Samurai Oni

Samurai Oni
MENGHILANG DALAM DEKAPAN



Oni telah lenyap, ia takkan kembali dalam wujud apa pun tapi sepertinya roh miliknya akan terhisap oleh Onryou sehingga membuat pedang itu semakin kuat namun juga berbahaya. Akan semakin sulit tuk dikendalikan, sebagaimana pedang jahat itu tak seharusnya lahir.


Pada awalnya, Akio hanya menginginkan Retsuji yang memiliki kekuatan spiritual tertinggi hasil dari kekuatan pendahulu dari awal generasi hingga sekarang ini. Namun, sang Ayah—Yamamoto Kaeda melarangnya dengan alasan Akio sudah tidak pantas menyandang gelar seorang pahlawan jadi pedang itu akan disimpan tanpa pernah disentuhnya sekalipun.


Tetapi, kakek bertopeng Tengu—Naruhaya justru mengambil pedang itu tanpa seijinnya. Di saat bersamaan pula, ia menempa pedang lama milik Akio yang sudah lama berkarat. Tempaan pedang yang belum cukup kuat, bisa disebut masih setengah jadi itu tetaplah mengandung kekuatan berupa roh jahat dari kegelapan. Bagi si kakek, pedang itu digunakan untuk bertaruh apakah mampu dikendalikan oleh Akio.


Sesuai ungkapan berupa kepercayaan, Akio bisa mengendalikan Onryou para roh pendendam. Mereka yang masih memiliki dendam hanya bisa takluk pada kekuatan Akio.


Sementara Onryou telah menjadi pedangnya, terdapat pula Retsuji yang mengikuti punggungnya.


“Retsuji tidak mengeluarkan kekuatannya dengan benar, aku bahkan tidak menahannya sama sekali. Apa karena penghalang ini?” pikir Akio.


Ia mendongakkan kepala, melihat langit-langit yang masih gelap gulita.


“Lalu, Onryou justru berefek kuat dan melahap Oni yang besar itu? Ini sama saja menambah musuhku di dalam tubuhku sendiri,” imbuh Akio. Dirinya masih bingung dengan kedua pedang itu.


Kemudian dirinya kembali berpikir, “Mungkinkah benar jika ini karena penghalang atau ilusi yang dibuat. Tapi jika benar, maka itu berarti ilusi ini dibuat oleh Yokai?”


Hanya itu saja yang bisa ia pikirkan. Ya, Onryou lebih kuat dan Retsuji melemah, hanya itu yang bisa menjadi jawabannya jika memikirkan tentang dunia ilusi.


“Benar. Pedang jahat itu semakin kuat ketika berada di sini.” Wanita dengan pakaian pengantin telah kembali, ia menunjuk Onryou dengan jari telunjuknya.


“Tetapi, kekuatan itu tertahan karena sarung pedangnya bukan?” lanjutnya.


“Itu benar. Tapi memangnya kenapa?” Tanpa berbalik, ia hanya menoleh selama beberapa waktu. Ia kemudian berjalan menghampiri Hima dan para putranya.


Sesaat sebelum sampai, wanita itu mengatakan sesuatu yang membuat Akio berhenti bergerak.


“Aku akan membuat mereka melupakannya. Tenang saja.” Ia berkata sembari mendekap Akio dari belakang, kedua tangannya yang bergerak seolah menangkap itu agaknya membuat Akio risih.


“Apa yang kau bicarakan?”


“Lalu kau ...,” Entah apa yang dikatakannya sehingga membuat Akio tercengang. Di balik topeng Oni-nya, Akio terlihat panik. Namun belum sempat melakukan sesuatu, keberadaannya telah menghilang bersama puluhan kupu-kupu.


Tak lama setelah itu, dunia ilusi pun lenyap. Langit yang gelap telah kembali menjadi langit yang terang. Mereka semua kembali pada ruangan yang sama.


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


Para samurai juga. Mereka kebingungan akan situasi aneh tersebut. Perlahan-lahan, ingatan mereka mengenai dunia ilusi lalu Samurai Oni memudar.


“Eh? Apa yang kita lakukan ...di sini? Tunggu.”


Mizunashi, Uchigoro maupun Kazuki, mereka semua saling bertukar tatap dengan banyak pertanyaan di benak masing-masing.


“Mizunashi, bagaimana dengan Nyonya?”


“Tidak apa. Aku baik-baik saja. Para putraku juga ada di sini.”


