Samurai Oni

Samurai Oni
SAMURAI PEDANG HITAM Bag I



Mikio ingin bertemu dengan Akio lagi. Kakek tengu yang mengatakan hal itu tapi secara tak langsung sebab dirinya pun mendengar dari Mizunashi Kage sehingga kakek pun sedikit mencurigainya.


Mikio, entah orang itu nyata atau tidak. Setidaknya Akio sudah diberi peringatan agar tak lengah.


“Tuan Akio! Tunggu kami!” seru Kizu dan Akahsi secara bersamaan.


“Hei!” Tetapi, langkah mereka terhenti karena kakek menghalangi jalannya.


“Ada apa denganmu, kakek cebol?” tanya Akashi yang geram.


“Benar. Kami ingin mengikuti Tuan Akio! Karena kami adalah pedangnya!”


“Hei, yang pedang itu aku. Sedangkan kau cuman rubah tak berguna,” sahut Akashi.


“Apa katamu?! Itu sih kau yang tidak berguna!” jerit Kizu.


Melihat Nekomata yang sudah kembali ke wujud kucing kecil pergi menyusul Akio, kakek kembali menghentikannya.


“Kau juga, kucing.”


“Kenapa aku harus menurut pada orang tua yang sebentar lagi akan mati?” ketusnya.


“Aku memang orang tua yang sebentar lagi akan mati, tapi kau tidak seharusnya mengikuti Akio untuk saat ini,” ujarnya.


“Untuk kalian berdua juga!” imbuhnya berteriak pada Kizu dan Akashi yang kemudian berhenti bertengkar.


“Aku tidak ingin kalian bertiga, mahluk setengah-setengah seperti kalian menganggu urusan pribadi Akio,” pinta si kakek dengan tegas.


“Karena dia membutuhkan waktu untuk sendiri. Sebaliknya, aku juga ingin berbicara sesuatu hal pada kalian,” lanjutnya.


“Bicara? Bicara apa? Jangan memperlambat waktuku,” ketus Akashi.


“Mungkin ini ada hubungannya dengan Samurai Oni?” pikir Nekomata.


“Oh, sepertinya kau sedikit lebih pintar dari dua lainnya.”


Ini mengenai anggapan mereka bertiga terhadap Akio, Samurai Oni. Apa yang mereka rencanakan, apa yang mereka incar dan langkah mana yang akan mereka pijak akan membuat kakek mengetahui sesuatu mengenai sikap mereka yang sebenarnya.


Karena sejak awal kakek tak berniat mempercayai satu pun mahluk yokai terutama yang memiliki perasaan seperti mereka. Entah terasa menjijikan atau justru menggelikan.


“Tuan Akio?”


“Apa kalian tahu mengenai hukumannya?” Kakek bertanya guna memastikan.


Lalu, Akashi yang salah satu dari mereka sudah mengetahuinya lantas menjawab, “Tuan Akio dihukum karena kelakuannya bukan?”


“Benar. Menurutmu kenapa dia melakukan hal itu?”


“Mungkin karena dia masih anak-anak semasa dulu,” pikir Kizu.


“Berpikir seperti itu memang mudah. Tapi masalahnya itu adalah kebiasaannya ketika merasakan adanya bahaya.”


“Bukankah yang seperti itu memang kebanyakan adalah hal biasa terutama para samurai di era ini?” pikir Nekomata.


“Yang kau pikirkan tidak salah, tapi dia tidak sama seperti samurai pada umumnya.”


“Jangan-jangan karena itu baunya terasa enak?” celetuk Nekomata.


Kizu dan Akashi menoleh pada Nekomata, tatapan mereka seolah tengah bertanya apa maksud dari ucapannya barusan. Justru berpikir bahwa Nekomata hendak memakan Akio sendiri.


“Kau bermaksud untuk memakan Tuan Akio hidup-hidup?”


“Oh, begitu. Aku akhirnya mengerti. Alasan kita berkumpul dan ikut pada Tuan Akio karena kita semua merasa nyaman?” pikir Akashi.


“Sepertinya pemikiranmu tidak ada yang salah. Tapi entah kenapa aku merasa sedikit janggal.” Kizu dalam bimbang.


“Intinya seperti yokai?” sahut Nekomata sembari melirik si kakek tengu itu.


“Ya. Terasa seperti itu secara tidak langsung tapi dia tetaplah manusia. Hanya sikapnya saja yang sedikit tidak normal,” jawab kakek seraya menganggukkan kepala.


