
Satu musuh dikalahkan. Musuhnya Wanita Salju, yang membuat kekacauan di Bama. Secara kebetulan atau mungkin sebuah rencana, wanita yokai yang membawanya pergi dari dunia ilusi seusai melenyapkan Oni, berada di tempat yang sama dengannya. Akan tetapi Akio tak bisa mengalahkannya. Kalah. Kalah telak, meski sejak awal wanita itu tak berniat untuk membunuh Akio.
Selepas berbagai ingatan yang merasuk ke dalam benaknya secara kacau, Akio merasa sangat kelelahan. Seluruh tenaganya terkuras banyak dan napas pun menjadi berat hingga akhirnya Akio tumbang di sana.
Sementara itu, Akashi sedang memulihkan dirinya. Sebelum ini ia bertarung melawan Wanita Salju, tetapi malah berakhir tragis dengan dibekukan dari dalam maupun luar. Meski begitu tampaknya ia masih bertahan hidup.
“Tuan ...Akio?”
Samar-samar mendengar detak jantung dan suara napasnya, hal itu membuat Akashi cepat pulih dan kembali sadar. Bergegas ia membantu Akio yang terbaring lemah di sana. Wajah Akio memucat, Akashi pun panik.
“Tuan Akio. Apa yang sebenarnya terjadi? Tuan baik-baik saja?” tanya Akashi.
Tidak ada luka dari fisiknya, sekilas terasa begitu. Namun Akashi yang bisa merasakan perasaan maupun rasa sakit dari setiap orang yang ada di dekatnya, jelas-jelas mengetahui ada sesuatu yang tidak beres.
“Aku tidak tahu apa-apa. Sebenarnya ada apa?”
Berbagai pertanyaan yang dilontarkan Akashi, tak pernah sekalipun dijawab oleh Akio. Sedang Akio sangat kelelahan dan terlihat dari sorot matanya yang memudar, nampak dirinya syok akan sesuatu tak jelas itu apa.
Akashi dibuat bingung. Ia tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menunggu Akio menenangkan diri.
Setelah beberapa saat Akashi tetap membiarkannya terbaring. Akio bertanya, “Kau ...apa yang kau lakukan di sini?” Dengan suara lemahnya, dan dengan mata tertutup.
“Aku hanya ingin menjemput Tuan Akio kembali ke rumah. Karena saat itu Tuan Akio tiba-tiba saja menghilang, bau ataupun keberadaan Tuan sama sekali tak bisa diprediksi.”
Semuanya Akashi ungkapkan sebagaimana ia berhati lapang dan tegar dalam menghadapi semua masalah. Terkadang pula ia merasa khawatir, itupun karena ketiadaannya Akio di sebelahnya.
“Dan secara kebetulan aku menemukanmu. Aku juga menemukan ini,” imbuhnya seraya menunjukkan sobekan kain milik Akio.
Dari semua jawaban yang pantas, Akio hanya bisa bergumam lirih, “Begitu.”
“Tuan Akio aku akan membantumu berjalan.”
Pikirannya yang semula sadar kini telah berkabut tanpa alasan yang jelas. Dalam beberapa detik ke depan, ada sesuatu yang muncul di dalam kepalanya dan itu membuatnya teringat akan sebuah kenangan di masa lampau.
“Siapa?” Pupil mata Akio bergetar hebat, ia merasakan rasa sakit di bagian kepala dan terus memegangnya serta berusaha untuk menahan rasa takut yang muncul tiba-tiba.
Untuk sekilas saja, di mana seseorang menjitak dahi seorang wanita, hingga membuatnya berguling ke belakang. Seseorang yang terjatuh dalam kegelapan dan terkurung di suatu tempat.
“Tidak boleh. Hentikan. Itu ...itu bukan aku!”
“Ada apa Tuan Akio? Tuan Akio?”
Akashi semakin merasa panik serta sakit luar biasa di bagian kepalanya. Seperti terserang tumor ganas atau semacamnya, hal yang tak mudah dihindari dan bertahan pun sangat sulit.
“Kepalaku ....,”
Ada di dalam kepalanya. Di mana bibir seorang wanita yang merah muda itu sedang mengucapkan sesuatu sebelum akhirnya meninggalkan seseorang itu. Seseorang yang seperti sedang berperan bahwa itu adalah Akio.
