Samurai Oni

Samurai Oni
TUDUHAN



Tidak ada hujan, tidak ada angin. Lalu tidak ada kabar baik bahkan untuk sehari saja. Rasanya menyakitkan, ironi, serta pelampiasan yang diberikan pun terasa tak cukup hingga mati. Itulah yang Mizunashi pikirkan ....


Hari ini, terlalu panas. Menjelang musim panas saja sudah terasa akan membakar kulit para penduduk negeri Shinpi-tekina.


Banyak orang berkumpul hanya untuk melihat sesuatu yang tertulis di sebuah papan sedikit besar, memberitakan seorang pengikut klan Mizunashi tewas bunuh diri di halaman kediaman Mizunashi.


“Bunuh diri? Kenapa?”


Semua orang tentu akan menanyakan alasan apa yang membuat orang itu membunuh dirinya sendiri. Diketahui ia bunuh diri dengan cara menjerat lehernya dengan seutas tali yang terikat pada batang pohon.


Sungguh kematian yang mengerikan namun juga dipenuhi tanda tanya kemisteriusan.


Keberadaan Akio saja tidak disadari oleh banyak penduduk, terlebih posisinya yang berada di sudut. Mengetahui berita yang tertulis, Akio hanya dapat mendoakannya saja, ia mengatupkan kedua tangan ke depan dada dengan tundukan kepala.


Akashi dan rubah yang mengubah wujudnya menjadi perempuan cantik pun mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Akio saat ini.


***


Puncak gunung, rumah Akio.


“Maaf saya datang terlambat, Kakek Naruhaya.”


Mizunashi Kage datang untuk bertemu kakek bertopeng tengu itu.


“Berhenti memanggilku dengan nama itu,” pinta si kakek. Baru saja ia keluar dari rumah.


“Lalu apakah saya harus memanggil kakek tengu begitu?” ujarnya sembari tertawa.


“Ha, terserah kau saja lah.”


Kedatangan Mizunashi di sini untuk menjelaskan perubahan hukuman. Kemarin, Mizunashi hendak mengatakan secepatnya namun karena Mikio dan urusan pengikut Akio, Mizunashi jadi tak bisa menyempatkan waktu.


“Saya akan mempersingkat waktu kakek. Perihal—”


“Perubahan Hukuman?” sahutnya.


Mizunashi terkejut karena ternyata kakek tengu sudah mengetahuinya.


“Aku sudah tahu itu dari Tamura dan beberapa orang lainnya. Dia menceritakannya begitu antusias, sama sepertimu yang tergesa-gesa datang kemari.”


Ini kali pertama kakek sedikit tertawa namun hambar. Ia tertawa karena keantuasiasan para pendiri klan yang mengharapkan kembalinya Akio.


“Ya, terima kasih. Tamura menggantikan peran saya. Ha, saya merasa kalah hanya karena sedikit terlambat,” gerutunya seraya mendesah lelah dan melipat kedua lengan ke depan dada.


“Terima kasih? Untuk apa?” tanya kakek tak mengerti.


“Tentu saja karena kelahiran Akio di keluarga kakek,” katanya.


“Berhenti bercanda. Apa urusanmu di sini sudah selesai?”


Mizunashi menganggukkan kepala. “Sudah. Hanya Perubahan Hukuman saja yang ingin saya katakan pada kakek. Tapi karena sudah terlambat maka saya akan pergi.”


“Aku turut berduka atas kematian bawahanmu, Kage. Nama bocah itu adalah Tadashi, benar?”


“Ya. Tadashi. Dia anak yatim-piatu sejak kecil. Saya merawatnya sama seperti keluarga sendiri.”


“Begitu.”


Mengingat kematian orang yang paling dekatnya, tentu saja Mizunashi merasa ini semua adalah mimpi. Mimpi terburuk yang sebelumnya tak pernah ada.


Kematian tragis Tadashi sulit tuk dilupakan bagi Mizunashi Kage, termasuk orang-orang lainnya yang setidaknya pernah berjuang bersama di garis depan.


“Saya berpikir yokai terkutuk yang melakukannya. Tapi di sana adalah wilayah saya, semua samurai akan langsung merasakan dan melihat yokai itu, tapi—”


Kalimat terakhir yang sulit diucapkan. Mizunashi menanggalkannya sementara, ia menggigit bibir bagian bawah seraya mengepalkan kedua tangan. Dalam posisi berdiri menghadap kakek tengu, ia justru menundukkan kepala.


