
Gama sudah dalam keadaan aman namun rasanya ada yang tertinggal. Entah ini karena satu mayat ditemukan, atau karena keberadaan yokai pengendali yang terlihat bekerja sama dengan yokai mimpi itu.
Pemikiran Nekomata tidaklah salah, sebab dirinya pun memperhatikan apa yang sebenarnya diincar oleh Akio yakni yokai pengendali itu.
Benar, yokai mimpi takkan bertindak seagresif ini sebab, seperti sebutannya "mimpi", ia hanya akan ada di setiap mimpi orang-orang dan memberikannya mimpi buruk hingga membuat mereka takut untuk tidur, itulah yang diincar. Namun tindakan agresif dan sembrono ini sudah jelas ada sesuatu di baliknya.
Ungkapan yokai mimpi sesaat sebelum melahap Akio pun terbukti dengan jelas.
“Kalau boleh jujur, aku sangat ketakutan begitu melihat topeng oni itu. Karena apa? Karena aku mendengarnya dari seseorang bahwa kau adalah musuh alami kami!” Begitu katanya.
Dan itu membuat Akio berpikir panjang, apakah mungkin kedua yokai itu bekerja sama? Tapi sepertinya yokai mimpi sudah dibuang begitu mengalami kekalahan telak.
Namun, aura yokai pengendali sama sekali tak terasa sedikitpun sampai sekarang.
***
Kediaman Mikio.
“Selamat pagi, kalian semua. Bagaimana keadaan Akio?” tanya Keiko yang baru saja datang.
“Ah, Nyonya. Maafkan aku,”
Brak!
Pintu ruangan terbuka, menampakkan sosok Chiharu dalam keadaan lemah hendak keluar dari sana.
“Chiharu? Apakah itu kamu?”
Bergegas Keiko mendatanginya dan bertanya apakah ada sesuatu yang telah terjadi. Chiharu hanya menggelengkan kepala namun terlihat sangat jelas bahwa dirinya ini sedang dalam kondisi lemah terlebih raut wajahnya pucat dan kulitnya pun terasa sangat dingin.
“Chiharu, aku akan membawamu ke tempat yang lebih aman. Ayo ikut denganku. Dan di sana nanti, tolong ceritakan semuanya padaku, ya Chiharu.”
“Nyonya, apa Anda akan merawat Nona Chiharu di tempatmu?” tanya Yasha.
“Ya. Aku juga khawatir apabila keluarganya datang mencari.”
“Kalau begitu, biarkan saya membantu.”
Yasha ikut pergi bersama Chiharu dan Keiko. Sementara Kizu dengan wujud rubahnya baru saja ia keluar dari tempat persembunyian. Selagi mereka keluar, akhirnya Akashi dan Nekomata kembali pulang.
“Kizu, Tuan Akio di mana?”
“Belum pulang. Aku sudah lama menunggunya.”
“Begitu.”
***
Pergi dari kediaman Mikio, Keiko mengantarkan Chiharu ke kediaman Yamamoto.
“Kalau begitu, saya akan sampai di sini saja. Mohon berhati-hatilah.”
“Eh, kamu tidak akan masuk ke dalam? Berhubung Chiharu sedang dalam kondisi tak sadarkan diri, aku ingin mengetahui sesuatu.”
“Tidak.”
“Apa kamu ingin meminum teh sebentar?”
Di pagi-pagi buta, kediaman Yamamoto terlihat sangat sepi. Pada akhirnya Yasha ikut masuk ke dalam.
“Nyonya, Anda tidak mengantarkannya kembali pada keluarga Nona Chiharu?”
“Untuk saat ini tidak. Karena suamiku mengatakan bahwa kota Gama sedang tercemari aura jahat. Dia terbangun dan kemudian pergi ke sana,” jelas Keiko.
“Begitu rupanya.”
Chiharu yang kehilangan banyak darah telah diurus oleh tabib. Sementara Keiko dan Yasha hendak membicarakan sesuatu perihal yang telah terjadi di kota Gama.
Mengetahui sedikit dari situasinya. Jelas para samurai yang berada di wilayah lain tentu merasakan aura jahat meski lokasinya sangat jauh. Satu persatu dari mereka mendatangi meski sebenarnya sudah sangat terlambat.
“Satsuki! Kau sedang mencari putri kedua dari keluarga Momoka?”
“Ya. Aku melihatnya bersama Nyonya Yamamoto.”
“Kalau begitu aku akan menyuruh Ito ke sana.”
