Samurai Oni

Samurai Oni
DIUSIR



Ikiryo telah berhasil dimusnahkan usai Akio mengelabuhinya. Sedetik yang lalu, Ikiryo mungkin berpikir bahwa Akio telah berhasil disudutkan namun apa yang terjadi justru sebaliknya.


Butuh waktu yang pas untuk melakukan itu, bahkan Akio merasa kelelahan, napasnya berat usai melakukan serangan dari jarak dekat.


Tubuh Honjou terluka namun hanya di bagian luar kulitnya saja. Goresan angin yang membentuk dari tangan hingga ke separuh wajah dan tubuhnya mungkin akan selalu membekas hingga akhir hayat. Tapi setidaknya nyawa pria ini masih selamat.


“Apa itu? Kekuatan spiritualnya cukup besar. Jadi Akio ...Samurai Oni benar-benar masih hidup?” gumam Honjou, ia kini terbaring lemah.


Akio tak menjawabnya. Ia lantas melangkah tuk segera pergi.


“Tunggu! Kau! Kenapa kau masih hidup? Harusnya kau sudah lama mati!”


Akio mengabaikannya. Tak peduli seberapa banyak ia terus mengoceh ini dan itu, Akio memilih untuk pergi daripada berdebat. Yang terpenting bagi Akio adalah, melenyapkan Ikiryo dan telah usai.


“Ck!”


Kesal terhadap diri sendiri, nampak jelas bagaimana Honjou saat ini. Ia terlihat baru saja dipermalukan. Harga diri Honjou telah tercoreng, merasa malu serta menyesal. Namun sepertinya Honjou takkan berubah semudah itu. Kebenciannya terhadap Akio masih belum memudar sedikitpun.


***


“Tuan Akio sudah pergi. Kita harus kembali bukan?”


“Jangan. Kakek tengu bilang, tidak boleh ada yang mengetahui Tuan Akio ataupun kita masih hidup,” ujar Yasha.


“Lalu kita harus apa?” tanya Akashi.


“Pria itu sudah mengetahui siapa tuan kita. Meskipun sudah diselamatkan, tapi saya yakin dia masih memiliki dendam tersisa.”


Seringai terukir di wajah mereka. Akashi, Kizu, Yasha dan Nekomata yang tengah bersembunyi di balik pintu tersisa di bagian luar sedang berupaya melakukan sesuatu guna mencegah keberadaan Akio tersebar.


Seringai itu pertanda bahwa mereka akan melakukan apa yang biasa mereka lakukan. Termasuk Akashi yang polos.


“Membunuhnya?”


“Itu ide bagus.”


“Kita buat dia tutup mulut selamanya. Lagi pula dia sudah kurang ajar pada tuan,” ujar Kizu.


“Aku suka apa yang kalian pikirkan. Tapi apakah itu tidak jadi masalah?” Kemudian Akashi menimbang-nimbangnya.


“Kau itu tak pernah membunuh seseorang. Jadi duduk diam saja.”


“Apa pun akan lakukan karena aku adalah pedang Tuan Akio! Tapi, ingat apa yang diperintahkan olehnya.” Setelah berteriak, ia melirihkan suaranya. Akashi berusaha untuk membuat mereka mengerti.


Tentang ancaman Akio.


“Kalau kita berani melukai apalagi membunuh manusia, maka kita akan dibunuh.”


“Oh, itu benar. Lalu bagaimana jika kita mengancamannya?” Nekomata mengusulkan.


Sepertinya mereka akan bertindak. Keempat yokai tersebut pun masuk ke dalam ruangan dan mendekati sosok pria yang sampai saat ini masih terbaring.


“Yokai terkutuk! Kalian lagi!” Spontan terkejut, Honjou beranjak dari sana.


“Kami hanya ingin kau tidak mengatakan apa pun yang telah terjadi malam ini. Apa kau akan berjanji, manusia?” Kizu berucap.


“Berjanji pada mahluk hina seperti kalian?” Honjou menarik pedang, bersiap untuk menyerang.


Tapi apa daya, tubuh Honjou masih belum pulih setelah apa yang dilakukan Ikiryo kepadanya secara langsung. Seluruh pergerakannya menjadi kaku, sehingga mengakibatkan para yokai bertindak lebih cepat.


Mereka mengacungkan taring dan cakar tepat ke arah leher Honjou.


Sekali lagi Kizu berkata, “Berjanjilah takkan mengatakan apa pun mengenai kejadian malam ini.”


“Apa?!”


“Tuan Akio tidak mau kalau keberadaannya diketahui banyak orang. Jadi mengertilah,” ucap Akashi.


