
Tidak ada keinginan sama sekali bagi Akio untuk bertemu Mikio yang seharusnya sudah lama meninggal, namun kini ia berada di hadapannya. Tempat pertemuan mereka berada di kaki gunung bagian tengah yang menjadi perbatasan antara wilayah klan Yamamoto di Yama dengan rumah di puncak gunung.
Mikio tersenyum, ia mengatakan beberapa patah kata yang terdengar menyenangkan seolah dirinya sudah lama merindukan Akio.
“Sudah lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu, Akio?” tanya Mikio.
Akio sama sekali tidak menjawabnya. Untuk saat ini, ia melihat Mikio sebagai manusia tapi instingnya berkata lain. Tangan kanannya sudah memegang pedang kayu yang terselip di bagian pinggang.
Dengan pakaian yang tidak benar-benar dipakainya, sengaja ia melepaskannya karena terlalu panjang dan menganggu.
Begitu melihat Akio menarik pedang, Mikio bertanya dengan heran, “Apa yang ingin kau lakukan, Akio?”
Sama sekali Akio tidak pernah menjawabnya. Ia sejak bertemu dengannya pun hanya terdiam bisu, dan dengan niat tertentu.
“Akio, aku datang untuk bertemu denganmu. Bukan untuk mengajakmu berduel.”
Pikirkan, manusia mana yang akan bertahan hidup setelah lama menghilang selama beberapa tahun ini. Yang katanya hidup di wilayah Kuran dan lupa ingatan, siapa pun sukar percaya dengan cerita tak masuk akal seperti itu.
“Akio, jangan katakan padaku bahwa kau lupa padaku? Hei, Akio. Ini aku, Mikio. Teman sekaligus kakakmu, jangan katakan padaku bahwa kau lupa,” ujarnya sekali lagi seraya memeluk tubuh Akio yang lebih pendek darinya.
“Akio, jangan menganggapku sebagai musuh. Ya?”
Perkataannya terasa tulus, sejenak Akio terdiam dan melonggarkan pegangannya pada gagang pedang.
“Aku manusia. Dan bukankah kau akan kena masalah jika melawanku? Karena mulai sekarang kau tidak bisa melakukan duel seperti dulu. Benar bukan?”
Perlahan ia melepas dekapannya kembali menatap topeng oni yang tak sepenuhnya melihat sorot mata Akio di balik topeng itu. Mikio hendak melepaskannya namun Akio menolak.
Tap!
Mikio terkejut sebab Akio mengenggam pergelangan tangannya dengan sedikit keras, Akio bermaksud menyingkirkan tangan itu dari topengnya.
“Oh, iya benar. Selain tidak bisa bertarung bebas kau juga tidak diperbolehkan berbicara. Tapi, tidak apa. Untuk saat ini, karena tidak ada siapa pun, kau boleh sepuasnya berbicara padaku.”
Keinginan untuk berbicara pada orang yang selama ini telah dipikir sudah lama meninggal. Tentu saja Akio sangat ingin.
“Akio,” ucap Mikio memanggilnya kembali. Ia menatap nanar pada Akio yang saat ini pun hanya bisa terdiam saja.
“Aku sungguh beruntung karena bisa bertahan hidup dan siapa sangka pertemuan kita justru berakhir canggung bagimu,” ujar Mikio.
Aturan yang telah ditetapkan, pertama; jangan pernah membuka mulut untuk berbicara pada siapa pun.
“Kak, syukurlah.”
Tapi kini Akio melanggarnya, ia berbicara pada seorang lelaki yang dianggap sebagai kakak sendiri.
“Akhirnya kamu mau berbicara denganku, Akio. Aku senang, syukurlah. Kamu masih hidup dan sehat begini. Yah, walau sesuatu tak terduga terjadi padamu sekarang,” ujar Mikio merasa senang.
Lalu kedua; jangan pernah mengacungkan pedang pada manusia. Bertarung dengan tangan kosong pun tetap tak diperbolehkan.
Suara yang serak itu terus memanggilnya dengan sebutan kakak, air mata pun mengalir dan membasahi wajah lalu terjatuh ke tanah. Perasaan yang pernah dilupakan, rasa sedih karena kesepian kini seolah kembali terisi.
Tetapi,
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Akio sembari menarik pedangnya.
