Samurai Oni

Samurai Oni
PEDANG YANG TERNODA ROH JAHAT



Shinpi-tekina dan yokai lahir secara bersamaan. Dikatakan yokai muncul, disebut sebagai "Jatuh dari surga", maupun "Bangkit dari neraka", ini sudah cukup jelas membahas tentang yokai. Keberadaannya yang mematikan suatu saat akan membinasakan Shinpi-tekina itu sendiri.


Para leluhur yang ada puluhan tahun lalu, hampir terhitung satu abad penuh. Sesuatu yang masih disembunyikan, saat ini masih tertutup rapat. Kakek jelas mengetahuinya bahwa Kaeda sengaja tak menceritakan kelanjutan dari hal itu, namun agaknya kakek enggan berbicara lagi.


“Apa ada sesuatu?”


“Sesuatu apa? Sepertinya memang percuma untuk menceritakan hal ini padamu sekarang, Akio.”


Berbicara mengenai pedang, satu pedang milik Akio yang saat ini dalam kondisi berkarat, ditemukan telah ternoda oleh aura dan roh jahat di bilah pedang tersebut. Kakek datang ke kuil pun berencana untuk menyucikannya.


Dan Kaeda sebagai Shogun sementara ini menyuruh Akio untuk menggenggam pedangnya sendiri nanti. Namun dengan maksud lain agar Akio tak mengincar Retsuji lagi.


“Bocah seperti dia takkan aku biarkan menggenggam pedang itu.”


Retsuji bukan pedang biasa. Pedang itu bukanlah pedang yang bisa dimainkan oleh sembarang samurai. Butuh tekad yang kuat serta jalan yang lurus. Sedang Akio yang diramalkan sebagai pahlawan, justru tak memiliki tekad dan pemikiran yang sepantasnya. Hal itulah yang membuat Kaeda menolak memberikan pedang itu pada Akio.


Alih-alih Akio adalah anak "kotor."


“Akio, Ayahmu pergi.”


“Biarkan saja. Aku tidak peduli dengannya.” Masih marah, Akio memutar badannya dalam posisi masih duduk di sana.


“Retsuji memiliki arti yang sama seperti namamu. Tapi aku yakin kau menginginkannya bukan karena ambisi melainkan karena tidak punya waktu lagi.”


“Apa aku benar?” imbuh kakek, menyindirnya secara halus.


“Kenapa ...”


“Kenapa aku tahu?” sahut kakek, sejenak ia menghela napas sebelum akhirnya berbicara kembali. “Aku tahu karena semalaman ini kau tidak tidur. Semenjak Mikio dibangkitkan.”


“Kalau sudah tahu, ya sudah.”


“Bukan itu. Aku tahu ada sesuatu tapi aku tak tahu apa alasanmu sebenarnya.”


“Hanya terpikirkan apa yang dibicarakan oleh Yamamoto Kaeda. Dia bilang yokai jatuh dari langit, seolah-olah mereka dulunya adalah mahluk yang hidup di atas awan.”


“Hei, bocah. Seharusnya kau memanggil dia sebagai Ayahmu.”


“Tidak akan karena dia menganggapku orang buangan. Sama seperti lainnya. Tapi kek, dia takkan memberitahukan keberadaanku pada samurai lainnya bukan?”


“Ya. Tidak akan.”


“Kalau begitu baguslah.”


Si kakek pun sadar, sejak tadi Akio menghindari pertanyaannya. Apa yang membuat Akio mengambil langkah tergesa-gesa seperti ini, tapi yang pasti alasan itu cukup besar.


Hanya satu yang kakek tengu pikirkan, “Apa mungkin karena seseorang yang mengendalikan para yokai?”


“Jangan katakan mereka berbicara padamu lagi?”


“Tentu saja. Mereka khawatir padamu, maka dari itu mereka menceritakan apa yang mereka tahu ketika lahir dan tumbuh di Shinpi-tekina,” ujar si kakek.


Akio beranjak dari sana seraya berujar, “Ya. Itu benar. Entah siapa dia, tapi belakangan ini aku terusik. Lebih tepatnya setelah Ikiryo mati.”


“Karena Ikiryo mengatakan bahwa kau akan segera mati?” sahut kakek.


“Lagi-lagi mereka mengatakannya padamu. Ya ampun itu tidak berguna sekali. Aku jadi bingung harus menjelaskan apa padamu. Karena aku berpikir yang dikatakannya itu merujuk pada seseorang di balik ini semua.”


Kakek sejenak menghela napas. Ia berjalan mendekati Akio lantas menyodorkan pedang berkarat tersebut.


