Samurai Oni

Samurai Oni
MENJELANG AKHIRNYA PERTEMPURAN



Hari ke-4. Tanpa disadari oleh Akio, hari ketiga telah berakhir. Lalu sekarang, terlihat langit sudah berubah. Warna yang sangat gelap itu perlahan memudar, langit yang terang dengan awan putih kian menyebar dan menyingkirkan langit gelap.


“Bagaimana keadaannya?”


“Tidak apa-apa. Dia hanya tertidur, dan sebagian lukanya seharusnya bukan masalah.”


“Seharusnya?”


“Ya. Karena mungkin Prajurit Neraka yang sebenarnya akan muncul.”


Percakapan antara kakek tengu dan Mizunashi, nampaknya terdengar sangat berat. Akio samar-samar mendengarnya namun hanya bisa terdiam di sana sementara sekujur tubuh terasa membeku.


“Kakek Naruhaya, apakah kita harus menyembunyikannya?”


“Bukankah kalian semua sepakat untuk tidak membiarkan anak ini mati sia-sia?”


“Ya, kami sepakat hal itu. Tapi ...,”


Kakek tengu mendesah lelah, lantas bangkit dari tempat duduknya. Ia kemudian berjalan menghampiri Mizunashi, sebelum pergi ia menepuk pundaknya pelan sambil berkata, “Jaga dia.”


“Kakek mau ke mana?”


“Kakek tua renta ini, ingin keluar cari angin sebentar.” Kalimat yang terdengar meragukan. Melihat Mizunashi menatapnya dengan resah, kakek itu merasa agak risih.


“Ya ampun. Aku hanya ingin mengumpulkan mayat ke satu tempat. Toh, hari keempat berarti bencana pertama sudah berakhir bukan? Jadi setidaknya ada jeda walau hanya sedikit,” ujar kakek tengu.


“Ya.” Mizunashi menganggukkan kepala.


Sementara Mizunashi menjaga Akio. Kakek tengu pergi keluar dengan alasan hendak mengumpulkan mayat bertebaran. Namun, ia kedatangan sesuatu mahluk yang seharusnya belum datang. Yokai.


“Kau ini sebenarnya siapa? Kenapa selalu mendekati cucuku?” tanya kakek.


“Aku yang harusnya bertanya. Kenapa seorang kakek-kakek sepertimu menyembunyikan pedang di balik pakaianmu?” balasnya bertanya. Ia adalah wanita yokai dengan kimono merah nyentrik, rupanya ditutup dengan topeng oni.


“Jadi sejak awal aku ketahuan?” Kakek pun berbalik badan, dan langsung menghadapnya. Ia sangat terkejut begitu melihat yokai yang berada persis di depan matanya saat ini.


“Ya ampun.”


“Ada apa? Kau ketakutan?” Yokai perlahan mendekati kakek. Kakek justru melangkah mundur karena tahu seberapa kuatnya yokai satu ini.


“Jadi ini yang dinamakan Prajurit Neraka? Sebutan yang aneh dan mencolok. Ternyata bukan hanya julukan semata,” tutur si kakek.


Dalam sekejap, pedang si kakek dan pedang milik wanita itu saling beradu. Pedang yang memiliki ukuran sama, pendek namun juga sangat tajam. Sangat cocok dibawa ke manapun dan tidak sulit pula tuk menyembunyikannya.


“Sepertinya aku terlalu meremehkanmu, pak tua.”


“Jika kau lebih muda, maka hormatilah yang tua. Bukankah kau seharusnya menjaga etika itu?”


“Maaf saja. Mahluk seperti kami tidak perlu belajar etika.”


Hanya dengan satu tangan ia mampu menahan bilah pedang pendek si kakek. Namun tampaknya ia bukan sengaja melakukan hal itu, sebab ia menyiapkan sesuatu di balik tangan kirinya.


“Aku Oni. Iblis. Salah satu Prajurit Neraka yang harus kalian bunuh. Benar bukan?”


Ia mengeluarkan seluruh cakar yang panjang di setiap kuku pada tangan kanannya. Cakar itu berlumurkan sesuatu yang entah apa itu, namun kakek memiliki firasat bahwa cairan di ujung cakarnya adalah racun.


“Dengan wujudmu, aku akan mengambil alih. Dengan begitu akan mudah bagiku membunuhnya.”


“Takkan kubiarkan!!” Naruhaya melompat mundur ke belakang, ia melempar pedang pendek itu, lantas mengambil pedang panjang yang merupakan pedang peninggalan dari satu mayat samurai di sekitar.


