Samurai Oni

Samurai Oni
IKIRYO I



“Hei, Yasha. Apa benar yang kau katakan itu?”


“Apa?”


“Tentang Ikiryo yang akan bersembunyi selama musim panas berakhir.”


“Ya.”


Saat ini, Nekomata sedang bersama Yasha di dalam ruangan. Nekomata nampaknya menduga-duga hal yang mungkin akan terjadi.


“Kenapa kamu menanyakan hal yang sama, Nekomata?”


“Aku hanya berpikir. Ke mana perginya Ikiryo bila musim panas berakhir. Dia akan bersembunyi di mana?”


“Jangan terlalu berpikir lebih jauh. Karena kita belum tahu apakah Tuan Akio mampu melenyapkannya atau tidak.”


“Ya. Kau benar.”


“Seingatku, kamu pernah mengatakannya. Ada seseorang yang amat membenci Tuan Akio. Benar?”


“Ya, dia samurai bernama Honjou Eno.”


“Dan kalau tak salah, kamu melihat Ikiryo bersama dengan yokai mimpi ketika masih melawan Tuan Akio?”


“Ya. Aku menceritakan apa yang aku tahu. Memangnya ada masalah ap—”


Barusan Nekomata hendak bertanya namun, kemudian ia terdiam setelah menyadari apa maksud Yasha menanyakan kembali semua itu.


“Yasha, kau berpikir bahwa Honjou Eno akan dikendalikan oleh Ikiryo? Haha, itu cukup lucu kau tahu. Dia itu samurai. Sebenci apa pun dia dengan Tuan Akio, dia takkan lupa musuh utamanya adalah yokai.” Nekomata merasa tak percaya dengan pemikiran tersebut.


“Yang kamu katakan mungkin ada benarnya. Tapi manusia akan melakukan apa pun demi rasa kebenciannya,” tukas Yasha.


“Apa maksudmu?”


Setelah lama duduk di halaman sembari mengenggak secangkir teh kesukaannya, kini ia beranjak dari sana. Sekilas menatap langit yang akan menggelap.


“Kalau begitu, ayo kita jemput dia sebelum Tuan Akio mengamuk.”


“Eh?”


Apa pun dan sebesar apa pun kebencian, mungkin takkan melupakan apa tugasnya yang sebenarnya. Namun kebencian yang menaruh rasa dendam akan melupakan segalanya. Yasha berpikir bahwa,


“Dengar Nekomata. Ikiryo dan Honjou Eno mungkin saja akan bekerja sama. Hanya demi satu tujuan yang sama.”


Dari situlah Nekomata mengerti, bahwa pria yang menaruh dendam ataupun kebencian pada Akio akan melakukan apa saja demi menuntaskan hasrat tersebut.


“Jika benar begitu.”


“Jika benar begitu? Lalu apanya? Walau itu benar namun bukan berarti tuan kita akan kalah semudah itu bukan?”


“Ya, kau benar Yasha. Tuan Akio memiliki tekad yang luar biasa. Aku Nekomata ini sudah melihat bagaimana ia bertindak bahkan berani memenggal kepala orang yang disayanginya.”


“Itulah yang membuat saya tertarik dengan Tuan.”


Malam akan tiba dan esok hari akan berganti musim.


Kizu dan Akashi kini akhirnya menemukan Akio yang sedang berjalan-jalan ke wilayah Uchigoro.


“Tuan, aku barusan mencium bau yang sama.” Akashi menunjuk ke arah tenggara, wilayah yang berbeda dari Uchigoro.


“Penciuman Akashi benar-benar yang terbaik. Tuan harus melakukannya sebelum musim panas berakhir jika tidak maka dia akan bersembunyi selamanya,” ujar Kizu.


“Tuan Akio, aku akan pergi bersamamu.”


Akio menggelengkan kepala dan kemudian ia menuliskan kalimat di atas tanah, "Kalian berdua pergi dan intailah wilayah itu."


“Oh, Tuan Akio mempercayakan tugas ini padaku? Aku sungguh senang!” Kizu terlampau bersemangat.


“Jangan bercanda! Tuan Akio hanya mempercayakan tugas ini padaku. Ini tugas dari majikan pada pedangnya,” sahut Akashi enggan mengalah.


“Apa katamu?!”


Tak!


Akio memukulkan pedang kayu pada mereka berdua. Ia lanjut menuliskan, "Diamlah! Kalian berdua yang aku suruh! Pergi jika kalian mau, atau tidak."


“Untuk kita berdua.” Sepakat. Keduanya saling bersalaman tangan.


