Samurai Oni

Samurai Oni
HARU DAN HIGO



“Tuan Akio, sebenarnya pergi ke mana?”


Akashi yang sudah dikucilkan oleh Akio sendiri, sedang tersesat mencari jalan. Sesekali orang melihatnya dengan tatapan aneh, dirinya akan segera pergi meninggalkan jalan itu lantas pergi ke jalan lainnya.


“Tuan Akio sedang mencari yokai cantik itu? Aduh, gawat. Tidak boleh sampai terpesona.”


Sedang Kizu yang berada di ruangan dalam Rumah Bunga tengah mencemaskan keadaan Akio yang mungkin sudah terpincut oleh kecantikan yokai.


Sementara Nekomata merenung diam di sudut berbatuan dekat jembatan menuju ibu kota. Ia nampak resah, tentu saja setelah pesan dari yokai wanita disampaikan pada Akio, Akio pun merengut kesal bahkan mengatakan kalimat sadis di hadapannya.


“Dia bilang dia tidak butuh aku? Eh, jangan-jangan aku dibuang? MIAWWW!!”


Ujung-ujungnya Nekomata takkan mungkin meninggalkan Akio begitu saja. Meski penuturan kata Akio sangat sadis, ia harus menanggapinya dengan sabar.


Satu persatu dari pengikut Akio mulai resah terhadap Akio yang nampaknya sedang marah. Mereka tak tahu harus apa sedang masing-masing dari mereka memiliki tugasnya sendiri.


**


Karena saat ini pun, Akio sedang menghadapi satu mahluk yokai tanpa nama atau bisa dikatakan tak dikenal. Wanita yang biasa mengenakan pakaian pengantin, akhirnya menunjukkan wujudnya sekali lagi dengan pakaian yang sama.


“Sepertinya aku terlalu memakan banyak waktu. Kalau begitu aku akan pergi.”


Dak! Dak!


Yokai itu dicegah untuk pergi, lantas pintu dan jendela tertutup rapat secara bersamaan. Hima bersama kedua putranya lantas terkejut akan suara keras tersebut. Mereka mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi namun Hima memeluk mereka bersama dengan bayinya, dan berkata akan lebih baik jika mereka cukup diam saja untuk saat ini.


“Aku tidak bisa keluar?”


Tak hanya pintu dan jendela saja yang tertutup, bahkan Akio telah mempersiapkan beberapa kertas mantra pencipta penghalang bagi para yokai yang takkan bisa keluar dari ruangan ini. Akio melempar beberapa kertas mantra itu di antara dua pintu dan jendela bahkan juga di langit-langit serta lantai.


“Ibu, ada apa?” tanya Higo dengan berbisik.


“Tidak tahu. Diam saja.” Hima menggelengkan kepala dengan pasrah.


Haru merasa terusik, begitu pun dengan keberadaan bayi merah ini. Bayi ini tak pernah berhenti menangis ketika Akio datang, seolah bayi itu hanya takut kepada Akio seorang. Haru yang menerkanya tetap saja tak bisa mengutarakannya secara sembarangan.


Karena yang bisa ia pantau dari celah tirai saat ini hanyalah seorang pria yang sedang menarik pedangnya.


'Topeng itu ...,' Haru membatin, seraya ia membuka sedikit bagian dari tirai tersebut.


Sekali lagi ia berkata dalam benaknya, 'Kalau tidak salah orang yang memakai topeng itu adalah Samurai Oni. Benarkah itu? Kata Ayah, dia itu orang hebat. Kalau benar begitu, apa mungkin dia datang untuk menghabisi bayi ini juga?' pikirnya seraya melirik bayi merah dalam dekapan Hima, Ibunya.


“Ada apa Haru?” Ibunya bertanya pada Haru yang sejak tadi melirik bayi itu.


“Ibu ...,”


“Tidak! Kak Haru hanya berkata sembarangan saja. Bayi ini, adik kita dikira adalah iblis oleh kakak. Jadi aku takkan membiarkannya menjelekkan adikku tersayang.” Higo menyahut.


“Apa yang kamu bicarakan, Higo? Tidak baik berkata seperti itu.”


“Karena kakak tadi benar-benar mengatakannya!” teriak Higo dengan jengkel seraya menunjuk Haru.


Haru lekas membungkam mulut adiknya itu, seraya berdesis pelan, dirinya berucap, “Jangan katakan apa pun lagi.”


