
Wilayah Kuran, Pemakaman.
Akio bersandar di punggung nisan milik seseorang yang ia kenal, bersama dengan Akashi, Kizu, Nekomata dan Yasha. Mereka duduk bersama sembari memberikan informasi yang terkait dengan yokai dan negeri itu.
“Rumah Tuan Akio dibakar oleh para penduduk. Lalu pria tua yang memakai topeng tengu, aku tidak mengetahui keberadaannya.”
Berita terburuk dari yang terburuk justru diutarakan paling awal dari berita buruk lainnya. Satu-satunya rumah yang Akio miliki, tinggal bersama dengan kakeknya kini telah hancur, terbakar oleh api dan hangus menyisakan abu hitam.
Seolah mereka ingin mendirikan makam untuk Akio, rumah sepetak yang tak ada harganya bagi banyak orang itu adalah harta bagi Akio, namun sekarang sudah tidak ada.
“Untuk saat ini akan lebih baik jika tidak pergi ke mana-mana. Di samping banyak orang akan datang mengejar, kita semua tidak punya tempat untuk kembali.”
“Ya, aku tahu.”
Akashi, Kizu dan lainnya tersentak kaget, sebab mereka jarang-jarang sekali mendengar suara Akio secara langsung dan barusan ia angkat bicara yang menandakan bahwa Akio tengah mendengar perbincangan mereka.
“Syukurlah, Tuan Akio ...,”
“Sepertinya jarang sekali kamu berbicara, ya. Namun sekalinya angkat bicara, membuat semuanya terkejut,” ucap Yasha sedikit tertawa kecil.
“Tuan Akio memiliki larangan karena beberapa hal. Jadi maklumi saja, Yasha.”
“Saya mengerti.”
“Ngomong-ngomong kenapa sejak tadi cara berbicaramu sopan sekali?”
“Seharusnya kau menirunya, bukan malah bertanya kenapa dia begitu,” tukas Kizu.
Banyak hal yang sudah terjadi, sebagian dari penjelasan Nekomata sudah diperkirakan oleh Akio sejak ia tersadar di wilayah Kuran. Tetapi, apa pun yang telah ia alami, tetap tak membuatnya bertanya kenapa dirinya diselamatkan.
Akio hanya berpikir untuk maju, maju lebih ke depan tanpa ragu. Karena sesekalinya ia menengok ke belakang maka dirinya akan hancur.
“Samurai Oni, Yamamoto Akio, benar 'kan?”
Sejak tadi, setelah Nekomata menjelaskan beberapa hal tentang situasi dalam negeri, Akashi dan Kizu yang selalu bertengkar kini mendadak berhenti. Lantaran mendengar Yasha menyebut nama lengkap Akio padahal sejak tadi tak ada seorang pun yang memberitahukannya soal itu.
“Yamamoto Akio?” Akashi bertanya, bingung.
"Itu nama yang sudah lama aku buang." Tulisan tangannya di atas pasir mengungkap.
“Oh, begitu 'kah? Sedikitnya saya mengerti. Saya mengerti sebagian tentang kamu, Samurai Oni. Sebutan ini sudah lama ada semenjak kamu diasingkan, benar?”
Akio menggangguk dan kembali bertanya, "Siapa yang memberitahumu? Dan siapa kau sebenarnya?"
Yasha tersenyum. “Banyak orang yang menghadari pemakaman untuk berduka, setiap tahun bahkan setiap sehari pasti ada. Dan salah satunya adalah orang yang sangat dikenali olehmu, Yamamoto Akio.”
Sorot mata Yasha yang cerah sedikit mengingatkannya pada Mikio. Saat melihat itu Akio jadi memikirkan banyak hal tentang Mikio dari pertemuan pertama dengannya hingga terakhir itu.
“Dia adalah pria yang berani. Lalu sekarang kamu sedang bersandar di punggungnya.”
Spontan Akio berbalik badan, ia berjalan merangkak lantas duduk menghadap nisan bagian depan. Tertera satu nama yang tidak asing.
“Kamu pasti mengenalinya bukan? Yamamoto Akio. Pria itu terdampar ke wilayah ini sekitar 7 tahun yang lalu.”
"Mikio"
“Kakak.”
Betapa bodohnya ia sampai tak sadar nisan siapa yang ia gunakan untuk bersandar. Tindakan tidak sopannya ini patut dihukum. Akio menangis ketika melihat nama itu, nama yang sangat ia rindukan telah berubah menjadi batu nisan yang sejujurnya tidak lebih dari sekadar batu biasa.
