
Hari itu dimulai dengan kedatangan Mikio yang diduga telah lama meninggal karena laut lepas, ia nekat menyeberangi laut dan beberapa saksi menyatakan bahwa perahu yang dibawa oleh Mikio telah dihanyutkan oleh gelombang laut yang begitu besar. Terjadi sebelum Akio dihukum pengasingan.
Muncul kembali setelah dua tahun lamanya, bertepatan dimulainya musim panas, Tadashi menjadi korban pertama (dugaan Akio).
Lalu kedua, ibu kota seperti biasa mengadakan Gion Matsuri. Namun di situlah tragedi berdarah terjadi, di mana setiap bayangan yang seharusnya tidak ada karena panas berada di puncaknya justru terlihat satu per satu dan kemudian menewaskan cukup banyak orang.
Disusul oleh Shogun Hatekayama yang tak menyadari bahwa Mikio saat itu bukanlah Mikio melainkan yokai yang disebut dapat mengendalikan tubuh yang sudah mati maupun yang masih hidup.
Tapi, karena tekad Akio yang tak luluh hanya karena penampilan Mikio, ia dapat memenggal kepala Mikio sebagaimana yokai tersebut mengendalikannya. Meski begitu, itu saja takkan cukup untuk membinasakannya.
Yasha mengetahui bahwa yokai tersebut masih belum dimusnahkan, pun memilih ikut bersama Akio tuk menanti takdir apa yang berada di jalan Akio sampai mati nanti.
Memenggal seorang pria yang sudah disebut sebagai kakak sendiri dan sekarang ia harus berurusan dengan para yokai terkutuk jauh lebih lama lagi.
“Ada seseorang yang mengendalikan kami.” Jika diingat ini yang pernah diucapkan oleh Nekomata yang baru lahir setelah beberapa minggu yang lalu.
Tak hanya itu, Akio bahkan harus bersembunyi setelah mendapatkan keringanan sedikit atas hukumannya. Bersembunyi dari semua orang khususnya para samurai, hal itu terjadi karena kesalahpahaman.
Semua orang berpikir bahwa Akio lah yang membunuh Shogun, itulah mengapa ia dijatuhi hukuman mati walau sekarang ia masih hidup berkat para yokai yang menjadi pengikutnya.
“Tuan Akio, sampai kapan kita harus berperang melawan yokai yang jahat itu?” tanya Akashi. Ialah mahluk setengah yokai yang nampaknya mendambakan kedamaian meski kerap kali mencuri makanan dari setiap rumah penduduk.
Untuk itu, Akio sama sekali tidak bisa menjawabnya. Ia lantas beranjak dari sana dan kemudian memutuskan untuk kembali ke kediaman Mikio.
Hanya satu yang ia ingat, yang berkemungkinan besar bahwa itu akan menjadikan sebagai petunjuk tuk menemukan yokai pengendali.
Makam Mikio, jasadnya.
“Tuan Akio sudah pulang!”
“Oh, benarkah? Di mana? Di mana? Cepat sembunyikan Tuan sebelum kakek tengu itu datang lagi!”
Kizu dan Nekomata paling histeris ketika Akio sudah kembali pulang.
“Hei, Akashi! Bawa Tuan Akio dan sembunyikan dia di dalam lemari!”
“Eh? Kenapa?”
Akio mengangkat tangannya, spontan Akashi, Kizu dan Nekomata senyap. Sementara Akio berjalan menghampiri makam Mikio yang terletak persis di tengah-tengah halaman.
“Tuan Akio ...,”
Pertama ia melepaskan topeng oni miliknya lantas mengatupkan kedua tangan ke depan dada tuk mendoakan yang sudah mati, lalu ia mulai menggali tanah di sana. Tanah makam itu sendiri.
Srak! Srak!
“Eh?! Apa yang terjadi pada Tuan Akio?” tanya Kizu panik.
“Kerasukan?” pikir Yasha.
“Jangan ngaco' kau! Tuan Akio itu kuat!” sahut Akashi membelanya.
“Tidak, tidak. Tunggu sebentar. Mungkin Tuan melakukannya karena ingin?” celetuk Nekomata.
“Jangan samakan Tuan Akio denganmu, dasar kucing.” Kizu berlipat lengan seraya menatap sinis pada Nekomata.
Akio memikirkan matang-matang bahwa mencari tahu tentang yokai itu, tak ada cara lain selain bertanya pada mayat itu sendiri. Namun tentunya bukan benar-benar berbicara dengan mayat dingin itu.
