
Di kediaman utama, klan Yamamoto.
“Akio ...Akio ...pulanglah dengan ...selamat.”
Orang yang paling merasa menderita, ialah sang ibunda dari Akio, Yamamoto Keiko. Ia menangis sembari memanggil-manggil nama Akio dan berharap Akio pulang kembali.
Seluruh anggota keluarga maupun pengikut, nampak mereka merasakan hal yang sama namun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam sembari mengamati situasi.
Ibu kota sudah tak tertolong lagi. Tidak, bahkan mungkin negeri ini juga sebentar lagi akan mati. Seluruh penduduk sudah kehilangan Shogun tanpa mereka ketahui, dan hanya bisa berkata bahwa diri mereka ingin membalas dendam.
Hanya itu.
Banyak yang menanggung perasaan kebencian, dan juga rasa malu khususnya pada klan Yamamoto. Kepala keluarga, Yamamoto Kaede entah ke mana karena dari pagi ini, dirinya tak menunjukkan batang hidungnya.
“Nyonya Keiko, sejak kemarin Nyonya sama sekali tidak makan. Tolong, sesuap pun tak masalah. Mohon jaga kesehatanmu.”
Sudah banyak pelayan mencoba membujuk Keiko, tapi selalu saja nihil. Ia hanya mengurung diri dalam kamar dengan duduk meringkuk serta menangis terus-menerus tanpa henti.
Sekalipun berhenti pasti ketika ia merasa kelelahan atau tertidur. Dan sudah seharian ini Keiko begitu. Sampai akhirnya anak perempuan dari kakak suaminya datang.
“Bibi Keiko sama sekali belum makan?”
“Ya. Nyonya Keiko sulit dibujuk.”
“Kalau begitu biar aku saja!”
Tok! Tok!
Anak perempuan itu mengetuk pintu secara perlahan. Masih terdengar isak tangis hingga saat itu juga, karena tak begitu yakin bahwa Keiko akan membukanya, anak itu pun langsung masuk ke dalam dengan mangkuk berisi makanan di tangan.
“Bibi!”
Bergegas ia menghampiri dengan berlari kecil, menuju Keiko, bibinya.
“Bibi kenapa belum makan? Ibuku bilang kalau orang-orang tidak makan maka dia akan kelaparan lalu jatuh sakit.”
“Pergilah, Yuki.”
“Tidak! Aku tidak mau pergi sebelum bibi memakan ini. Membuang makanan maka berarti kita membuang keberkahan juga. Lalu, aku tidak mau kalau bibi jadi sakit hanya karena tidak mau makan!”
Anak perempuan bernama Yuki itu lantas menyodorkan mangkuk berisi makanan kepadanya, ia memaksanya karena memang tidak ingin jika orang yang ingin ditemuinya justru malah sakit.
“Padahal aku sudah kemari untuk menghibur bibi, tapi bibi jadi seperti ini. Lagi pula, kakak Akio pasti masih hidup.”
Yuki adalah anak dari kakak suami Keiko, sepupu Akio. Namun akan tetapi baik Yuki maupun Keiko, keduanya sama sekali belum pernah bertatap muka. Dan Keiko tahu hal itu, lantas bingung mengapa anak ini justru berkata bahkan percaya bahwa Akio masih hidup.
Isak tangisnya pun terhenti saat itu juga. Keiko menoleh, menatap Yuki dengan mata sendu dan berair.
“Yuki, apa kamu pernah melihat Akio langsung?”
“Tidak pernah.”
“Lalu kenapa kau begitu percaya bahwa dia masih hidup?”
“Bibi sendiri bagaimana? Aku memang belum pernah bertemu dengannya, tapi aku yang masih kecil ini selalu mendengar ocehan bibi tentang kak Akio itu,” ujarnya.
“Yuki ...apa menurutmu dia masih bertahan hidup? Namun, meskipun dia tidak melarikan diri ...aku yakin hukumannya akan sama. Dan dia akan benar-benar mati.” Suaranya serak, Keiko pun berusaha untuk menahan tangisannya.
“Selama kakak tidak dihukum mati di depan banyak orang, maka mungkin kak Akio masih hidup,” pikir Yuki.
“Anak kecil sepertimu ...jangan bilang mati semudah itu. Jangan katakan itu di depan Ibumu atau Ibumu akan menangis, ya.”
