
Pertempuran di kota Tama, telah dilalui oleh Uchigoro Tamura beserta para samurainya. Melawan Migi-Hidari yang seharusnya tidak mudah dikalahkan, namun muncul suatu keanehan ketika Uchigoro mampu membinasakan Migi sendirian.
Setelahnya, Uchigoro langsung memahami bahwa Migi-Hidari tak bisa dikalahkan hanya dengan sekali saja. Melainkan dua yokai Migi dan Hidari harus diserang secara bersamaan.
Uchigoro menggunakan pedangnya, dan ia pun membiarkan cakar milik Migi mengoyak pundak ke bagian bawahnya. Sementara Kizu mengalami kesusahan dalam menggunakan pedang, namun dirinya kemudian beralih wujud ke seekor rubah lalu menggigit leher Hidari.
Pertempuran itu pun akhirnya berakhir dengan sebenarnya.
“Syukurlah, tepat waktu. Hei—”
Uchigoro Tamura menoleh ke belakang, lantas terdiam karena terkejut Kizu sudah tidak ada. Tampaknya Kizu sudah pergi dari sana, karena itu akan menyebabkannya rugi nanti.
“Eh, ke mana perginya? Ah, tapi ya sudahlah. Toh, dia tidak punya niat membunuh padaku ataupun yang lainnya. Kecuali, sesama yokai seperti dirinya,” ujar Uchigoro.
***
Salah satu dari Prajurit Neraka berhasil dikalahkan. Lalu, di kota Kama. Menurut isi ramalan, salah satu dari prajurit neraka sisanya akan muncul di area latihan yang seringkali digunakan oleh Sakanoue Benjiro, Daimyou di wilayah ini.
Berada di belakang kediamannya langsung, terdapat sebuah hutan kecil dengan air terjun mengalir ke sepanjang jalan antara bagian daerahnya.
Di sana ia tidak ditemani oleh siapa pun. Bahkan seluruh pasukan miliknya tidak ada, ia sengaja mengirim mereka semua ke tempat yang lebih membutuhkan.
“Hm, yang datang adalah yokai berwujud ...,”
Sakanoue Benjiro tengah menanti kedatangan satu mahluk yokai. Dan baru saja ia gumamkan namanya, yokai tersebut pun muncul.
“Peramal itu merepotkan. Bisakah kau memberitahuku?” tanya seorang wanita dengan bunga mekar yang cukup besar berada di belakang punggungnya. Ia muncul setelah desiran angin muncul di hadapan air terjun. Wanita itu berdiri dan berpijak di atas bebatuan.
“Sayang sekali, aku tidak bisa mengatakannya pada mahluk yang bukan manusia seperti kau.” Sakanoue beranjak dari tempat meditasi biasanya. Tubuh yang basah itu masih mampu berdiri di atas batu yang licin, sembari ia memegang senjata berupa tombak panjang.
Wanita yang memiliki bunga besar itupun lantas melompat mundur, dan berpijak pada tanah.
“Ah, aku lupa bilang. Di sana, ada peledak yang barusan kutanam,” ujar Sakanoue seraya menunjuk.
DUARR!
Ranjau darat, peledak di dalam tanah sudah bereaksi lebih cepat dan kini meledak di bawahnya persis. Sakanoue Benjiro tersenyum tipis untuk sesaat, bukan karena merasa beruntung karena mengalahkannya melainkan karena yokai tersebut sudah lebih dulu menghindar.
“Aku tidak akan semudah itu cepat dibereskan seperti yang lain.”
“Hana. Wanita yang mengerikan.”
Sakanoue melompat dari sana, melayangkan serangan ketika dirinya masih melayang. Dari atas, ujung tombak siap menusuk musuh. Hana dengan sigap menghindarinya sementara ujung tombak tertancap pada permukaan tanah.
“Menyerang secara gegabah itu tidak akan membuatmu dapat menghabisiku loh?”
“Aku sudah tahu itu. Tapi bagaimana ya? Aku menyerang tidak secara gegabah. Dari awal aku tidak berniat menyerangmu dengan tombak.”
“Hah?”
Salah satu jari Sakanoue bergerak aneh. Lalu, tanpa disadari sebuah batang pohon meluncur tepat berada di belakang Hana. Hana yang tak sempat mengelak, ia terdorong ke depan dan semakin mendekati posisi Sakanoue.
