
“Aku memintamu untuk mencarikan Samurai Oni, tolong sampaikan hal ini juga pada Tuan Samurai di luar, ya.” Hatekayama Hima meminta.
“Baik.”
Kelahiran seorang putra di suatu keluarga adalah harapan dan kebahagiaan bagi setiap orang. Namun sayangnya ada yang tidak beruntung di sini, Nyonya Hatekayama Hima. Beliau adalah istri dari almarhum Shogun Hatekayama yang telah melahirkan putra ketiga di kastilnya, akan tetapi ada wujud lain di balik wujud bayi merah tersebut yakni oni (iblis).
Di dalam ruangan pribadi Kizu dalam Rumah Bunga, seseorang mengetuk dinding tepian jendela. Kizu yang tengah beristirahat di dalam pun segera membukakan jendela.
“Tuan Akio, apa yang tuan butuhkan saat ini?”
“Bayi merah.”
“Dengarkan ini! Bayi merah telah lahir di kastil Shogun Hatekayama. Dan bayi merah itu adalah Oni,” sahut Yuurei (Takao) menjelaskan.
“Itu akan menjadi sangat berbahaya. Tetapi kalau dilakukan pembasmian sekarang akan menghebohkan banyak orang. Kematiannya akan mengubah seisi kastil menjadi musuh Tuan Akio.” Kizu menjelaskan.
“Ya. Tapi mana mungkin jika terus dibiarkan seperti ini bukan?”
“Ya, aku mengerti. Tapi kita harus mematangkan rencana kita baik-baik sebelum bertindak.”
Kizu kemudian menatap Akio dengan serius. Ada hal yang ingin dibicarakan yang sepertinya tak kalah penting dari si bayi merah.
“Tuan Akio, ada yokai yang memiliki wujud manusia cantik. Dia dikatakan memakai baju pengantin.”
“Lalu?” Akio tak berpikir itu penting, tapi jika menyangkut Yokai, tentunya pedanglah yang akan bergerak maju.
"Aku hanya perlu menebasnya seperti biasa begitu aku temukan." Akio menuliskannya di telapak tangan Kizu.
“Justru karena itu. Aku mohon pada tuanku, agar jangan sampai terlena pada wanita itu, Tuan!” harap Kizu. Ternyata selama ini yang dikhawatirkan oleh Kizu.
“Hei, rubah. Kau tidak tahu kalau pria ini tidak begitu tertarik dengan seorang wanita?” Takao menyahut.
“Hantu di masa lalu sepertimu tahu apa tentang Tuan Akio. Setiap manusia khususnya laki-laki itu ...,”
Belum juga selesai berbicara, Kizu sudah ditinggal oleh mereka berdua. Akio pergi menuju ke suatu tempat yang tidak berada jauh dari kastil Hatekayama.
“Jika menurutmu itu akan membuatmu susah, baiklah kalau begitu. Aku akan memantau dari sisi lain. Tuan Samurai.”
Takao yang dalam wujud hantu sejak awal lantas pergi meninggalkan tubuh Akio. Sedang Akio hanya berdiri dengan menyandarkan punggungnya ke sebuah kotak di dekatnya.
Beruntung ia mengambil jalan yang sepi, takkan ada orang yang sadar bahwa Akio berada di sana.
Di saat berpikir begitu, justru ada seseorang yang mendekat. Ia adalah seorang wanita yang mengenakan pakaian serba putih dan tudung kainnya. Baju pengantin.
“Hm?” Akio mendongakkan kepala ke atas, dan mulai merasa aneh pada lingkungan sekitar.
'Penghalang?' pikir Akio dalam benaknya.
“Benar.” Wanita itu menjawab.
“Kau siapa?” Sembari bertanya, Akio menarik pedang dari sarungnya.
Setelah di pikir-pikir, aneh memang jika melihat satu jalan mengarah Ibu kota justru sepi. Tapi ternyata karena ada penghalang yang menjadi pembatas antara kenyataan dan replika. Akio saat ini terjebak di dalamnya bersama seorang wanita yang diduga adalah yokai.
“Aku mengharapkanmu datang lebih cepat. Akhirnya ...akhirnya kita bertemu dan sekarang hanya berduaan saja denganmu.”
“Padahal aku ingin membantumu melenyapkan iblis rendahan itu. Dan seperti biasa kau memang tidak berubah,” ujarnya lantas menghilang tak berjejak sedikitpun.
