
Akio akhirnya dapat meloloskan diri dari para pengejar dengan niat berbeda. Ia akhirnya pulang ke puncak gunung, tempat di mana ia biasa sendirian.
Akio akhirnya bisa bernapas sebentar di sini, tapi tak lama suara seseorang memanggilnya kembali terdengar.
“Tuan Akio!”
“Samurai Oni! Aku ingin ikut denganmu, boleh?”
“Tunggu, kau siapa? Rubah dilarang memasuki tempat manusia!”
Tak ada lainnya selain mereka yang selalu berisik. Rubah dan Akashi.
Brak!
Spontan Akio menutup pintu geser dengan keras. Tak lupa ia menguncinya dengan penyangga guna mencegah dua yokai itu masuk ke dalam.
“Tuan Akio! Kenapa aku diusir? Tuan Akio?”
“Kenapa sembarangan sekali menguncinya, hei?”
Jantungnya yang belum sempat beristirahat karena selalu berlarian. Belum lagi telapak kakinya yang terasa kasar dan sakit karena tak pernah memakai alas. Lalu yang paling parah adalah napasnya yang jadi sulit dikontrol. Ia merasa akan kehabisan napas.
Sejenak, Akio melepaskan topeng oni-nya.
“Tuan Akio!” teriak Akashi seraya menggedor-gedor jendela di samping.
Terkejut, ia lekas memakai topengnya lagi lalu menutup jendela itu dengan punggung besar Akio. Walau pada akhirnya jendela itu tetap terbuka dengan mendorong tubuh Akio.
“Kau jangan bertindak kasar pada tuan-ku!” pekik Akashi yang tak terima kalau Akio didorong seperti barusan.
“Ha? Kalau tidak begini, dia pasti tidak akan mau menyingkir. Bersyukurlah karena kakiku lebih panjang dan kuat darimu!”
“Apa? Kau lebih lemah dariku tahu!”
“Hah?!”
Dua yokai ini terus bertengkar selama berjam-jam, dari pagi hingga siang mereka tak kunjung berhenti. Terlebih kedua yokai tersebut mengejar Akio dengan antusias.
Di samping Akashi dan rubah memaksakan diri tuk masuk melewati jendela kecil. Terdengar pintu depan diketuk dengan kasar. Sesekali terdengar seolah-olah orang di depan sana hendak menghancurkan pintu itu.
“Hei, Akio! Tumben sekali kau sangat berisik hari ini! Kau tidak akan keluar seperti yang biasa kau lakukan? Dan jangan lupakan janji yang telah kau buat, atau kau akan aku lempar ke lautan!” Teriakan, dan amukan ini jelas-jelas adalah kakek itu lagi.
“Celaka! Kenapa kakek cebol itu ada di sini?” Panik, namun Akashi sudah terlanjur masuk ke dalam bersama si rubah.
“Kakek cebol? Kau ini sama sekali tidak punya sopan santun ya,” ketus si rubah.
“Kau sendiri memaksa masuk lewat jendela,” balasnya.
“Hei, Akio!!” Jeritannya sampai terdengar menggaung ke dalam rumah.
Akio yang sama-sama panik pun lantas keluar dari sana melewati jendela yang sama. Ia lekas pergi dan meninggalkan Akashi, rubah dan juga kakek bertopeng tengu.
“Kakek itu pasti datang untuk memarahi Tuan Akio lagi,” pikir Akashi.
“Tapi bukan berarti dia harus melarikan diri. Memangnya dia itu masih bocah?”
“Bukan begitu, masalahnya pertarungan mereka itu sungguh gila makanya Tuan Akio lebih memilih menghindar.”
“Apa pun alasannya, ujung-ujungnya dia tetap melarikan diri.”
BRUAAKK!!
Hantaman keras datang dari arah depan, pintu pun terbuka dengan lebar namun tentunya karena telah dirusak oleh si kakek. Kedua yokai itu pun sontak histeris.
“Apa-apaan ini?! Kenapa jadi ada dua mahluk setengah-setengah?! Di mana kau Akio?!”
Amukannya makin merajalela, Akashi dan rubah hanya bisa terdiam dengan ketakutan.
“Ti-tidak ada di sini, kek. Tuan Akio sudah keluar sejak tadi,” jawab Akashi sedikit terbata-bata.