“Ho, kau mau melawan? Tapi sayang sekali. Kau yang tua sudah tidak bisa melakukan apa-apa!”


Kecepatannya sudah tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Wanita iblis itu kini telah berada di depan mata Naruhaya, serta cakar beracunnya telah menembus dada yang lunak itu.


Pagi ini sudah disambut oleh yang tidak biasa. Kakek Naruhaya yang selalu mengenakan topeng tengu itu, telah terbaring lemas tak berdaya. Mati atau tidak, yang tahu hanyalah Wanita Iblis.


“Hei! Sejak semalam kau pergi ke mana saja?” Yokai bermata empat datang menghampiri.


“Oh, kau datang kemari.”


“Aku kemari lebih awal karena takut Nue akan menghancurkan rencana kita.”


“Jangan khawatir. Sebentar lagi akan berakhir, dan dia tidak akan bisa menemukanku.”


“Kalau kau itu mudah. Tapi masalahnya bagaimana denganku?”


“Pikirkan sendiri saja. Lagi pula bukankah kau pandai bersembunyi di balik "dunia"-mu sendiri?” sahut Wanita Iblis seraya membuka topeng, pakaian dan alas kakinya.


Dengan darah yang terus mengalir di kedua mata, lubang hidung, lubang telinga dan bahkan di setiap sela jari-jarinya, ia berjalan mendekati kakek tengu.


“Apa kau berniat melakukannya sekarang?”


“Ya. Karena tidak ada waktu lagi. Untuk kebebasan kita,” tuturnya seraya tersenyum kecut.


***


Senja pada hari ke-4. Akhirnya Akio benar-benar terbangun dari tidurnya.


“Di mana kakek?”


“Dia pergi keluar dari sejak siang.”


“Aku tidak mendengar suara para samurai ataupun yokai. Apa yang terjadi?”


“Begitu terbangun, itu yang kau tanyakan?”


Mizunashi menatapnya dengan sendu. Sorot mata yang lelah, sekaligus merasa ingin menangis itu tengah ditahan sekuat tenaga. Pria berambut kuncir kuda itu kemudian menceritakan kejadian selama Akio tertidur pulas akibat lelah dan luka yang dialaminya.


Awalnya, pada hari pertama dan kedua, saat Akio masih bertarung sekuat tenaga, pertempuran itu sudah menghabiskan tenaga dan kekuatan mereka. Tak hanya itu, samurai yang tewas semakin bertambah.


Lalu pada hari ketiga, di mana Akio dibuat tertidur oleh kakeknya sendiri. Pertempuran sudah mencapai puncaknya. Dalam hal ini, ada beberapa samurai kepala klan pendiri negeri yang tewas.


Seperti Sakanoue Benjiro, ia tewas karena mengalami pendarahan. Dan selama tiga hari berturut-turut, pria dengan tombaknya terus melayangkan serangan terhadap semua yokai yang mendekati area pelindung.


Lalu, Satsuki yang kehilangan kedua tangan dan kakinya. Tewas karena terinjak-injak segerombolan yokai terkutuk.


Kemudian Kazuki, akibat malam yang panjang dan turun hujan, membuat radang dinginnya semakin menguat. Ia tewas karena sisa dari kekuatan Yuki-onna (Wanita Salju).


Tak luput pula dengan klan-klan kecil yang habis dibantai. Tidak terlewatkan pula dengan para anak buah mereka, termasuk dari pengikut klan pendiri. Termasuk Mizunashi Kage, sekarang hanya tersisa ia sendiri. Keluarganya yang aktif dalam medan pertempuran telah dihabisi. Menyisakan Mizunashi Kage seorang yang dalam keadaan terluka di bagian organ dalamnya.


“Begitu. Aku turut berduka. Tapi—”


“Ini belum berakhir. Kau sudah tahu ini akan terjadi bukan? Leluhur,” sahut Mizunashi dengan senyum masam.


“Leluhur? Apa maksudmu memanggilku begitu? Aku hanya Samurai yang kebetulan menyandang julukan aneh.”


Akio beranjak dari alas tidur seadanya itu. Ia bangkit dengan kedua kakinya dan mengambil kedua pedang menggunakan kedua tangannya yang masih utuh.


“Aku sangat mengkhawatirkan kakek. Kira-kira dia pergi ke mana?” tanya Akio.


“Entahlah. Aku bahkan tidak tahu.”


“Begitu? Kalau begitu aku akan mencarinya sendiri.”