
Semua perkataan pada akhirnya mengacu pada "Masa lalu". Keberadaan Akio lalu para yokai terkutuk, entah apa yang terjadi pada beberapa abad yang lalu namun yang pasti itu sungguh buruk.
“Tuan Akio.”
“Apa? Sudahlah, kau cukup diam saja.”
“Tuan terluka parah.”
Memikirkan kembali seluruh perkataan Akashi, hampir membuatnya tidak sadar bahwa luka Akio kembali terbuka serta luka yang baru terlihat semakin parah. Namun, Akio tak terlihat begitu memperdulikannya, ia sekadar membelit sebagai luka dengan sepotong-potong kain dari pakaiannya sendiri.
“Tuan.” Akashi terdiam dengan wajah murung. Entah apa yang menganggunya sampai bisa berekspresi seperti itu. Namun yang pasti, sikapnya hari ini aneh.
“Jangan bilang kau sudah ketahuan?”
“Tidak. Sama sekali.”
“Lalu kalau bukan itu, kenapa kau murung?” Tanpa menunggu jawaban Akashi, Akio lantas pergi meninggalkannya.
Prajurit Neraka belumlah benar-benar hancur. Kakek tua yang sebetulnya adalah yokai pun tak kunjung menampakkan diri. Lalu, setelah beberapa saat Akio keluar dari kediaman Kazuki, sesuatu telah terjadi.
“Apa-apaan?”
Langit berubah menjadi gelap. Kegelapan datang tak diundang layaknya sekumpulan dosa berkerumunan di atas permukaan tanah. Dalam sekejap, tempat yang Akio singgahi telah berubah. Bukan lagi di Kama melainkan di Kuran. Seharusnya benar bahwa tempat ini adalah Kuran, namun terdapat rumah-rumah yang membuatnya aneh.
“Hei, apa yang terjadi di sini?”
Tak hanya Akio, bahkan para samurai yang tersebar ke berbagai daerah dikumpulkan dalam satu tempat. Akio terdiam dalam kebingungan, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
“Kuran? Mana mungkin.”
“Ya. Ini Kuran. Tidak salah lagi, Akio.” Tiba-tiba saja kakek tengu berada di belakangnya.
Akio kemudian bertanya, “Kakek, Kuran tidak punya penduduk. Kenapa harus ada rumah?”
“Entahlah.”
Akio mendesah lelah, saking tak begitu memahami apa yang telah terjadi. Dirinya hanya mencoba untuk memastikan hawa keberadaan mahluk lain yakni yokai. Sembari ia memegang Retsuji, ekor matanya terus bergerak tuk mencari.
“Akio, apa sebelumnya aku pernah mengatakan ramalan padamu?”
“Apa yang kau bicarakan di saat seperti ini. Kita tidak tahu kapan bencana akan berakhir, jadi tenanglah dan jangan berisik.”
“Justru karena itu. Ramalan yang menyatakan adanya bencana.”
“Maksudmu?”
“Semua samurai klan pendiri negeri sudah mengetahui isi ramalan. Tidak, atau mungkin lebih tepatnya peringatan dari leluhur.”
Kakek Naruhaya (tengu) sendiri yang mengatakan, bahwa apa yang akan dikatakannya ini terkait dengan masa lalu.
Ia menyatakan, “Peringatannya; "Begitu aku lahir kembali maka Prajurit Neraka sudah datang. Ketika langit mulai gelap dan menangis maka yang terkutuk akan muncul dari langit. Sampai saat itu bencana yang sesungguhnya akan datang", begitu katanya.”
“Hei, kakek! Aku tidak tahu apa-apa soal itu! Kenapa aku tidak tahu hal ini dari awal? Kalau begitu bukankah semuanya sia-sia?”
“Aku tahu kau akan berbicara kasar begitu padaku. Hah,” ujarnya seraya menghela napas.
Kakek hanya diam sembari menatap Akio dengan mata tajamnya. Pada momen itu, Akio seolah dipaksa untuk memahami bahwa "Aku" berada di kalimat pertama pada isi peringatan leluhur ialah Akio sendiri.
Akio yang menolak percaya, meminta kakek untuk menjelaskan ulang mengenai isi peringatan tersebut. Dan begitu mendengarnya dua kali, barulah Akio sedikit memahami.
“Semenjak aku lahir? Kenapa? Kenapa harus begitu?”
