau dari sana!” pekik Akio seraya memukul wajah Honjou hingga terdorong membentur dinding.
“Heh, kau pikir semudah itu? Seharusnya kau bunuh saja orang ini? Bukan?”
“Jangan banyak omong!”
“Dia adalah orang yang kau benci.”
“Diamlah.”
Ikiryo berhadapan langsung, ia cukup gesit dalam mengendalikan raga manusia. Entah sampai kapan Honjou akan terlarut dalam emosionalnya sendiri, tapi Akio pun tak sungkan jika melukainya.
“Hei, Samurai Oni! Kau yakin tidak mau membunuhnya? Kalau begitu biarkan tubuhmu jadi milikku!”
Lagi-lagi, serangan yang sama. Ia memilih untuk menyergap dari belakang namun sembari berteriak. Bahkan tanpa berteriak pun, Akio langsung mengetahuinya.
Akio kembali mendorong tubuh itu sampai akhirnya merusak pintu geser. Honjou keluar dari ruangan dan bermandikan sinar rembulan yang kuat. Untuk sesaat Ikiryo merasa kesakitan.
“Tuan Akio!”
Akashi tersentak kaget. Ia lantas menyingkir bersama dengan Kizu begitu Akio menusuk bayangan Honjou.
“Arghh!! Sakit!” Erangan sakit Ikiryo terdengar melengking, nampak ia tak bisa menahan rasa sakit itu, dan justru Akio semakin menusuknya hingga membuat Honjou mengeluarkan darah segar dari mulut.
“Bocah ini akan mati. Jangan salahkan aku.”
Dan karena Honjou ikut terluka, Akio jadi ragu untuk melakukan hal yang sama. Lekas ia menyingkir dan kembali masuk ke dalam. Disusul oleh Ikiryo, bilah pedang itu mengikutinya hingga menggores bahu bagian atasnya.
“Ada apa? Kau melemah? Jangan lemah begitu dong!”
Kesal, Akio lantas menendang bagian perutnya. Menjauhkan Honjou darinya, lekas ia memposisikan diri kembali seperti semula. Memasang kuda-kuda, pedang kayu yang sedikit mengalami kerusakan kini tetap ia acungkan ke depan.
“Sepertinya hukumanmu memang bukan omongan banyak orang semata, ya. Samurai Oni!”
Setelah terluka akibat Ikiryo mengendalikan raga seperti raga itu adalah miliknya sendiri, nampak ia masih baik-baik saja. Ikiryo kembali menerobos pertahanan Akio dengan mudah, bilah pedang pun telah sampai ke urat nadi bagian lehernya.
Hanya sesaat saja, Akio merasa merinding. Kaki kanan berpijak lebih kuat ke depan, lantas dirinya melompat mundur seraya menarik pedang yang hendak ia gunakan pada saat itu.
'Pergerakannya jadi lebih cepat. Seharusnya tubuh Honjou tidak secepat dan sekuat itu. Apakah mungkin dia bermaksud untuk menghancurkan tubuh Honjou juga?' pikir Akio dalam benaknya.
“Hm, sepertinya kau menyadari sesuatu.”
Tak ingin terus berlama-lama, hawa membunuh mengelilingi seluruh area. Akio terjebak dalam sarang yokai yang sudah bermurah hati dengan membiarkannya menari sebelum mati.
Akio tak sedikitpun merasa ketakutan, justru ia merasa tertantang. Juga kesal karena perilaku Ikiryo yang kerjanya hanya bisa menumpang ke satu tubuh ke tubuh yang lain.
“Aku peringati! Menyerahlah!” Dengan suara Honjou, Ikiryo berteriak.
Memainkan pedang yang semakin lama terlihat semakin membesar. Adapun ujung pada mata pedang itu sedikit mengerucut, tampak aneh dan membuat Akio penasaran.
Tiada angin, namun Akio kini mampu menghasilkan angin itu sendiri. Sekelilingnya terasa angin berembus kencang. Dan dengan cepat ia mengayunkan pedang secara vertikal sehingga dapat menghancurkan mata pedang.
“Hah! Apa yang kau lakukan?!”
Ikiryo sempat panik, bahkan serangannya terhenti ketika serangan Akio jauh lebih cepat darinya.
“Kau bermaksud untuk menebas ujung pedangnya saja? Jangan bercanda! Ini hanya dibuat dari kekuatanku saja!”
Perangai Ikiryo sedikit demi sedikit terlihat, sebagaimana rupa aslinya adalah yokai. Senyumnya yang seolah-olah akan merobek mulutnya sendiri. Nampak ia merasa bahwa dirinya telah menang.
“Ka—!”
Ketika ingin mengoceh lagi, barulah ia merasakan dampak yang sebenarnya. Apa yang ia potong bukanlah hanya ujung pedang itu saja.
“Apa?!”
Melainkan angin berputar cepat dari ujung pedang hingga mencapai tubuh Honjou sekaligus bayangannya.
CRUAAKK!!
Bagai dicabik mangsa, goresan angin yang dihasilkan kini telah membekas ke tubuh bagian depan Honjou. Ikiryo yang merasa dirinya berbahaya, lantas segera keluar dari sana, sedikitnya angin berembus padanya namun ia sendiri belum sadar.
“Kh, pria ini apa-apaa—!”
Inti tubuh Ikiryo yang menyerupai manik-manik berwarna hitam pada akhirnya menjadi sasaran empuk. Pedang kayu telah menembus bagian tubuhnya sehingga ia takkan bisa bergerak lagi.
“Samurai ...Oni! Ini bukanlah akhir ...kau ...a-akan segera mati. Bahkan hanya dengan ...membunuhku saja ...takkan cukup. HAHAHA!!”
Diselingi ia tertawa, Ikiryo lenyap tak bersisa.