Kejadian ini akan membekas bagi seluruh samurai yang ada di negeri Shinpi-tekina. Setelah kehilangan Shogun sekarang hampir satu wilayah direbut oleh yokai mimpi. Ini kejadian yang berturut-turut tidak menyenangkan.
Semua hal ini karena ulah satu yokai yang nampaknya mengetahui siapa yang mengendalikan semua yokai ini.
“Tuan Akio pergi ke kota Gama untuk melenyapkan yokai mimpi, tapi sepertinya tidak berjalan lancar. Jujur saja, saya tidak bisa mengatakan sedetail mungkin karena saya tidak terlibat langsung ke sana.”
Yasha menggelengkan kepala dengan pelan, sebagai tanda ia sendiri pun tidak begitu memahami keadaan.
“Begitu. Pantas saja aku tidak melihat Akio ada di manapun. Semoga saja dia selamat, dan semua anggota keluarga Momoka termasuk Chiharu,” harap Keiko berwajah sedih.
“Ya, saya pun berharap begitu.”
Sembari menenggak minuman teh hangat yang begitu enak ini, Yasha memperhatikan sekitar. Ia memperhatikan beberapa kertas mantra yang melekat di bagian dinding. Yasha tahu bahwa benda itu cukup berbahaya baginya, itulah mengapa ia ingin segera pergi namun sayangnya ia tidak bisa menolak teh ini.
“Memang sepertinya aku harus bertanya pada Chiharu.”
“Nyonya, saya berharap semua dari mereka selamat. Namun, kondisi Nona Chiharu sudah sangat parah. Jika bisa saya utarakan, Nona Chiharu terluka karena yokai itu, lantas bagaimana?”
“Apa maksudmu yang mengatakan seolah-olah kau mencoba untuk mengujiku.”
“Tidak,” ucap Yasha sedikit tersenyum, terdapat dua taring kecil di antara barusan giginya.
Dok! Dok!
Seseorang mengetuk pintu gerbang kediaman Yamamoto. Ialah Ito, utusan dari Satsuki yang memastikan bahwa keadaan Chiharu yang dibawa oleh Keiko baik-baik saja.
“Maaf, Anda membawa putri Momoka kemari?”
“Ya, silahkan. Untuk saat ini dia hanya bisa berbaring dan belum sadarkan diri.”
Keiko mempersilahkan Ito masuk ke dalam. Dan sesuai yang dikatakan oleh salah satu rekan Satsuki, Chiharu benar ada di sini.
“Hm, tidak ada tanda-tanda dia masih dikendalikan. Tapi mengapa saya merasakan adanya aura yokai secara samar-samar di sini?” Ito bertanya-tanya kebingungan.
“Eh? Yokai? Tidak mungkin, apa mereka muncul lagi?” Keiko seketika panik.
Sedang yang dimaksud oleh Ito tak lain adalah Yasha, pria yang saat ini hanya duduk diam sembari menenggak secangkir teh hangat miliknya. Ia tak bisa berkomentar karena takut Ito akan menyadari bahwa keberadaannya bukanlah manusia.
“Tapi saya yakin bahwa rumah ini takkan ditinggal oleh Tuan Yamamoto tanpa penjagaan. Setidaknya saya percaya,” ucap Ito.
“Baik, Tuan Samurai.”
“Nyonya, untuk kejadian di Gama, mohon jangan sampai Anda memberitahukan ini semua pada yang lain.”
“Baik, aku mengerti.”
Yasha beranjak dari tempat duduknya lantas berkata, “Saya mohon pamit pada Anda berdua sekalian. Mohon sampaikan salam pada Nona Chiharu bila sudah terbangun nantinya.”
“Ya. Mohon sampaikan salamku juga padanya.”
“Saya mengerti.” Yasha mengganggukkan kepala.
Fajar telah menyingsing. Matahari telah bersinar menerangi setiap wilayah dalam negeri Shinpi-tekina. Adapun hawa buruk sesekali muncul namun yokai takkan berani berdiri lebih lama di bawah sinar matahari yang panas ini.
Seiring berjalannya waktu, pemulihan Chiharu kian membaik dan tubuhnya sudah hangat serta ia tertidur begitu pulas. Waktu ketika ia mulai terbangun, sudah lewat beberapa jam setelah matahari terbit.
“Tuan Akio ...,” gumam Chiharu seraya membuka kedua matanya secara perlahan.
“Oh, sudah bangun rupanya.”
“Chiharu! Kamu bangun? Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Keiko yang amat khawatir.
Chiharu hanya diam, menyunggingkan senyum tipis.