
Hari itu, awal dari segalanya. Bencana telah berubah menjadi kenyataan. Ramalan tak lagi bersifat ramalan, serta para samurai berkorban nyawa tuk menghabisi para yokai terkutuk.
Mizunashi, Uchigoro, Yamamoto, Sakanoue, Kazuki, Satsuki, Takashi, Honjou, Ramuro dan beberapa klan kecil lainnya berjuang mati-matian. Mereka berjuang keras melawan para yokai terkutuk hingga tak mengenal waktu. Demi melindungi para penduduk negeri, demi melindungi negeri serta keluarga ataupun diri sendiri.
Mereka semua rela menumpahkan darah hanya untuk kedamaian yang telah lama dicari. Tak terhitung lagi yang gugur, namun perjuangan belum akan berakhir hingga ribuan mencapai miliaran yokai binasa kelak.
“Dorong mereka! Habisi!”
“Jangan sampai mendekati area penduduk!”
“Tekan mereka semua!!”
Para yokai itu tidak ada yang setinggi tingkat seperti beberapa yokai yang pernah menampakkan diri. Mereka semua hanya setingkat rendahan, memang seharusnya mudah dikalahkan namun jumlah mereka terlalu banyak karena terus berkumpul di satu tempat yakni Kuran.
“Apakah ini benar-benar neraka?”
“Jangan bicara sadis begitu. Kita harus hidup agar semua orang selamat. Semua yang tidak bisa bertarung!”
Para samurai klan pendiri, rata-rata dari mereka sudah kehabisan tenaga karena telah melawan apa yang disebut sebagai Prajurit Neraka. Terluka parah pun mereka abaikan demi mempertahankan benteng yang ada. Pelindung semakin dipersempit akibat kelelahan pada Kaeda seorang yang melakukan hal itu.
Hingga malam yang panjang telah tiba.
“Mau tak mau aku harus bersiap untuk bertarung,” ucap Kaeda.
“Kenapa? Tolong jangan, Tuan Kaeda. Kami membutuhkan bantuan Anda untuk melindungi kami semua.”
“Aku juga tahu hal itu. Tapi kekuatanku untuk ini tetaplah terbatas. Dan klan-klan lainnya sudah jatuh korban. Yang tersisa hanyalah aku.”
“Bukankah kekuatan spiritual Anda hanya cukup untuk membuat pelindung?”
“Itu sedikit benar. Karena aku masih memiliki banyak stamina, maka sedikit kekuatan spiritual akan mampu menghabisi banyak dari mereka.”
“Tidak mungkin.”
Sepanjang waktu, detik demi detik, waktu yang tak terhitung semakin berjalan dengan lambat. Bencana tak kunjung berakhir, tak ada satupun dari mereka yang kelelahan hingga mengakibatkan akal mereka kacau.
Namun akan tetapi, mereka semua masih berjuang.
Termasuk Samurai Oni—Akio. Ia hampir membasmi yokai terkutuk sekitar ratusan dalam sekali tebas Retsuji dan ratusan lain dalam sekali tebas Onryou. Dampak serangan yang cukup besar, harus Akio kerahkan dalam satu waktu. Tak hanya menguras tenaga namun juga kekuatan yang ia miliki. Belum lagi luka yang terus bertumpuk. Ia yang berada di tengah medan perang pun telah bersimbah darah dari kawan sekaligus abu dari yokai terkutuk.
Hari ke-2, dengan langit yang masih menggelap. Di tempat salah satu rumah kosong, Akio berdiam diri dengan napas berat. Kedua tangannya berlumur darah hitam namun masih dalam keadaan menggenggam pedang.
“Selamat pagi. Kau sudah sarapan pagi hari ini?”
Seseorang datang dengan gaun putih, yang perlahan warnanya berubah menjadi merah terang. Rambut hitamnya memanjang hingga terseret ke belakang, wanita yang tampak seperti Geisha ini mengenakan topeng seram layaknya oni.
“Kau siapa?”
“Maaf, menganggu. Mendengarmu bertanya, apa mungkin sarafmu mulai rusak karena Onryou?”
“Aku bertanya kau siapa?”
“Maaf, aku tidak bisa mengatakan siapa diriku sebenarnya. Karena sebentar lagi kau akan mengingatnya. Mungkin.”
Ia menyibak kipas kertas, mengedepakannya lantas berkata sekali lagi, “Bisa dibilang aku Geisha.”
