Samurai Oni

Samurai Oni
PERTARUNGAN DALAM SANGKAR—GAMA II



Gama sudah dicemari oleh aura jahat. Sekitarnya menjadi gelap. Awan menggelap menutupi rembulan serta kabut berasap menyebar ke wilayah tersebut.


Satsuki bersama para pengikutnya sudah mendesak mundur daripada kekuatan yokai mimpi, seharusnya begitu tapi keadaan justru lebih memburuk karena Akio dimakan hidup-hidup oleh tubuh utama yokai tersebut.


“Tuan Akio? Tidak mungkin.”


“Tunggu, Akashi. Jangan pernah berpikir kau akan menolongnya,” ucap Nekomata.


“Apa yang kau bicarakan?”


“Jika kau datang ke sana, maka dirimu hanya akan menjadi santapan. Ingat bahwa kau itu lemah,” tukas Nekomata.


“Apa katamu?!” amuk Akashi.


“Lagi pula Tuan Akio takkan kalah semudah itu.”


Akashi tersentak diam begitu mendengar Nekomata berkomentar bahwa tuan mereka takkan kalah. Menaruh rasa percaya, Akashi pun berjuang untuk menyelamatkan para penduduk yang nyaris diserang oleh banyak gumpalan hitam.


“Ada sesuatu yang seharusnya kita binasakan. Apa semua ini bukanlah tubuh aslinya? Di mana dia?” Satsuki bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ia memutar otak seraya melirik ke segala arah guna melihat seluruh pergerakan yang ada di wilayahnya.


Selain gumpalan aneh, akhirnya Satsuki menemukan sesuatu.


“Gumpalan yang ada di ujung sana terlihat sangat berbeda. Warnanya jauh lebih hitam dan bentuknya pun jauh lebih besar. Apakah itu?”


Dari kejauhan, di atas, tempat biasa ia menggunakan busur dan panah untuk menyerang, Satsuki melihat pergerakan aneh di sana.


Gumpalan yang panjang, besar dan berwarna lebih hitam itu terlihat sedang menghisap sesuatu dari atas tanah.


“Tuan Satsuki!! Jiwa penduduk Gama satu persatu dihisap!” pekik salah seorang samurai dari bawah, melaporkan.


“Aku mengerti! Kalian fokuskan pada satu titik yang sama, incar gumpalan hitam yang ada di langit!” perintah Satsuki.


“Baik!!”


Sementara bawahannya akan mengincar gumpalan yang merupakan inti dari kekuatannya saja guna melepas jiwa penduduk yang terhisap ke sana. Satsuki akan mengincar gumpalan yang paling besar di sana.


“Jika hanya jiwa murni tanpa ketakutan tetap terhisap, maka jiwa yang di sana adalah prioritas bagi yokai itu. Tapi ada siapa di sana? Apakah salah satu keluarga Momoka?”


Satsuki mengarahkan busur dan anak panah ke arah target. Ia memfokuskan dirinya hanya untuk menargetkan yang paling besar di ujung Gama.


Tempat di mana Akio berada saat ini, meski sedikit demi sedikit jiwa dari tubuhnya terus terhisap bahkan kulitnya terasa terbakar seolah yokai hendak memakan tubuh Akio juga, Akio masih berusaha untuk menggerakkan kedua kaki dan tangannya.


“Siapa pun di sana, setelah aku menembakkan anak panah ini maka kau harus segera melarikan diri.”


Anak panah melesat cepat di bawah gumpalan kekuatan yokai, memusnahkan beberapa dari gumpalan yang membelah diri lekas menuju ke titik target.


“Tepat sasaran!” ujar Satsuki segera menuruni bangunan tinggi tersebut.


Arah yang dibidiknya ialah ujung dari mulut tubuh utama yokai. Terlihat hanya menancap di sana, namun tak berselang lama kemudian anak panah itu merobek bagian darinya yang terbagi hingga tak bersisa. Akio nyaris tak sadarkan diri, sadar bahwa seseorang telah membantunya, segera Akio kembali menyerang yokai mimpi.


“Apa? Siapa yang melemparkan anak panah itu padaku?!!”


Berpijak di atas tanah dengan bertelanjang kaki, mempersiapkan kuda-kuda ringan ia mengangkat pedang ke atas kepala.


“Tunggu! Kau pikir kau bisa—!”


“Berisik!” pekik Akio, mengayunkan pedang sekuat tenaganya, angin yang dihasilkan mampu membelah tubuh utama itu sampai menjadi puluhan bagian.


