Samurai Oni

Samurai Oni
PERTARUNGAN AKASHI I



Seperti melihatnya dari dalam mimpi, Akashi. Laki-laki yang memiliki setengah darah manusia dan yokai dan tangan kiri berwarna merah itu melihatnya secara sekilas. Melihat apa yang ingin ia capai di tempat itu.


Hari itu, dan pada waktu yang tak bisa ditentukan siang dan malamnya. Sewaktu badai salju terus menerjang hingga membuat tubuhnya yang ambruk itu kini ditimbuni salju putih, dirinya melihat seorang pria yang sedang dalam kondisi tak sadarkan diri.


Tak hanya itu saja, pria itu dirantai di bagian pergelangan tangan, kaki lalu leher. Seperti ia diperlakukan hewan ternak, Akashi yang melihatnya sangat syok.


“TUAN AKIO!?” Tanpa sadar pun ia berteriak keras memanggilnya sembari mengangkat tangan guna meraihnya namun itu mustahil. Matanya sudah terbuka lebar, tanda kehidupannya masih menggebu-gebu, dan perlahan Akashi bangkit.


“Cih, pengganggu!” Wanita Salju berada di hadapannya, dan ia pun mengarahkan kedua tangannya ke depan dengan telapak tangan terbuka lebar. Dalam sekejap, puluhan kristal es muncul dari segala arah menuju ke posisi Akashi.


Blar!


Dan entah mengapa, kedua kaki Akashi sesaat terbakar oleh api, ia melesat jauh demi menghindari setiap kristal es tersebut lantas berfokus tuk menyerang lawan berada di hadapannya saat ini.


“Kau apakan Tuan Akio?!” Emosi Akashi terlihat sangat jelas sekarang. Wanita Salju sangat terkejut melihatnya bergerak secepat itu.


“Apa yang kau maksud aku melukainya, ini bukan urusanmu! Justru kau lah musuh baginya!” sahut si Wanita Salju seraya bergerak ke samping, kembali ia mengarahkan semua kristal itu tertuju pada Akashi seorang.


“Musuh? Aku lah! Pedang Tuan Akio! Karena itulah, jangan kau sentuh Tuan-ku!!”


Kali pertama Akashi meluapkan emosi berupa amarah yang begitu dahsyat. Ada sesuatu yang membakar di dalam hatinya, dan ada sesuatu lainnya yang telah membuat ia merasa sesak di dada.


Dan kini, setiap serangan fisik baik itu pukulan maupun tendangan dilancarkan oleh Akashi sangatlah berbeda dari yang biasanya.


Satu pukulan mendarat tepat di wajah Wanita Salju hingga membuat wanita itu terdorong mundur. Lalu, tubuh Wanita Salju itu nyatanya hanya imitasi, berarti tubuh buatan yang dibuat dari salju. Begitu dihancurkan, maka kelihatan lah wujud asli dari bentuknya.


“Aku di sini, bodoh!!” Ia berteriak, persis berada di belakang Akashi.


Akashi terlambat menyadari, dan ia semakin sulit mengelak begitu embusan angin mengepung dirinya.


“Uwaahh!! Seranganmu ini terlalu lembek. Tapi terlalu sulit buatku menghalaunya!” amuk Akashi.


“Tentu saja! Ahaha! Yokai rendahan sepertimu takkan bisa menyentuh makanan berharga seperti pria yang ada di sana,” tuturnya dengan tawa menggelikan.


“Apa? Makanan? Apa maksudmu?”


Akashi mendadak terdiam dengan posisi kedua tangan melindungi matanya. Sembari ia mencuri dengar mengenai ucapan Wanita Salju, dirinya bingung dan berusaha untuk mengerti apa maksud dari kalimatnya itu.


“BODOH SEKALI KAU INI!”


Setelah puas memaki ia kemudian mengungkap, “Makanan ya makanan! Pria yang ditahan itu adalah makanan ternikmat! Mengerti?!” Di akhir kalimat Wanita Salju berteriak dengan nada meninggi serta tegas.


“Apa? Makanan ...katamu? Kau mau bilang Tuan Akio hanyalah makanan buatmu?!”


“Benar! Ahahaha!!”


Semakin melunjak emosi Akashi terhadap Wanita Salju. Tampak sangat jelas urat-urat di sekitar wajahnya seolah-olah amarah yang telah tertahan kini berusaha untuk dikeluarkan ataupun diledakkan.


