Samurai Oni

Samurai Oni
PERTARUNGAN DALAM SANGKAR—GAMA III



Terjadi sesuatu yang sama pada Chiharu.


“Ini menakutkan sekali. Saya tidak berharap bahwa wanita ini akan mengalaminya tapi sudah terlambat untuk menyelamatkan dia.”


“Jangan berkata seperti itu, Yasha! Kita tidak akan bisa menghadap Tuan Akio jika membiarkan dia mati.”


Jiwanya sudah meninggalkan tubuh, namun Yasha saja tidak bisa melakukan apa-apa. Meski telah memaksa agar jiwa itu kembali masuk ke tubuhnya, tetap itu akan terbang seolah memang takdir Chiharu untuk mati sekarang.


“Kalau memang sudah tidak bisa.”


“Maka dari itu, cukup tahan jiwanya. Aku yakin ini pasti karena ulah yokai itu. Ah, aku seharusnya pergi bersama Tuan Akio.”


Kizu semakin gelisah, raut wajahnya terlihat panik karena bingung untuk memutuskan ia harus menemani Chiharu di sini ataukah pergi menuju ke Gama.


“Jangan pergi, Kizu. Saya di sini kerepotan.”


“U-uh ...,”


Situasi di Gama semakin intens. Satsuki berjuang menemukan tubuh utama yang juga diincar oleh Akio saat ini. Tubuh utama yokai terus melarikan diri sembari memulihkan tubuhnya yang sudah terpotong-potong itu.


“Gyaaa!! Samurai Oni benar-benar menakutkan!! Tolong aku! Tidakkkk!!!”


Kekuatannya saja yang menakutkan tapi siapa sangka yokai tersebut sangat mengecewakan bagi Akio karena sifat pengecut yang dimilikinya.


Sampai sekarang, Akio terus memotong bagian tubuhnya bukan tanpa alasan melainkan karena ingin menemukan sosok yokai yang lain.


“Kamu yang di sana! Jangan menyerangnya secara membabi buta! Hei!”


Satsuki berlarian di setiap atap rumah guna mengikuti tubuh utama.


“Hei!” panggil Satsuki.


“Ck, diam!” sahut Akio, membuat Satsuki tersentak diam.


Satsuki heran karena sosok pria yang tak dikenalnya itu sangat kasar. Akio rasanya hari ini sangat beruntung karena Satsuki belum mengetahui dirinya.


“Ya sudahlah. Aku akan memblokir jalan dari arah depan,” ucap Satsuki sedikit acuh.


Satsuki turun ke bawah, berdiri di hadapan tubuh utama yokai mimpi. Secara kebetulan, keduanya melayangkan serangan secara bersamaan dengan sebuah pedang.


“Oh itu bagus.”


“Gyaaaa!! Tidak kena tahu!” teriak si yokai.


'Ha? Satsuki? Gawat, kenapa dia ada di sini?' batin Akio berkeringat dingin.


Setelah mendaratkan serangan, Akio melangkah mundur seraya memalingkan wajah dari Satsuki yang baru saja ia sadari keberadaannya. Rembulan tak bercahaya pun membuat Akio sangat beruntung.


'Semoga saja kakek tidak mendengarku berbicara,' harap Akio dalam benaknya.


“Hei! Kamu! Potong dia lagi jadi beberapa bagian! Aku yakin kalau kita melenyapkannya akan ...,” Belum selesai berbicata, Akio telah menghilang dari hadapannya.


“Gyahahaa! Samurai Oni itu sepertinya mulai takut padaku! Yah, mau bagaimana lagi? Aku 'kan sulit dibunuh.” Yokai mimpi menyombongkan dirinya.


“Samurai Oni katamu?” tanya Satsuki seraya memotong bagian tubuh yokai itu lagi.


“Gyaaa!!! Jangan bertanya sambil menyerangku begitu!” protesnya.


“Kau ini banyak bicara!”


Gumpalan hitam agaknya sedikit demi sedikit mengecil, jiwa-jiwa yang terserap kembali turun ke bawah. Tubuh utama dari yokai mimpi telah merasakannya, kekuatan yang biasa mengalir kini telah terhenti sepenuhnya. Bagian tubuh yang terpotong pun tidak bisa kembali pulih.


“Ada seseorang yang bisa menyerang pasokan energi ku?” gumam yokai mimpi menggerutu.


“Bagus!” Satsuki kembali mengayunkan pedangnya tepat di antara wajah itu. Dan di saat yang sama, anak panah menusuknya.