“Prajurit Neraka sudah datang bukan?”
Setelah mengatakan hal tersebut, yokai wanita itu menghilang. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya seakan sejak awal memang tidak ada.
“Akio, kau belum tidur?!” Sedang kakek baru saja kembali sehabis mengambil air dari danau. Nadanya meninggi, ia berteriak.
“Kakek, aku ada pertanyaan. Jika Prajurit Neraka memang sudah ada sejak awal, semenjak aku lahir. Maka yang datang hari ini hanyalah awal mula dari bencana?”
“Bisa dikatakan begitu. Karena sejak awal Prajurit Neraka berada di dekatmu. Lalu salah satunya adalah pondasi antara manusia dan yokai,” ungkapnya.
Tanpa disadari oleh mereka berdua. Bahwa wanita itu masih berada di sekitar. Ia lihai menyembunyikan keberadaannya, dan sekarang sedang menguping pembicaraan.
“Aku sangat membencinya. Dan sekarang sudah waktunya. Ketika malam ke-4, semua akan sesuai peringatan yang telah kau ungkapkan,” tutur sang Geisha selagi memegang topeng, lantas dirinya tersenyum tipis memandang Akio dengan tatapan kebencian penuh dendam.
Lalu kata terakhirnya ketika berbalik badan sebelum pergi, “Kasihan sekali, kau.” Selalu saja ia mengatakannya seolah-olah benar-benar mengasihani.
Hari ke-3, fajar seharusnya kembali menyambut pertarungan mereka. Namun seperti yang diduga dari peringatan maupun ramalan, langit akan tetap menjadi gelap sebagaimana bencana terus berdatangan.
Kali ini, yokai yang memiliki empat kaki dari yang sebelumnya berbentuk ular atau melata. Yokai-yokai terkutuk seperti mereka selalu saja bermunculan, dan sudah banyak korban berjatuhan dengan mayat yang tidak utuh. Tentunya salah satu atau bahkan seluruh bagian tubuh para samurai yang bertarung habis dimakan hidup-hidup.
Darah sudah menebar di setiap rumah begitu juga dengan di permukaan pasir putih. Tidak ada waktu istirahat bahkan untuk sedikit saja.
“Untuk yang sudah tidak bisa bertarung, cepat berlindung dan temui Tuan Kaeda!”
Lelah, terluka, sudah tidak kuat, hanya itu saja yang mereka rasakan. Selain rasa ingin berjuang, meski pada akhirnya hanya sebuah kata-kata. Mereka melarikan diri karena takut itu sudah biasa.
“Jangan meremehkan aku! Aku tidak akan beristirahat sedikitpun!” Bahkan lingkaran mata Akio sudah mulai muncul, tanda keletihan.
“Hentikan, Akio! Lihat kedua tanganmu! Aku akan mengobatimu, jadi setidaknya tidurlah!”
“Tidak!”
Kedua tangan Akio yang tampak seakan telah menyatu dengan kedua pedang, penampilan dari kedua pedang terutama Onryou semakin liar akibat Akio terlalu sering menggunakannya.
Jujur saja, kakek tengu tidak menyangka bahwa Akio dapat bertahan selama tiga hari ini ketika menggunakan Onryou. Sedikit demi sedikit efeknya mulai terlihat. Mulai dari kedua tangan hingga ke bagian tubuhnya, muncul bercak-bercak hitam yang bergeliat seolah hidup.
“Jika kau memaksakan dirimu lagi. Maka kau akan mati.”
“Tidak perlu! Mereka masih banyak dan nyawa mereka semua terus melayang. Kenapa aku harus berhenti?”
“Karena itu setidaknya sarungkan pedang hitam itu.”
“Aku masih bisa menahannya.” Kata-kata yang diungkapkan Akio membalikkan fakta yang ada. Nyatanya ia tak bisa bertahan lebih lama lagi hingga terpaksa dibuat tidur oleh kakeknya.
BRUK!
Tubuh Akio ambruk ke tanah, lalu kakek tengu dengan cepat-cepat menyarungkan kembali pedang Onryou serta Retsuji.
“Sebentar lagi, langit akan kembali terang.”
Kemudian ia duduk di sebelah Akio sambil berkata, “Tapi takdirmu belum berakhir sampai situ, Akio,” imbuhnya.