Samurai Oni

Samurai Oni
"Aku mengandalkanmu, Retsuji."



Akio berpikir setelah melihat Retsuji, dirinya yang bisa melihat langsung wujud asli yokai itu karena adanya Retsuji. Lantas ia pun menaruh pedangnya di hadapan Nyonya Hima bersama para putranya. Tapi Nyonya menolaknya, ia justru menyingkirkan pedang Retsuji dari hadapannya.


“Keras kepala. Lihat ini!” Sekali lagi, Akio menyodorkan pedang tanpa melepaskannya, barulah wujud bayi merah terkuak.


Bayi merah dengan perangai yang jauh berbeda, seperti wajah pria dewasa serta taring dalam gigi dan dua tanduk di dahinya pun telah menjadi bukti atas wujud sejatinya oni tersebut.


“Kalian melihatnya bukan?”


Baik Haru, Higo maupun Nyonya Hima, mereka tersentak diam. Menatap sang bayi merah dengan terkejut. Mereka tak menyangka bahwa inilah wujud aslinya.


“Sudah aku duga bahwa bayi merah ini aneh. Menangis pun percuma saja, bukan?” ujar Haru menatap tajam.


Tangisan sang bayi merah yang sebelumnya terdengar nyaring begitu Akio mendekatinya pun sudah tidak lagi. Karena wujud sejatinya telah nampak, maka oni itu akan berpikir akan percuma saja jika menangis. Terlebih dengan wajah seperti itu, siapa pun akan merasa jijik melihatnya.


“Bohong, bohong. Bohong.” Nyonya Hima masih menolak apa yang dilihatnya. Ia menolak percaya bahwa bayi merah yang telah ia lahirkan bukanlah manusia melainkan oni (iblis).


“Ini tidak mungkin,” ucap Nyonya Hima sembari menggelengkan kepala.


“Khe, khe, khe ...kalian semua mudah tertipu. Tapi ya sudahlah. Aku cukup puas, dan aku juga telah mengumpulkan kekuatan dari mereka semua.” Oni itu berbicara.


“Kakak, kalau dia bukan adik kita lalu siapa?” Higo bertanya.


Haru menjawab, “Dilihat sekali saja sudah jelas dia itu yokai-oni. Oni!”


Dengan menunjukkan wujud sejati bayi merah, Akio berharap setidaknya mereka takkan melindungi bayi merah tersebut. Lalu, akan mudah bagi Akio untuk menebasnya, bahkan ia juga sudah bersiap-siap sekarang.


Tetapi, yokai yang menghalanginya benar-benar keras kepala. Ia hendak menyerang Akio secara sembunyi-sembunyi. Meski pada akhirnya mustahil, Akio menarik pedang kedua miliknya—Onryou (roh pendendam), menebas cukup sekali tanpa mengenainya langsung, hanya kekuatan dari roh pendendam bagai sabit angin yang langsung melukainya.


Buru-buru Akio kembali menyarungkan pedang Onryou sebelum pedang itu bergerak sesuka hati. Kedua taring pada sarung pedang akan menahan kekuatan roh pendendam itu lagi.


'Eh? Orang seperti dia memegang pedang beraura jahat? Mana mungkin.' Sebaliknya, yokai wanita yang tak bisa mengelak, ia terhenyak lantas terkejut akan pedang yang dimiliki oleh Akio. Seolah-olah pedang seperti itu takkan mungkin dimiliki oleh orang seperti dirinya.


“Dia sungguh berbeda dari yang dulu. Bahkan lebih galak dari sebelumnya. Ya ampun, apakah seharusnya dari awal tak usah ikut campur? Lagi pula, oni rendahan seperti bayi merah bukanlah musuh kuat baginya bukan?” gumam yokai wanita, ia mengubah dirinya menjadi puluhan kupu-kupu. Mereka semua terbang dan kemudian menghilang dalam gelapnya langit ini.


“Kalian semua sudah melihatnya bukan?” Akio sekali lagi bertanya.


“Mana mungkin aku tidak lihat, karena sudah sejelas ini. Ibu! Lepaskan bayi merah itu darimu!” seru Haru.


“Bodoh. Itu sudah terlambat. Samurai O—!”


SLASH!!


Satu tebasan sependek lengan pria dilancarkan, tanduk yang hendak menusuk tubuh Nyonya Hima kini telah terpotong.


“Sudah aku bilang terlambat!” seru Oni. Ia mengeluarkan sulur-sulur tanaman dari tubuhnya, hendak melahap Nyonya Hima.