Kakek yang menjadi guru sekaligus bagi Akio itu mengatakan beberapa fakta mengenai Akio.


Termasuk beberapa tahun yang lalu telah terjadi, hari ketika Akio mengacau setiap detiknya. Anak itu memang tidak pernah berubah hingga saat ini.


“Pernah sekali Akio mengacungkan senjata pada seorang hakim dan kemudian berkata, "Kamu jahat. Harus kubunuh." Itu kalimat yang paling tidak ingin aku dengar.”


“Mohon maafkan kami jika kau berpikir kami adalah mahluk yang sama seperti yokai terkutuk itu,” sela Nekomata.


“Mengenai Samurai Oni, pria itu mungkin menyadari yang mana yang bukan manusia,” imbuhnya.


“Ya, sesuai dugaanmu, kucing.” Sedikitnya kakek itu tertawa lirih. “Dia adalah anak yang berdarah panas sama seperti Akashi. Sikap mereka sangat persis.”


“Karena itu selama ini aku berpikir apa yang membuat Akio membiarkan dia di sisinya,” imbuh kakek seraya menunjuk Akashi.


“Mungkinkah karena kesepian, begitulah pikirku,” tutup si kakek itu lantas menurunkan pandangannya.


“Aku mirip dengan Tuan Akio?” Justru Akashi tak mempercayainya.


“Tadi kalian mendengarku menceritakannya bukan? Akio pernah sekali mengacungkan pedang ke arah seorang hakim di negeri ini. Tentu saja itu salah tapi pemikirannya berkata lain, seolah-olah hakim itu bukanlah manusia yang patut dipertahankan.”


“Mungkinkah karena hakim atau apalah itu adalah orang jahat? Jadi Tuan Akio ingin menghabisinya,” pikir Akashi bersumbu pendek.


“Ya, itu semua yang dipikirkan oleh banyak orang. Tapi yang dia lihat saat berhadapan dengan hakim bukanlah manusia. Pandangannya berbeda dari manusia biasa. Kau mengerti, Akashi si Tangan Merah?!” pekik kakek itu.


“Dia bilang, "Kamu jahat," dan bukan, "Kamu orang jahat," begitulah maksudku. Dari awal tak sekalipun Akio menganggap hakim itu adalah manusia!” tuturnya sekali lagi. Seolah tengah melampiaskan amarahnya.


“Jadi sejak awal Samurai Oni melihatnya seperti itu. Tetapi, kami sendiri belum tahu pasti kenapa kami merasa nyaman dengannya. Entah karena sejenis atau memang merasa nyaman pada umumnya karena perasan di dalam tubuh kami,” sahut Nekomata.


“Maka dari itu aku bertanya pada kalian, bagaimana pandangan kalian terhadap Akio? Kalian menganggapnya manusia ataukah Oni?”


Bukan Yokai melainkan Oni. Baik Akashi maupun Kizu dan Nekomata, ketiga-tiganya kemudian teringat saat pertama kali bertemu dengan Akio. Detail yang terasa melambatkan waktu mereka lihat dengan jelas, cara Akio bergerak hingga mengayunkan pedangnya tuk menebas musuh.


Hanya satu kata yang dapat mereka pikirkan, "Mengerikan."


Ketika memikirkan itu, semuanya bergidik dan berpaling dari orang tua yang berada di hadapan mereka.


“Benar juga. Kalian pasti akan menganggap Akio sebagai musuh.”


“Bu-bukan ...” Akashi berbicara dengan gugup, berusaha menyangkal namun rasanya sulit.


“Apanya?”


“Tuan Akio menyelamatkanku, jadi sudah sewajarnya aku berbalas budi. Aku berterima kasih padanya. Mungkin memang mengerikan tapi menurutku itu indah,” ucap Akashi.


“Ha ...bahkan mahluk setengah yokai seperti kalian bisa berterima kasih dan meminta maaf juga ya,” gumam si kakek seraya mendesah lelah.


Apa pun yang mereka pikirkan mengenai Akio, selama pemikiran itu terbenam dalam-dalam maka itu takkan membuat mereka lupa siapa itu Akio. Entah bagaimana anggapannya, namun Akio jelas berbeda dari Samurai biasanya. Itu juga menjadi salah satu alasan Akio disebut sebagai Samurai Oni meski tak banyak orang mengetahuinya.


Lalu kini, selain Akio ada satu orang yang masih misterius saat ini. Ialah Mikio.