Samurai Oni

Samurai Oni
PEDANG HITAM BERJIWA MULIA



Sesuatu melesat hingga membuat Akio terjatuh kembali ke danau, yang ternyata adalah dua buah pedang.


Ketika terjatuh ke danau, dirinya samar-samar nampak akan sesuatu yang seharusnya tak ada di dunia ini. Di mana ruh Mikio muncul.


“Kakak?” Bersuara ia tidak bisa, namun entah kenapa masih bisa bernapas seperti biasa. Seolah ia bukan sedang tenggelam melainkan berada di daratan biasa.


Air tawar sedikit menjernihkan pikirannya. Dan kali ini ia benar-benar tak sedang berhalusinasi.


“Akio, ternyata kau masih hidup rupanya.” Sebaris kalimat dari Mikio terdengar sangat jelas. Membuat Akio terkejut, lantas bergegas mencari sumber suara, namun yang hanya ia lihat hanyalah ruh di depan matanya ini.


'Mikio? Bohong. Kenapa?' Diam membatin, bertanya akan keberadaan Mikio itu adalah nyata atau bukan.


Ia mulai kesulitan bernapas, lekas ia berenang ke atas bersama dua buah pedang yang sekarang berada dalam genggamannya.


“Akio, bagaimana?” tanya si kakek yang sudah berada di hadapannya.


“Bagaimana apanya?” Ia tidak menjawab justru balik bertanya.


“Tuan Akio pasti bingung karena dua pedang itu tiba-tiba menabraknya,” ujar Yasha.


“Tentu saja, bingung. Siapa pun akan bingung ketika situasi itu terjadi begitu tiba-tiba tahu!” sahut Kizu.


“Tuan Akio bisa melakukan apa pun. Aku percaya. Dan aku percaya bahwa dijatuhkan pedang takkan membuat Tuan mati,” ujar Nekomata.


“Kau malah membuatnya terdengar seram,” sahut Akashi.


Semuanya ada di sini, mereka semua mengetahui bahwa Akio sebelumnya terjatuh ke danau bersama dua buah pedang ini.


Lantas Akio bertanya seraya ia keluar dari danau tersebut, “Ini pedang milik siapa?”


“Salah satunya adalah pedang Retsuji. Dan satunya lagi pedang yang didiami oleh banyak roh jahat, Akio.” Kakek menjawab.


“Retsuji?”


Mendengarnya hampir tak membuat ia percaya. Benar saja, Kaeda melarang Akio untuk menggenggam bahkan menyentuh Retsuji sejengkal saja namun sekarang ada dalam genggamannya. Ini kenyataan sulit dipercaya.


Dan hanya dalam sekali lihat saja, Akio langsung tahu mana yang Retsuji. Pedang itu memancarkan aura yang sungguh kuat dan mampu memurnikan yokai manapun bagi mereka yang menyentuhnya, tak hanya itu sarung pedang Retsuji juga terlihat memiliki kekuatannya sendiri. Seolah-olah pedang itu hidup.


Sementara satu pedang lainnya, disebutkan oleh kakek bahwasanya pedang itu pedang berkarat milik Akio sewaktu dulu. Pedang yang sekarang didiami oleh banyak roh jahat tapi sekarang Akio tidak merasakan apa-apa. Selain melihat pedang tanpa bersarung ini.


“Sungguhan?”


“Ya, mungkin Ayahmu akan marah tapi kupikir ini harus dicoba sebelum kau benar-benar menggunakannya.”


Akio menghela napas panjang, lantas menggelengkan kepala berulang kali sebagai tanda bahwa Ayahnya takkan mungkin tak marah. Jelas akan marah, sementara saat diminta saja, Akio hampir terbunuh.


“Dengar, dua pedang yang kau bawa telah mengikutimu. Kira-kira apa yang kau pikirkan?” Kakek mencoba menguji.


“Apa yang aku pikirkan? Mungkin mereka senang denganku? Tapi! Pedang Retsuji bukan pedang roh seperti pedang milik Hatekayama melainkan pedang yang dialiri energi,” sangkal Akio.


“Ya, kau benar. Karena itulah aku mencoba untuk mengujinya di sini. Membiarkan pedang itu bergerak dengan sendirinya,” ujar Kakek.


“Tapi pedang ini tak mungkin memiliki kehendak.”


“Kalau benar begitu, lalu kenapa pedang itu sempat disegel?”


