
“Saya dari awal bertanya-tanya, ambisinya sekuat apa? Tapi tanpa mengetahuinya, dan hanya dengan melihatnya saja saya sudah tahu. Tuan Akio akan mampu melakukannya.“
Klatak!
Di dalam rumah yang baru terbentuk itu, Yasha meletakkan cangkir teh-nya ke tatakan batu.
“Kalau begitu, saya akan permisi.”
Sesuatu seperti asap berputar di sekitarnya, dan dalam sekejap keberadaan Yasha menghilang dan dalam sekejap pula ia berpindah tempat ke Ibu Kota. Bukan sebagai Yasha, pria sopan dan murah senyum melainkan sebagian anak kecil dengan senjata pendek tersimpan di belakang pinggangnya.
“Hawa keberadaan ini, tak salah lagi!” Lalu, bertepatan dengan kedatangan Yasha, yokai bermata empat merasakan keberadaan yang sama kuatnya seperti diri sendiri.
Ia merasa resah, agaknya ia sedikit panik dan mulai berwaspada akan keberadaan yang ia rasakan. Entah itu karena kedatangan Yasha atau karena sesuatu yang lain, masih belum jelas.
Karena selama ini Yasha selalu menyembunyikan hawa keberadaannya. Sebagai yokai utuh tanpa adanya aliran darah manusia, tak seorang pun mengetahui sosok aslinya bahkan Akio sendiri juga tidak pernah tahu.
“Tuan Akio menghilang di kastil besar itu. Nah, apa saya harus menyusup ke dalam untuk mengetahui sesuatu?”
Yokai bermata empat, belum diketahui asal-usulnya itu takkan membiarkan sosok yang ia rasakan berkeliaran lebih lama. Sementara Yasha sudah berada di dekat kastil Hatekayama.
Di sana, para pelayan wanita mondar-mandir. Ke sana dan kemari. Sedang para pria terlihat tengah memperbaiki dinding berlubang yang berada di tingkat 3 dalam kastil.
Yasha hendak masuk ke dalam namun langkahnya terhenti karena sesuatu. Ia melirik ke belakang sembari berucap, “Apa saya kedatangan tamu?” Ia mengulas senyum kecilnya, lantas pergi menjauhi kastil.
Sekilas memang tidak ada yang aneh, namun derap kaki seseorang itu sangat berbeda dengan para manusia. Sehingga Yasha pun dengan mudah membedakan dan tahu bahwa sosok tersebut sedang mengincar dirinya.
“Kedatangan tamu di saat-saat seperti ini. Saya harus senang atau justru kesal ya?” guraunya dengan mempercepat langkah.
Sosok itu kian mendekat meski Yasha telah mempercepat jalannya bahkan sampai harus berlari. Begitu ia berbelok dan mengubah wujudnya menjadi seekor kucing, pun tetap tak mengubah posisi awalnya. Ia terus dikejar oleh sosok yang sama, entah siapa itu sebenarnya.
“Hm, ini merepotkan. Apa yang harus saya lakukan ya?”
“Berhenti melakukan yang tidak-tidak! Aku tahu itu kau!” seru sosok tersebut dengan suara pria yang keras menggelegar dalam jalan gang sempit ini.
Yasha berhenti berjalan, namun tak menunggu lama setelah itu ia kembali berlari menggunakan keempat kakinya. Berlari secepat mungkin, dari satu jalan ke jalan lain hingga membaur pada kerumunan orang-orang lalu bersembunyi di balik papan kecil.
“Saya harap dia segera berhenti menguntitku.”
“Atau tidak?” lanjutnya. Yasha masih mendengar derap kaki yang antusias itu, sangat tergesa-gesa dan membuat Yasha tak punya pilihan lain dengan mengubah dirinya sendiri menjadi seekor burung.
Menggunakan dua sayap, terbentang lebar dan terbang ke langit. Dengan begitu sosok yang adalah yokai bermata empat takkan bisa mengejarnya semudah itu.
“Ck, dia melarikan diri!”
***
Setelah beberapa menit telah berlalu, Yasha menabrak seorang wanita dengan wujud anak kecil yang sama seperti tadi.
Bruk!
“Ah, maaf.”
“Tidak. Tidak ...tidak? Tunggu sebentar!” Suara yang lembut itu perlahan berubah menjadi sangat tegas seperti seorang pria.
Dan ternyata wanita yang ditabrak oleh Yasha adalah Kizu. Kebetulan Kizu sudah kembali dari wilayah Kama dan berada di Ibu Kota dengan wujud Kinata.
