
Sehabis memotong lengannya, lekas Akio melompat mundur tuk berjaga jarak dengannya. Satu lengan saja takkan cukup mengalahkan laba-laba, Akio pun jelas mengetahuinya.
Namun, akan tetapi bertarung dalam ruangan terlebih ada sejumlah orang di sini yang dalam keadaan tak bisa bergerak. Entah masih hidup atau tidak, bisa membuat pergerakan Akio terhambat.
“Dari mana kau mendapatkan kekuatan itu? Rasanya tak mungkin bila kau menggenggam pedang dengan lengan yang terjerat sebelumnya.”
“Daripada itu, kenapa kau tidak mengatakan siapa dia yang kau maksud?” ujar Akio membalasnya dengan pertanyaan, seraya mengarahkan ujung pedang padanya.
“Tidak akan aku beritahu. Toh, jika aku beritahu itu akan membuatku semakin dalam bahaya.”
“Lalu katakan kenapa akhir-akhir ini ada yokai yang selalu mengincarku?”
“Sejak kapan? Sejak Ikiryo dikalahkan?”
“Benar!”
“Karena kau orang yang merepotkan!”
Laba-laba membalas serangannya, ia mengeluarkan jaring laba-labanya melalui mulut, dalam jarak yang dekat ia juga sangat cepat. Nyaris saja Akio kembali terjerat, ia beruntung karena tersandung tubuh seseorang saat itu.
“Wah, kau sangat beruntung. Tapi selanjutnya tidak akan!” seru ia kembali menyerang.
Sehelai jaring yang tipis terkumpul menjadi satu dan memadat. Tak hanya menjadikan jaring tersebut kuat namun juga lengket bila tersentuh sedikit saja.
Di dalam ruangan, Akio selalu menghindari setiap serangannya yang terbaca, sekaligus menghindar setiap jaring yang berada di dinding. Dan tanpa sadar ia telah disudutkan karena terlalu fokus pada jaring-jaringnya.
“Ini akan segera berakhir! Jadilah makanan utamaku!”
Laba-laba semakin berhasrat akan membunuh, ia bergerak cepat menuju Akio yang tengah disudutkan.
“Ugh! Menjijikan!”
Ia berguling menyamping, terpaksa menerima jaring yang melekat di lantai. Secepatnya ia bangkit dan mengayunkan pedang namun jaring laba-laba ini kembali menghalangi. Alhasil pedang kayunya terlilit jaring laba-laba.
“Nah, menurut sajalah!!”
Akio rela melepas pedang kayu, kembali melangkahkan kakinya tuk bergerak mundur. Laba-laba yang memiliki wujud menjijikan itu pun mengejarnya tanpa peduli bahwa ia menginjak salah satu dari mereka.
Kaki yang tersisa itu menembus jaringnya sendiri, begitu mengeluarkan kaki dari sana, tercium aroma darah menyeruak. Sudah pasti orang yang dilindasnya adalah manusia, bagian dari klan Honjou.
“Arghh!! Sakit!!” Bukan suara yang masuk langsung ke dalam kepala, melainkan suara jeritan itu langsung terdengar begitu melengking dan menyakitkan.
“Tidak! Jangan! Jangan lagi!”
“Hentikan! Tolong hentikan dia! Bunuh dia!”
“Aku tidak mau mati! Tolong aku! Tolong!”
Kemudian disusul oleh suara rintihan yang sama, mereka bersuara langsung melalui kepala Akio, atau mungkin karena Akio sendirilah yang dapat mendengar rintihan mereka.
“Haha! Sepertinya mereka mulai sadar bahwa tidak ada seorang pun yang menyelamatkannya! Termasuk kau!”
Rupanya bukan hanya Akio seorang, laba-laba yang mengurung mereka pun juga. Ia melompat ke atas dan merusak lubang yang sama, setelah beberapa saat munculah jaring-jaring yang begitu lebar dan besar. Laba-laba itu kemudian bertengger di bagian tengahnya.
“Menyerahlah saja, Samurai Oni!”
“Menyerah?”
“Ya.”
Ada sesuatu yang tidak beres. Jelas-jelas hasrat membunuhmu ditujukan pada Akio seorang namun mengapa laba-laba itu justru duduk tenang di sangkar bagian atas yang baru saja dibuatnya?
Tapi, dengan Akio yang bersumbu pendek. Rasanya mustahil bisa berpikir panjang meski dalam keadaan terdesak sekalipun. Ia tidak bisa menyimpulkan, selain harus menyerangnya langsung.
