
Tubuh Akashi menerima dampak hebatnya, seluruh tubuh bahkan bagian dalamnya membeku dan membuat ia dalam keadaan mati suri. Meski Wanita Salju itu sudah membebaskan tubuh Akashi tanpa syarat, namun tampaknya Akashi masih dalam kondisi yang sama.
Entah ia masih bertahan hidup atau tidak. Lalu yokai wanita yang dimaksudkan oleh Wanita Salju telah datang. Dengan puluhan kupu-kupu mendarat ke tempatnya, senyum tersungging tipis di balik kerudung putihnya.
“Oh, Nyonya. Saya berhasil menahannya,” ungkap Wanita Salju sembari menunduk hormat kepadanya.
“Kerja bagus. Tapi, kau berlebihan melakukannya.”
Wanita Salju pun tersentak kaget, ia sendiri tak menyangka bahwa wanita yang berada di depannya sudah mengetahui kondisi Akashi saat ini.
“Tapi tidak apa-apa. Akashi takkan semudah itu mati. Lalu bagaimana dengan perkembangannya?”
“Sudah lebih baik.”
Percakapan di antara mereka didasari tingkat lemah dengan tingkat kuat. Wanita Salju yang tak lebih kuat darinya tentu akan menunduk hormat dan seakan memperlakukannya seperti majikan.
“Nyonya. Saya ingin mengetahui sesuatu tentang pria ini. Sebenarnya dia itu siapa?” Wanita Salju berani bertanya setelah lama memendam pertanyaannya sejak dulu.
“Kau sangat penasaran?” Wanita itu kemudian duduk melipat kedua kakinya ke belakang. Dengan posisi anggun, ia tak mempermasalahkan untuk menceritakannya walau sedikit.
“Ya. Maaf.”
“Tidak perlu meminta maaf yang tak berguna. Aku akan menceritakannya sedikit tapi merasa berbanggalah.”
“Ya, terima kasih.” Dengan tundukan kepala hingga menyentuh lantai, dirinya sangat menghormati ia.
“Ini cerita di masa lalu. Di mana ada seseorang yang disebut sebagai Dewa karena kekuatannya yang luar biasa. Tidak hanya kuat dia juga sangat baik hati.”
Cerita di masa lalu. Di mana seseorang yang disebut Dewa karena kekuatannya yang besar, kuat dan tak terkalahkan pada masa itu. Seorang pria yang selalu murah senyum. Ini membuat wanita itu teringat masa lalunya secara sepintas.
“Kalau begitu, dia benar-benar manusia?”
“Entahlah. Bahkan dia sendiri juga tidak akan menemukan jawabannya.”
“Maaf lancang, saya berpikir bahwa orang itu terlalu naif.”
“Semua orang berkata begitu. Tapi itu hanya berlaku ketika dia menghadap sesamanya. Bukan kita para yokai terkutuk.”
Sesuai ucapan wanita yokai itu, seseorang yang disebut sebagai Dewa itu tak memiliki hati ketika berhadapan dengan mahluk yang bukan manusia. Yakni yokai, karena hal itu sangat menganggunya. Begitu dirinya menemukan yokai sekalipun tak mengancam, ia akan langsung melenyapkannya tanpa belas kasih sedikitpun.
Terdengar sangat mengerikan bila Dewa seperti itu ternyata memiliki dua sisi yang berbanding terbalik. Tergantung dari apa yang ia lihat maka terbentuklah sifat yang berbeda serta cara menghadapinya.
“Dia adalah musuh, Nyonya. Mendengar cerita itu saja, saya seolah sedang merasakan ancamannya.”
“Benar. Musuh. Tapi apa kau tahu? Dia pernah sekali menghiraukan beberapa dari yokai terkutuk.”
“Eh?”
“Kau pasti kebingungan saat mendengarnya. Tapi tidak apa. Karena salah satunya adalah aku.”
Wanita Salju terdiam dengan mata terkejut. Ia masih kurang mempercayai cerita yang diceritakan oleh sosok yokai di hadapannya sekarang ini. Namun ia tahu betul bahwa sosok yokai tersebut takkan berbohong sedikitpun, karena dari suaranya sudah terdengar bahwa ia bukanlah yokai yang suka berbohong. Terdapat unsur ketegasan dari setiap kata-katanya dan itu membuat Wanita Salju percaya sekaligus takut akan cerita yang dibawakannya.
