Samurai Oni

Samurai Oni
PERTARUNGAN DALAM SANGKAR—GAMA



Mengusik dalam mimpi setiap pada manusia yang telah ditargetkan. Seakan telah memberi kutukan pada mereka agar tidak bisa melarikan diri, lalu yokai itu memakan jiwa mereka secara perlahan dan itu tidaklah wajar. Seolah menyimpan makanan ke tempat yang aman, atau mungkin hanya sekadar bermain-main saja.


Tidak tahu,


“Ada apa yokai!?”


Kini, Akio membalas tantangan si yokai. Menantangnya apakah ia bisa memakan Akio ataukah tidak. Namun kini sama sekali tak bereaksi. Yokai tersebut entah hilang ke mana bahkan setelah menunjukkan batang hidungnya persis di depan mata.


“Keluar kau!”


Tak ada yang lainnya. Di tanah lapang yang seluas ini tidak terlihat ada seorang pun kecuali dirinya sendiri. Lantas Akio pun terdiam dalam kebingungan.


Terlebih dirinya sama sekali tidak bisa bergerak dari sana sementara setiap anggota tubuhnya terikat kencang.


“Keluar kau! Ada apa? Kau ketakutan sampai tidak berani menghadap diriku? Hei!!” pekik Akio dengan suara lantang hingga menggaung.


Tak berselang lama kemudian, munculah seseorang tanpa wajah. Ia berdiri tepat di hadapan Akio saat ini. Bentuk tubuhnya tak jauh berbeda dengan manusia hanya saja ia tak memiliki wajah sama sekali.


“Itu kau?”


Wajah yang polos itu kemudian memunculkan seringai lebar di sana. Sontak Akio terkejut. Hendak ia berteriak seraya meronta, namun dirinya sudah kembali terbangun dari mimpi.


“Sudah kuduga mimpi. Aku sama sekali tidak terluka.”


Sekujur tubuhnya yang di dalam mimpi sudah tergenang oleh darahnya sendiri, namun begitu terbangun ia sama sekali tak terluka maupun terasa sakit sedikit saja.


Mimpi yang mengerikan itu akan menguras mental manusia, jiwa yang merasa kesakitan dan memohon pertolongan adalah jiwa yang paling sedap untuk dimakan, begitulah yokai berpikir.


Akio melirik ke sekitarnya, guna memastikan sesuatu. Anggota keluarga di kediaman Momoka masih tertidur pulas, dan denyut nadinya pun masih ada.


Dap! Dap!


Tiba-tiba saja, seorang wanita yang berada di ruangan sama ini pergi keluar. Akio merasa ada yang tidak beres lantas pergi untuk mengikutinya.


Sampai ke halaman, terlihat sekeliling kediaman ini masih terbungkus oleh penghalang milik yokai. Namun wanita itu melewatinya dan keluar begitu mudah.


“Tuan Akio!!”


Di samping Akashi sudah berada di depan sana lagi, wanita itu telah menerobos keluar dari penghalang lalu terjatuh tiba-tiba.


“Eh?” Akashi terkejut akan keberadaannya.


“Tuan Akio! Apa yang terjadi?”


Menjawab pertanyaan Akashi, Akio hanya mampu menggelengkan kepala. Ia tak benar-benar mengerti cara untuk mengatasi yokai yang seolah tak kasat mata.


Wanita yang telah terbaring di atas tanah tersebut pun mengeluarkan asap panas. Detik demi detik, tubuhnya berubah menjadi tulang kerangka saja yang kemudian tak lama setelah itupun berubah menjadi abu.


“Ulah yokai. Tuan! Yokai-nya tercium ke luar!” pekik Akashi seraya menunjuk ke pemukiman sekitar.


Mengandalkan penciuman Akashi, bergegas Akio bersamanya pergi menuju ke tempat yokai itu bersembunyi. Di saat yang sama penghalang di sekitar kediaman Momoka telah hancur dengan sendirinya.


Bergerak lebih menjauh dari kediaman Momoka, suatu waktu Akio berhenti berlari. Spontan Akashi ikut berhenti lantas bertanya, “Ada apa Tuan?”


“Tuan ingin kau pergi ke tempat pria itu, Satsuki. Daimyo yang ada di wilayah ini,” ujar Nekomata yang muncul dari balik punggung Akio.


“Sejak kapan kau di sana?”


