
Prajurit Neraka yang terhitung 5 yokai terkutuk akan datang membawa bencana bagi negeri Shinpi-tekina. Begitu isi ramalan terucap, semua akan menjadi nyata pada waktunya.
Pada hari sebelum bencana datang. Akio bertemu dengan seorang kakek tua lalu Ningyou. Keduanya adalah yokai yang diduga Prajurit Neraka. Namun entah dengan alasan apa bahkan Kazuki Eichi, Daimyou di Bama pun tidak tahu. Mereka dalam bentuk bayangan yang berarti bukan wujud aslinya. Akio yang diincar tidak begitu memahami.
Namun, setidaknya ia dapat memastikan alasan mengapa hanya tercium sedikit bau yokai dari keduanya.
“Besok kau akan menjadi umpam. Tapi tenang saja, itu tidak akan berakhir selamanya. Lalu, Akio. Aku ingin kau tetap tinggal di Bama.”
Kazuki Eichi memintanya untuk tetap berada di Bama. Setelah Akio bertanya untuk apa karena sekarang ia sudah dijadikan incaran oleh para yokai terkutuk secara terang-terangan.
Kazuki menjawab, “Aku memang sengaja memancing mereka ke Bama. Karena wilayah ini paling dekat dengan arus laut besar kedua setelah Dama.”
“Akan ada banyak korban jika aku berada di sini. Seharusnya aku berada di Kuran. Bukankah itu jauh lebih aman?”
“Tidak. Misalkan itu benar, kami takkan serepot ini. Dan peramal itu mengatakan Prajurit Neraka akan datang sebagai bencana. Mengerti, Akio?”
Akio sejenak diam. Ia mencoba untuk memikirkan bagaimana resiko yang akan diambilnya, bila penduduk tetap berada di Bama. Kazuki yang mengerti rasa khawatirnya pun dengan cepat menjelaskan satu hal lagi.
“Penduduk akan dikumpulkan di Kuran.”
“Hah? Jangan bercanda. Di sana cuaca tidak pernah berubah. Lalu salah sedikit akan membuat mereka mati dalam sekejap.”
“Apa yang kau maksud salah sedikit?”
“Laut.”
“Kalau begitu sama saja dengan di setiap wilayah manapun yang berdekatan dengan wilayah luar bukan?”
“Iya. Itu benar.”
“Tenang saja. Kami punya cara sendiri. Dan tentunya yang ada di Bama hanya kita. Para samurai.”
Kazuki menjelaskan; Bama akan menjadi tempat yang memungkinkan para yokai terkutuk (Prajurit Neraka) datang karena diberi umpan (Akio). Akan tetapi, itu tak semudah yang mereka bayangkan sebab mereka bukan hanya sekadar disebut sebagai bencana.
Persis seperti sebutannya, bencana seperti Prajurit Neraka mungkin akan menghancurkan pulau ini. Karena itulah masing-masing dari Daimyou setiap wilayah akan menjaga wilayah mereka. Lalu Kuran dengan satu samurai kuat akan menjaga para penduduk yang diungsikan.
“Tetapi, ini tidak menjamin mereka akan mudah mengalahkannya. Kalian lihat bagaimana aku terluka? Dan jika aku menjadi umpan, jika tidak segera pulih aku hanya akan menjadi beban.”
“Jadi kau berpikir untuk menyembunyikan dirimu?”
“Tadinya aku ingin berpikir begitu. Tapi mereka bukan manusia melainkan monster tak berperasaan.”
'Persis seperti kau, bukan? Akio,' batin Kazuki.
“Untuk urusan lainnya, kami sudah menyelesaikannya. Sisanya hanya perlu kerja samamu saja. Apa kau mau menerimanya atau akan kembali ke Kuran, tempat di mana kau tinggal sekarang?” tanya Kazuki.
Luka yang cukup dalam, terlebih di bagian kaki akan sangat menganggu Akio. Meski kedua tangannya masih berguna, namun tanpa satu kaki tersisa tidak akan membuatnya menghasilkan serangan sempurna.
Akio mencoba menimbang-nimbang, apakah keputusan Kazuki benar ataukah tidak. Meski sejak tadi pikirannya selalu berbelit dan berujung kosong, namun Akio masih memikirkan tentang caranya bertahan sekaligus melawan para yokai keesokan harinya.
“Untuk saat ini, aku akan mengikuti rencanamu. Seperti permintaanmu, aku akan tinggal di sini.”
