
“Yang kau katakan benar, yokai-oni. Mereka akan datang dari aliran sungai ini ya.”
Yokai datang dari dasar sungai, wilayah klan Mizunashi. Arus yang deras takkan mungkin ada seekor ikan muncul begitu saja, namun inilah yokai. Sosoknya yang hitam berasap dan bermata merah membuat Akashi dan rubah itu terkejut bukan kepalang.
“Dia muncul.”
Seperti mahluk berzirah, namun bentuk tangannya tak seperti manusia. Istilah yokai memang pantas sebagai sebutan mahluk aneh semacam ini.
“Pantas saja disebut Shinpi-tekina, negeri ini tercemar oleh bau tak sedap,” tutur Akashi.
Tetapi, tubuh besar dan aura yang kuat takkan membuat mental Akio melemah. Samurai Oni, begitulah banyak orang menyebut dirinya.
Slash!
Memasang kuda-kuda, lekas ia menyayat yokai hingga terbagi menjadi dua. Dalam sekejap yokai itu lenyap tak bersisa. Aura ataupun udara yang terasa aneh pun tak mereka rasakan lagi.
“Sungguh hebat. Tapi, bagaimana bisa? Hanya dengan pedang kayu,” ucap rubah, berdecak kagum dibuatnya.
“Sungguh hebat, Tuan Akio! Aku benar-benar tak salah karena harus merelakan hidup ini untukmu,” tutur Akashi.
Akio secepatnya menyembunyikan pedang kayunya lalu berlari pergi tanpa berkata apa pun lagi. Sontak dua yokai terkejut, segera mereka mengikuti langkah Akio yang sejujurnya mustahil bagi mereka mengejarnya.
“Tunggu, Tuan Akio! Kenapa meninggalkanku lagi?”
“Anu ...Tuan Samurai! Ada hal yang ingin aku tanyakan!” teriak si rubah.
“Kau ngapain ikut-ikutan! Sana pergi! Tuan Akio tidak membutuhkanmu, rubah!” pekik Akashi seraya menendangnya hingga terjatuh dari atap.
“Kau!!”
Alasan Akio pergi terburu-buru adalah;
“Ada seseorang yang datang kemari,” ucap seorang samurai.
“Anda benar, Tuan.”
Karena kelompok di bawah klan Mizunashi datang tepat setelah Akio melenyapkan yokai.
“Tetapi, kalau dirasakan harusnya yokai itu cukup kuat menumbangkan beberapa samurai. Tapi jejaknya sudah lenyap, terlebih setelah baru saja muncul?”
“Ini aneh. Kecuali dua yokai, maka ini bisa dipastikan lebih lanjut. Tapi adakah samurai yang bisa melawan yokai sekuat itu hanya dalam sekejap?”
“Jangan malah bertanya padaku. Di negeri ini sudah banyak yang meninggal karena yokai datang tak beraturan. Belum lagi jika setengah siluman yang akhir-akhir ini muncul.”
“Maksud Tuan adalah si tangan merah? Sekitar dua hari lalu, puluhan warga sempat mengekspos rupa dari yokai-oni itu.”
“Benarkah? Coba lihat sketsanya.”
“Ya.”
Sketsa gambar, seorang pria berambut panjang berduri. Tangan kanan berkulit merah dan memiliki kuku hitam yang panjang. Bola mata yang besar jarang dimiliki oleh banyak orang, sedetail itulah rupa dari Akashi si tangan merah.
“Aku tidak bisa membayangkan kalau dia bertarung melawan sejenisnya.”
“Kalau begitu, apakah ada kemungkinan lainnya, Tuan?”
“Satu-satu hal yang aku pikirkan adalah Samurai Oni.”
Para samurai klan Mizunashi tersentak kaget, mendengar tuan mereka berpikir ini adalah ulah dari Samurai Oni. Nama yang seolah tabu diucapkan bahkan mendengarnya saja seakan membuat mereka berdosa.
“I-itu ...,”
Beberapa dari mereka ragu akan pemikiran tersebut.
“Kau tidak percaya? Samurai mana yang bertarung tanpa meninggalkan jejak selain dia? Dia adalah samurai yang ahli bahkan seni berpedangnya diakui sejak kecil,” ungkap Tuan Mizunashi, berpikir bahwa itulah yang terjadi.
“Eh, itu ...bukankah maksud Tuan adalah—”
“Jangan bicarakan hal ini pada siapa pun. Aku yang akan melapor pada Shogun sekarang juga.”