“Baru saja.”


“Baiklah, serahkan saja padaku Tuan Akio!” ujar Akashi bersemangat. Ia lantas pergi bersama Nekomata.


Tetapi, sosoknya tak nampak sama sekali. Akio berpikir apakah mungkin yokai tengah berada di dalam mimpi seseorang saat ini? Namun kekuatan yang dimilikinya sudah cukup besar karena telah memakan satu jiwa wanita muda serta memakan ketakutan para manusia yang ada di kediaman Momoka.


Seharusnya bukan "tak kasat mata" lagi, melainkan sosoknya akan muncul saat ini, namun sekarang tidak ada sama sekali.


“Ck!”


***


Akashi membelit tangan merahnya sendiri dengan kain lantas menemui Satsuki yang secara kebetulan orang itu sudah berada di luar kediamannya.


“Kamu ...orang yang tadi ya?”


“Ya.”


“Katakan situasinya secara singkat.”


Satsuki sudah menyadari ada yang salah dengan daerahnya sendiri, segera ia meminta untuk diceritakan perihal situasinya sekarang.


“Yokai-nya keluar dari rumah Momoka dan sekarang seperti yang kau lihat,” ucap Akashi seraya menunjuk ke langit yang memiliki gumpalan aneh.


“Hm, kurang lebih aku mengerti yang kau bicarakan.”


Satsuki mengangkat tangannya seraya berkata, “Ayo cepat!” Semua yang mengikutinya bergerak secara serentak menuju ke lokasi.


Gumpalan aneh itu adalah bentuk dari yokai mimpi, namun ini hanyalah bagian dari kekuatannya yang telah dikumpulkan cukup lama. Bukan yokai-nya sendiri.


Tak hanya membentuk gumpalan-gumpalannya saja bahkan juga wujud itu membelah dirinya menjadi kecil-kecil dan bergerak turun menyerang rumah para penduduk.


“Tak aku sangka jadi seburuk ini. Apakah dia mulai menunjukkan dirinya setelah lama bersembunyi?” pikir Satsuki merasa jengkel.


Satsuki memposisikan diri sekaligus pada pengikutnya.


Sementara itu, aura jahat telah menyebar dan Akio berusaha untuk memancing sosok yang sebenarnya akan muncul. Sekaligus ia mencari di setiap rumah yang sudah tercemar lebih parah karena aura jahat tersebut.


“Tuan Samurai! Ternyata kamu di sini?”


Muncul! Akhirnya ia menunjukkan dirinya kembali setelah Akio berada di ujung pada bagian wilayah Gama ini.


Gumpalan aneh yang menyerupai awan hitam keunguan bergerak mendekat, terdapat ekor yang bergerak seperti ikan seolah ia tengah berenang di atas udarah. Ia pula mengajak bicara pada Akio dengan wajah yang tak menentu.


“Kalau boleh jujur, aku sangat ketakutan begitu melihat topeng oni itu. Karena apa? Karena aku mendengarnya dari seseorang bahwa kau adalah musuh alami kami! Ya! Benar!”


Boleh saja bersikap sombong, namun Akio takkan membiarkannya melarikan diri setelah lama membuang-buang waktu hanya untuk yokai menjengkelkan.


Akio segera menarik pedang kayunya, lalu melompat dan kemudian menyerang di saat mengudara. Hanya dalam satu tebasan, yokai tersebut telah terbagi menjadi dua.


“Heh,”


Namun, ini aneh. Bentuknya tidak lenyap. Aura jahat kian menyebar. Akio merasakan bahwa ia telah menebas yokai tapi kenapa mereka tidak menghilang?


“Jika aku memakanmu bukan di dalam mimpi, maka aku akan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari ini,” ucap yokai itu.


Terkejut karena sosok itu masih hidup. Segera Akio melangkah mundur tuk berjaga jarak. Benda yang masih mengudara hingga saat ini pun mulai bergerak lagi dengan menjulurkan kedua bagian yang telah terpotong ke arah Akio.


“TUANNN!!”


Bersamaan dengan suara jeritan Akashi, bagian yang terpotong telah mengepung tubuh Akio, sosok samurai itu lenyap seolah benar-benar tertelan dalam tubuh yokai mimpi.


“Khe! Khe! Khe! Kerja bagus!” Sosok yokai lain yang berada di balik gumpalan pun terkekeh-kekeh.