Pada akhirnya Akio benar-benar melakukan hal itu, ia melompat usai dirinya mengambil salah satu pedang milik samurai yang tertinggal. Belum mencapai target, sedikit lagi dirinya akan dengan mudah menggapai bagian dari atap yang berlubang itu, namun serangan datang dari arah belakang.
“Eh?! Belakang?!”
Betapa ia sangat terkejut ketika menoleh ke belakang, ia mendapati jaring laba-laba telah menjerat kedua pergelangan kakinya dengan kuat. Nampak si laba-laba hendak menyeretnya jatuh tanpa bisa menyentuh tubuh laba-laba secara langsung.
“Ugh!! Kenapa bisa?”
Akio tak pernah menghadapi yokai selevel ini, dan akhir-akhir ini pun ia selalu merasakannya bahwa ada penekanan di setiap yokai terkutuk yang tak biasa muncul. Mula-mula berwarna hitam bertabir asap, lalu sekarang memiliki sedikit bagian tubuh manusia namun tetap adalah yokai utuh.
GUBRAKK!!
Akio terjatuh, dan sekali lagi dirinya terjebak di antara banyaknya jaring di sekitar. Kini kedua tangannya terikat kencang. Pedang yang digenggamnya pun terjatuh.
“Haha! Rasakan itu! Salah sendiri tak memperhatikan yang ada di belakang punggungmu. Lihat saja, jika kau benar adalah dia, maka jiwamu takkan aku sia-siakan,” ucap si laba-laba.
Satu demi satu jaring laba-laba merangkap dan menyatu, membungkus tubuh Akio dengan sangat cepat sehingga Akio tak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Bodoh!” Lagi-lagi terdengar makian dari Honjou Eno yang bahkan kondisinya jauh lebih buruk dari Akio.
Seolah akan benar-benar berakhir begitu jaring laba-laba telah berhasil mengurungnya hidup-hidup. Semula yokai itu pun merasa senang, ia sangat bahagia tapi tidak lagi setelah sesuatu datang dari atasnya.
“A-Apa?!”
Laba-laba tercengang, dirinya tak percaya bahwa akan ada sebuah pedang melayang terbang lantas menebas bagian tubuhnya hingga terbelah menjadi dua.
Pedang itu berhenti bergerak usai tertancap di mana tubuh Akio terbungkus oleh jaring laba-laba.
“Apa-apaan itu? Yokai? Yokai yang lain? Tidak, tapi ...itu aneh!”
Laba-laba yang sudah terbelah menjadi dua, ironisnya membuat tubuh yokai menjadi ganda dan hidup.
“Ini akan berakhir? Hei, laba-laba! Jangan salah!” pekik Akio lantas bangkit dari sana.
Terdapat aura dari ribuan roh jahat berupa para yokai yang memiliki dendam kesumat pada Akio, meski benar begitu namun pedang itu menurut begitu digenggamnya. Pertanda Akio telah menjinakkan mereka.
“Kau masih hidup?”
“Tentu saja. Bahkan orang-orang dungu di sekitarku masih hidup, bagaimana aku tidak?” ujarnya masuk akal, secara ia baru saja terbungkus.
“Kau pikir bisa?!”
Pedang yang ada adalah pedang milikinya sendiri namun yang sudah ditempa ulang. Pedang berupa wujud yokai, auranya yang mencekam tak main-main, mampu membuat laba-laba bergidik.
“Bisakah kita mulai sekarang juga?”
Sekali lagi Akio melompat lebih tinggi. Begitu sampai menuju lubang pada bagian atap pada ruangan ini, Akio lekas mengayunkan pedangnya seperti biasa. Hanya satu kali ia mengayunkan, menebas seakan memang tak bisa menebasnya.
“Hah! Apa yang mau kau lakukan?! Tidak terjadi apa pun tuh!”
Akio kembali berpijak pada lantai, mengibaskan bilah pedang itu lantas menurunkannya. Sesaat ia tersenyum sembari menatap seekor laba-laba yang tak sadar bahwa dirinya sudah ditebas oleh Akio.
Deru angin menggelegar dalam ruangan, mengikuti arah ke mana angin itu pergi, serangan dari segala arah mendadak muncul. Telah muncul cakar pendosa dari roh jahat yokai, merobek dinding dari ujung dua sisi ke ujung tertuju ke bagian atas menuju langit.
Tubuh yokai berwujud laba-laba telah hancur, terbagi menjadi 8 bagian.