Bahkan rasa sakit yang telah dialami oleh mereka juga menghilang. Lalu tujuan apa yang membuat para samurai berada dalam ruangan pun.


“Yah, sepertinya kita melupakan sesuatu? Atau mungkin kita sedang bermimpi bersamaan?”


“Ngomong-ngomong apa kalian sudah menemukan yokai-nya?” tanya Nyonya Hima.


“Semoga kalian bisa melakukan sesuatu untuk itu. Aku berharap besar pada kalian.”


“Ya, Nyonya Hima! Kami akan segera menyelesaikannya, begitu juga dengan kerusakan ini,” ujar Kazuki.


“Kalau begitu, kami semua undur diri dari sini,” tutur Uchigoro, bersamaan dengan mereka semua yang memberi salam hormat serta tundukkan kepala.


Higo dan Haru, keduanya telah melupakan masalah besar yakni Oni yang berada dalam wujud bayi merah. Tak ada bedanya, seperti menulis reka ulang dengan mencongkel beberapa fakta di sana.


“Ya, ampun. Kenapa harus melakukan hal semerepotkan ini?” Pria bermata empat merasa lelah karena selalu melakukan hal yang dianggap repot. Seperti biasa dirinya berada di atas salah satu atap rumah penduduk.


Kemudian Akashi, Kizu, dan Nekomata, ketiga dari pengikut Akio yang tidak dipengaruhi oleh kekuatan suatu mahluk, telah menyadari hilangnya keberadaan Akio.


“Tuan Akio!?”


Kizu yang berada dekat dengan kastil, sembari menunggu para samurai berhamburan keluar, ia mencoba mencari keberadaan Akio melalui penciumannya.


Namun, karena tak segera menemukannya seolah-olah sejak awal Akio tak berada di sana, membuat Kizu mengambil langkah cepat dengan menghampiri salah satu klan pendiri negeri, Kazuki.


“Tuan! Apa yang terjadi di dalam kastil?”


“Di dalam? Hanya yokai yang melarikan diri setelah meledakkan bagian dinding. Ngomong-ngomong kau itu siapa?”


“Eh?” Kizu terhenyak mendengar Kazuki sama sekali tidak mengenalinya. Ia kemudian bergegas masuk ke dalam kastil sembari berpikir bahwa ia tak salah melihat adanya Akio sebelum ini.


“Aku yakin Tuan Akio ada di sini!” seru Kizu dengan lantang.


“Hei kau! Kau ini siapa! Penyusup! Siapa pun, usir dia!” pekik beberapa pelayan wanita yang berhamburan menghampirinya.


Kizu tak menangkap bau Akio di manapun termasuk di ruangan yang seharusnya Akio berada di sana sebelum ini. Ia lantas kembali berlari, meninggalkan para pelayan. Dirinya hendak menemui teman-temannya.


“Siapa pun! Yasha! Akashi! Neko! Kalian berada di mana!?” teriaknya sembari menyebut nama mereka satu persatu, ia pun terus berlari dan terus mencari keberadaan mereka tuk memberitahukan hal tersebut.


Lalu, Akashi dan Nekomata yang sama-sama tidak merasakan adanya keberadaan Akio lagi, mereka pun mulai mendengar suara jeritan Kizu. Secara tidak langsung, keduanya langsung mengejar suara Kizu.


“Oi, rubah!” panggil Akashi.


“Apa? Akashi ternyata ada di sini juga?”


Mereka bertiga akhirnya telah berjumpa dalam tiga jalan yang berbeda.


“Akashi, dengarkan aku! Tuan Akio! Tuan Akio sudah menghilang! Apa kau tahu ada di mana?!”


“Aku menemuinya saat siang tadi, tapi dia mendorongku pergi, dan pada saat itulah aku kehilangannya!” jawab Akashi menegaskan.


“Aku juga. Sebelumnya aku bertemu dengannya, dia menyuruhku untuk tidak ikut campur. Tapi kalau tiba-tiba menghilang, bukankah ini berarti —!”


Tiba-tiba saja mereka semua terlintas satu hal. Serentak mereka berucap apa yang ada di dalam benak mereka, “Yokai wanita.”


“Yokai yang memakai baju serba putih itu?”


“Ya. Yokai yang memakai baju pengantin. Wajahnya sama sekali tidak terlihat, tapi aku merasa bahwa dia adalah musuh yang tangguh,” celetuk Nekomata.