Keiko yang mengatakan, justru ia yang menangis tersedu-sedu sekarang. Sembari ia memeluk Yuki, memanggil nama putranya berkali-kali.
***
Nekomata yang berhasil lolos dari kejaran para samurai, ia menaiki perahu kecil yang ia curi lalu menyeberangi laut menuju ke wilayah Kuran. Dasar gelombangnya tidak sama karena memang hanya menuju ke arah wilayah itu saja yang bisa ia lewati.
Sebagaimana Nekomata percaya bahwa tuan-nya berada di sana, sesuai perkiraannya.
“Neko?”
Nekomata sampai ke wilayah Kuran dengan seluruh tubuh yang penuh dengan luka sayatan pedang dan tusukan. Walau pendarahannya berhenti, Nekomata yang memiliki fisik layaknya seekor kucing sungguhan tetaplah masih lemah karena darah yang terkuras.
Berbeda dengan para yokai terkutuk, mahluk setengah yokai seperti Nekomata dan lainnya sama saja seperti mahluk hidup biasanya.
“Tuan Akio, bagaimana keadaannya? Dia sudah sadarkan diri?”
Setelah sampai ke area pemakaman, Nekomata mencemaskan Akio sampai sekarang. Dan sebelum dijawab, ternyata orang yang dicarinya sudah berada di dekat sana.
“Tuan Akio!”
“Oh, kau ternyata, Nekomata!”
“Kucing ini sepertinya juga terluka, biarkan saya membersihkan luka dan merawatnya sementara,” sahut Yasha yang langsung membopong kucing itu pergi dari sana.
“Tidak! Aku hanya ingin bersama Tuan Akio, miaw!”
“Tidak boleh. Lukamu juga cukup parah dan pria itu juga harus beristirahat.”
Akashi menepuk pundak Kizu lantas bertanya, “Memangnya dia membersihkan luka pakai apa?”
“Dengan air tentunya. Masa' kau tidak tahu?” sindir Kizu.
“Aku bukannya tidak tahu, tapi barusan aku memakai air di sana untuk membasuh luka di tangan ini ...,” Akashi menunjuk lautan lalu menunjuk tangan merahnya yang tergores.
“Dan rasanya perih,” imbuh Akashi.
“Tentu saja yang kau pakai untuk membersihkan lukamu itu 'kan air laut. Bukan air tawar biasa tahu,” ujar Kizu menjelaskan.
“Jadi ada air biasa di tempat panas seperti ini?” tanya Akashi seraya menoleh ke sana dan kemari.
“Ya, tentu saja ada. Tapi aku tidak tahu tempatnya selain pria yang membawa kucing itu pergi.”
Kondisi Akio tidak akan membaik jika terus-menerus berada di tempat seperti ini. Namun situasi di dalam negeri, khususnya ibu kota tengah kacau. Terlebih, jika Akio menampakkan diri maka pasti akan langsung terbunuh.
Sudah banyak orang yang mengambil ancang-ancang jikalau Akio kembali muncul.
“Aku melihat banyak orang di pinggiran,” tutur Akashi sembari menunjuk wilayah Dama, klan Mizunashi.
“Kembali ke sana maka itu adalah tindakan bunuh diri. Tapi bagaimana cara kita agar Tuan Akio mendapatkan pengobatan yang pas?”
Sejujurnya Kizu teramat sedih, apalagi dirinya tidak berguna saat ini. Ia tidak bisa mengobati seperti Yasha, dan hanya bisa duduk menemani Akio. Pergi ke manapun hasilnya akan sama saja. Dan terasa ini akhir dari mereka semua.
“Tuan Akio ...semoga bisa bertahan sedikit lebih lama.”
“Tuan Akio harus memulihkan tenaganya di sini. Lalu akan mencari ikan di sekitar sini untuk ditangkap, siapa tahu ada yang nyangkut,” ujar Akashi dan kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Hah, dasar. Aku sama sekali tidak berguna. Yah, tapi, aku bersyukur karena bisa menemani Tuan Akio seharian,” ucap Kizu girang.
Tak lama, Yasha dan Nekomata kembali. Nekomata turun dari pangkuan tangan Yasha lantas menghadap Akio yang entah masih membuka kedua matanya atau tidak.
“Tuan Akio, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Ini mengenai rumah di puncak gunung.”
Pembicaraan berubah menjadi serius.
Apa yang dibicarakan oleh Nekomata, ini perihal rumah Akio yang dibakar serta kakek bertopeng tengu menghilang.