
“Ha, ternyata tak sesulit yang aku kira. Bencana apanya kalau hanya dengan satu orang saja, dia sudah mati?”
Sakanoue Benjiro membanggakan dirinya, seraya ia menghujamkan ujung tombak ke dalam tanah guna memastikan bahwa musuhnya benar-benar telah lenyap. Ia kini tengah bersandar pada sebatang pohon dengan napas tersengal-sengal.
Kabut beracun dalam tanah pun juga memengaruhinya. Belum lagi luka akibat peledak miliknya sendiri, di bagian kepala hingga ke bagian pundak dan tangannya, hampir dari bagian itu kulitnya terkelupas. Darah tidak berhenti mengalir lantaran kabut beracunnya menghambat.
Meski telah berkata sombong, nampaknya benar apa yang dikatakan Hana bahwa ini adalah senjata makan tuan. Tak hanya peledak bahkan racun ini juga.
“Aku sungguh berterima kasih pada Kage, dia memberiku racun hama yang begitu kuat sampai aku rasanya akan mati. Hehe,” tukasnya meledek diri sendiri.
Dua dari Prajurit Neraka, berhasil ditumbangkan. Sejauh ini korban hanya ada di satu tempat yakni Tama, yang berada dekat dengan Ibu kota. Sekitar 200.
***
Dama. Sama seperti lainnya, Mizunashi Kage selaku daimyou Dama telah menyiapkan strategi. Ia berada di luar tidak di dalam, sebab inilah medan perang. Hal yang menunggu mereka adalah lawan yang pernah sekali muncul dalam wujud bayangan (tak asli). Saat itu menyerang Akio.
Tapi sekarang berbeda. Berhubung Akio sudah berpindah tempat di Bama. Mizunashi Kage lah yang akan melawan Ningyou.
“Aku sangat tidak menyukai mahluk ikan. Terutama yang kepalanya besar, entah kenapa aku jijik. Tapi tidak apa. Mari kita bakar hidup-hidup ikan itu nantinya.”
Berujar seolah-olah dirinya akan mati, Mizunashi kemudian memberi perintah pada anak buahnya untuk tetap berada di belakang dirinya. Ia tak mau bila para samurai akan berkorban sia-sia. Terlebih wilayah pertempuran ini sangatlah sulit.
“Aku sangat tidak menyukai hal ini. Tapi marilah, kita buat ini jadi singkat!”
Muncul Ningyou dengan hebohnya ia melompat dari dasar sungai. Terlihat sangat jelas tubuhnya yang besar dan bersisik itu. Jaring perangkap dari bagian atas telah terlontar ke arahnya. Memang aneh bila menempatkan jaring dari atas, namun Mizunashi juga menempatkannya di dalam air sungai.
Ia sebelumnya menempatkan jaring itu agar menempel ke bagian dinding dalam sungai, dan begitu Ningyou muncul dengan lompatan indahnya, jaring di bagian dinding akan melebar. Maka secara langsung, dua jaring perangkap dari atas maupun bawah pun berhasil menangkapnya dengan mudah.
“Berhasil! Tuan Mizunashi sungguh hebat! Kita tidak perlu melakukan tindakan sia-sia. Memang otaknya para samurai adalah Tuan!”
Sorakan kemenangan terdengar begitu menggema ke seluruh Dama. Hanya untuk Mizunashi yang memiliki akal cerdik.
Tetapi Mizunashi menyangkalnya. “Tidak, tidak. Ini belum berakhir sebelum kita membakarnya hidup-hidup.”
Meski Ningyou berhasil terjerat di dalam dua jaring perangkap. Namun bukan berarti membunuhnya akan mudah, dan sekarang Ningyou tengah berusaha untuk meloloskan diri dari jeratan, ia terus menggoyangkan tubuh bersisiknya sampai muncul retakan pada setiap batang pohon yang digunakan tuk mengikat ujung pada jaring-jaring tersebut.
“Anda benar. Ini belum berakhir. Kalau begitu, kita akan siapkan panah api!”
“Tidak. Lebih baik jangan.” Mizunashi menolak.
“Kenapa Tuan? Bukankah jaring yang kita gunakan tidak akan mudah hancur karena api?”
“Bukan itu. Sisiknya.”
“Ya?”
