Samurai Oni

Samurai Oni
SELAMAT TINGGAL



Honjou Eno, pria ini adalah kepala keluarga di klan Honjou ke-2. Diketahui Honjou Ryo, selaku yang pertama dan bagian dari pendiri negeri sudah lama meninggal akibat faktor usia.


Dan sungguh amat disayangkan apabila orang yang mengenal Akio justru telah mati lantas yang keturunannya malah berbalik. Honjou Eno membenci Samurai Oni sekaligus Akio, entah apa yang menghasutnya hanya saja ia benar-benar membenci Akio.


“Ketemu kau, Samurai Oni!!”


Karena itulah, begitu ia bertemu Akio, ia langsung melupakan tugasnya di sana. Ia mengejar Akio sembari berteriak pada seluruh penduduk yang ada di sekitarnya.


“Hei, kalian semua! Pria itu adalah Oni! Dia adalah yokai! Dialah dalang dari semua keganasan ini!”


Sungguh pria yang tidak punya etika, ia langsung menuding Akio hanya karena benci kepadanya.


“Apa katanya? Oni?”


Sontak saja semua orang terpengaruh kata-kata Honjou. Namun lain cerita jika para pengikutnya, mereka tampak kebingungan.


“Tuan, apa yang Anda katakan?”


“Lihat saja! Oni itu sudah tidak bisa menginjak tanah ini lagi. Persetan dengan perubahan hukuman, akan aku buat dia menderita lebih lama!”


“Tuan, beliau itu—”


“Ah! Sudah! Jangan banyak omong!” sahut Honjou berteriak, merentangkan tangan kanannya dan menyuruh ia menyingkir dari sana.


Akio yang disebut-sebut lantas berhenti di tempat. Sementara bayangan hitam belum lagi terdeteksi setelah lama menjelajahi berbagai sudut di setiap tempat di kawasan ini.


“Hei, kau! Kau adalah dalangnya bukan! Karena itu—”


“Sudah cukup!”


Honjou baru saja memulai pidato menyedihkannya. Tapi, Uchigoro, Mizunashi, Satsuki, Sakanoue dan beberapa kepala klan masing-masing datang sebagai pendiri negeri ini. Kecuali Shogun yang saat ini masih berada di kastil.


Mereka menghentikan tindakan Honjou yang kelewat batas, agar tak mencemari nama Akio lebih lanjut lagi.


“Ada apa ini? Kalian semua memihaknya? Memihak Oni?”


“Apa yang kau bicarakan? Jangan bilang kau lupa dia siapa.”


“Heh, omong kosong tentang pahlawan itu lagi? Jangan bercanda!” Honjou tidak peduli dengan ramalan dari pendeta kuno yang seolah-olah membuat diri Akio lebih spesial darinya.


“Jangan mengatakan itu di depan umum.”


“Benar! Jangan memperkeruh suasana.”


“Kalian lah yang memperkeruhnya. Oni ini lah yang menjadi penyebab para yokai mengamuk dan terus berdatangan ke negeri ini!” sentak Honjou.


“Sudahi candaanmu ini, Honjou Eno!” pekik Uchigoro seraya mencengkram kerah pakaiannya.


“Dasar paman-paman tua. Kalian sudah lama hidup dan ingin menguasai seluruhnya? Dan apa-apaan dia! Memakai topeng Oni—”


SLASSSHH!


Kalimat Honjou terpotong, lidahnya sempat terhenti karena ayunan pedang Akio yang terlihat seperti sedang menebas dirinya.


“A-apa?”


“Bayangan hitamnya sudah mulai berkurang. Hei, Honjou Eno! Cepat bereskan tugasmu!”


Uchigoro menubruk pundak Honjou dengan keras, beberapa patah kata ia utarakan dengan berbisik pelan yang nampaknya adalah ancaman.


Setelah itu Honjou diam membeku di hadapan Akio, dengan tatapan yang masih sangat membencinya itu.


“Samurai Oni, mungkin kau adalah buronan palsu tapi aku percaya padamu,” ucap Mizunashi.


“Hei! Dia itu sudah dibuang, buat apa percaya padanya!” Sekali lagi ia berteriak seraya menunjuk Akio, seakan memang tak mau menerima kekalahan.


Akashi yang melihat kejadian itu, sontak tak bisa berdiam diri lagi. Merasa tuan-nya direndahkan, lantas ia berlari keluar dan tak mengindahkan peringatan Akio dan Kizu sebelumnya.