“Bicara begitu lagi, maka aku yang akan memakanmu!” sahut Akashi, yang tiba-tiba saja sudah keluar dari kepungan embusan angin bersalju. Tangan kirinya yang berwarna merah itu sudah menangkap leher Wanita Salju.


“Kau takkan aku ampuni jika mengatakan hal yang sama.” Akibatnya tenaga Akashi semakin kuat, dan ia mencekik leher Wanita Salju hingga kedua kakinya terangkat.


Akan tetapi, sorot mata wanita itu yang hanya memperlihatkan bola mata putih takkan menyerah semudah itu.


“Kau ...bisa-bisanya menyentuhku ...dengan tangan menjijikan itu, kh!” Wanita Salju mencakar-cakar tangan Akashi yang mencekiknya bersamaan dengan menyerang Akashi menggunakan badai salju.


Meski pada akhirnya itu semua tak mempan dan justru membuat ia sakit.


“Kau segitu sukanya menganggap manusia itu makanan. Apa kau sudah tak punya harga diri?”


“A-apa yang kau bicarakan? Semua manusia itu adalah sampah, makanan yang paling tak berharga tapi daging mereka begitu nikmat. Tahu?” Namun meski begitu, Wanita Salju masih punya nyali untuk menjelekkan manusia layaknya sampah.


“Kalau Tuan Akio tahu, kau pasti akan dibuat lenyap dan takkan terlahir kembali!” seru Akashi.


Tak ada tanggapan sama sekali darinya dan kemudian suara Akio membuat Akashi mengalihkan pandangannya dari Wanita Salju.


“Tuan Akio!” Hal itu membuatnya melepaskan cengkeramannya sendiri lalu bergegas menghampiri Akio.


Pada saat itu, Akio seolah terkejut bahkan helaan napas pendeknya terdengar sebelum ini. Akashi yang sangat mengkhawatirkannya lekas mendekati ia, berniat untuk masuk ke dalam.


“TUNGGU!!” Raungan kecil serta badai salju terus mendatanginya, kali ini datang dari arah belakang. Akashi dengan ceroboh, justru menerobosnya dari depan langsung.


“Kau! Kau berniat melukai Tuan Akio juga?!”


Kaki, tangan, semua anggota tubuhnya sedikit demi sedikit mendingin dan beku kembali. Namun Akashi terus berjuang untuk menerjangnya dari depan.


SWOOOSHHH!


Tetapi, embusan angin dingin serta pecahan salju tetaplah sangat kuat. Akashi tersingkirkan dengan mudah dan sekarang ia terkapar. Momen di mana dirinya seakan-akan telah menyatu dengan salju.


“Rasakan itu! Kau tak tahu lawanmu siapa dan kau punya banyak celah. Apalagi, kau marah hanya karena aku menganggapnya makanan? Bukankah kau sama saja!”


Di samping mendengarkan ocehan tak berartinya. Akashi terhenyak sejenak, terlintas sebuah ingatan di mana ia telah diselamatkan oleh Akio bahkan dianggap sebagai manusia. Hanya hal-hal sepele itu saja sudah membuatnya senang, Akashi pun takkan mudah melupakannya.


“Aku sudah lama merindukan perasaan yang sudah lama terbenam dalam pikiran dan hatiku. Tapi, aku tidak tahu. Tidak tahu artinya apa selain setidaknya aku harus melindungi Tuan Akio.”


“Kau ngoceh-ngoceh apa sih?!” pekik Wanita Salju, menyerang Akashi yang terkapar menggunakan trik yang sama.


Ada sesuatu yang membuat mereka terhubung namun itu bukanlah darah. Dan entah apa itu masih menjadi misteri dari bayang-bayang mereka sendiri.


“Tuan Akio ...takkan mudah dikalahkan semudah itu.” Akashi kembali bangkit dengan kedua kakinya yang membeku.


“HAH?!”


“Kalaupun kalah, dia akan bangkit dan mengalahkan semuanya. Benar, itulah yang aku ketahui tentangnya!” lanjut Akashi sembari menatapnya dengan mata terbuka lebar, sorot mata serta tekad terpancar kuat dan seketika itu membuat Wanita Salju bergidik.


“Jangan bersikap seperti manusia kau!” sahut Wanita Salju, mengeluarkan serangan yang sama.


“Jadi karena itulah, jangan pernah kau menjelek-jelekan tentang Tuan Akio!!” tutup Akashi seraya ia berlari dengan kaki berapinya lantas begitu mendekat, ia memukul Wanita Salju dengan kuat.