Perlahan gumpalan yang diduga adalah tubuh utama yokai menghilang, lantas angin berembus kencang di sekitar Satsuki.


“Ugh! Apa yang terjadi barusan?”


***


Aura jahat perlahan memudar berserta dengan kabut berasap ini. Tak meninggalkan gumpalan yang berada di langit, sepertinya kekuatan Akashi berpengaruh dibandingkan dengan ratusan anak panah. Tak sia-sia rupanya.


“Hei, Akashi. Tuan sudah melenyapkan tubuh utama yokai mimpi itu. Ayo kembali!”


“Eh, tunggu! Aku harus menemui Tuan Akio lebih dulu.”


Kota Gama seolah kembali hidup, ratusan penduduk yang ada di wilayah ini satu persatu dari mereka terbangun dalam keadaan linglung namun merasa ada yang menjanggal dalam hati mereka.


“Tuan Samurai, apa yang telah terjadi semalam?”


“Oh, sepertinya kalian bangun dengan selamat.”


“Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak benar-benar mengerti.”


“Tidak. Ini sudah berlalu. Tak apa bila tak ingat.”


Banyak dari mereka yang bertanya, namun tak ada jawaban yang pasti. Karena "mimpi", lah yang menjadi dalangnya jadi sangat sulit diutarakan bagaimana mimpi telah melahap jiwa mereka. Setidaknya bersyukur dengan ratusan jiwa penduduk yang sudah kembali.


Tetapi,


Kediaman Momoka.


“Ada apa dengannya?”


“Menurut saksi, wanita ini keluar dari penglahang di sekitar rumah lalu tubuhnya berubah menjadi abu.”


“Keluarga Momoka?”


“Ya.”


Hanya wanita ini yang sudah dilahap habis oleh yokai mimpi. Seberapa besar rasa jiwa yang dipenuhi dengan ketakutan dalam mimpi, mungkin saja karena itulah gumpalan aneh muncul.


“Kita periksa keadaan seluruh anggota keluarga di rumah ini. Dan jangan lupakan putri kedua mereka masih belum ditemukan hingga saat ini,” ucap Satsuki.


“Baik! Kami yang pergi mencari, Tuan!”


Keadaan seluruh anggota keluarga Momoka; kritis. Luka yang paling mendalam adalah mental. Tak ada luka fisik sama sekali namun mental yang rusak itu menyebabkan mereka seolah mati rasa. Entah seberapa lama mereka bertahan.


“Anda kepala keluarga? Tolong, jawab saya. Ini Satsuki.”


“Sat ...su ...ki.”


“Ya. Apa Anda masih bisa melihat saya?”


Satsuki berusaha untuk mengajak satu persatu dari mereka berbincang namun tampaknya respon mereka lemah dan sulit memastikan apakah mereka bisa bertahan atau tidak.


“Panggil ahlinya untuk mengatasi hal ini.”


“Baik!”


Satsuki merasakan penyesalan yang amat mendalam terkait keluarga Momoka. Ia merasa bersalah karena terlambat untuk mengatasi hal ini. Terlebih yokai mimpi yang dilawan di kenyataan justru lebih sulit. Banyak sekali hambatannya.


“Jangan sampai kejadian ini diketahui oleh banyak orang. Kau mengerti?”


“Baik.”


Menyembunyikannya adalah yang paling tepat, karena jika tidak ketakutan mereka yang semakin membesar akan memancing yokai-yokai kembali muncul.


Sungguh, malam yang panjang. Menanti fajar saja harus menunggu begitu lama, seakan matahari enggan keluar dari sarangnya.


Sedang, Akio berjalan di balik bayangan di setiap rumah penduduk Gama. Ia melipat lengan ke depan dada, berjalan dengan sangat cepat tuk sampai ke kediaman Mikio.


Lalu, Akashi bersama Nekomata telah kembali lebih awal.


“Oh, Akashi dan Nekomata?” Yasha memanggil.


“Bagaimana dengannya?” tanya Nekomata.


“Sudah baik-baik saja.”


“Begitu.”


Semua yokai terkutuk takkan pergi dan hilang semudah ini. Suatu waktu mereka akan kembali, setidaknya selama yang mengendalikan ini semua masih belum terungkap itu siapa.


“Entah ini perasaanku saja atau memang begini ...hari ini lebih suram dari saat melawan yokai itu,” tutur Akashi.


“Kupikir itu bukan perasaanmu saja. Tahukah kau kenapa yokai mimpi bertindak agresif tak seperti kebiasaannya?”


“Apa?”


“Ini karena yokai pengendali.”