“Justru itu kau!” sahut Akio, untuk yang kedua kalinya ia menebas bagian dari tubuh Oni dengan Retsuji. Tak sampai itu, ia beralih menggunakan punggung pedang tuk mendorong bayi merah menjauh dari Nyonya Hima.


“Hah?! Tunggu ...hentikan.” Nyonya Hima masih syok, terlihat ia masih enggan melepaskan bayi merah, ia menjulurkan lengan hendak meraih namun Akio menurunkan tangan Hima.


Lantas berkata, “Dia bukan bayimu.”


Sulur-sulur tanaman yang tersisa perlahan juga membentuk sesuatu, menjadi senjata bagi si Oni.


“Kau sudah tahu konsekuensinya bukan?!” pekik Oni.


Sembari membalikkan pedang Akio membalas ucapannya, “Harusnya kata-kata itu berlaku untukmu.”


“Sejak tadi kau bilang bahwa aku terlambat menangani dirimu, tapi kenyataannya justru sebaliknya bukan?” imbuh Akio.


“Tidak. Itu benar.”


“Terlambat apanya?”


“Kalau aku bilang kau terlambat menyelamatkan Ibuku?”


Mendengar hal itu, spontan Akio menoleh ke belakang. Betapa ia sangat terkejutnya mendapati tubuh Nyonya Hima hampir tertutup oleh sulur-sulur tanaman.


Ia mengalihkan pandangannya, dan itu membuat celah besar tak terkira. Oni mampu menangkap Akio dalam keadaan lengah.


“Tertangkap kau. Nah, sekarang, jadilah satu denganku, Samurai Oni!”


Ada perasaan ngeri di balik punggungnya yang dingin, satu tanduk maupun taring di antara barisan giginya pun mampu membunuh Akio dalam sekejap. Berbagai ilusi pemikiran mengenai Oni yang akan melahapnya, dengan cepat Akio menepis semua itu.


Sejenak terdiam dengan satu langkah kaki yang menjauh, Akio memutar pegangan pedangnya seperti sedang memegang pisau kecil, lalu menusuknya dan kemudian mengangkat bilah pedang itu hingga membuat tubuh Oni terbelah menjadi dua.


“Oni seperti dirimu, benar-benar tidak cocok untuk hidup apalagi melahapku!” seru Akio berbalik badan, kembali ia melancarkan serangan berupa satu tebasan, kali ini Akio membuat tubuhnya kembali terbagi menjadi tiga.


Tanpa mengetahui bahwa Oni itu sudah tiada atau belum, Akio berbalik badan sekali lagi. Ia berlari menghampiri Nyonya Hima yang sudah tertutup sulur-sulur dalam keadaan terbaring.


“Aku mengandalkanmu, Retsuji!”


Lalu, bilah pedang Retsuji miliknya yang dipenuhi cahaya api kebiruan menghujam tubuh Nyonya Hima tanpa berpikir ulang lagi. Akio melakukannya bukan karena ingin membunuh, terlebih ia percaya bahwa Retsuji hanyalah akan melenyapkan segala "kejahatan".


“IBU!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA IBUKU?!” Higo berteriak histeris, ia menangis dan menjerit ketakutan dengan kedua tangan yang gemetaran.


Sementara Haru tercengang, ia tak bisa melepaskan pandangannya dari sang Ibu, yang di mana perlahan-lahan sulur tanaman tersebut menyusut. Memperlihatkan kondisi sang Ibu tanpa adanya setitik darah pun, namun bilah pedang masih tertancap di bagian perutnya.


“SAMURAI ONI!!! KAU ....KAU!!!”


Ternyata benar bahwa Oni itu belumlah tamat riwayatnya. Ia memulihkan tubuhnya untuk pertama kali sekaligus untuk yang terakhir kalinya. Terlihat jelas bahwa sulur-sulur tanaman yang sempat tertanam dalam tubuh Nyonya Hima adalah bagian dari Oni yang terus-menerus menghisap energinya.


“Tenanglah. Ibu kalian baik-baik saja,” kata Akio sembari menarik pedangnya.


DUUM! DUUM!


Kedua tapak kaki bergema dalam dunia ilusi, memperlihatkan kemarahan sang Oni yang sudah berada persis di belakang Akio.


Di balik topengnya ia tersenyum masam, kemudian berkata, “Apa kau puas meminum asi dari Ibumu?”