Penghalang pun menghilang, tahu-tahu Akio berada di tengah kerumunan. Bergegas ia pergi sebelum orang-orang mulai sadar akan keberadaannya. Bersembunyi dalam gang kecil di antara dua rumah, Akio terdiam dengan memusatkan konsentrasinya di sekitar.
“Aku yakin dia belum mati.”
Setelah beberapa saat di sana ia sama sekali tidak merasakan adanya kehadiran yokai. Merasa jenuh, akhirnya Akio kembali ke Rumah Bunga.
“Kizu, peringatkan tentang bayi merah itu pada orang-orang di kastil.”
“Baik! Aku mengerti, Tuan Akio.” Kizu menanggapi dengan penuh semangat.
Segala ucapan dan tindak-tanduk yokai wanita tersebut sangat berbeda dibandingkan dengan yokai terkutuk lainnya. Sebab yokai itu sama sekali tak memancarkan hasrat membunuhnya sedikitpun. Itu sedikit aneh dan membuat perasaan Akio gelisah.
Ia juga takut apabila yokai itu benar-benar akan melenyapkan bayi merah di hadapan banyak orang nantinya. Itulah mengapa Akio menyuruh Kizu—yang paling pandai menyamar segera memperingatkan akan kehadiran asing pada bayi merah terhadap orang-orang di kastil.
“Tuan Mizunashi, Tuan Kazuki, Tuan Uchigoro. Saya merasakan adanya kejanggalan di dalam istana.”
Dengan menyamar sebagai samurai berpedang, Kizu menyampaikan hal tersebut pada ketiga klan pendiri tersebut. Setelah mereka masuk ke dalam, lekas Kizu berganti samaran menjadi nenek tua. Ia kali ini berperan sebagai seorang yang baru saja membantu persalinan Nyonya Hima.
“Di mana yang janggal? Aku tidak merasakan keanehan sedikitpun.”
“Tidak, tunggu. Hawanya sedikit tipis dan dingin, asalnya dari ...,”
“Dari bayi itu,” sahut Kizu yang tengah menjadi nenek tua. Ia baru sampai di daun pintu, mengatakannya dengan wajah serius.
“Bayi?”
Lambat laun ketiga-tiganya mulai merasakan perasaan aneh pada bayi yang berada di balik tirai bersama Nyonya Hima. Bukan dari wujud fisiknya sendiri melainkan wujud dari bayangan bayi tersebut.
“Tunggu sebentar! Ada apa ini?” Wanita yang ikut membantu persalinan datang kembali, ia merasa kehadiran para samurai di sini sangat menganggu.
“Maaf karena kami menganggu, tapi salah satu dari kami merasakan adanya keanehan pada bayi yang baru saja dilahirkan.”
“Apa yang kalian bicarakan? Bayinya baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi pada bayi maupun Ibunya. Sudah sana! Kalian semua pergi!”
“Tetapi—”
“Mohon tunggu sebentar, apa kalian semua tidak melihat bayangan dari balik tirai itu?”
Nyonya Hima yang mendengar percakapan di antara mereka lantas terkejut, ia jadi teringat dengan Samurai Oni yang pagi tadi datang kemari. Namun, sejatinya Ibu takkan mungkin mencurigai anaknya sendiri.
“Bayangan? Bayangan apa yang kalian semua maksud?” tanya wanita itu dengan menegas.
Para samurai, Mizunashi, Uchigoro dan Kazuki pun tampaknya tak menyadari adanya keanehan dari bayangan si bayi. Mereka semua hanya melihat bayangan biasa, tanpa sadar bahwa bayangan itu sebenarnya bayangan Oni.
'Cih, ternyata tak semua orang bisa melihatnya? Kalau begitu Tuan Akio sungguh hebat karena bisa melihat wujud aslinya dari bayangan. Sungguh hebat Tuan Akio.' Tanpa sadar ia sedang asik memuji kehebatan tuan-nya di dalam pikiran sendiri.
'Bukan, bukan. Bukan saatnya untuk begini.' Ia kembali membatin seraya menggelengkan kepala.
Kizu menurunkan jari telunjuk yang terarah pada bayangan tersebut. Lantas ia menatap tajam pada wanita yang berada di sampingnya.
Dan berkata, “Kalian semua tidak bisa melihatnya. Jadi harus gunakan cara paksa agar membuatnya keluar dari tempat persembunyiannya.”