“Jika mereka benar-benar terikat dengan Akio, maka Akio sendiri sudah tahu apa yang dilakukannya. Aku juga sudah lama memperingati dia meski aku sendiri telah lama mengincar kepala mereka,” ujar si kakek.


“Saya senang kakek menghibur.”


“Tidak, aku tidak sedang menghiburmu.”


“Baik. Saya mengerti. Tadashi dimakamkan di wilayah Kuran. Jika sempat berkunjunglah sebentar,” ucap Mizunashi.


“Ya, mungkin nanti aku akan berkunjung. Dia anak yang baik, tak mungkin aku bisa melupakannya.”


Perasaan merelakan harus ia rasakan di benaknya. Namun setidaknya perasaan benci tidak meluap hingga membuatnya dendam.


“Kakek Tengu!” Mizunashi memanggil seraya melambaikan tangan. “Apa pun keputusan Akio, saya percaya itu yang terbaik,” tuturnya.


“Bodoh!”


Mizunashi Kage akhirnya pergi dengan meninggalkan senyum yang biasa ia tunjukkan. Kakek Naruhaya bertopeng tengu itu merasa bersyukur karena sifat Mizunashi sama sekali tidak berubah.


Kemudian,


Menjelang senja hari, Akio pulang seorang diri. Kakek yang berada di pinggir rumah menatap sinis dan heran padanya.


“Tumben kau datang sendiri,” sindirnya.


Akio hanya berdiri di hadapannya selama beberapa menit lalu duduk di anak tangga menuju pintu sembari menuliskan jawabannya di atas tanah seperti biasa.


"Raut wajahmu terlihat serius. Ada yang ingin kakek bicarakan padaku?" Rupanya Akio sadar.


“Ini akan menjadi lebih cepat, Akio. Pertama, kenapa kau memelihara mahluk setengah-setengah itu di rumah?” Kakek bertanya dengan memasang muka serius.


"Sudah aku bilang, aku tidak berniat merawat mereka. Sudah aku suruh pergi tapi mereka tidak mengerti atau lebih tepatnya tidak mau pergi." Itulah jawaban pertama Akio.


“Kenapa kau tidak membunuhnya?”


Jawaban kedua tertulis, "Mereka tidak akan menyakiti manusia. Akashi memang sejak awal tak pernah melakukannya tapi rubah itu pernah sekali namun sudah berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya."


Sejenak kakek terdiam sembari membaca tulisan panjang itu berulang kali guna memastikan sesuatu.


“Janji? Mahluk itu? Mana mungkin aku percaya!”


"Jika mereka melakukannya maka aku akan membunuhnya, tak peduli hukuman seppuku menanti." Akio kembali menuliskannya, sebagai bentuk janji atas melepaskan dua yokai tersebut.


“Tidak. Kau tidak akan dihukum jika menyerang yokai. Termasuk setengah-setengah dari mereka.”


Akio menghela napas lega lantas bersandar pada tepian pintu. Ia merasa rileks walau hanya sebentar seraya memandangi langit senja dan merasakan panasnya.


“Satu atau dua pertanyaan lagi untukmu. Kapan rubah itu pernah melakukannya? Dia juga pernah membunuh manusia bukan?”


Akio menganggukkan kepala. "Tapi sebelum Tadashi tiada dia telah mengutarakannya."


“Dia bersih, begitulah maksudmu. Ya, lagi pula mahluk itu juga selalu mengikutimu, tidak ada waktu baginya untuk membunuh.”


Walau terkesan kakek masih mencurigai mereka namun ia berusaha untuk mempercayai omongan murid didikannya itu.


“Tetapi apa alasanmu yang membiarkan mereka berkeliaran? Tahukah kau bahwa Mizunashi Kage datang sebenarnya untuk memastikan apakah dua yokai pengikutmu itu pelakunya atau bukan?!” Kakek meninggikan nada suaranya.


Akio kembali menuliskan jawabannya, "Mereka bukan pelakunya."


“Aku tahu! Tapi siapa?! Anak baik seperti Tadashi itu tidak akan mungkin bunuh diri tanpa alasan!”


Kakek Naruhaya akhirnya mengamuk seperti biasa, inilah luapan emosi yang tertahan.