“Hah? Apa-apaan kalian? Berhenti beromong kosong karena kalian semua akan segera kubas—!”


Perkataan Honjou tersendat begitu cakar dari Kizu kian mendekati lehernya. Tak hanya itu, Honjou juga tertekan oleh hawa keberadaan mereka yang mengalah-ngalahkan Ikiryo.


“Berjanjilah jika tidak kau akan mati,” ancam Kizu lebih serius.


“Lebih baik kau berjanji,” ujar Yasha.


“Hei, pria yang bernama Honjou. Kau mengenaliku bukan? Aku monster kucing yang bisa menjadi besar. Kau tahu bahwa aku bisa membunuhmu hanya dengan menggeser ekorku,” ujar Nekomata memancarkan aura ketidaksenangan.


“Ugh! Me-menyebalkan!”


Pada akhirnya Honjou tak bisa berkutik. Ia takut karena nyawanya terancam padahal yokai adalah musuh abadinya. Siapa sangka takdir Honjou se-ironis ini.


Benteng Tenggara Honjou, wilayah klan Honjou yang dipimpin langsung oleh keturunan dari Honjou Ryo—Honjou Eno. Malam itu seolah hari di mana semua jiwa beristirahat. Semua yang menjaga perbatasan laut lepas kini terbaring di atas tanah dengan senjata yang terjatuh di dekatnya. Mereka hanya tertidur sebentar, dan tak lama kemudian, mereka terbangun.


“Hei, ada apa ini sebenarnya?”


Mereka mulai bertanya-tanya.


“Apakah ulah yokai mimpi?”


“Mana mungkin, dia sudah lenyap di tangan Tuan Satsuki di Gama. Kau tidak mengetahuinya?”


“Oh, baguslah kalau benar.”


“Tunggu, lalu siapa?”


Mereka sadar itu aneh tapi pada akhirnya mereka tak pernah menemukan jawabannya. Salah satu dari mereka, bergegas menghampiri ruangan tuan mereka yakni Honjou Eno. Guna memastikan bahwa tuan mereka baik-baik saja.


“Tuan! Anda baik-baik saja? Tuan!”


Sementara Honjou dilanda keputusasaan juga ketakutan yang mendalam. Setelah dipermainkan oleh Ikiryo kini dirinya diancam oleh empat yokai. Honjou sama sekali tak berdaya sekarang.


“S*alan! Terkutuk kau! Ugh!!” Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah memaki-maki saja.


***


Kembali ke kediaman Mikio. Akio beserta empat yokai-nya duduk berjejeran menghadap kakek bertubuh kecil dengan topeng tengu yang dimilikinya. Mereka berada di halaman sekarang, bukan di dalam ruangan.


“Akio, barusan aku melihat benteng Honjou hancur. Apa itu ulahmu?”


“Sejak kapan kakek cebol muncul?”


“Hei, kau! Setengah manusia! Diamlah!” pekik si kakek.


Tak ada jawaban satu pun yang keluar dari mulut Akio. Entah mengapa ia terdiam saja saat ini.


“Ah, ya. Sudahlah. Aku sudah tidak tertarik lagi. Baguslah kau menghancurkan benteng itu melalui atap. Kakimu sungguh kuat, dan semoga kau cacat karenanya.”


“Hei, kakek! Kau ini sedang bersyukur atau menyumpahi, sih!” Akashi mendelik, ia tak rela bila Akio dimaki-maki.


“Berisik kau! Aku sedang berbicara dengan Akio! Bukan kau, mengerti!” Kakek langsung menyahutnya dengan ganas. Semburan air ludahnya bahkan sampai terciprat, mungkin saja ia sengaja.


Akashi lantas terdiam, perlahan ia menyembunyikan tubuhnya di balik punggung Akio. Sedang Yasha hanya tersenyum, Kizu berpura-pura tak memperhatikan, sementara Nekomata duduk diam menghadap ke belakang.


“Pertama kau unjuk gigi di depan Satsuki, sekarang kau menghancurkan benteng tenggara. Belum lagi insiden yang menimpa mayat Mikio dan Shogun, yang dikiranya adalah kau!”


Kakek itu kemudian mendekatinya dengan mendelikkan mata bulat super besar itu ke hadapan Akio.


“Kau tidak tahu seberapa banyak masalahmu sebelumnya. Atau jangan bilang kau berpura-pura tidak mengetahuinya?” ujar si kakek.


Dengan cepat Akio menggelengkan kepala.


“Terserah apa katamu karena mataku melihat semuanya. Jadi mulai sekarang kau dilarang makan apa pun selama satu pekan. Lalu kau diusir dari kediaman kakakmu ini!” ungkap kakek tengu.