Samurai Oni

Samurai Oni
MIMPI YANG DIMANIPULASI I



Momoka Chiharu. Anak perempuan yang dulu menjadi korban kejahilan Akio, namun lambat laun ia mengerti alasan Akio melakukannya adalah untuk mengusir mahluk yang disebut yokai.


Setelah menyadari itu, lalu keluarganya tertimpa masalah yang sama namun dengan jenis yokai yang berbeda pun memutuskan untuk menemui Akio yang telah menjadi penyelamatnya.


Berharap segera bertemu usai tertimpa hal seperti itu, namun begitu bertemu ternyata sudah berada di tiang gantung. Tetapi harapannya tak meredup setelah seseorang mencoba untuk melarikan diri bersama Akio yang akan dihukum mati itu.


Dengan perantara Kizu, akhirnya Chiharu dan Akio kembali bertemu di kediaman Mikio.


Yokai yang mendiami mimpi. Mengusik manusia, para pria akan disiksa sementara para wanita akan disetubuhi, yokai sejenis ini memang banyak maunya tapi siapa sangka bahwa jika salah satu dari anggota keluarga yang telah dikutuk dalam mimpi itu berusaha mengatakan kejadian tersebut pada seseorang, maka dirinya akan memuntahkan darah dan membuat tubuhnya semakin lemah hingga mati secara perlahan.


Kota Gama, wilayah klan Satsuki.


“Hm? Kalian berdua ingin bertemu dengan Tuan Satsuki?”


Akio bersama Akashi dan Nekomata pergi ke sana. Akio berniat untuk menemui Daimyo terlebih dahulu sebelum mulai bergerak dan mencari keberadaan yokai tersebut. Tentunya mereka ke sana dengan menutupi seluruh tubuh mereka dengan jubah biasa.


“Ya.” Akashi menjawab seraya melirik Akio. “Kami dari keluarga Momoka. Sampaikan ...tolong,” imbuhnya.


“Momoka? Oh, begitu. Sepertinya memang harus bertemu dengan Tuanku, tunggulah sebentar.”


Tidak disuruh masuk, justru Satsuki langsung yang mendatangi mereka. Ia keluar dengan pakaian lengkap dan pedang yang terselip di pinggangnya.


“Kalian berdua adalah anggota keluarga dari Momoka, bukan? Aku sudah lama menunggu kalian. Jadi, bagaimana?” tanya Satsuki, Daimyo di Gama ini.


“Cici ...ah, bukan. Maksudku, keluarga kami masih bertahan. Tapi, apakah Tuan? Apakah Tuan tidak mengetahui keberadaan yokai itu?” tanya Akashi, ia nampak gugup jika dilihat dari raut wajah serta cara ia berbicara.


Ya, itu wajar saja karena ia dibantu oleh Nekomata untuk mengatakan hal yang ingin ditanyakan pada Satsuki.


“Sayang sekali, kami tidak bisa menemukannya. Tapi aku akan mendatangi rumah kalian lagi, tenang saja. Aku akan membantu sampai semua ini selesai.”


Satsuki sejak awal memang sudah mengetahui hal ini rupanya. Akio sendiri terkejut, karena sesuai yang dikatakan Chiharu bahwa para samurai sudah datang berniat menolong tapi pada akhirnya tak menemukan apa-apa. Pulang kembali dengan tangan kosong sementara keluarga Momoka tersiksa setiap kali tertidur.


“Aku hanya tahu bahwa kalian mengalami hal buruk dalam mimpi, tapi anehnya kami sama sekali tidak menemukan petunjuk apa-apa.”


“Y-ya. Kami tidak bisa bertahan lebih lama ...tapi apakah hanya itu saja yang Tuan ketahui?” tanya kembali Akashi.


“Ada lagi. Ada sesuatu yang menghalangi rumah kalian.”


Satsuki menatap tajam ke arah bawah, nampak ia begitu frustasi akan masalah ini namun dirinya tidak bisa mengatakan masalah ini pada lainnya terlebih ini terjadi di wilayah klan Satsuki. Satsuki mungkin akan merasa malu jika meminta bantuan pada klan lainnya.


“Oh, iya. Ngomong-ngomong siapa ka ...lian?”


Satsuki yang hendak bertanya mereka siapa, justru mereka sudah pergi lebih awal.


“Hah, mereka pergi.” Satsuki menghela napas dengan jengkel.