“Bisakah kita berbicara sebentar? Aku hanya ingin membantumu saja. Membantu melenyapkan bayi itu. Tapi kau datang seolah tak mengijinkanku.”


“Wanita yang mengeluarkan hasrat membunuh sepertimu?” sindir Akio.


Perkataannya langsung menusuk ke dalam hati. Entah apa yang dirasakan yokai tersebut, namun ia mempasrahkan diri karena telah dikepung oleh kekuatan yang bisa saja memurnikan dirinya. Menyentuh ujung pintu saja akan membuatnya lenyap, mana mungkin yokai itu berani bergerak selangkah saja.


“Aku bukanlah yokai sejahat yang kau kira. Jangan salah paham.”


“Tidak.”


Menggenggam pedang Retsuji sudah menjadi bukti bahwa Akio takkan mudah diperdaya semudah itu.


“Hah ...aku sungguh menyesal karena telah mengambil pekerjaanmu tiba-tiba. Tapi aku mohon percayalah.”


Mengabaikan banyak omong kosong dari wanita tersebut, lantas Akio bergerak mendekat dengan sedikit melompat, seraya mengayunkan pedang ke arahnya.


Setelah pedang itu menebasnya menjadi dua, yokai itu justru berubah menjadi puluhan kupu-kupu. Mereka semua berterbangan di satu tempat tanpa sekalipun bergerak. Usai Akio mengangkat pedangnya kembali, kupu-kupu itu kembali menyatu dan membuat wujud yokai itu kembali utuh.


'Bohong! Wanita itu yokai? Dan lagi, sehabis diserang tubuhnya utuh lagi?' Haru berkata dalam benaknya, tertegun akan pemandangan yang disuguhkan depan mata.


Untuk pertama kalinya Haru menyaksikan seorang samurai yang melawan yokai langsung. Itulah mengapa ia sangat terkejut. Sedang Higo hanya dapat menyembunyikan dirinya, karena ia sangat ketakutan.


“Kau tidak akan bisa melakukan itu di depan mata manusia bukan? Aku tahu itu. Maka dari itu, biarkan aku saja yang melakukannya.”


Tak ada yang salah dengan cara ia memegang pedang serta teknik yang telah lama ia pelajari. Namun kenyataannya telah menjadi sia-sia begitu Akio berhadapan dengan yokai wanita asing ini.


Tak ada sedikitpun serangan yang mampu menggores bahkan untuk pakaiannya saja. Akio sama sekali tidak bisa menggapai yokai satu ini. Sungguh, sangat berbeda jika dibandingkan dengan yokai-yokai terkutuk yang seringkali ia jumpai.


“Lalu, aku sangat kesal karena takdirmu tidak pernah berubah. Aku kesal hanya karena kau saja yang berusaha keras. Kenapa?”


Terlebih, segala perkataan wanita ini tidak ada yang bisa dimengerti oleh Akio. Seolah yokai itu sedang berbicara dengan seseorang yang lain, bukan Akio sendiri.


“Hei, istirahatlah sebentar.”


Usai menyerangnya yang berpindah tempat, Akio lekas berbalik badan mengincar keberadaan aslinya. Namun yang begitu terjadi adalah, wanita itu sudah berada tepat di depan Akio. Tak ada celah untuk menyerangnya bahkan ketika sudah sedekat ini.


“Pedang ini sungguh indah. Tapi kau belum menguasainya seperti saat dahulu kala. Mohon, untuk saat ini mundurlah. Biarkan aku—”


SYAKK!!


Tebasan secepat angin, Akio akhirnya mampu menebas seekor kupu-kupu yang berarti menggores lengan dari wujud asli yokai.


“Memang benar katanya, bahwa percuma saja mengajak kau bicara untuk saat ini.”


Keadaan menjadi tidak tenang, usai Akio melancarkan puluhan serangan yang berakhir sia-sia. Retsuji benar-benar telah menebasnya namun yang terjadi hanyalah menggores atau bahkan tidak sama sekali.


Serta, aura dari yokai itu tidak memancarkan hawa membunuh langsung pada Akio melainkan pada seseorang yang lain. Tak tahu siapa, namun Akio berpikir bahwa yokai wanita itu benar-benar akan melakukan pekerjaannya.


“Kau dengannya sama-sama yokai. Takkan aku biarkan kalian semua meloloskan diri dari tempat ini!”