Samurai Oni

Samurai Oni
YASHA MANABU



Sosok sang kakak yang amat ia rindukan, yang kemudian bertemu kembali dengannya, dan dengan satu harapan kecil untuk bersama-sama lagi. Tetapi, harapan itu bahkan sudah hancur sebelum membuat harapan itu sendiri.


Suara yang lembut namun tegas, perasaan hangat dan senyum yang terukir di wajahnya begitu jelas sampai Akio berpikir, "Kakak akhirnya kembali." Namun itu terpatahkan dengan sepatah kata darinya, dari sosok yang bukan Mikio sang kakak.


Senyum lebar itu bukanlah senyum dengan wajah bahagia, bukan lagi perasaan yang sama, Akio yang nyaris menenggelamkan diri ke ujung kegelapan hampir termanipulasi.


“Kakak ...,” Sekali lagi memanggilnya dan berusaha untuk meraihnya, takut jika ia tertinggal, takut jika ini bukan kenyataan.


Dalam kondisi setengah sadar, langit terang yang ia lihat dalam bayangannya adalah Mikio, bukan siapa-siapa lagi.


“Kakak!” Akio berteriak seraya mengulurkan tangannya ke atas, dan seketika ia tersadar begitu seseorang meraih tangan untuk membuatnya kembali ke kenyataan.


“Selamat pagi.”


Seorang pria dengan rambut pendek dan berpakaian panjang yang sopan. Ia tersenyum pada Akio.


Lekas Akio bangkit dari sana, namun belum ada setengahnya, ia bergerak sedikit saja tubuhnya terasa sakit di mana-mana. Hingga membuatnya kembali terbaring di atas padang pasir yang panas.


“Mohon tenang, saya menjamin bahwa kamu baik-baik saja di sini. Namun, bagian dalam tubuhmu terluka parah, tak hanya itu bekas luka yang sepertinya belum lama ini juga kembali terbuka,” jelasnya.


“Tuan Akio!!”


Kizu dan Akashi ternyata berada di sini. Sempat Akio berpikir bahwa pria ini adalah salah satu dari yokai yang mengikutinya, tapi ternyata ia salah mengenali.


“Eh! Kau siapa?!” Akashi bertanya dengan menjerit seraya menunjuk.


“Maaf atas ketidaksopananku, sebelumnya perkenalkan aku Yasha Manabu. Salam kenal, teman-teman,” ucap pria itu memperkenalkan diri sembari menundukkan kepala.


Reflek Akashi dan Kizu ikut menundukkan kepala dan lalu mulai memperkenalkan diri masing-masing.


“Salam kenal, aku Akashi. Pedangnya Tuan Akio.”


“Nama yang diberikan Tuan Akio padaku, Kizu.”


Mendadak keduanya memperhatikan sopan santun di tempat antah berantah. Namun tak berselang lama kemudian, mereka menyadari ada yang salah dengan Akio.


“Silau,” gumam Akio seraya membalikkan badan, tengkurap hanya untuk menghindari silaunya matahari.


Akashi langsung teringat ada yang kurang dari Akio. Ia lantas berbisik pada Kizu, “Hei, apa kau melihat wajah Tuan Akio?”


“Aku belum pernah melihatnya, dan kalau tidak salah tadi topengnya terlepas. Bahkan saat akan dibunuh juga,” bisik Kizu perlahan.


“Daripada mementingkan wajah Akio, bukankah seharusnya kita mencari topengnya? Dia pasti merasa risih,” ujar Akashi.


“Oh, benar juga. Tapi aku penasaran bagaimana wajahnya.”


Kemudian keduanya menampik wajah Akio yang sebetulnya sekarang sama sekali tak terlihat karena Akio sudah tengkurap di atas pasir begitu.


“Hei! Yang penting topengnya!” pekik Akashi yang kemudian tersadar kembali bahwa seharusnya ia tak mementingkan ego melainkan kepentingan Akio.


“Topeng? Apa maksudmu adalah ini?” Pria bernama Yasha menyodorkan sebuah topeng oni pada mereka.


“Itu dia!”


Akio meraih topeng tersebut lantas mengenakannya. Ia kemudian secara perlahan mengambil posisi duduk agar mengetahui situasi yang telah terjadi padanya.


“Ternyata benar, kamu adalah Samurai Oni. Tidak saya sangka akan bertemu denganmu di sini,” ucap Yasha.


