Samurai Oni

Samurai Oni
NEKOMATA



Kejadian janggal telah terjadi di rumah sepetak yang bobrok satu itu.


Patung kucing yang berwarna emas dengan tangan kanan yang terangkat ke atas, disebutkan bahwa patung tersebut membawa keberuntungan, menggelinding tepat ke hadapan Akio.


Wujudnya yang kaku, semula dikira patung biasa namun begitu Akio hendak meraihnya, patung tersebut bergerak dan bersuara layaknya seekor kucing.


“Salam kenal, aku Nekomata. Baumu nyaman, jadi aku ke sini, miaww.”


“AAAAAAA!!!”


Si rubah berteriak histeris ketakutan, sampai ia tak sadar dirinya melompat ke pelukan Akio yang berada di dekatnya. Akashi pula terlihat ketakutan, ia menabrakkan punggung ke dinding belakang dengan memperlihatkan wajah paniknya.


“Ini tidak mungkin. Mana ada patung kucing yang bisa berbicara!” teriak Akashi menolak kebenaran di depan mata.


“Tidak, tidak! Ini pasti siluman! Aku yakin itu!”


“Yokai! Dia harus segera dibunuh! Sekarang juga, Tuan Akio!!”


“Eh? Kenapa kedatanganku seperti ditolak begini?” tanya Nekomata dengan bingung.


Jeritan mereka berdua pun tentu saja terdengar oleh si kakek yang tengah beristirahat di atap.


“Hei, bocah! Kenapa kalian berisik sekali?!” teriaknya dengan marah sambil menggedor dinding.


Kucing itu kemudian kembali menjadi patung ketika kakek menunjukkan batang hidungnya.


“Ada apa ini?”


“Ku-kucing! Bicara!”


“Apa? Ngelantur apa kau? Dasar mahluk setengah-setengah.” Lantas pergi setelah merasa tak ada kejanggalan, sembari ia memukul-mukul punggungnya sendiri dengan perlahan.


Setelah kakek kembali ke atap, patung itu kembali mengubah wujudnya menjadi seekor kucing.


“Aku merasa akan jadi bahaya kalau pria tua itu tahu sesuatu tentangku,” ujar Nekomata.


“Hei! Siapa kau sebenarnya?!” tanya rubah seraya menunjuk, namun dalam posisi yang sama ia masih berada dalam dekapan Akio.


“Rubah! Kau jangan terus-terusan menempel pada Tuan Akio! Minggir sana!” Akashi yang tak rela, tengah berusaha menyingkirkan si rubah dari Akio.


“Be-berisik! Diamlah! Aku hanya ingin di sini dan lebih baik kau diam saja!”


“Kau ketakutan hah? Dia 'kan cuman kucing! Buat apa kau takut?” sindir Akashi.


“Aku tidak ketakutan!” sangkal si rubah dengan penuh kebohongan.


“Aduh, duh. Aku jadi merasa bersalah pada sejenisku. Maaf, ya. Samurai Oni?” ucap Nekomata meminta maaf.


Akio sejenak diam, ia tak begitu mengerti kenapa bisa ada patung semahal ini di dalam rumahnya sedangkan untuk makan sehari-hari saja ia harus bersusah payah. Terlebih kucing ini bisa bicara dan aneh.


Kucing berwarna keemasan itu pula mengajak Akio berbicara.


Akio lantas bertanya dengan memberikan tulisan di telapak tangan kucing itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


“Baumu sangat enak. Ah, maksudku, aku merasa nyaman saat berada di dekatmu, Samurai Oni. Maka dari itu aku menunggumu di sini,” jawabnya.


"Kau yakin tak salah rumah?"


“Tidak.” Ia menggelengkan kepala.


"Kau mahluk sama seperti dua orang gila di sampingku?" Kembali ia bertanya.


“Ya, kurang lebih begitu, miaw.”


Sesekali kucing ini mengelus dan menjilat kaki depannya sendiri, terkadang pula ia merenggangkan kaki depan dan belakang secara bergantian. Persis seperti kucing biasa pada umumnya.


“Tuan Akio, kenapa dia bisa bicara?” tanya Akashi sembari bersembunyi di balik punggung tuan-nya.


“Manusia?”


“Bodoh! Dia sama seperti kita,” sahut rubah.


“Aku ini manusia,” ucap Akashi seraya memalingkan wajah.