Yasha Manabu, sosok pria asing yang berpakaian lebih rapi dari lainnya. Seperti bagian dari kastil, pria ini memiliki etika yang jauh lebih baik.
Tetapi, Yasha bukanlah manusia melainkan sama seperti Akashi dan lainnya.
Yasha mengungkap, “Saya mengetahui hal ini dari pria itu sendiri. Tapi sayang sekali dia tidak bisa diselamatkan setelah melawan yokai pengendali.”
Lalu mengaku, “Saya tahu. Dari banyak orang yang berdatangan ke makam ini. Kebanyakan dari mereka membicarakanmu sebagai orang yang kehilangan akal sehat, dan ada pula yang menganggapmu sebagai pahlawan.”
“Orang datang untuk berduka sekaligus membicarakan tentangmu dan tentang hal-hal lainnya yang berkaitan dengan mereka juga,” imbuh Yasha.
Akashi menarik bagian kerah pakaian dari Yasha, ia membentak, “Jangan berbicara yang membuat Tuan Akio menangis! Dia sedang kesakitan tahu!”
“Hentikan, Akashi! Yasha hanya mencoba memberitahukan apa yang ingin diketahui oleh Tuan Akio,” kata Kizu seraya menarik-narik tubuh Akashi agar dapat menjauh dari Yasha.
Meski kesakitan, ia menangis, namun hanya dengan cara itulah ia bisa meredam emosi pada yokai yang telah mengendalikan jasad Mikio. Ada rasa ingin membabat habis mereka tanpa peduli apa pun lagi, namun ia tak ingin jadi "Oni", yang sebenarnya karena Mikio pun takkan menginginkan Akio menjadi seperti ini.
“Dia pernah bilang padaku, bahwa Yamamoto Akio akan menjadi lebih kuat darinya. Itulah yang dia percayai dan saya pun percaya padanya,” tutur Yasha.
'Berhentilah merengek! Jangan jadi seperti anak kecil lagi!' jerit Akio dalam batin.
Segera ia mengangkat wajah dari kedua tangannya, melihat langit yang terbentang luas sebagai tanda dirinya masih hidup sampai sekarang ini. Akio menghela napas panjang, seraya mengusap air mata yang terus mengalir.
Kemudian menatap Yasha dari balik topeng oni. Akio berkata, “Mikio sudah lama mati.”
“Ya, saya mengetahuinya. Dari awal hingga akhir hayatnya, sampai jasadnya dikendalikan oleh yokai, saya melihat semua itu di depan mata.”
“Lalu kenapa tak kau selamatkan saja?!” pekik Akashi terlampau emosi, sebab ia merasakan apa yang dirasakan oleh Akio secara tak langsung.
“Karena dia bilang, itu adalah pertarungannya. Dan jika dia mati lalu yokai mengendalikannya maka Yamamoto Akio akan datang,” jawab Yasha.
Yasha mengatakan semuanya, semua yang ia lihat, dengar dan rasakan.
“Siapa kau sebenarnya sampai tahu banyak hal, hah?!” Kembali Akashi berteriak, seolah menggantikan peran Akio.
“Saya Yasha Manabu. Bukan siapa pun selain sebutan yokai yang paling pantas. Saya lahir dari penderitaan dan kebahagiaan banyak orang yang telah mati di sini.”
Yasha sekali lagi berkata, “Saya telah menjadi saksi kematian banyak orang. Termasuk kakakmu, Mikio.”
Akio terhenyak, diam memandang wajah Yasha. Kemudian ia berpikir dalam benaknya, 'Ah, pantas saja tak terlihat asing. Ternyata ...'
“Bisa dibilang, saya adalah kenangan. Kenangan yang ditinggalkan,” ungkap Yasha sembari tersenyum kembali.
Perawakannya berbeda jauh, teramat jauh. Kesopanannya juga pasti berbeda. Namun, Akio bisa melihat ada Mikio di dalam diri Yasha.
Perlahan ia meraihnya dengan jari-jemari, Akio bergumam lirih, “Jadi sejak awal Mikio ingin aku membunuhnya.”
“Ya.”
“Bukan aku yang ingin dia bunuh?”
“Bukan.”
Yasha ibarat kepingan kenangan banyak orang yang telah lama meninggal. Namun yang paling terbesar adalah sosok Mikio. Karena itulah sejak awal Akio merasa kakaknya masih yang memanggil hingga saat ini.
“Saatnya untuk memilih, apa kamu akan berhenti atau terus maju? Karena mahluk hina yang dengan beraninya mengendalikan jasad Mikio, masih hidup.”