“Hei, kau! Kenapa kau mengenali Tuan Akio? Lagi pula siapa kau? Kenapa berada di tempat ini. Dan juga kalau tidak salah bukankah kau berada di antara puluhan makam di sana!” Akashi menunjuk ke arah kiri darinya.


“Pertanyaanmu sungguh banyak. Tapi tak apa. Satu persatu akan saya jelaskan, namun sepertinya saya harus memprioritaskan keadaan Samurai Oni terlebih dahulu.”


“Ini sungguh merepotkan. Tak saya sangka bahwa diriku ini akan menggunakan ilmu pengobatan, terlebih tidak adanya alat maupun obat manjur di sini, hm ...,”


“Dari tadi kau bicara apa sih?”


“Tenang, Akashi. Dia cuman ingin membantu pengobatan Tuan Akio. Tapi, memang mustahil kalau diobati di sini,” ujar Kizu.


“Kalau begitu kita harus minta bantuan si kakek cebol itu.”


“Jangan, deh. Kau tidak ingat apa yang sedang terjadi sampai kita semua berada di wilayah terdampar begini? Ini bukan negeri Shinpi-tekina. Ini jauh berbeda. Cuman ada makam di sini.”


“Tapi Tuan Akio harus mendapatkan perawatan yang lebih baik,” pikir Akashi yang ingin secepatnya membantu Akio.


“Seperti yang dikatakan olehnya, Samurai Oni harus mendapatkan perawatan yang lebih baik,” sahut Yasha.


“Tapi kau tidak mengerti apa pun bukan? Tuan Akio baru saja lolos dari maut dan sekarang dia akan kembali ke negeri yang membuatnya menderita? Aku tidak mau!” protes Kizu.


“Maut? Sepertinya kalian bukan diserang oleh yokai biasa.”


“Bukan yokai!” sangkal Akashi berteriak.


Yasha memiringkan kepala, tanda tak mengerti bilamana bukan yokai yang menyerang lantas apa?


“Bukan yokai melainkan manusia!” ungkap Akashi.


Sejauh mata memandang hanya ada hamparan luas padang pasir. Langit di sini terasa lebih panas dari ibu kota maupun wilayah lain yang ia ketahui. Dan begitu ia menoleh ke belakang, ia mendapati banyak makam bernisan yang berderet-deret.


Ia kemudian bertanya pada Yasha, dengan menuliskannya di atas pasir.


"Apa kau yang menyelamatkan diriku?"


“Beruntungnya saya belajar membaca. Ya, saya yang kebetulan dapat menyelamatkan kalian semua,” jawab Yasha seraya tersenyum tipis.


“Tuan Akio, maafkan kami yang tidak bisa membantumu. Tapi, luka itu ...,”


Akio mengangkat telapak tangannya pada mereka berdua. Lantas kembali mengatakannya lewat tulisan, "Pendarahannya sudah berhenti. Kalian tidak perlu khawatir."


Wilayah ini adalah bagian dari Shinpi-tekina, wilayah yang mana terdapat banyak makam, disebut Kuran karena terlihat tak pernah terurus.


“Sepertinya Samurai Oni akan pulih meski lukanya tidak akan sembuh secepat itu.”


"Terima kasih Yasha Manabu, kau telah menyelamatkan kami semua." Tulisan di atas pasir ditujukan pada Yasha.


Kemudian Yasha menganggukkan kepala dan berkata ini bukanlah masalah lagi pula menolong adalah hal yang patut ia lakukan. Entah apa maksudnya namun ia adalah pria yang baik. Meski tercium dengan samar bahwa Yasha bukanlah manusia.


“Saya amat penasaran, mengapa Samurai Oni yang dikenal sangat kuat dalam bertarung melawan para yokai, justru berbalik arah dengan dimusuhi manusia?” tanya Yasha.


“Ceritanya cukup panjang. Intinya Tuan Akio dituduh sudah membunuh manusia. Walau mungkin terlihat begitu ...,” ucap Kizu.


“Tapi yang Tuan Akio bunuh bukanlah manusia melainkan yokai!” imbuh Akashi.


“Begitu rupanya. Pantas saja saya merasa aneh dengan luka yang dialami oleh Samurai Oni.”


“Tidak. Luka yang dialami Tuan Akio itu karena yokai, tapi manusia juga? Ah ...bukan, bukan. Hm, sejujurnya aku sendiri bingung.”


“Apa maksudmu dengan yang dikenal kuat? Bukankah seharusnya dia dirumorkan buruk?”


“Dari seseorang.”