Sembari mengatakan kalimat tersebut. Akio membatin, 'Kazuki tahu aku diserang dan melewati perairan sungai dari Mizunashi. Apakah itu berarti Mizunashi Kage melihat keberadaan Yasha dan lainnya?' Akio gelisah.
***
Keesokan harinya. Para samurai sudah terbangun di dini hari, mereka yang sudah melengkapi persenjataan dan berbekal ramalan, telah siap untuk menghadapi Prajurit Neraka.
Krak!
“Sampaikan pesan pada Tuan Uchigoro! Salah satu Prajurit Neraka muncul di bagian barat Tama!“
Tak butuh lama hingga akhirnya Uchigoro Tamura beserta puluhan samurai di dekatnya datang. Mereka tidak akan melawan satu persatu karena tahu yang mereka lawan bukanlah yokai sembarangan melainkan bencana.
“Bentuk Formasi pertahanan!”
Uchigoro Tamura memberi perintah tuk melakukan formasi pertahanan. Ini digunakan tuk mencegah bila kekuatan yang dimiliki cukup besar. Setidaknya, terdapat senjata yang tersimpan di balik perisai mereka yang kokoh.
“Yang muncul Migi-Hidari kah?”
Migi-Hidari. Tangan kanan dan kiri. Wujudnya yang aneh menyerupai tangan-tangan manusia itu hanya terdiam tanpa bergerak sedikit saja. Uchigoro Tamura selangkah demi selangkah maju ke depan untuk mencoba memastikan sesuatu.
'Coba aku pastikan, mereka memiliki indra penglihatan atau indra penciuman?' batin Uchigoro.
“Berhati-hatilah Tuan. Karena di sekitarnya terdapat beberapa jebakan peledak.”
“Ya, aku tahu.”
Terlihat dari reaksinya yang seolah menunduk, usai Uchigoro melangkah sebanyak 5 kali. Bisa dipikir-pikir bahwa jarak sekitar 10 meter kurang, Migi-Hidari dapat merasakan keberadaannya.
Lalu, hanya dalan sekejap, Migi-Hidari menghampiri Uchigoro Tamura.
“Bergerak dari belakang! Lempar tombak ke arahku!” perintah Uchigoro Tamura.
“Te-Tetapi!”
“Lakukan!!” Perintahnya adalah mutlak bagi orang yang memiliki pangkat rendah darinya.
Mereka yang percaya pada Uchigoro, lekas menuruti perintahnya dengan melempar banyak tombak dari belakang maupun depan secara bersamaan.
Reflek Uchigoro Tamura jauh lebih bagus dari Migi-Hidari. Sehingga ia mampu lebih cepat cepat menghindari baik dari yokai-nya maupun juga dari hujaman tombak yang datang.
Terhitung belasan tombak menghujam habis-habisan Migi-Hidari. Sampai bentuk wujudnya tidak terlibat selain bagian belakang pada semua tombak yang ada.
“Tidak bergerak. Apakah sudah mati?”
“Seharusnya itu cukup mematikan.”
“Tidak. Jangan lengan. Dia itu bencana negeri. Meski kita dapat memprediksi pergerakannya karena tahu dia akan datang pertama, bukan berarti perlawanan kita akan semudah itu.”
Begitu Uchigoro Tamura angkat bicara dan menyatakan pendapat bahwa Migi-Hidari tak mungkin selemah itu, istilahnya. Semua samurai yang berada di bawahnya lantas tercekat diam.
Mereka semua sungguh sangat ketakutan, apabila Migi-Hidari kembali bergerak.
“Lihat!”
Dan baru saja dibicarakan, Migi-Hidari kembali bergerak. Mereka berdiri dengan lima jari besar. Dan terlihat berpaling ke arah kanan secara bersamaan.
“Apa yang dilakukannya?”
“Bertahan!!”
“Baik!!”
Perisai kokoh kembali berdiri dengan tegak. Migi-Hidari yang berpaling ke arah kanan kemudian menggerakkan seluruh tubuhnya ke arah kiri. Mereka terus melakukannya secara bergantian, dan mula-mula hanya perlahan namun tak lama kemudian semakin cepat pergerakan mereka.
Seolah-olah seperti seekor anjing yang sedang mengibaskan seluruh bulunya yang basah. Migi-Hidari melakukan hal tersebut guna melepas semua tombak yang menusuknya.