“Terserah bagaimana anggapanmu tentangku. Tapi aku takkan menyakiti manusia, karena aku baru saja ditolong olehmu, Samurai Oni,” ungkap Nekomata seraya berjalan mondar-mandir di depannya.


Akio, rubah dan Akashi memiringkan kepala secara bersamaan. Tanda tak mengerti sejak kapan sosok Samurai Oni pernah menyelamatkan kucing tersesat ini.


“Sekitar dua hari lalu, aku berada di dasar sungai yang memiliki arus deras, karena kakiku terjepit aku tidak bisa bernapas selama berjam-jam di sana.”


Nekomata berhenti bergerak, lalu terduduk menghadap Akio. Kembali ia menjelaskan, “Kupikir aku akan mati. Lalu kemudian munculah yokai hitam di dekatku.”


"Aku tidak menyelamatkanmu sama sekali." Itu kata Akio yang diutarakan melalui tulisan bayangan pada Nekomata.


“Tidak, Samurai Oni, kamu telah menyelamatkanku. Mati karena kehabisan napas atau mati dimakan oleh sejenisku, dua-duanya sama-sama buruk.”


“Apa sih maksudnya?” tanya Akashi dengan jengkel.


“Diamlah!” teriak rubah sama kesalnya.


“Tetapi, kamu telah melenyapkan yokai hitam itu sekaligus batu yang membuat kakiku terjepit. Karena itulah aku harus berterima kasih padamu,” tutur Nekomata.


Penjelasan itu sejujurnya masih membuat Akio bingung. Ia sama sekali tidak menyadari keberadaan kucing ini, tapi secara tak sadar pula menghancurkan batu di dasar sungai bersamaan dengan menebas sosok yokai terkutuk.


Jika memikirkan kemungkinan itu, ditambah lagi yokai yang ia tebas bukanlah yokai biasa, Akio jadi memahaminya.


"Kau bukan musuh?" Sekali lagi Akio bertanya.


Dan rubah yang ikut membaca tulisan bayangan tak langsung itu lantas menyahut, “Aku berpikir dia sama seperti kita. Tapi kalau tujuannya hanya berterima kasih bukankah aneh?” pikirnya.


“Iya, benar. Dan lagi dia bilang kalau bau Tuan Akio itu enak. Jangan-jangan dia berniat untuk memakan Tuan Akio?” celetuk Akashi menduga-duga.


“Kalau kau sendiri bagaimana? Kau punya tangan merah aneh itu, tapi tak ada keinginan untuk melahapnya?” sahut si rubah.


“Harusnya aku yang tanya begitu. Kau sendiri, kenapa?” balas Akashi seraya melipat kedua lengan ke depan dada.


“Aku 'kan sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi.”


“Seperti yang dikatakan Kitsune (rubah) itu, aku sama sepertinya. Aku tidak akan menyakiti manusia, seperti yang telah kau minta pada kitsune,” ujar Nekomata.


"Jika kau mau menyerangku, maka serang saja sekarang." Justru Akio menantang Nekomata.


“Tidak. Aku pasti sudah mati terbunuh olehmu.”


Nekomata tahu betul samurai macam Akio mana bisa diremehkan. Terlebih ia juga menjadi saksi lenyapnya yokai bertubuh besar yang berbeda level dari yokai rendahan hanya karena satu tebasan mematikan dari Akio.


"Kalau begitu apa kau tahu kenapa para yokai muncul dan menyerang negeri ini?"


“Bisa kau ulangi tulisan tak nampak darimu?” Nekomata meminta agar Akio mengulangi tulisan bayangannya.


Lekas Akio menuliskan kalimat bayangan secara perlahan agar mudah dibaca, setiap detail dari gerakan jarinya akan dilihat seksama oleh Nekomata.


Sesudah selesai menuliskan kalimat tersebut. Nekomata lantas menjawab, “Aku sendiri tidak yakin.”


“Aku juga baru saja sampai dengan cara aneh. Aku kucing tapi ada di air, kejepit pula,” keluhnya.


“Itu ganjaranmu,” ucap rubah berbisik, niat mengejek.


“Mengenai pertanyaanmu itu. Mungkin ini sedikit membantu, tapi aku tidak yakin apa yang aku katakan ini benar atau tidak,” ujar Nekomata yang sedikit gelisah dan ragu mengatakannya.


Akio menganggukkan kepala, ia tak masalah jika itu kebohongan namun setidaknya ada jalan keluar dari masalah yang menimpa negeri ini.


“Ada orang yang mengendalikan kami semua.”