Setelah diperhatikan lebih dekat, akhirnya mereka mengetahui sesuatu yang mengejutkan. Ningyou yang sejak tadi menggelepar, sisik-sisik yang dimiliknya ternyata memiliki sifat tajam. Seperti sebilah pedang, sisik-sisik tersebut sedikit demi sedikit merusak bagian jaringnya.
“Kalian tahu apa yang terjadi jika kita menggunakan panah api, bukan?” ujar Mizunashi.
“Ya. Jika menggunakan itu maka jaringnya akan rusak dan jebakan yang kita gunakan sia-sia. Tuan, apa yang harus kami lakukan mulai sekarang?”
Mizunashi sejenak diam. Ia tengah memikirkan cara untuk segera menghabisi mahluk air ini. Lengah sedikit atau bahkan kesalahan, akan membuatnya rugi walau hanya setitik saja.
“Apa yang Anda maksud, Tuan Mizunashi?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa.”
Para samurai di bawahnya hanya bisa mempercayakan ini pada Mizunashi Kage. Meski harus menunggu waktu yang lama, mereka harus bertahan dan percaya bahwa Daimyou banyak akal ini akan segera melakukan misinya.
“Baiklah!” Begitu Mizunashi menyunggingkan senyum lebar, semua pun kembali bersorak dengan arti kebahagiaan.
“Kalau begitu, pakai panah api!” perintah Mizunashi seraya mengarahkan lengan kanan ke depan.
“Hah?!” Senyum yang amat lebar mendadak turun, semuanya berteriak heran pada Mizunashi karena terkejut akan perintahnya.
“Tu-tunggu sebentar, Tuan Mizunashi!”
“Apa?” Mizunashi menoleh pada salah satu samurai yang tampaknya hendak menentang.
“Itu, tidak bisa. Jika kita menggunakan panah api maka jaring-jaringnya ...,”
Setelah itu kata-kata samurai itu terhenti, ia dan lainnya terdiam seketika begitu Mizunashi hanya sekadar tersenyum tipis seolah masalah ini bukanlah apa-apa baginya.
“Justru itu yang akan kita lakukan. Tidak, maksudnya adalah aku.”
“Tuan?”
“Cepat, lakukan! Tidak ada waktu untuk membuatnya lambat!”
“Baiklah! Kami semua percaya padamu!”
Semua samurai yang berada di bawah naungannya kembali menaruh rasa percaya yang tinggi. Mengharapkan bahwa Mizunashi akan melakukan apa yang ia bisa.
Puluhan anak panah api saja sudah cukup untuk merobek jaring-jaring yang sudah setengah rusak itu. Ketika Ningyou sudah akan kembali ke sungai, Mizunashi berlari dengan senjata besar di punggungnya lalu melompat ke arah ikan besar tersebut.
“Jangan-jangan Tuan Mizunashi!”
Sayang sekali mereka terlambat mengetahui apa yang sebenarnya Mizunashi rencanakan. Tak lain dan tak bukan ialah menyerang Ningyou secara langsung.
BYUURR!!
Entah apa yang terjadi, namun keduanya sama-sama terjatuh ke sungai berarus deras ini. Mizunashi pun sadar bahwa dirinya tak bisa mengandalkan keberuntungan untuk hidup, melainkan harus memperjuangkannya sekeras mungkin.
Kini ia dengan berani melawan arus air sungai hanya untuk mengejar Ningyou, sembari ia menggunakan senjata yang cukup besar agar ia tidak terseret oleh arus sungai. Dengan cara menancapkannya ke dinding bagian dalam sungai.
'Tidak lucu aku mati begitu saja. Jadi setidaknya, aku harus membawamu, yokai!' jeritnya dalam batin.
Sembari menahan napas, secara berulang ia menggerakkan kedua kaki dan berenang lebih cepat serta menggunakan senjata yang layaknya tongkat besar itu. Seperti membawanya ke tangga, Mizunashi berhasil mengejar Ningyou.
'Terima ini!' Mizunashi telah berada dekat dengan Ningyou. Kini ia mulai melepas tongkat dari dinding sungai lantas melemparnya ke arah Ningyou hingga tongkat yang bukan main beratnya itu berhasil memukulnya hingga menabrak bagian tajam di seberang bagian dalam sungai.
Tak sampai situ, Mizunashi menggunakan pedang tuk menusuk tubuh Ningyou hingga merobek kulit bagian dalam dan luarnya secara bersamaan.