“Hal itu terjadi karena untuk pertama kalinya dia berinteraksi dengan Hanyou (setengah yokai(siluman) dan setengah manusia). Lucu bukan?”
Ini kenyataan dan bukanlah ilusi semata. Itulah yang dikatakan oleh wanita yokai tersebut. Semua ungkapan mengenai cerita di masa lalu sepenuhnya berupa fakta, tak ada kebenaran lainnya yang bisa mengubah kebenaran itu.
“Aku tidak begitu mengerti kenapa dia tidak bisa membunuhnya?”
“Aku sudah bilang, karena setengah manusia. Dewa itu pun jadi bingung harus berbuat apa.”
“Maaf jika lancang. Bagaimana dengan Anda? Apa Anda sangat mengenali pria itu?”
“Benar. Aku sangat mengenali dirinya. Dia juga tidak bisa membunuhku hanya karena wujudnya yang mirip sekali dengan manusia,” ujarnya.
Kebenaran hal itu tentu langsung membuat Wanita Salju syok. Namun itu benar. Jika dibandingkan dengan Wanita Salju, memang sekilas Wanita Salju terlihat seperti manusia biasa namun matanya lah yang menjadi penanda bahwa ia bukanlah manusia. Lain cerita jika wanita yokai itu, ia terlalu mirip manusia dan sulit dikatakan bahwa ia bukanlah manusia.
“Kau kaget?”
“Tentu sa—”
KRAKK!
Suara keras tiba-tiba mengejutkan mereka berdua. Untuk sesaat wanita yokai tersenyum tipis sementara Wanita Salju mendelikkan mata karena terkejut karena suara keras itu berasal dari Akio.
“Nyonya! Dia sudah melepaskan dirinya?!”
“Dia akan menyerangmu, Wanita Salju.”
“Eh? Nyonya ...,” Wanita Salju tiba-tiba merasa ketakutan, ia menoleh ke belakang dan berharap untuk meminta bantuan dari yokai seperti dirinya.
Tapi siapa sangka bahwa orang yang ia percayai justru tak berniat melakukan apa pun untuk menyelamatkan dirinya.
Akio sudah bangkit dengan kedua kakinya sendiri. Lalu kemudian ia memanggil kedua pedangnya, dan begitu berhadapan dengan Wanita Salju, ia pun tahu harus berbuat apa untuk saat ini.
'Aku melihat ingatan seseorang yang kelam,' batin Akio.
“Nyonya! Saya tidak bisa berdiam diri. Maka, saya akan—”
SLASSH!
Dalam sekejap, Akio sudah menebas Wanita Salju dengan menggunakan Retsuji. Sinar panjang yang tipis berwarna kebiruan itu telah membuatnya mencair dan menguap kemudian.
Namun di saat yang sama pula, Onryo miliknya sudah mengincar wanita yokai yang berada di belakang Wanita Salju. Tetapi, wujudnya sudah berubah menjadi puluhan kupu-kupu.
“Gawat, aku melepaskan satunya lagi?”
Entah karena pergerakannya yang masih terbatas, atau mungkin karena perbedaan kekuatannya yang terlalu meningkat jauh dari Akio, Akio secara tak langsung membiarkannya meloloskan diri. Puluhan kupu-kupu berwarna hitam dan putih itu telah terbang meninggalkan bangunan ini.
Sementara Wanita Salju lenyap, baik itu sisa dari badai salju maupun salju-salju yang membekukan semua hal di Bama, telah mencair dan kembali seperti semula. Meski begitu, sudah banyak korban direnggut oleh Wanita Salju. Ada yang selamat namun juga ada yang tiada.
Dengan napas yang tersengal-sengal, Akio bergumam lirih, “Ini ...ingatan siapa? Aku tidak mengenalnya dan itu terlalu mengerikan jika dibayangkan kembali.”
Tenaganya terkuras banyak karena beberapa hal. Kekuatan spiritualnya melemah dan membuat Retsuji menjadi payah, namun sesuatu yang lebih buruk dari itu telah terjadi kepadanya.
Sebuah luka besar di dalam pikirannya serta tubuhnya yang sangat kelelahan akibat menelan pikiran berupa ingatan sepintas.