“Ini. Ambilah.”


“Aku tidak bisa memakainya. Ini bahkan lebih buruk dari pedang kayu, tahu.”


“Sudahlah, ambil saja ini.” Kakek memaksanya, ia meraih tangan Akio lantas membuatnya menyentuh bilah pedang tersebut.


Dalam sekejap ketika satu jari bersentuhan pada sedikit dari bagian pedang tersebut, ada sesuatu yang menyengatnya hingga membuat Akio menjatuhkan pedang itu ke tanah.


“Aduh! Apa-apaan itu?” Akio mengaduh kesakitan.


“Banyak aura jahat yang sama namun dengan jenis berbeda bergabung menjadi satu di pedang ini.”


“Aku tahu itu.”


“Barusan ...jika kau mampu menggenggamnya tanpa rasa sakit maka hatimu itu sungguh kotor dan begitu juga sebaliknya.”


Akio menyentuhnya tapi ia kesakitan, yang berarti hatinya tidaklah sekotor apa yang dibayangkan oleh banyak orang.


“Lalu apa?”


“Jika kau kotor, maka Ayahmu tak ragu untuk membunuhmu. Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? Dari kecil, kau sudah dipantau oleh banyak orang termasuk Ayahmu sendiri. Hukuman ada agar mencegahmu melakukan tindakan buruk.”


“Aku tahu! Aku tahu itu! Lalu kenapa? Aku hanya ingin secepatnya memegang pedang sungguhan bukan pedang kayu seperti ini!” pekik Akio.


“Katakan, apa tujuanmu sekarang?”


“Tiba-tiba apa yang kau katakan di saat seperti ini. Kau sudah tahu aku sedang terburu-buru tapi kau seolah sengaja menahanku di sini!”


“Marahlah sepuasmu, tapi aku takkan berkata apa-apa untuk itu. Akio, sekali lagi. Apa tujuanmu yang sekarang?” tanya kakek.


Pria tua kecil itu menatapnya dengan sangat serius. Ia tidak sedang marah melainkan hanya bertanya dengan serius.


Sekali lagi ia bertanya, “Apa tujuanmu dengan membawa para yokai yang mau mengikuti perintahmu?”


“Tujuanku hanyalah melenyapkan yokai terkutuk itu. Dan jika kau tanya alasannya apa maka aku akan mengatakannya, bahwa mereka memiliki bau yang busuk!” ungkap Akio.


“Lalu, untuk mereka. Aku sama sekali tak berniat menjadikannya sebagai pengikutku. Mereka sendirilah yang mengikuti jadi jangan salahkan aku.”


Benar apa kata Akio. Kakek pun tak bisa membantah hal itu. Dan kenyataannya tak ada seorang pun mampu menyentuh salah satu pengikut Akio hingga saat ini. Bukan hanya karena menjadi ancaman melainkan mereka tergerak karena adanya Akio.


Tadinya Yamamoto Kaeda berniat memancing emosi yang ada dalam diri yokai-yokai tersebut namun hasilnya nihil. Berpikir bahwa mereka akan menunjukkan sosok asli mereka tapi ternyata mereka sangat patuh pada Akio.


“Pedang ini tidak memiliki nama sama sekali,” ucap kakek seraya mengambil pedang tersebut.


Pedang berkarat itu, memiliki banyak aura, roh maupun kekuatan jahat di dalamnya. Barang siapa yang menggenggamnya tanpa merasa sakit maka itu berarti hati mereka sungguh kotor.


Dan sekarang kakek itu menggenggamnya tanpa merasakan sakit apa pun.


“Akio, kau tahu kenapa aku bisa menggenggam pedang ini tanpa merasa sakit?” Kakek mencoba untuk mengujinya.


“Apalagi kalau bukan hatimu lebih kotor daripada diriku.” Seperti biasa jawabannya memang masuk akal.


“Bukan, bodoh. Ini karena aku mengalahkan mereka.”


“Apa?”


Setelah itu kakek pergi begitu saja. Ia masuk ke dalam kuil tanpa bicara apa-apa lagi setelah mengatakan kalimat tersebut. Katanya pedang itu akan disucikan oleh pendeta.


Setelah beberapa saat kemudian, ia keluar dari kuil lantas menatap Akio yang masih berdiri diam di sana.


“Akio, pergilah kau ke Kuran. Mereka semua sedang menunggumu.”


“Apa? Kenapa aku harus kembali ke Kuran?”


“Atau kau ingin mati?”


Akio tercekat diam. Namun yang dikatakan kakek itu benar adanya, jika Akio berlama-lama di sini maka yang ada situasinya jadi semakin rumit.