“Ah.” Baru Akio mengerti, Retsuji pun memiliki kehendak yang seolah-olah pedang tersebut hidup layaknya seorang manusia. Tapi, hal yang masih belum Akio mengerti ialah; mengapa pedang tersebut memilihnya?


“Ka—”


Tak hanya Akio, bahkan semuanya yang berada di sana pun sama terkejutnya. Mereka terhenyak diam dengan banyak pertanyaan di benak.


“Entah kenapa aku merasa Tuan Akio jadi sedikit lebih kuat.”


“Itu benar.”


“Tentu saja. Sungguh hebat, Samurai Oni.”


Mereka semua yang tidak begitu mengerti namun pandai memuji. Kata-kata itu sudah menjadi pendukung bagi Akio.


“Kau mau mengambilnya?” tanya kakek.


Akio memang memintanya namun begitu dihadapkan oleh Retsuji, ia jadi ragu bahkan untuk menyentuhnya. Mencoba memastikan kembali, ia lantas melempar pedangnya ke sembarang arah.


Dan kemudian, energi terpancar keluar sedikit itu mengubah arah lemparan ke arah sebaliknya. Berbalik menuju ke tempat Akio semula.


“Wah, pedangnya benar-benar menurut dengan Tuan Akio.” Akashi pun dibuat kagum.


“Lihat? Aku tidak melakukan apa-apa. Buktinya Retsuji melekat padamu sejak awal. Yah, mungkin dia merespon karena adanya ramalan.”


“Tapi aku masih tidak bisa mempercayainya. Ini benar-benar Retsuji?”


“Ya. Itu asli.”


Bahkan untuk sekarang Akio masih belum berani untuk menarik pedang itu.


“Kalau yang satu ini bagaimana?” tanya Akio.


“Itu mungkin karena mereka sangat dendam padamu.” Jawaban kakek lebih ragu dari biasanya. Mendadak perasaan Akio jadi tidak enak dan aneh.


Di sisi lain ketika Akio sedang asik dengan dua buah pedang di dalamnya. Terdapat satu buah pedang lainnya, yakni pedang hitam milik Mikio yang saat ini tengah bersandar di batu besar.


Pedang itu bergetar-getar, dan setelah beberapa saat pedangnya melayang ke arah Yasha. Semuanya sangat terkejut mendapati hal tersebut. Termasuk si kakek.


“Pedang Mikio yang baru saja aku letakkan di sana tiba-tiba merespon ke arahmu. Siapa sebenarnya kau ini, yokai?” Kakek bertanya dengan heran.


Yasha menatap pedang itu lantas memegangnya secara perlahan. Pedang yang terbungkus rapi dengan sarung hitam polos tak bercorak sedikitpun itu nampak lebih bersinar dibandingkan biasanya.


“Saya melihat secercah cahaya yang berada di dalam pedang ini. Ada jiwa Mikio di sini,” ungkap Yasha.


Ternyata yang ia lihat Akio bukanlah ilusi. Untuk sesaat ia berpikir begitu karena kebksanannya menghadapi hari-hari tanpa membasmi satu yokai. Begitulah pikirnya, tapi tidak lagi setelah Yasha pun melihat hal yang dilihatnya juga.


“Mikio ingin aku menggunakan pedang ini? Saya tersanjung, namun mengapa memilih saya dan bukannya Tuan Akio?” Yasha bertanya-tanya.


“Karena dia masih belum cukup mampu untuk menggunakannya. Lagi pula, ini hanya bisa dipegang oleh Yasha,” jawabnya dengan suara bisikan.


Mereka semua kembali terkejut saat mendengar jawaban langsung dari si pedang. Kini pedang hitam tersebut telah dimasuki oleh jiwa yang tersesat, Mikio. Pria yang dianggap sebagai kakak oleh Akio.


“Ini indah.”


“Jaga baik-baik pedangnya,” ucap Akio lirih.


“Baik! Saya mengerti.”


Tampaknya ada sesosok asing mengintip mereka dari balik batang pohon. Wujudnya tidak begitu terlihat seolah tembus pandang. Wajahnya pucat pun mengenakan pakaian serba putih, lalu sepotong kain segitiga yang berada di kepalanya sama-sama terlihat mencolok.


Ia diam memandangi ketiga buah pedang yang begitu menarik perhatiannya. Dalam batin dirinya ingin sekali bergabung dengan mereka tapi tahu bahwa itu bukanlah tempatnya, sehingga ia hanya bisa diam memandanginya dari kejauhan.