Samurai Oni lalu Akashi si tangan merah mulai menjadi buronan di negeri Shinpi-tekina. Di setiap wilayah klan pastinya mereka mengetahui siapa itu Samurai Oni namun tak satu pun dari mereka yang berniat menguak identitasnya karena memang sudah dianggap bukan bagian dari negeri.
Meski begitu, yang dikatakan oleh peramal kuno telah membuat beberapa dari mereka gelisah.
“Saya datang untuk melapor, Tuan.”
“Baik, silahkan masuk ke dalam.”
Shogun Hatekayama kebetulan sedang senggang hari ini, ibu kota dan wilayah lain tampak damai namun satu kecacatan kecil di wilayah klan Uchigoro setidaknya masih membekas sampai saat ini.
“Maaf jika menganggu waktu Tuan.”
“Apa? Aku hanya melukis ketika ada waktu sedikit. Katakan, ada apa dengan kedatanganmu tiba-tiba.”
“Baiklah, Tuan. Singkat cerita, Samurai Oni telah bertindak kembali.”
Terkejut, secara tak sengaja Shogun menjatuhkan kuas dari sela jari-jemarinya.
“Dia lagi?”
“Seperti yang Tuan katakan dan kita semua ketahui mengenai Samurai Oni, dia adalah Yamamo —uhuk!” Nyaris ia menyebut nama marga, Mizunashi Kage terbatuk dengan sengaja.
“Maksud saya Akio. Entah niat apa yang dia bawa sebenarnya. Sekilas saya melihat dua yokai berkeliaran, dan saya takut—”
Kalimat Mizunashi tersendat sebab Shogun mengangkat tangannya dengan mata terpejam. Nampak ia ingin menghentikan perbincangan ini.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi Akio sudah dibimbing oleh gurunya sendiri. Dia sudah dilarang untuk mengangkat pedang dan juga membuka mulut untuk bicara,” ujarnya dengan mata sendu.
“Kalau begitu ...dia telah melanggar.”
“Tak hanya apa yang kamu barusan pikirkan tentang keberadaan dua yokai yang mungkin bersama Akio. Tapi melanggar hukuman yang telah diberikan akan membuatnya melakukan seppuku.”
“Tuan benar.” Mizunashi menundukkan kepala dengan berat. Seolah enggan menerima kenyataan mengenai Akio.
“Tapi tenanglah. Malam saat bunga sakura bermekaran, Samurai Oni ataupun Akio juga baru saja melakukan pelanggaran itu,” kata Shogun.
“Apa maksud Tuan, untuk tenang?” tanya Mizunashi tak mengerti.
“Memang benar dia mengangkat pedang untuk bertarung tapi siapakah lawannya? Para yokai terkutuk.”
“Kalau begitu apakah Tuan akan mencabut hukuman Akio?” tanya sekaligus harap dari salah satu pendiri negeri, Mizunashi Kage.
“Tidak. Tidak akan pernah dicabut karena dia akan selamanya seperti itu.”
Pupus sudah harapan Mizunashi yang bahkan tak pernah sekali bertemu dengan anak bernama Akio ini. Wajah bahagia yang sempat ditunjukkan kini kembali tertunduk lesu setelah mendengar pernyataan Shogun.
“Dia dilarang bertarung melawan manusia. Kalau begini bagaimana jadinya?” Shogun kembali berbicara, mengubah sedikit dari hukuman Akio selama ini.
“Itu sungguh kabar yang bagus, Shogun Hatekayama! Dengan begini, mungkin saja Akio perlahan akan berubah,” ucap Mizunashi sembari menunduk hormat.
“Kelihatannya kau sangat senang sekali dengannya.”
“Tentu saja. Pahlawan yang diramalkan telah datang, tapi dia malah berbuat sia-sia. Begitu mendengar hukuman diubah sedikit saya tentu akan sangat senang.”
“Yang kamu senangi adalah gaya atau seni berpedangnya, bukan? Wajar semua orang menyukai hal itu, terlebih dia akan menjadi bantuan hebat tak terduga untuk memerangi para yokai terkutuk.”
“Baik!”
Sekali lagi Mizunashi Kage menundukkan kepala dengan hormat. Terus tersenyum selama ia keluar dari ruangan Shogun Hatekayama, nampak pria berambut kuncir kuda ini merasa ada keadilan terhadap nasib Akio.
“Aku harus segera menyampaikan ini pada lainnya!”