“Cih, dua yokai macam kalian itu sejujurnya tidak dibutuhkan.”
Mendadak si kakek melirihkan suaranya. Ia mengatakan kalimat itu sembari menarik pedang pendek dari sarungnya.
“Gawat, ini sungguh gawat! Kita harus melarikan diri!”
Berhadapan dengan kakek tengu satu ini, pastinya Akashi sudah tahu akan mengakibatkan pertumpahan darah kembali. Karena pria tua ini takkan ragu untuk menarik pedang dari sarungnya guna memberantas yokai seperti mereka.
Rubah putih pun juga langsung melipir kabur dengan perubahan wujud aslinya, setelah menghindari pedang pendek yang terus terlempar ke arahnya.
“Kemari kau!!”
“Hii! Apa-apaan kakek tua itu?!”
Rubah ingin menyerangnya saat ini juga, namun di benaknya ia mendadak terngiang-ngiang akan ancaman tak langsung dari Akio. Mengingat seberapa mengerikan samurai oni itu, tentu rubah langsung melarikan diri secepatnya.
Namun berbeda dengan Akashi yang sejak awal ia memang mudah ketakutan karena terpengaruh oleh perasa takut dari seseorang, juga ancaman bahaya dari indera perasa seolah mengingatkan Akashi untuk tidak meladeni si kakek satu ini.
“Kakek! Aku ini manusia!” Sambil berkata begitu, yang seolah-olah kakek akan mendengarnya dan menjawab setuju.
“Jangan melarikan diri!”
Si kakek tentu takkan mengalah, ia berlari cepat seraya melempar beberapa pedang pendek yang telah ia persiapkan sejak awal.
Pedang pendek melesat cepat ke arah mereka berdua yang terus saja menghindar dengan gesit maupun lincah.
“Kenapa Akio selalu saja memungut mahluk kurang ajar seperti mereka? Untuk menjadikan mereka sebagai pedang? Hah, jangan bercanda!”
Sedangkan Akio sendiri saat ini sedang, berhadapan langsung dengan Mizunashi.
***
“Ya, silahkan.” Mizunashi berbicara, usai pelayannya Tadashi menuangkan teh hangat di hadapan Akio.
Akio hanya menganggukkan kepala.
Saat ini, Akio sedang berada di kediaman klan Mizunashi, kota Dama. Rumah yang jauh lebih besar dan terasa segar karena pepohonan besar tumbuh di dekat bangunan ini.
“Akio, aku mengundangmu kemari bukan untuk menghukum atau sejenisnya. Melainkan memberitahukan tentang hukumanmu yang akan diringankan,” tutur Mizunashi Kage selaku kepala klan di sini.
Sekali lagi Akio hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
“Aku memang tidak bisa memberimu ijin untuk berbicara sekarang, karena memang yang menghukum berat dirimu adalah kakek sekaligus gurumu sendiri.”
Mizunashi kembali mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk, ekspresi muram di wajahnya pun ikut memudar seolah ingin mengganti suasana secepat mungkin agar tidak terasa canggung di sini.
“Aku tahu ini masih berat untukmu sebagai samurai. Tapi setidaknya Shogun Hatekayama mengijikanmu menggunakan pedang untuk bertarung namun hanya melawan para yokai saja,” ungkapnya.
Untuk yang ketiga kalinya Akio mengangguk.
“Lalu, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
Mizunashi mengangkat telapak tangan ke depan, menunjuk seseorang yang telah datang dari belakang Akio.
Secara spontan, Akio berbalik badan sembari menyelipkan tangan kanan ke dalam pakaiannya, Akio berniat menarik pedang karena merasa itu dibutuhkan.
“Tolong tenanglah sebentar Akio, dia adalah pria yang dikenal sebagai Samurai Pedang Hitam,” ungkap Mizunashi.
“Bukan musuh,” imbuhnya.
Seorang pria berpostur tubuh tinggi. Rambut, pakaian bahkan pedang miliknya serba dengan warna hitam gelap. Seolah menghadirkan kegelapan dalam hutan, itulah mengapa Akio berwaspada. Sebab merasakan kehadiran pria ini bukanlah petarung biasa, justru menganggapnya musuh.
Namun, karena Mizunashi Kage sendiri yang mengatakan bahwa ia bukanlah musuh, barulah Akio kembali terdiam dalam posisi.