“Susah-susah menghindariku, kau sekarang memilih untuk mendekat?”
“Eh?”
Anehnya, semua sulur itu tidak menyerang dari depan langsung.
“Belakang?” pikir Sakanoue, ia menoleh ke belakang guna mengantisipasi trik Hana.
Terdengar tawa kecil dari dalam tanah, setelahnya serangan datang dari dalam tanah itu sendiri. Lebih tepatnya berada di bawah kedua kaki Sakanoue.
“Wah?!”
Betapa ia terkejut, semua sulur milik Hana telah mengepung jalan kabur Sakanoue, dan sekarang sulur-sulur yang barusan keluar dari dalam tanah tampak membawa sesuatu.
“Aku membawa barang mainanmu yang tidak berguna ini. Lain kali, jangan bawakan sesuatu yang bisa menghasilkan pupuk ya,” ucap Hana. Ia melepas semua sulurnya dan kembali ke tanah sementara peledak itu telah berada di atas kepala Sakanoue.
“Gawat! Aku tidak bisa menghindar! Aku akan hancur jika benda itu mengenaiku!!” teriak Sakanoue, dengan wajah paniknya.
Ia tak menyangka bahwa Hana akan memakai trik-trik seperti ini.
“Hahaha! Sudah berakhir. Salah sendiri kau berada di lahan subur ini. Apa kau tahu? Aku ini adalah Hana (bunga), tanah dan air adalah segalanya bagiku. Termasuk sinar mentari yang ...ah, aku lupa.”
Hana mendongakkan kepala dan sekali lagi berkata, “Hari ini cuacanya mendung. Musim hujan kah?”
Ledakan kedua terjadi tepat di atas kepala Sakanoue Benjiro. Kepulan asap di sekitar justru semakin menambah bahkan hingga memenuhi sumber air di air terjun yang berada di dekatnya. Hana berpikir bahwa Sakanoue telah tewas akibat ledakan yang berasal dari senjatanya sendiri.
“Hah! Senjata makan tuan, memang yang paling cocok dijadikan untuk pembalasan.”
Itulah yang dipikir oleh Hana. Dirinya terlalu sombong sehingga tak berpikir bahwa ada kemungkinan Sakanoue masih hidup saat ini.
“Itu memang benar.” Suara dari pria si ahli tombak dan ledakan terdengar di telinga Hana. Bunga yang mekar itu pun kian membesar seolah dijadikan telinga untuknya.
“Bunga sepertimu akan lebih cocok bertarung di atas tanah yang subur. Kaya akan air, dan sejenisnya. Meski begitu cuaca hari ini tidak begitu mendukung.”
“Hah? Suara itu kau? Atau suara dari alam baka?” Nampaknya Hana masih belum bisa melihat pergerakan Sakanoue yang masih tersembunyi di balik kepulan asap.
Sebenarnya asap itu berasal dari debu berterbangan akibat ledakan yang barusan, sekaligus bom asap milik Sakanoue sendiri. Ia sengaja menambah asap agar dirinya tidak mudah terlihat ketika bergerak.
“Ini aku, Sakanoue Benjiro! Aku Daimyou di Kama. Tanah dan air memang menguntungkanmu, tapi bagaimana jika kutambahkan sedikit racun di dalamnya?”
Lalu, asap yang belum hilang itu. Lagi-lagi muncul di bagian air terjun, namun asap itu berwarna keunguan. Hana yang bingung, lantas bergerak merayap ke dahan pepohonan.
“Ha, masih tidak bisa aku lihat dengan benar. Jangan bilang selama ini dia bersembunyi di balik asap. Sengaja mengecohkanku?”
Hana pun turun dari sana, ia kembali menyusup ke dalam tanah sebagai akar tanaman. Mencoba untuk melakukan hal yang sama pada Sakanoue seperti sebelumnya.
Tapi,
“Kau sungguh bodoh, hei mahluk aneh! Tadi aku sudah bilang kalau aku menambahkan sesuatu bukan?”
Kepulan asap telah menyusut, selain asap hitam yang keluar melalui pori-pori tanah. Air yang terkontaminasi akibat racun, begitu pula dengan tanah di dalamnya telah membuat Hana membusuk.
Meski begitu, Sakanoue sudah terluka amat parah akibat ledakan sebelumnya. Ia benar-benar nyaris dikalahkan dan nyaris mati.