Satsuki dan beberapa orang yang melihatnya terkejut, mereka sempat berhenti bergerak saking terkejutnya akan kekuatan besar itu.


“Itu Tuan Akio!”


“Jangan berteriak atau nanti ada yang akan mendengarmu.”


Berulang-ulang kali ia memotong setiap bagian yang telah terpisah itu sembari berlari mendekati.


“Hei! Hei! Mau sampai kau akan terus menyerangku? Argh!!”


Yokai mimpi nampaknya kesal. Di samping ia ingin memakan Akio namun pemulihannya tak berjalan cukup lancar. Terlebih ayunan pedang Akio yang semakin lama semakin tajam seakan mengenggam pedang sungguhan membuat yokai mimpi itu bergidik ketakutan.


“Hei, jangan lemah. Dia hanya asal menyerangmu! Dia sama sekali tidak menggunakan teknik berpedangnya! Cepat lahap dia sekarang!” Suara yang lain dari yokai mimpi, akhirnya Akio mendengar suara itu.


Setelahnya Akio melompat ke atap rumah, ia berdiri tepat di dekat tubuh utama yokai itu.


“Meski asal aku juga butuh waktu untuk mengumpulkan bagian tubuhku. Argh! Ini semua karena kau!” sahut yokai mimpi pada sosok yang lain.


“Aku akan melarikan di—!”


SYAAT!!


Punggung terbuka lebar akan menjadi sasaran empuk, bilah pedang kayu yang tumpul pun akan menebas tubuh seempuk kapas lembut itu dengan mudah.


“AAAAA!! LARII!!!”


Yokai itu turun ke bawah dengan sangat cepat ia melarikan diri dari kejaran Akio seorang.


Gama sampai saat ini masih tercemar akan aura jahat lalu jiwa para penduduk yang masih dalam keadaan murni tiada ketakutan pun hampir seluruhnya terhisap ke gumpalan aneh yang berada di langit, gumpalan itu sama sekali tidak mengeluarkan apa-apa selain membelah diri dan terus menyerang. Bahkan gumpalan itu juga tidak bisa diserang sama sekali. Seolah menyerang awan.


“Tuan Satsuki, jiwa para penduduk terus terhisap. Kalau begini terus maka mereka semua akan mati!” ujar salah satu dari pengikutnya, ia nampak pasrah.


“Jangan menyerah! Aku sudah menemukan tubuh utama dari yokai itu! Jadi aku akan segera menyelesaikannya!”


Tak hanya para penduduk, bahkan para samurai yang mulai ketakutan, jiwanya mulai ikut dirampas sehingga satu persatu dari mereka terkapar dalam kondisi mati.


“Neko, semua orang tidak bernapas. Aku tidak merasakan ada orang hidup, bahkan setelah menyelamatkan mereka,” ucap Akashi yang saat ini tengah menggendong seorang anak kecil.


“Akashi, jiwa anak ini sudah direnggut. Akan lebih baik kita menjauh dari sini sebelum jiwa kita juga direnggut oleh yokai itu,” sahut Nekomata.


“Tidak bisa! Tuan Akio masih berjuang sekuat tenaga sedangkan aku di sini hanya duduk diam, lalu sekarang kau ingin aku melarikan diri?” protes Akashi.


“Kau tidak bisa melakukan apa pun. Kau hanya akan menjadi beban bagi Tuan Akio.”


“Aku bisa melakukan sesuatu!” pekik Akashi.


“Hei!”


“Benda di langit itu yang menjadi penyebab semua orang tidak lagi bernapas, jadi aku akan menghancurkannya!” ujar Akashi yang menolak untuk melarikan diri, ia lantas menargetkan benda besar yang menjadi sumber kekuatan yokai mimpi.


“Hei bocah bodoh! Memangnya kau bisa apa? Samurai saja bahkan tidak bisa menggores benda itu sedikit saja. Lalu kau bagaimana?” sahut Nekomata.


“Ya, aku harus bisa!”


***


Di kediaman Mikio. Yasha dan Kizu sedang duduk diam sembari memperhatikan kondisi Chiharu.


“Kizu, jiwa wanita ini ...,”


“Apa?”


Jiwa Chiharu telah meninggalkan tubuhnya, berbentuk seperti bola bercahaya namun agaknya telah ternoda oleh kegelapan.


“Hm, ini ketakutan lalu kesedihan?” pikir Yasha seraya menahan jiwa itu agar tidak pergi.