Sontak saja hal tersebut membuat Mikio tersentak. Ia tak menyangka bahwa Samurai Oni yang adalah Akio, dianggap sebagai adik pula telah mengarahkan pedang kayu itu padanya.
Saat ini, apa yang dilihat oleh Akio, hanyalah Mikio seperti biasanya. Mikio yang terlihat seperti manusia pada umumnya. Tak tercium pula bau-bau tak sedap ataupun aroma darah sedikitpun darinya.
Tetapi kenapa Akio tetap menarik pedangnya? Hal itu karena ia meragukan sosok yang berada di hadapannya saat ini.
“Akio.” Suara yang sama memanggil diri Akio, yang memanggilnya adalah Mikio.
Ketika Mikio hendak meraihnya lagi, justru Akio melangkah mundur. Tiba-tiba peringatan dari kakek tengu juga kembali terlintas dalam benaknya.
“Akio ...Akio 'kah?”
Perlahan-lahan pria ini mulai menunjukkan sosok aslinya. Sebagian dari dirinya adalah hitam, bayangan miliknya bergeliat aneh secara tak wajar.
Penciuman Akio kian menyengat, aroma busuk.
“Ah, ketahuan. Sudah kuduga. Kau sungguh hebat, Samurai Oni!”
Keinginannya untuk bertemu kembali dengan sang kakak, seketika hancur berkeping-keping begitu Mikio memperlihatkan raut wajah dengan senyum anehnya. Senyum lebar hingga terkesan akan merobek wajahnya sendiri, terlihat mengerikan begitu pula auranya.
“Tapi—!” Mikio sudah berada di depan mata Akio. “Kau takkan bisa mengalahkanku. Itu tidak mungkin!” teriaknya selagi ia mengayunkan pedang.
Berniat memenggal kepala Akio langsung namun ia sedikit terlambat karena Akio sudah melompat mundur lebih awal.
“Akio, Akio, Akio! Ada apa denganmu?! Kau tidak akan menarik pedangmu bukan? Aku ini manusia! Benar 'kan?”
Sosoknya jauh lebih mengerikan, mahluk macam apa ini? Pemikiran Akio mulai kacau, sejak tadi ia hanya bisa bertahan dengan pedang kayunya saja.
Setiap kali ia hendak menyerang, Mikio pasti akan memotong jalur serangnya dengan cara mendekatkan diri hingga tersisa kurang dari satu meter di antara mereka.
“Jika aku mendorongmu hingga masuk ke wilayah Yama, maka kau akan langsung ketahuan jika kau sedang melawanku,” tutur Mikio.
Tak!
Pedang kayu menyentuh gagang pedang hitam milik Mikio, untuk beberapa saat Akio dapat menahannya namun itu takkan bertahan lama.
“Kau yang paling menganggu, jadi akan aku habisi saja!” pekiknya lantas mendorong balik posisi Akio.
Mikio menghempaskan tubuh Akio dalam sekali ayunan pedang, serangannya tersebut pun telah membuat pedang kayunya terbagi menjadi dua dan melukai Akio tepat di bagian tubuh depan sampai menembus bagian belakangnya.
Persis seperti Mikio yang dikenal oleh Akio, cara bergerak dan mengayunkan pedang dengan kuat. Tetapi, teknik itu seakan telah diperkuat. Dari yang hanya menyayat tubuh bagian depan, kini berevolusi hingga dapat menembus punggung dari depan.
GEDUBRAKK!
Tubuh Akio menghantam dinding kediaman klan Yamamoto secara langsung, ia kemudian terkapar tak berdaya. Tak ada sisa tenaga sehingga mustahil bagi Akio untuk bergerak saat ini juga.
“Ada apa ini?” Keiko yang berada di dalam pun terkejut-kejut akan suara keras itu.
Sontak, beberapa orang termasuk dengannya segera menuju keluar guna memastikan suara hantaman keras tersebut.
“Kakak,” guman Akio. Lambat laun kesadarannya memudar dengan perasaan gelisah dan kacau sekarang.
Nampak Akio sangat lelah, tetapi di samping itu ia merasa bersyukur.
“Akio, kau takkan mati semudah itu bukan? Aku tahu kau itu sudah lebih kuat dari sebelumnya. Serangan barusan adalah peringatan,” lirih Mikio seraya terkikik-kikik sepanjang perjalanan menuju ke suatu tempat.