“Kizu 'kah?”
“Ya, benar. Ini saya, Yasha Manabu. Saya sedang dikejar oleh mahluk tak berperasaan, maka dari itu saya mengubah diri menjadi seperti ini.”
“Daripada itu, kenapa kau ada di sini? Bagaimana dengan wilayah Yama? Tuan Akio belum ditemukan bukan?”
“Ya, sesuai dugaanmu. Tuan Akio masih belum ditemukan. Ke mana perginya juga saya tidak tahu dan sedang berusaha mencarinya. Tapi seperti yang Kizu lihat, saya harus berurusan dengan mahluk tak berperasaan itu,” tutur Yasha, sedang berkeluh kesah dan sedang mencoba cari cara lain.
“Jangan pesimis begitu. Tapi 'kan wilayah Yama sedikit lebih jauh dari Ibu Kota. Bagaimana mungkin bisa sampai ke sini?”
“Awalnya saya ingin menyelidiki mulai dari kastil.”
“Jadi maksudmu, baru mulai mencari tapi sudah dikejar yokai begitu?”
“Benar, benar.” Yasha menganggukkan kepalanya berulang kali sambil mengulas senyum menatap Kizu dengan sorot mata dingin.
“Nekomata sepertinya belum sampai ke Ibu Kota, itu artinya dia masih mencari Tuan Akio. Sama halnya dengan Akashi 'kah?”
“Lebih baik kita mencari tempat persembunyian sekarang.”
Yasha yang dikejar, lalu Kizu yang sudah tidak punya pilihan lain pun harus membawanya. Namun setidaknya Yasha dengan wujud seekor burung kecil. Ia bertengger di tepian jendela dalam ruangan Kizu di Rumah Bunga.
“Apa ini tempat aman?”
“Jangan diragukan lagi. Ada banyak orang di dalam rumah. Jadi aku pikir dia tidak akan bisa menunjukkan dirinya di sini.”
“Kenapa Kizu berpikir begitu?”
“Jika dipikirkan melalui cara dia mengejarmu, pasti dia punya akal dan tak seperti yokai terkutuk lain. Ditambah lagi, para samurai tak bertindak maka itu berarti dia pandai menyembunyikan keberadaannya.”
“Oh, benar juga. Sungguh pintar, Kizu.” Yasha memuji.
“Hentikan. Jangan memujiku. Lalu, kita harus bagaimana sekarang?”
Kizu sebelum ini berada di wilayah Yama, berniat menjumpai Ibunda Akio namun ia tak bisa karena adanya Yamamoto Kaeda, Ayahanda Akio. Itulah mengapa ia hanya bisa mengelilingi sekitaran lain dalam wilayah Yama, setelah itu segera kembali ke Ibu Kota.
Terlebih ada hal yang tak bisa Kizu lakukan sembarangan, dan itu ada hubungannya dengan tempat persembunyian mereka berdua saat ini.
Yakni; Rumah Bunga. Tempat ini adalah tempat kerja Kizu sebagai geisha. Ia sempat dipanggil karena ada pelanggan yang ingin berjumpa dengannya. Dan karena si pemilik Rumah Bunga enggan menolak, terlebih pelanggannya terbilang kaya.
“Jadi karena itu Kizu datang lebih awal di Ibu Kota?”
“Ya. Begitulah. Yasha, ngomong-ngomong kenapa kau tak ke wilayah lainnya saja?”
“Saya hanya ingin menemukan jalan pintas. Jika saya menemukan sedikit petunjuk melalui tempat di mana Tuan Akio terakhir kali berada, maka mungkin kita akan segera menemukan keberadaannya.”
“Aku sudah mencobanya, tapi tak tersisa apa-apa. Selain yang aku ceritakan tempo hari itu.”
Mengenai yang dimaksudkan oleh Kizu, ialah seorang wanita dengan baju pengantin dan tudung yang tipis. Meski begitu wajah wanita itu sama sekali tidak terlihat kecuali garis bibir dengan pemerahnya.
“Aku berpikir orang yang mengejarmu adalah wanita itu. Makanya aku berpikir kalau dia takkan berani berbuat ulah di hadapan banyak orang.”
“Tapi, yang menemukanku adalah seorang pria. Bukan wanita,” ujar Yasha.
Sontak saja Kizu tercengang mendengarnya. Lantas bertanya, “Jadi benar-benar ada dua yokai yang mengincar Tuan Akio? Dan kau juga?”
“Ya. Mungkin.”