Nekomata bersama Akashi berpisah sebentar dengan Akio yang saat ini sedang bersandar di dahan pohon. Ia memperhatikan kota Gama dari atas sana dengan hati-hati, guna memperkuat indera perasa serta penglihatannya di balik topeng oni seraya memastikan tak ada yang luput.


“Tuan Akio! Aku sama sekali tidak merasakan apa pun, atau mencium apa pun!” ungkap Akashi dari bawah.


Akio mengangukkan kepala lantas ia segera turun ke bawah. Karena sejak tadi mereka tidak menemukan apa pun termasuk jejak yokai itu sendiri. Mereka memutuskan untuk kembali.


“Tuan Akio, sebenarnya itu yokai macam apa?” tanya Akashi.


“Akashi, apa kau benar-benar tak tahu? Mahluk seperti dia yang hanya merasuki dalam mimpi?” Agaknya Nekomata menyindir.


Nekomata turun dari belakang pundaknya lantas berjalan dengan keempat kakinya sendiri. Sejenak ia berhenti, sejenak ia menoleh ke belakang, entah apa yang membuat dirinya gelisah. Namun semakin lama tubuh kecil itu mendekati Akio.


“Tuan Akio, sejujurnya saya juga masih bingung.”


“Apa? Ternyata kau sendiri sama saja!” pekik Akashi yang mendengarnya.


Tak berselang lama, Akio, Akashi dan Nekomata secara bersamaan berhenti di tempat. Lantas mereka menyadari keberadaan seseorang yang semakin lama sosok itu mendekat.


Akashi yang merasa berbahaya lantas segera berdiri di belakang punggung Akio, guna mengekspos seseorang tersebut.


“Keluarlah!”


Dalam sekelebat bayangan, sesuatu turun dari dahan berdaun lebat. Ternyata hanya seorang pria, ninja. Berpakaian serba tertutup dengan senjata kecil yang beraneka macam tersembunyi di balik pakaiannya, ia berdiri menghadap Akashi.


“Momoka. Benar?”


“Ya, benar.” Nekomata yang menjawab namun dirinya tengah bersembunyi di balik jubah Akio.


Akio membalikkan badan seraya menutup wajahnya dengan benar, dengan suara Nekomata guna berbincang dengannya sebentar.


“Kamu butuh sesuatu?”


“Tidak. Saya hanya menyampaikan bahwa Tuan Satsuki ingin bertemu dengan kalian semua.”


“Begitu 'kah? Untuk apa?”


“Mengenai masalah keluarga Momoka itu sendiri. Saya hanya bisa menjelaskan ada sesuatu yang terlupa untuk disampaikan.”


Nekomata berbisik lirih pada Akio, tuk menanyakan apakah mereka akan pergi atau tidak. Akio lantas menggelengkan kepala cukup sekali.


“Maaf, kami punya urusan yang lebih penting. Mohon sampaikan pada tuan.”


“Tetapi—”


Tak menunggu penjelasan panjang lebar lagi, Akio dan lainnya segera pergi dari sana.


Wilayah klan Satsuki, Gama. Hutan mengitari pemukiman namun letaknya yang cukup jauh dari ibu kota, tak membuat pertahanan mereka lemah. Salah satunya yang menjadi keahlian mereka selain berperang ialah memanah.


Namun meski begitu, jarak yang ditempuh untuk menuju Ibu kota sama jauhnya dengan klan Mizunashi sehingga sulit mengatakan masalah keluarga Momoka pada klan lainnya.


Kehormatan sekaligus penyebab setelah cerita ini tersebar akan membuat dampaknya jauh lebih besar. Demi menghindari itu, Satsuki berusaha untuk membereskannya secara diam-diam. Walau nampaknya ada beberapa hal yang ia sembunyikan.


“Kira-kira, si Satsuki itu ingin mengatakan apa ya?” tanya Akashi penasaran.


“Jangan bertanya hal-hal yang bodoh. Tuan Akio tak ingin melanjutkan perbincangan nya dengan dia karena Tuan Akio merasa itu berbahaya.”


“Maksudmu karena sekarang kita dicari-cari?”


“Benar. Kita tidak bisa membiarkan siapa pun tahu kalau Tuan Akio ada di dalam negeri dan masih hidup. Meskipun kita menghindar akan membuat Satsuki mencurigai.”


“Oh, begitu. Hm ....”


Akashi berdeham cukup panjang, sebab dirinya tidak begitu mengerti.