Hal-hal yang seharusnya tidak ada.
Secara tiba-tiba ingatan asing itu tercampur dengan ingatan lama yang paling ia takutkan dan susah dilupakan.
Di sana Akio mendengar suara yang berucap, "Dari awal aku tidak berniat untuk menjadi temanmu." Kata-kata, suara, nada, perangai, semua yang terlihat dengan sangat jelas bahwa itu siapa, telah membuat Akio semakin sakit kepala.
“Pergilah!”
“Tuan Akio?” Akashi berusaha untuk menenangkan diri sendiri, serta berusaha untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Akio. Begitu dirinya mengulurkan tangan, sontak Akio membuat gerakan reflek dengan memukul wajah Akashi.
“Tuan ...Akio?”
Pikiran yang terselimuti sesuatu yang aneh. Akashi yang bodoh saja sangat mengetahuinya bahwa apa yang dirasakan oleh Akio saat ini sangatlah tidak masuk akal.
Hanya ingatan dapat menyerangnya secara mental dan fisik sekaligus. Akashi tak tahu harus berbuat apa selain tersentak diam dengan perasaan takut di benaknya.
“Tuan Akio ...sebenarnya ada apa? Jangan-jangan ...,” Akio diam menggigit bibir bawahnya, seraya memikirkan tentang semua perkataan Wanita Salju mengenai Akio.
Menghabiskan banyak waktu hanya untuk pencarian di seluruh wilayah dalam Shinpi-tekina, memang sangat melelahkan. Waktu, tenaga, dan pikiran mereka selalu terkuras. Tak hanya itu saja, mereka kerap kali diincar baik itu manusia maupun yokai.
Pada saat sebelumnya, ketika Akashi sedang berhadapan dengan Wanita Salju. Yasha dan Kizu menghadapi yokai bermata empat, tak bisa dikatakan menang ataupun kalah sebab bertarung sebentar dalam dunia ilusi buatan si mata empat saja sudah membuat kedua belah pihak kelelahan.
Lalu pada akhirnya Yasha dan Kizu berpencar begitu merasakan keberadaan Akio dari posisi yang sangat jauh. Mereka melarikan diri dari musuh yang sangat kuat.
Begitu juga dengan Nekomata, ia berhadapan dengan musuh terbesar. Samurai yang pandai memakai mantra-mantra suci layaknya pendeta, kekuatan spiritualnya bukan main dan Nekomata akan lenyap dalam sekejap hanya karena berani menatapnya.
Sama seperti Yasha dan Kizu, Nekomata pun melarikan diri dengan tubuh mungilnya sebagai kucing kecil. Melarikan diri dari musuh yang tak bisa dilawan, yokai yang masih berusia satu bulan lebih takkan mungkin mengalahkannya.
Hawa keberadaan Akio kembali dirasakan, meski nyatanya Akio berada di tempat yang sangat jauh dari posisi mereka. Namun alasan mengapa mereka baru bisa merasakannya adalah karena Akashi. Akashi yang sempat menumbangkan Wanita Salju, saat itulah badai bersalju yang menghalangi segala hal mengenai keberadaan Akio terhapuskan.
“TUAN AKIO!!!!”
Berkat itu, Yasha, Nekomata lalu Kizu berjumpa lagi di tempat yang sama yakni di kota Bama. Tempat di mana tak ada lagi badai salju, mereka bertiga berlari menuju ke tempat Akio berada sembari berteriak memanggil namanya.
Akashi pun terkejut akan kedatangan mereka, namun juga senang karena dengan begitu ia dapat bantuan tuk menangani permasalahan yang dialami oleh Akio saat ini.
“Tuan Akio! Anda baik-baik saja?!”
“Tuan Akio!!! Kami ada di sini!!”
“Saya sangat rindu pada Tuan Akio. Bagaimana keadaan Anda?”
Para pengikutnya telah berkumpul kembali. Dan pada saat bersamaan, Akio tersadar dari berbagai kenangan menyakitkan. Ia terusir dari aura jahat dari Onryou yang juga hampir melahapnya.
Ironisnya, mereka yang mengkhawatirkan Akio bukanlah manusia. Melainkan yokai (siluman) yang seharusnya tidak lahir di dunia ini.