“Ada apa ini? Dia tiba-tiba berhenti.” Kizu menatap serius ke arah Akio yang berdiam diri di sana.
“Seperti dugaan, dia kerasukan,” sahut Yasha.
“Kau yang kerasukan. Awas kau mengatakannya sekali lagi akan kujahit mulutmu itu,” tukas Kizu.
“Ssst! Tuan Akio sedang memeriksa mayat orang itu. Jadi diamlah,” tutur Akashi.
Penasaran, Yasha, Kizu dan Nekomata lantas menghampiri Akio. Mereka semua termasuk Akashi tengah memperhatikan mayat itu baik-baik.
Akio menyentuh wajah mayat itu dengan satu jari telunjuknya. Dan apa yang terjadi setelahnya, wajah itu memunculkan sebuah retakan. Sedikit demi sedikit rapuh, seakan mayat ini hanyalah boneka.
“Ini ...masih ada aura jahatnya. Auranya masih menempel dengan kuat.”
“Jiwanya bagaimana? Bukankah Yasha bilang kalau pria ini pernah bertarung melawan yokai itu dan kalah?” tanya Akashi.
“Sungguh disayangkan, mungkin jiwanya takkan tenang sebelum yokai itu dilenyapkan,” ucap Yasha.
“Apa kita tidak bisa menyelamatkannya lebih dulu?” tanya Kizu.
“Tidak. Kita semua yang masih hidup takkan bisa ikut campur dengan yang sudah lama mati.”
Kalimat itu membuat mereka semua diam, benar apa yang dikatakannya namun perasaan Akio saat ini seperti dihancurkan dari dalam. Sudah membunuh lalu mengendalikan mayatnya, ini jelas penghinaan.
“Tuan Akio, tidak perlu terburu-buru. Tuan repot-repot menggali tanah makam milik Mikio hanya untuk menemukan petunjuk yokai itu benar?” ujar Yasha.
Akio menganggukkan kepala sekali.
“Jadi karena itu dia membuka petinya. Tapi kalau hanya tubuh yang rusak begini, apa yang mungkin menjadi petunjuk?”
“Seperti yang kamu rasakan Kizu, aura jahat dari yokai pengendali.”
Akashi dan Nekomata sama-sama mengendus bau dari aura jahat itu. Lantas mencarinya ke arah mana yang memungkinkan tuk menemukan aura jahat itu berasal. Namun hasilnya nihil.
“Ikiryo.” Kakek tengu, Naruhaya muncul tepat di belakang Akio saat ini. Ia menyebut nama yokai yang menjadi target utama Akio. Sontak saja semua yokai termasuk Akio lekas menghindar darinya begitu mendengar suara yang tak asing lagi.
“Kakek itu muncul! Ah!! Menyebalkan!” pekik Kizu.
“Hei, Akio. Sudah lama kita tak berjumpa. Bukankah kau seharusnya mencari ke mana kakekmu pergi setelah rumah di puncak gunung itu dibakar?” sahut si kakek.
Akio kembali menggunakan topeng oni, lantas menggelengkan kepala tanpa menjawab apa-apa. Perlahan langkah kakinya berbeda mundur saking ia merasa takut dengan kepalan tangan kakek yang barusan ditunjukkan.
“Kenapa kau selangkah demi selangkah menghindar dariku? Aku hanya ingin bicara saja, Akio.”
Berbicara lembut sambil menunjukkan senyum polos begitu justru terlihat mencurigakan di mata semua orang.
“Seharusnya kau berterima kasih karena aku membiarkan Ibumu pergi untuk menemui putranya yang hilang, lalu membuat rumah ini agar kau dapat tinggal di sini sementara. Tapi coba aku dengar apa yang baru saja kau lakukan kemarin hah?”
Akio terduduk lemas di sana sementara tubuh mungil si kakek nampak membesar. Ia memelototi Akio saking ia geram sekali kepadanya. Tak hanya marah maka mungkin tinju akan segera melayang.
BUAKKK!!
“Kau! Bocah tak tahu di untung! Masih saja bergerak seenak jidatnya! Kau tidak tahu kalau keberadaanmu ketahuan akan membuat kau mati sendiri hah?!”
Sembari mengamuk, kakek tengu terus melayangkan pukulan hingga Akio berakhir babak belur di wajah.