“Tuan!!” teriaknya memanggil seraya mengulurkan kedua tangan ke depan.


Beberapa dari kepala klan pendiri yang masih berada dekat dengan Akio, sontak terkejut dan agaknya mulai berwaspada.


“Dasar yokai-oni itu! Dia memang minta dibunuh rupanya ya,” gerutu Kizu yang tetap bersembunyi.


Akashi memegang kedua pundak Akio, dan nampaknya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan padanya.


“Tuan Akio, aku mencium bau aneh di bangunan paling tinggi itu!” ungkapnya seraya menunjuk ke bangunan yang dimaksud adalah kastil Hatekayama.


Satsuki dan Mizunashi yang mendengarnya pun terkejut.


“Biar aku yang mengurus pria kurang ajar itu. Dan maaf aku harus melakukan ini pada Tuan Akio,” imbuh Akashi berwajah sedikit resah.


Akashi memang berotak kosong, istilahnya ia akan menghajar langsung namun berhubung tuan-nya sedang dalam masalah dan terhambat karena Honjou, serta indera penciumannya pun menangkap sesuatu, maka ia harus melakukan dua hal ini secara bersamaan.


Setelah memberitahu kejanggalan di kastil, segera Akashi membanting Akio tuk menjauh dari para kerumunan samurai itu.


“Hah! Dia melempar Samurai Oni?” Satsuki tercengang.


“Dia ...tunggu, di kastil ada sesuatu yang telah terjadi!”


Akio setidaknya berhasil menjauh dari sana berkat lemparan Akashi yang sangat mantap ini. Namun bukan berarti ia akan berpasrah diri hingga punggung menyentuh, sebelum itu terjadi, Akio segera memposisikan diri agar dapat mendarat mulus dengan kedua kakinya.


Dan tak menunggu lebih lama lagi, segeralah Akio menuju kastil, karena ia pun berpikir bahwa Mikio mungkin saja ada di sana.


Ia berlari cepat tanpa alas kaki, dengan pedang kayu di tangan kanannya, segera ia menyerbu ke lantai atas tempat di mana Shogun biasa beristirahat. Menyerbu masuk tanpa peduli dengan banyaknya pelayan di sepanjang lorong dan anak tangga.


Sedikit lagi Akio akan sampai, dan ketika melihat pintu ruangannya terbuka lebar, Akio merasakan firasat yang tidak enak. Karena merasa akan buruk, Akio mempercepat langkah larinya.


Dap!


Hentakan kaki keras mengagetkan Mikio dan Shogun di dalam.


“Ada apa, Akio?” tanya Shogun terkejut, lantas beranjak dari tempat duduknya.


Dalam sekejap, Akio langsung menyerang Mikio tanpa memperlambat langkah kakinya. Pedang kayu itu diayunkan secara vertikal.


“Huh, langsung menyerang dengan pedang kayu? Sungguh mengesankan juga kau masih bisa bergerak,” ucap Mikio menyeringai sinis.


“Tunggu sebentar! Ini ada apa? Akio, hentikan seranganmu pada Mikio!”


Tepat untuk yang kedua kalinya ia mengayunkan pedang setelah Mikio berhasil menghindar, gerakan Akio terhenti oleh perintah Shogun Hatekayama.


“Aku menunggumu loh, Akio. Makanya aku sengaja membiarkan Shogun tetap hidup sebentar,” ucap Mikio, melirik Shogun.


Berhubung target yang telah diincar ada di depan mata, mana mungkin Mikio akan membiarkan Shogun terus membuka mata padanya. Pria itu langsung melesat ke arah Shogun lantas menghunuskan pedang padanya tanpa ada keraguan sedikitpun.


“Selamat telah bertahan hidup, Shogun Hatekayama.”


“Mi ...kio?”


Mikio melompat mundur dan kemudian bayangan yang dimiliki oleh Shogun sendiri bergerak ke atas dengan terbagi menjadi beberapa bagian yang kemudian menyerang Shogun dari segala arah. Menghujam tubuhnya seperti bilah pedang.


“Selamat tinggal, Shogun. Lalu Akio!”


Hanya satu langkah saja seharusnya Akio berhasil menyelamatkan Shogun, tapi ia terlambat. Ia kalah cepat, dan kini hanya mampu berdiri di hadapan jasad Shogun dengan pedang hitam di tangannya yang entah sejak kapan itu ada.


“Shogun Hatekayama!” teriak Mizunashi histeris.