
Pencarian terhadap Akio terhalangi. Nekomata yang beralih ke wilayah Yama, justru dibawa oleh Yamamoto Keiko ke dalam rumahnya. Meski dikatakan ia dibawa dengan aman, namun sejujurnya juga tidak. Rumah itu penuh akan mantra suci yang tercetak jelas dari kertas mantra.
Lalu, hal yang paling ingin Nekomata hindari adalah Yamamoto Kaeda. Sudah jelas pria itu adalah musuh terbesarnya, ia tak mau repot-repot menghadapinya apalagi setelah tahu seberapa kuat pria tersebut ketika melawan Akio.
Memikirkannya saja membuat ia bergidik. Belum lagi Keiko yang tampaknya mengetahui rahasia Nekomata. Keiko berkata bahwa dirinya sudah tahu bahwa Nekomata bisa berbicara. Entah bagi Nekomata itu buntung atau justru untung karena dengan begitu ia bisa mengetahui sesuatu mengenai Akio.
Walau pada akhirnya, kegagalan menghampiri Nekomata. Nyaris saja ia berbicara, sebab pintu ruangan yang terkunci telah didobrak dari dalam. Terlihat seorang pria dengan baju zirahnya, menatap sinis ke arah Nekomata langsung.
“Ada apa, sayang?” Keiko terkejut akan kedatangan suaminya. Tersenyum paksa sembari menanyakan apa yang sedang ia lakukan, Keiko berusaha untuk tidak menyinggungnya karena tahu pria itu sedang marah.
“Kudengar kau membawa kucing liar masuk ke dalam ruanganmu sendiri. Jadi aku ingin lihat seberapa lucunya dia?”
Lalu, kejadian tak terduga dialami oleh Yasha. Usai ia berkeliling sebentar di wilayah Mizunashi bersama Nekomata sebelumnya. Ia kembali ke Kuran hanya untuk menikmati secangkir teh kesukaannya. Setelah menghabiskan sisa tetes terakhir itu, Yasha merubah diri menjadi anak kecil dan di saat bersamaan dirinya berpindah tempat menuju Ibu Kota.
Sesampainya di sana, malangnya Yasha dikejar oleh yokai bermata empat. Namun beruntung, berkat kecerdikannya ia mampu meloloskan diri. Berubah menjadi seekor burung dan kemudian bertemu dengan Kizu lagi.
Kizu dan Yasha saat ini berada dalam ruangan yang sama. Mereka tengah bersembunyi guna mencegah yokai yang tengah mengejar Yasha pergi dan tak lagi mengejar. Namun sepertinya itu adalah hal yang mustahil, sebab yokai itu sekarang sedang berdiri di seberang dari Rumah Bunga.
“Wah, wah, dia sampai ke sini. Saya pikir oni memiliki penciuman yang buruk.”
“Kalau kau berkata begitu. Lalu Akashi mahluk apa?”
“Akashi adalah mahluk yang istimewa. Penciumannya berasal dari apa yang telah dia makan.”
“Maksudmu dia makan hewan yang memiliki penciuman tajam?”
“Mungkin.”
“Lalu kalau dia?” Kizu bertanya, mengenai apa yang dilakukan oleh yokai di sana.
Yasha menjawab, “Entahlah. Mungkin, dia merasakan keberadaan saya?” pikirnya.
Masing-masing dari mereka memiliki permasalahannya sendiri, halangan demi halangan terus mendatangi mereka. Pun tak luput dengan Akashi, sosok oni namun memiliki darah manusia juga. Dirinya yang paling malang namun di satu sisi juga beruntung karena telah menemukan petunjuk mengenai keberadaan Akio.
Tetapi, halangannya yang paling tersulit adalah melawan Wanita Salju. Ia dihempaskan kembali menuju ke jurang dari atas tebing. Untuk sesaat ia merasa akan terjatuh ke dasar sekali lagi, namun sepertinya tidak karena ia berhasil bertahan sebelum embusan angin kembali menerbangkan dirinya.
“Aku tidak akan menyerah sebelum bertemu dengan Tuan Akio!! Kau tahu!!” pekik Akashi, yang seolah mendeklarasikan perang padanya.
“Ha! Apa yang kau bicarakan?! Dasar pria busuk!” maki Wanita Salju, ia berkacak pinggang dengan mata memutih terbelalak.