“Kalau aku bilang ini adalah takdirmu ...”
“Persetan dengan takdir! Aku tidak butuh itu! Leluhur macam apa itu? Seenaknya mengatakan hal buruk tentangku. Memangnya dia peramal masa depan?” celotehnya.
Meski berkata kasar seakan-akan menentang takdir. Akio rupanya gelisah. Ia tidak bisa berhenti gemetar semenjak bertarung melawan yokai sebelum ini. Terlebih tidak ada tanda-tanda Akashi dan lainnya yang mungkin saja berada di Kuran ini.
Kuran, yang seharusnya adalah wilayah terbuang. Tempat di mana area pemakaman ada serta danau dengan air tawar. Masih banyak keanehannya lagi, dan itu adalah cuaca yang tak berubah meski dalam keadaan gelap sekalipun, terasa sangat panas. Lalu pasir yang berbeda dengan tanah di wilayah lainnya ini juga merupakan salah satu keanehan tersebut. Namun sekarang, terdapat ratusan rumah yang tersebar ke berbagai sudut wilayah Kuran.
Semua orang yang dikumpulkan dalam satu tempat pun bingung. Termasuk Yamamoto Kaeda yang fokus mempertahankan penghalang pada Kuran guna menghalau musuh, ia terkejut karena merasakan banyak kehadiran orang lain.
“Loh, hujan?”
“Hujan mulai turun rupanya.”
Tak hanya penduduk yang dari awal berada di Kuran, bahkan para samurai dari klan kecil maupun besar serta para pendiri negeri. Dan Kuran yang sekarang dihuni oleh seluruh penduduk negeri Shinpi-tekina, telah kedatangan tamu besar berupa bencana.
Muncul robekan langit, menunjukkan puluhan yokai terkutuk dengan warna hitam gelap. Hampir menyerupai warna langit, namun anehnya masih dapat dibedakan. Seakan-akan sengaja unjuk gigi terhadap semua orang yang ada di sini.
“Lihat. Peringatan dari leluhur sudah menjadi kenyataan,” tutur kakek tengu.
Barisan pertama "Begitu aku lahir kembali maka Prajurit Neraka telah datang." Mengartikan kelahiran Akio sudah menjadi pertanda buruk sekaligus keberuntungan sebagai pahlawan negeri.
Barisan kedua "Ketika langit mulai gelap dan menangis maka yang terkutuk akan muncul dari langit." Mengartikan cuaca buruk ditandai langit gelap dan turunnya hujan.
Sekarang peringatannya sudah mencapai barisan kedua. Yokai terkutuk telah muncul dari atas langit. Maka barisan ketiga sudah pasti akan terbukti.
Bencana telah datang, dan itu adalah karena kelahiran Akio? Sempat Akio berpikir begitu, namun ia selalu saja menyangkalnya karena berpikir itu tidak mungkin.
Lalu, sekarang, ia sudah memegang tekad dari masa lampau berupa peninggalan leluhur yakni pedang Retsuji. Sembari berdecak kesal ia menatap langit, lantas mengenggam erat kedua pedangnya. Antara Retsuji dan Onryou, ia berniat memakai keduanya secara bersamaan.
“Akio? Apa yang kau lakukan?”
“Jangan banyak tanya, kakek. Aku tidak mau mengulur waktu lagi.”
“Kau akan terkena dampak yang jauh lebih besar jika memakai keduanya. Pakai Retsuji saja!” perintah kakek dengan tegas, suaranya meninggi bukan marah melainkan cemas.
“Tidak peduli.”
Namun Akio memilih untuk abai. Abai terhadap dirinya sendiri, karena ia berpikir bila abai terhadap dirinya sendiri maka ia akan lepas dari belenggu takdir omong kosong ini.
“Musuhku ada di depan sana. Semua samurai berkumpul bukan tanpa alasan. Apa lagi urusanku di sini selain menghabisi semua yokai-yokai tak berakal itu!” ungkap Akio.
Ia mengeluarkan kedua bilah pedang. Antara pedang pahlawan (Retsuji) dan dengan pedang pendendam (Onryou), keduanya yang memiliki sifat berbanding terbalik. Baik dan buruknya bersatu, dalam satu tubuh yang diramalkan menjadi pahlawan negeri Shinpi-tekina.
“Aku Samurai Oni! Julukanku yang adalah iblis hanyalah iblis pembasmi iblis!”