***


Langit senja telah berganti, menjadikan langit gelap terbentang saat ini.


Di Benteng Honjou. Bagian dalam, di suatu ruangan, kamar Eno.


Pria yang sepantaran dengan usia Akio, ialah Honjou Eno yang saat ini memiliki kuasa di daerah tenggara, disebut pula Benteng Tenggara Honjou.


Datang sesosok mahluk asing yang berbentuk seperti bola kecil. Warna yang hitam seperti arang terlihat mencolok di ruangannya.


“Hai, kau! Pria yang sedang duduk manis menghadap arah luar.”


“Siapa? Siapa yang berbicara?”


Tiba-tiba mendengar seseorang yang berbicara, Honjou lantas berwaspada tingkat tinggi. Ia mencari ke sekitar guna melihat adakah seseorang yang memanggil namun ia tak melihat siapa pun selain bola hitam yang berada di hadapannya sekarang.


“Apa ini?” Honjou mengambilnya seraya bertanya-tanya apa benda itu.


“Ya, benar. Ini aku yang berbicara. Kenalkan ...oh iya, aku lupa bahwa aku tak memiliki nama selain sebutan yang pernah kalian ungkapkan. Apa kau tahu?”


Terkejut, Honjou reflek melempar benda tersebut. Ia terdiam setelah beberapa saat bola itu kembali menggelinding ke arahnya.


“Hei, jangan kasar begitu padaku dong!”


“Siapa kau sebenarnya? Aku yakin ini pasti adalah yokai!” seru Honjou seraya menarik pedang dari sarungnya.


Beberapa samurai pengikutnya yang mendengar Honjou berteriak, lantas segera menuju ke ruangan.


“Mohon maaf, Tuan! Ada apa?”


“Sudahlah. Aku takkan berbasa-basi lagi. Kau membenci Samurai Oni bukan? Yang namanya Akio itu ...,” Bola itu lagi-lagi berbicara seraya menunjukkan ekspresi girangnya.


“Ada apa, Tuan?”


“Tidak. Kau pergilah.”


Seringai terukir jelas di bola kecil itu. Hasutannya berhasil membuat Honjou mendengarkan beberapa patah kata darinya.


“Hm, kau mengusir dia pergi. Apakah itu artinya kau akan mendengarkan ku?”


“Hm, aku bisa menebak jika kau tahu bahwa aku membenci orang itu, maka kau akan memanfaatkan diriku bukan?”


“Oh, tak kusangka Tuan Honjou cerdik juga. Kalau begitu aku tak sungkan mengatakan hal ini.”


Beberapa percakapan telah didengarkan oleh Akashi dan Kizu yang berada di ruangan sebelahnya. Entah bagaimana mereka berdua bisa berada di sana namun nampaknya mereka sukses menyelinap masuk ke dalam. Dan di sana mereka mendengarkan keseluruhannya.


“Aku ingin kita menjalin sebuah kerja sama. Singkat cerita, aku pun ingin membunuh Samurai Oni. Sama seperti targetmu, Tuan Honjou,” ungkap Ikiryo.


“Oh, itu bagus. Tapi kenapa kau baru muncul sekarang?”


“Baru muncul? Aku sudah lama muncul tapi yah begitulah. Aku kesulitan mendapatkan rekan yang pantas. Dan tak ada orang lain selain Anda, Tuan Honjou.”


“Heh, pilihanmu sangat tepat. Jadi, apa kita akan segera menuntaskannya?”


Saat ini, Kizu dan Akashi berada di balik dinding luar kamar Honjou. Sosok yokai pengendali yakni Ikiryo telah masuk ke dalam tubuh Honjou Eno, yang di mana suatu waktu tubuh itu akan diambil alih lebih mudah.


“Dia akan mun—!”


BRAKKK!!


Baik Kizu, Akashi, maupun Honjou Eno terkejut bukan kepalang. Mereka sangat tercengang begitu mendapati sesuatu yang menabrak lalu menghancurkan atap benteng bagian dalam, yang di mana kamar Honjou berada saat ini.


“Siapa itu berani-beraninya?!”


Baru saja dibicarakan, orangnya sudah muncul duluan. Akio, sebagai Samurai Oni telah unjuk gigi dengan meriah. Turun dari atas, ia mendarat perlahan seraya menarik pedang kayu yang tersembunyi di balik pakaiannya.


“A-Ah?! A-Akio?!”


Agaknya abai terhadap keberadaan Honjou. Saat itu Akio tengah berpikir dalam benaknya, 'Atapnya terlalu mudah untuk dirobohkan.'