GRAUKK!!
Karena berada dekat dengan Akashi yang masih menyangkut di ujung tebing, ia memanfaatkannya untuk menggigit pergelangan kaki Wanita Salju.
“KYAAAA!! KAU!! DASAR KAU!” pekik Wanita Salju, mengerang kesakitan seraya menggerakkan kakinya yang digigit itu.
“Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan! Menjauhlah!” Di samping panik, ia juga ketakutan, barisan gigi taring milik Akashi sudah menembus ke bagian dalam dari kulit luarnya yang memucat. Darah hitam mengalir cukup deras dan membuat Wanita Salju terus-menerus berteriak.
“AKASHI!!! ONI CACAT!!! PERGILAH!!” Dengan amukan yang semakin merajalela, Wanita Salju menghembuskan napas dinginnya.
Hal yang akan dilakukannya sudah terlihat oleh Akashi lebih awal, sehingga memudahkan Akashi tuk beranjak kembali ke bagian atas serta menghindar amukan si Wanita Salju.
“Dagingnya tidak enak. Ya ampun, aku pikir seenak daging laba-laba,” ujar Akashi seraya menyeka darah dari sudut bibirnya.
“Bocah tak tahu diuntung! Oni cacat sepertimu memang harus diberi pelajaran!” pekiknya lantas berbalik badan tuk mengeluarkan serangannya sekali lagi.
“Heh! Kau marah ya?” ledeknya seraya menghindari setiap ayunan cakarnya.
“Diam! Jangan berbicara sepatah kata pun atau kau terima akibatnya!” Amarah Wanita salju makin mengganas.
Nampak sangat jelas dari perangainya, meski ia sangat cantik dan setiap serangannya mampu mendorong Akashi bahkan hingga membuatnya terdesak, akan tetapi karena ia dalam kondisi emosional ini jauh lebih menguntungkan.
Pergerakan Wanita Salju jadi mudah terbaca dari biasanya. Akashi pun tak sulit menghindar apalagi membalas serangannya. Sedikit demi sedikit Akashi perlahan mundur sembari mencari kesempatan untuk menyerang.
Duk!
Saking fokusnya. Ia tak memperhatikan jalan yang ada di depan. Selagi ia fokus dan terus berjalan mundur, Akashi tersandung batu berukuran sedang dari telapak kakinya, dan kemudian serangan Wanita Salju kembali datang, ia tak sempat mengelak.
Mengayunkan cakar pada kedua tangannya, akan menghasilkan embusan angin dingin. Sekali terkena cakarannya akan membuat tubuh Akashi membeku. Lalu sekarang, ia tak bisa berbuat apa-apa setelah tersandung batu.
“MATILAH!!”
Akashi pikir dirinya akan berakhir. Di saat-saat terakhir Wanita Salju hampir mengenainya, secara tiba-tiba ia berhenti dan Akashi pun terduduk di atas tumpukan salju.
“Eh? Kenapa dia berhenti?”
Badai salju kembali menerjang depannya. Dalam sekejap Wanita Salju itu menghilang tanpa jejak. Akashi masih mencium keberadaannya samar-samar, tapi ada hal yang membuatnya terpaku di sana.
Setelah ia bergerak mundur, tanpa disadari dirinya sudah berada di jalanan, dan di sana terdapat beberapa rumah yang sudah menyatu dengan salju. Terlihat pula orang-orang yang diduga adalah penduduk Bama, mengalami hal sama seperti rumah mereka.
“Eh? Aku di mana lagi?”
Wajar saja Akashi terkejut karena sebelum ini ia hanya berjalan di atas tumpukan salju yang berdekatan dengan hutan. Lalu sekarang ia dihadapkan dengan rumah-rumah beserta para penduduk yang sudah dibuat beku oleh salju ataupun es.
“Wanita Salju yang melakukan ini semua? Betapa kejamnya dia. Apa dia punya dendam dengan orang sebanyak ini?” pikir Akashi.
Napas Akashi mulai melemah, rasanya terlalu berat untuk berjalan satu langkah saja, adapun tubuhnya yang rentan terhadap dingin telah membuat ia mati rasa.
“Tuan Akio mungkin berada dekat di sini. Mungkin! Tidak, pasti ada!”